Di Benua Aldabaron yang dipenuhi sihir, monster, dan teknologi Rune, seorang ronin muda bernama Ryosuke Tagawa kehilangan seluruh keluarganya akibat perang yang dipicu ambisi tersembunyi Empire Krusador. Dalam pengembaraannya, ia menemukan Tenkū Matō, pedang legendaris yang ditempa dari pecahan meteor dan menguasai sihir kegelapan. Bersama katana warisannya, Nichirin-gatana, yang memiliki sihir cahaya, Ryosuke menguasai gaya pedang Hyoho Niten Ichi-ryū. Ketika pasukan Krusador menginvasi Kepulauan Great Sea dengan senjata mengerikan Beast Crust Rune Cannon, Ryosuke harus menentukan pilihan: tetap menjadi pengembara yang menghindari perang, atau bangkit melindungi mereka yang tidak mampu melawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 — Gerhana Dua Pedang
Langit senja mulai berubah jingga ketika pasukan utama Empire Krusador akhirnya memperlihatkan kekuatan mereka.
Dari atas menara pengawas, Melinda hanya mampu menahan napas.
Barisan pasukan yang tadi hanya tampak seperti titik-titik hitam kini memenuhi seluruh cakrawala utara. Ribuan prajurit bergerak serempak bagaikan lautan besi yang tidak memiliki ujung. Kilatan tombak, pedang, dan panji-panji berlambang singa emas memantulkan cahaya matahari yang mulai tenggelam.
Tanah bergetar pelan.
Semakin lama...
Semakin kuat.
Bahkan para pengungsi yang berada jauh di dalam barak dapat merasakan getaran itu.
Seorang ibu tanpa sadar memeluk anaknya semakin erat.
"Sebanyak itu..." bisiknya dengan wajah pucat.
Di halaman utama, seluruh tentara bayaran telah bersiap di posisi masing-masing.
Tak seorang pun lagi berbicara.
Mereka mengetahui satu kenyataan.
Hari ini bukan lagi tentang mempertahankan sebuah barak.
Hari ini adalah pertarungan demi memberi waktu kepada ribuan orang di belakang mereka untuk tetap hidup.
Di tengah lautan pasukan Krusador, seekor kuda hitam melangkah perlahan menuju garis depan.
Penunggangnya mengenakan zirah hitam berlapis emas.
Jubah merah tua berkibar tertiup angin.
Tatapannya tenang.
Dingin.
Penuh keyakinan.
Pangeran Lucien Krusador.
Di sisi kanannya berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan rambut keperakan yang mulai memutih.
Wajahnya dipenuhi bekas luka peperangan.
Tatapan matanya tajam seperti elang yang mengawasi mangsa.
Grand Marshal Viktor Eisen.
Lucien menghentikan kudanya beberapa ratus meter dari barak.
Ia memandang pagar kayu sederhana itu beberapa saat.
"Itukah markas tentara bayaran?"
Viktor mengangguk.
"Benar, Yang Mulia."
"Menurut laporan, sebagian besar pengungsi berkumpul di sana."
Lucien tersenyum tipis.
"Bagus."
"Kalau begitu..."
"Hancurkan bersama harapan mereka."
Viktor mengangkat tangan kanannya.
Sesaat kemudian, beberapa penyihir kerajaan mulai bergerak menuju sebuah meriam raksasa yang berada di belakang barisan utama.
Tubuh meriam itu hampir dua kali lebih besar daripada Rune Cannon biasa.
Permukaannya dipenuhi ukiran Rune yang terus berdenyut.
Di bagian belakangnya, sebuah inti roh monster sebesar kepala manusia perlahan mulai bersinar.
Puluhan penyihir kerajaan berdiri mengelilinginya.
Mereka mengangkat tongkat masing-masing.
Mana dari tubuh mereka mulai mengalir menuju Crystal Rune yang terpasang pada tubuh meriam.
Semakin lama...
Cahaya yang dipancarkan Crystal Rune semakin terang.
Inti roh monster itu pun mulai berdenyut mengikuti aliran mana yang terus memenuhi tubuh meriam.
Viktor memandang proses itu tanpa sedikit pun perubahan ekspresi.
"Persiapan selesai."
Lucien mengangguk pelan.
"Lepaskan."
Di atas tembok pertahanan barak, Lance langsung membelalak.
"Warna cahaya itu..."
Alfaro segera menoleh.
Tatapannya langsung membeku.
"Semua!"
"Berlindung!" teriaknya sekuat tenaga.
Para tentara bayaran segera bergerak.
Sebagian menarik para pengungsi masuk ke balik bangunan.
Sebagian lagi tetap bertahan di garis depan.
Namun tidak ada tempat yang benar-benar aman.
Ryosuke memandang lurus ke arah meriam raksasa itu.
Entah mengapa...
Jantungnya berdetak semakin cepat.
Angin di sekelilingnya tiba-tiba berubah dingin.
Tangan kirinya yang menggenggam Tenkū Matō mulai bergetar pelan.
Lalu...
Suara itu kembali terdengar.
Suara yang sama seperti malam sebelumnya.
("...Bangkitlah...")
Ryosuke langsung menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Suara itu seolah muncul langsung dari dalam pikirannya.
("...Jangan biarkan mana itu menghancurkan mereka...")
Ryosuke mengepalkan tangannya.
"Siapa kau?"
Tidak ada jawaban.
Sebagai gantinya...
Getaran pada Tenkū Matō menjadi semakin kuat.
Di saat yang sama, Nichirin-gatana di pinggang kanannya ikut bergetar.
Dua pedang itu...
Seolah sedang saling memanggil.
"Apiiii!!" teriak salah seorang penyihir Krusador.
Ledakan dahsyat mengguncang bumi.
Laras Beast Crush Rune Cannon memuntahkan bola mana raksasa yang diselimuti kobaran api kehitaman.
Udara di sepanjang lintasannya bergetar hebat.
Pepohonan di bawahnya langsung tercabut hanya karena tekanan mana yang dilewatinya.
Semua orang di dalam barak hanya mampu memandang dengan wajah pucat.
Beberapa pengungsi mulai menangis.
Sebagian menutup mata.
Mereka yakin...
Tidak ada seorang pun yang mampu menghentikan serangan itu.
Namun...
Di tengah keputusasaan tersebut...
Ryosuke perlahan melangkah maju.
Tangannya mencabut Nichirin-gatana.
Dalam waktu yang sama...
Tenkū Matō ikut terhunus.
Untuk pertama kalinya sejak kedua pedang itu berada di tangannya...
Keduanya memancarkan cahaya secara bersamaan.
Cahaya putih dari Nichirin-gatana dan cahaya hitam keunguan dari Tenkū Matō memancar bersamaan.
Seluruh medan perang seakan berhenti bergerak.
Angin yang semula bertiup kencang mendadak berputar mengelilingi Ryosuke.
Mana di udara mulai bergetar.
Tidak hanya para penyihir...
Bahkan mereka yang sama sekali tidak memiliki atribut elemen ikut merasakan perubahan itu.
Alfaro memandang Ryosuke dengan mata membelalak.
"Apa..."
Lance tanpa sadar melangkah satu langkah ke depan.
"Mana di sekitar... sedang berkumpul."
Bukan hanya mana milik manusia.
Mana yang tersebar di alam pun perlahan tertarik menuju dua pedang di tangan Ryosuke.
Di kejauhan, Viktor Eisen langsung menyadari keanehan itu.
"Ada sesuatu..." gumamnya.
Lucien menyipitkan mata.
Tatapannya tertuju kepada pemuda yang berdiri seorang diri di depan gerbang barak.
"Itu..."
"Dua pedang?"
Belum sempat mereka memahami apa yang terjadi...
Bola mana Beast Crush Rune Cannon telah tiba.
Ledakan itu seharusnya menghancurkan seluruh barak dalam sekejap.
Namun...
Ryosuke secara naluriah mengangkat kedua pedangnya menyilang di depan tubuhnya.
Saat kedua bilah itu saling bersentuhan...
Langit berubah.
Di atas kepala Ryosuke muncul lingkaran cahaya raksasa.
Separuhnya memancarkan cahaya keemasan seperti matahari.
Separuh lainnya berwarna hitam kebiruan menyerupai bulan sabit.
Kedua simbol itu perlahan bergerak.
Kemudian...
Menyatu.
Gerhana.
Simbol gerhana raksasa membentang memenuhi langit perbatasan.
Semua orang yang berada di medan perang mendongakkan kepala.
Tidak seorang pun pernah menyaksikan fenomena seperti itu.
Beast Crush Rune Cannon akhirnya menghantam...
Namun ledakan yang mereka tunggu...
Tidak pernah terjadi.
Bola mana raksasa itu berhenti tepat di depan Ryosuke.
Seolah tertahan oleh kekuatan yang tidak terlihat.
Kemudian...
Seluruh mana di dalamnya mulai mengalir menuju kedua pedang.
Tenkū Matō menyerap mana kegelapan yang bercampur dalam inti roh monster.
Nichirin-gatana menyerap mana murni yang mengalir melalui Crystal Rune pada meriam tersebut.
Bukan Crystal Rune yang menyerap mana.
Melainkan kedua pedang legendaris itu.
Layaknya Crystal Rune raksasa, keduanya menelan energi Beast Crush Rune Cannon tanpa menyisakan sedikit pun ledakan.
Suara gemuruh perlahan menghilang.
Yang terdengar hanya getaran mana yang memenuhi udara.
"Apa itu..." bisik seorang penyihir Krusador.
"Tidak mungkin..."
Penyihir lain menjatuhkan tongkatnya.
Mana yang baru saja mereka salurkan lenyap begitu saja.
Viktor Eisen yang selama puluhan tahun memimpin peperangan akhirnya menunjukkan perubahan ekspresi.
Matanya membelalak.
"Itu bukan kemampuan manusia..."
Lucien menggenggam erat kendali kudanya.
Tatapan dinginnya kini dipenuhi keterkejutan.
"Pedang itu..."
"Pedang itu menyerap mana..."
Di atas tembok Benteng Vargan yang berjarak puluhan kilometer dari barak tentara bayaran, para prajurit penjaga mendadak menghentikan aktivitas mereka.
Komandan jaga mengangkat kepalanya.
"Apa itu di langit?"
Semua orang mengikuti arah pandangnya.
Di cakrawala utara...
Simbol matahari dan bulan sabit yang menyatu membentuk gerhana tampak begitu jelas.
Fenomena itu bahkan terlihat dari desa-desa yang masih tersisa di sekitar wilayah perbatasan.
Para pengungsi yang sedang berjalan menuju Benteng Vargan ikut berhenti.
Mereka saling memandang.
Belum ada seorang pun yang memahami arti dari pertanda tersebut.
Namun kabar tentang gerhana di langit perbatasan mulai menyebar dari mulut ke mulut.
Sementara itu...
Ryosuke sendiri tidak memahami apa yang sedang terjadi.
Tangannya gemetar hebat.
Kedua pedang di tangannya terasa semakin berat.
Mana yang diserap terus bertambah.
Terlalu banyak.
Tubuhnya belum mampu mengendalikannya.
("...Lepaskan...")
Suara dari dalam Tenkū Matō kembali terdengar.
("...Kalau tidak...")
("...kau akan hancur...")
Ryosuke mengepalkan rahangnya.
Tanpa sadar ia mengangkat kedua pedangnya ke arah langit.
Detik berikutnya...
Seluruh mana yang baru saja diserap dilepaskan sekaligus.
Sebuah pilar cahaya raksasa melesat lurus menembus langit.
Ledakannya mengguncang awan.
Suara dentumannya bergema hingga ke seluruh wilayah utara Green Continent.
Awan-awan di atas medan perang terbelah.
Langit yang semula dipenuhi asap peperangan kembali terlihat.
Namun simbol gerhana itu perlahan memudar bersama cahaya yang menghilang.
Ryosuke jatuh berlutut.
Napasnya memburu.
Ia sama sekali tidak mengerti apa yang baru saja terjadi.
Di hadapannya, ribuan pasukan Krusador hanya mampu terdiam.
Lucien tidak lagi memandang barak.
Tatapannya kini sepenuhnya tertuju kepada Ryosuke.
"Pemuda itu..."
"...siapa sebenarnya?"
Di sisi lain, Viktor Eisen masih menatap dua pedang yang kembali kehilangan cahayanya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang Grand Marshal merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan di medan perang.
Kewaspadaan.
Sementara itu, di Benteng Vargan dan desa-desa sekitar, desas-desus mulai menyebar.
Tentang seorang pendekar yang menghentikan Beast Crust Rune Cannon.
Tentang dua pedang legendaris yang mampu menyerap mana layaknya Crystal Rune.
Dan tentang Gerhana Dua Pedang, sebuah legenda baru yang lahir di perbatasan Green Continent pada hari pertama pengepungan.
Tidak seorang pun menyadari bahwa kisah itu baru saja dimulai.
..._BERSAMBUNG _...
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉