NovelToon NovelToon
Jalanan Di Bawah Sayap Hitam

Jalanan Di Bawah Sayap Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Misteri
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: ArdaKings

Di sebuah kota yang dikuasai geng-geng jalanan dan kekuasaan gelap, sekelompok pemuda memilih bertahan hidup sambil melindungi warga lemah. Di markas tua mereka, tersembunyi sebuah rahasia berusia puluhan tahun — sebuah benda yang bisa mengubah nasib banyak orang, sekaligus menjadi sumber malapetaka kalau jatuh ke tangan yang salah.

Ketika kelompok berbahaya bernama Elang Darah mulai memburunya, identitas tersembunyi dan masa lalu kelam setiap tokoh perlahan terungkap. Arda yang terlihat malas ternyata menyimpan kekuatan dan tanggung jawab besar, sementara Kael dan kawan-kawannya harus memilih: ikut berebut kekuasaan, atau tetap memegang prinsip di tengah pertarungan yang melibatkan banyak pihak rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArdaKings, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Antara Rasa dan Pertimbangan

Udara dini hari terasa makin dingin, menusuk sampai ke tulang lewat celah-celah dinding yang rusak. Sisa nyala obor sudah mulai redup, hanya menyisakan asap tipis yang berputar-putar sebelum menghilang di kegelapan.

Setelah suara langkah orang asing itu hilang, suasana di dalam pabrik terasa makin berat. Tidak ada yang bicara dulu, masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri. Hanya suara napas yang teratur dan sesekali bunyi angin yang berdesir memecah keheningan.

Bastian masih berdiri di dekat pintu, tangannya mengepal sampai buku jarinya memutih. Wajahnya yang biasanya selalu terlihat berani kini dipenuhi rasa marah dan tidak terima. Dia tahu benar kalau bertindak gegabah hanya akan membuat keadaan makin buruk, tapi hatinya sulit menerima kenyataan bahwa orang yang mereka anggap sebagai bagian dari keluarga kecil ini kini terancam nyawanya.

“Kalau kita diam saja sampai besok malam,” ucapnya akhirnya, suaranya rendah tapi bergetar menahan emosi, “Pak Rian bisa saja sudah tidak bernyawa lagi. Atau lebih parah, dia terpaksa bicara dan malah membahayakan kita semua.”

Kael duduk kembali di kursi reyotnya, siku ditumpukan di atas meja, kepala disandarkan pada kedua telapak tangannya. Matanya terpejam rapat, seolah sedang menyusun ribuan kemungkinan di dalam kepalanya.

“Aku tahu,” jawabnya pelan. “Tapi kita tidak punya petunjuk pasti ke mana dia dibawa. Jalanan di kota ini bercabang ratusan, tempat persembunyian mereka bisa di mana saja — gudang kosong, rumah terbengkalai, bahkan di bawah terowongan pembuangan air. Kalau kita mencoba mencari tanpa arah yang jelas, kita cuma akan membuang waktu dan tenaga.”

Niko masih memegang kain tanda yang dia temukan tadi, memutarnya pelan di antara jari-jarinya. Tatapannya kosong, tapi pikirannya melayang jauh ke masa-masa yang sudah lama dia coba lupakan.

“Aku pernah melihat tanda ini sebelumnya,” katanya tiba-tiba, suaranya hampir berbisik.

Semua mata langsung tertuju padanya. Bastian menoleh cepat, dahinya mengerut.

“Kapan? Di mana?”

Niko menghela napas panjang, lalu mengusap wajahnya yang terasa lelah. Sejenak terlihat ragu, seolah ingin menutup kembali ingatan itu, tapi akhirnya dia melanjutkan.

“Dulu… saat aku masih berusia enam belas tahun. Aku terjebak di lingkaran orang-orang yang berurusan dengan barang-barang terlarang. Bukan karena aku mau, tapi karena saat itu tidak ada tempat lain untuk bertahan hidup. Mereka punya tanda-tanda seperti ini, dipakai untuk menandai barang yang tidak boleh dilihat orang awam. Orang yang berani menyentuh atau bertanya soal isinya biasanya menghilang tanpa jejak keesokan harinya.”

Dia menunduk, memandangi kain di tangannya. “Saat itu aku nyaris menjadi salah satu dari mereka. Kalau saja tidak ada seseorang yang menolong dan mengajari aku cara membaca situasi, mungkin sekarang aku juga sudah menjadi bagian dari dunia gelap itu, bukan hanya mengamatinya dari luar.”

Mendengar itu, suasana terasa makin hening. Mereka semua tahu kalau Niko pandai membaca jalanan, pandai mencatat gerak musuh, dan tahu banyak hal yang tidak diketahui orang lain — tapi tidak pernah dia ceritakan secara rinci dari mana semua pengetahuan itu berasal.

“Jadi maksudmu…” Mikhael membuka suara, tangannya masih sibuk merapikan peralatan obat-obatan sederhana yang dia punya, “barang yang mereka cari itu bukan sekadar beras, kain, atau logam biasa?”

“Jauh dari itu,” jawab Niko cepat. “Barang yang ditandai begini biasanya punya nilai yang bisa mengubah kekuasaan satu kota, bahkan lebih. Bisa jadi senjata yang tidak biasa, zat yang bisa mempengaruhi pikiran, atau bahkan sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal yang tidak seharusnya diperjualbelikan.”

Saat pembicaraan berlangsung, Arda masih duduk di sudutnya. Dia tidak ikut banyak bicara, hanya mendengarkan sambil sesekali memasukkan biji kacang ke mulutnya. Tapi tatapannya tidak lagi kosong seperti biasanya — ada kilatan ingatan yang melintas sekilas, lalu segera disembunyikan kembali.

“Kamu juga tahu sesuatu soal ini, kan?” tanya Kael tiba-tiba, menoleh tepat ke arah Arda.

Arda mengangkat bahu santai, tapi gerakannya terasa sedikit lebih lambat dari biasanya. “Aku sudah melihat banyak hal sepanjang hidupku. Banyak rahasia yang disembunyikan di balik tembok kota, banyak barang yang dipertaruhkan nyawa untuk memilikinya. Tapi bukan berarti aku hafal semuanya.”

Dia berhenti mengunyah sejenak, lalu menatap Kael dengan pandangan yang lebih serius. “Yang aku tahu, semakin berharga sebuah barang, semakin kejam orang yang menginginkannya. Kalau Elang Darah sudah terlibat, berarti ini bukan urusan yang bisa selesai hanya dengan mengalahkan dua puluh orang penyerang semalam.”

Kael mengangguk perlahan, lalu kembali memutar koin peraknya. Gerakan itu sudah menjadi kebiasaan sejak dia masih kecil — kebiasaan yang muncul setiap kali dia sedang memikirkan sesuatu yang berat.

“Dulu…” kata Kael pelan, suaranya terdengar agak jauh, “ayahku pernah bilang, di kota ini tidak ada keadilan yang bisa dibeli dengan uang. Hanya kekuatan dan kehati-hatian yang bisa membuat seseorang tetap berdiri tegak. Dia adalah penjaga keamanan pasar ini, sampai suatu hari dia menemukan sesuatu yang tidak boleh dia lihat. Malam itu juga dia tidak pulang, dan tidak pernah ditemukan lagi.”

Matanya menatap nyala api yang hampir padam di dalam tungku. “Sejak saat itu aku tahu, kalau kita ingin hidup tenang, kita harus tahu kapan harus diam dan kapan harus melangkah. Tapi saat ini, rasanya kita sudah tidak punya pilihan untuk diam saja.”

Bastian mendengarkan dengan diam. Dia baru tahu alasan di balik tatapan serius dan kehati-hatian Kael yang kadang terasa berlebihan. Selama ini dia hanya mengikuti perintah, tanpa tahu bahwa beban yang dipikul oleh pemimpinnya jauh lebih berat dari yang terlihat.

“Kalau begitu,” kata Bastian, suaranya sudah lebih tenang tapi tetap tegas, “kita buat rencana. Kita cari tahu dulu di mana tempat mereka menahan Pak Rian. Kita tidak akan terburu-buru masuk, tapi kita juga tidak akan membiarkan dia mati begitu saja.”

Mikhael mengangguk setuju, tangannya berhenti bergerak. “Aku siapkan ramuan dan perban secukupnya. Kalau nanti ada yang terluka, setidaknya kita punya bekal untuk mengobati sendiri. Lagipula, aku sudah terbiasa mengurus luka sejak masih kecil — dulu aku sering membantu kakekku yang bekerja sebagai tabib di pinggiran kota.”

Dia tersenyum tipis, meski senyum itu terasa agak pahit. “Banyak orang bilang pekerjaan ini tidak berguna di dunia yang penuh kekerasan, tapi aku selalu percaya bahwa menyelamatkan nyawa sama pentingnya dengan melindungi wilayah.”

Mendengar itu, setiap orang mulai menyadari satu hal: kebiasaan dan kemampuan yang mereka miliki bukanlah kebetulan semata. Semuanya terbentuk dari pengalaman, luka, dan kenangan yang masing-masing bawa dari masa lalu.

Di luar, langit mulai berubah warna menjadi kelabu pucat. Tanda bahwa fajar akan segera menyingsing. Waktu yang mereka miliki semakin sempit, tapi setidaknya sekarang mereka tahu sedikit lebih banyak tentang apa yang sedang mereka hadapi.

Niko membuka peta lusuhnya lagi, menorehkan garis baru di bagian yang belum ditandai sebelumnya. “Besok pagi aku akan menyusuri daerah bekas tambang tua di pinggiran sungai. Tempat itu jarang dikunjungi orang, dan sering dipakai untuk menyembunyikan barang-barang gelap. Kalau Pak Rian dibawa ke tempat yang aman dari pandangan orang, kemungkinan besar di sana.”

“Aku ikut,” kata Bastian segera. “Kalau ada bahaya, setidaknya kita berdua bisa saling menjaga.”

Kael mengangguk setuju. “Aku dan Mikhael akan tetap di sini, menjaga markas dan memantau gerakan orang-orang di jalan utama. Kita tidak tahu apakah mereka akan mengirim orang lagi untuk mengawasi atau bahkan menyerang kembali.”

Dia menoleh ke arah Arda, menunggu jawaban atau tanggapan.

Arda sudah kembali bersandar, menarik selimut setinggi dada. Matanya mulai terpejam lagi, tapi sebelum benar-benar terlelap, dia berbicara dengan suara yang sangat pelan, seolah hanya untuk dirinya sendiri.

“Hati-hati saja. Ingat, orang yang menyembunyikan rahasia besar biasanya juga menyembunyikan jebakan yang lebih mematikan.”

Saat fajar mulai menyinari celah-celah dinding pabrik tua itu, suasana kembali terasa tenang. Tapi di balik ketenangan itu, setiap orang kini memikul beban yang lebih berat — bukan hanya soal pertarungan atau wilayah, tapi juga soal masa lalu yang membentuk siapa mereka sekarang, dan rahasia yang perlahan mulai terungkap satu per satu.

Dan jauh di ujung kota, di sebuah ruangan bawah tanah yang gelap dan lembap, Pak Rian terikat di kursi kayu, matanya tertutup kain, dan tubuhnya terasa lemas karena penyiksaan yang dia terima semalaman. Di depannya berdiri sosok yang mengenakan jubah hitam, suaranya dingin dan tidak berperasaan.

“Kamu bisa mengakhiri penderitaan ini dengan mudah,” bisik orang itu. “Cukup katakan di mana barang itu disembunyikan. Atau kamu akan melihat orang-orang yang kamu lindungi hancur satu per satu.”

Pak Rian hanya menggeleng lemah, meski tubuhnya gemetar hebat. Dia tidak bicara, tapi di dalam hatinya dia berharap — berharap Kael dan kawan-kawannya tidak terjebak, dan berharap rahasia yang dia simpan tetap aman sampai akhir nyawanya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!