NovelToon NovelToon
Istri Seksi Gus Ibra

Istri Seksi Gus Ibra

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elma Grace

​"Bagaimana jadinya kalau gadis nakal harus takluk menghadapi anak dari pemilik pesantren?"


Tsabita Azzahra, sebagai bentuk protes karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya, Safira, yang nyaris sempurna, Bita memilih hidup bebas: nongkrong di lounge elite, pulang subuh, dan akrab dengan kehidupan malam.

​Puncaknya, setelah mabuk berat akibat patah hati, Bita membuat kekacauan terbesar dalam hidupnya. Di area parkir remang-remang, ia mengira seorang cowok jangkung yang sedang duduk tenang di atas moge hitamnya adalah tukang parkir. Dengan lancang, Bita memaki-maki cowok itu, menarik kerah bajunya, dan... muntah tepat di atas sepatu sneakers mahal si cowok sebelum akhirnya pingsan.

Sepanjang insiden itu, si cowok hanya diam, menatap Bita dengan pandangan dingin yang tidak terbaca, lalu menolongnya dengan tenang.

​​Kehabisan kesabaran, orang tua Bita memberikan hukuman final: Bita dijodohkan dengan anak pemilik salah satu Pesantren.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elma Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

​Kilatan lampu dari belasan kamera jurnalis langsung menyambut begitu pintu kaca aula utama pesantren dibuka. Ruangan itu sudah dipenuhi oleh perwakilan media nasional. Di bagian depan, sebuah meja panjang dengan beberapa mikrofon telah disiapkan, lengkap dengan background digital berlogo resmi yayasan pesantren.

​Bita menghentikan langkahnya sejenak di ambang pintu. Jantungnya berdegup begitu kencang. Ia meremas ujung gamis modern berwarna pastel yang dikenakannya pagi ini.

​"Jangan takut. Saya ada di sini," bisik Ibra tepat di samping telinganya.

​Pria itu tampil sangat berwibawa dengan kemeja batik tulis berwarna gelap. Dengan gerakan alami, Ibra menaruh telapak tangannya di punggung Bita, menuntun istrinya berjalan melewati barisan wartawan yang mulai riuh berbisik.

​Di meja depan, Bang Yusuf sudah berdiri menyambut mereka bersama dua pria paruh baya berjas rapi, tim hukum korporat pesantren.

​"Kalian sudah siap?" tanya Bang Yusuf dengan nada rendah, memastikan kesiapan mental keduanya.

​"InsyaAllah, Bang. Kita mulai saja," jawab Ibra tenang sambil menarikkan kursi untuk Bita, sebelum akhirnya ia duduk di samping istrinya.

​Bang Yusuf langsung mengambil mikrofon, membuka acara dengan ketukan formal. "Selamat pagi, rekan-rekan media. Terima kasih sudah hadir. Pagi ini, kami dari pihak keluarga dan yayasan akan memberikan klarifikasi resmi terkait pemberitaan yang menyerang nama baik saudari Tsabita Azzahra, istri dari Gus Ibra. Sesi tanya jawab akan dibuka setelah pernyataan pertama."

​Begitu kalimat Bang Yusuf selesai, seorang wartawan dari media gosip terkemuka langsung mengacungkan tangan tanpa sabar. "Selamat pagi, Gus Ibra, Mbak Bita. Langsung saja, di platform X sangat viral foto-foto Mbak Bita yang diduga berada di kelab malam dengan pakaian terbuka, bahkan ada video kedekatan dengan seorang pria. Apakah pihak pesantren membenarkan bahwa wanita di foto tersebut adalah anda?"

​Suasana aula mendadak hening total, menunggu jawaban. Bita menarik napas dalam-dalam, mencoba mengingat kata-kata Ibra semalam. Ia memajukan tubuhnya sedikit ke arah mikrofon.

​"Benar," jawab Bita, suaranya terdengar jernih dan stabil, meski jemarinya di bawah meja saling bertautan erat. "Saya tidak akan membantah. Wanita di dalam foto dan video yang beredar itu adalah saya."

​Kasak-kusuk langsung terdengar di antara para wartawan. Lampu kilat kamera makin beringas menyorot wajah Bita.

​"Artinya Mbak Bita mengakui rekam jejak kelam tersebut? Bagaimana tanggapan Anda sebagai istri seorang pemuka agama muda?" cecar wartawan lain dari sudut kanan.

​Bita menatap lurus ke arah kamera depan. "Foto-foto itu diambil sudah sangat lama, jauh sebelum saya mengenal Gus Ibra, dan jauh sebelum pernikahan kami terjadi. Itu adalah masa lalu saya, masa lalu saya yang saat itu belum memahami esensi agama dengan baik. Namun, potongan video yang menarasikan hal-hal tidak senonoh... saya tegaskan di sini, itu adalah fitnah dan manipulasi."

​"Manipulasi bagaimana, Mbak? Di video itu Anda terlihat sangat intim dengan pria bernama Reno," kejar wartawan itu lagi.

​Sebelum Bita sempat menjawab, Ibra langsung menarik mikrofon di depannya. Aura teduh pria itu seketika tergantikan oleh ketegasan yang mengintimidasi.

​"Biar saya yang menjawab bagian itu," potong Ibra, suaranya baritonnya bergema kuat di seluruh sudut aula. "Pernikahan saya dengan Tsabita didasari oleh komitmen mutlak. Saya menikahi dia dengan kesadaran penuh atas siapa dia di masa lalu, dan siapa dia hari ini. Masa lalu istri saya adalah privasi yang sudah selesai di keluarga kami sejak akad diucapkan."

​Ibra menjeda kalimatnya, menatap tajam ke arah kerumunan jurnalis. "Yang menjadi masalah hari ini bukan masa lalu istri saya, melainkan tindakan kriminal siber yang dilakukan oleh pihak tertentu secara terstruktur untuk menjatuhkan kehormatan keluarga kami."

​Seorang jurnalis senior dari media hukum mengangkat tangan. "Gus Ibra, Anda menyebut ini tindakan kriminal terstruktur. Apakah Anda memiliki bukti kuat, atau ini hanya bentuk pembelaan sepihak untuk menyelamatkan marwah pesantren?"

​Ibra tersenyum tipis—sebuah senyuman yang membuat beberapa orang di ruangan itu menahan napas. Ia memberikan kode dengan anggukan kepala kepada salah satu tim hukum di sampingnya.

​Seketika, layar LED besar di belakang mereka menyala, menampilkan bagan forensik digital, log alamat IP, hingga mutasi rekening yang sudah disensor sebagian.

​"Kami tidak pernah berbicara tanpa bukti," ujar Ibra dingin. "Silakan Pak Surya, jelaskan."

​Pak Surya, kepala tim hukum, langsung berdiri dan memegang mikrofon. "Pagi ini, kami resmi melayangkan somasi dan melaporkan seorang warga sipil berinisial R-N ke Polda Metro Jaya. Berdasarkan pelacakan siber dari tim IT dan diperkuat oleh penyidik siber Polri, akun-akun yang menyebarkan utas tersebut digerakkan oleh sebuah buzzer agency di Jakarta Barat. Dan seluruh pendanaan agensi tersebut mengalir langsung dari rekening pribadi milik R-N."

​Aula langsung heboh. Para jurnalis sibuk mengetik di laptop mereka dengan cepat.

​"R-N? Apakah itu Reno, mantan kekasih Mbak Bita?" tanya seorang wartawan dengan suara setengah berteriak.

​"Kami menyerahkan detail identitas kepada pihak kepolisian," sahut Pak Surya tegas. "Namun yang jelas, motif dari pelaku bukan sekadar masalah personal, melainkan ada indikasi persaingan bisnis tidak sehat untuk menjatuhkan nama baik Yayasan pesantren yang bulan depan akan menandatangani kerja sama internasional. Ini adalah pembunuhan karakter yang direncanakan."

​Bita menoleh, menatap Ibra dari samping. Dadanya dipenuhi rasa hangat yang luar biasa melihat bagaimana suaminya membalikkan keadaan dengan begitu elegan. Tidak ada kepanikan, tidak ada drama emosional. Ibra menghadapi badai ini layaknya seorang CEO sekaligus pelindung yang tak terkalahkan.

​Setelah beberapa pertanyaan teknis hukum dijawab oleh Pak Surya, Bang Yusuf akhirnya menutup konferensi pers tersebut karena waktu yang sudah habis. Para wartawan berebut merangsek maju, namun barisan security internal pesantren dengan cepat mengamankan Ibra dan Bita kembali ke dalam.

​Begitu pintu akses khusus ditutup dan suasana kembali sepi, Bita langsung mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan. Kakinya terasa lemas.

​"Gus..." panggil Bita lirih.

​Ibra langsung berbalik, menangkap tubuh Bita yang sedikit limbung dengan sigap. Ia merangkul pinggang istrinya, membawa Bita ke salah satu sofa di ruang tunggu privat.

​"Kamu tidak apa-apa? Ada yang sakit?" tanya Ibra, suaranya seketika berubah menjadi sangat lembut dan penuh kecemasan, sangat kontras dengan sosok dingin di aula tadi.

​Bita menggeleng cepat. Ia mendongak, menatap mata tajam suaminya yang kini hanya berjarak beberapa sentimeter darinya. "Aku gak apa-apa. Cuma... deg-degan banget tadi. Tapi, kamu hebat banget, Gus. Aku gak tahu harus bilang apa."

​Ibra tertegun sejenak mendengarkan perubahan panggilan Bita yang sebenarnya sudah dari semalam terdengar begitu manis di telinganya. Perlahan, sebuah senyuman tulus terukir di wajah tampannya.

​"Sudah saya katakan, kan? Tugas kamu hanya berdiri di samping saya," ucap Ibra dengan nada baritonnya yang menenangkan. "Reno sudah membuat kesalahan besar karena mengira kita akan diam. Sekarang, biarkan dia sibuk berhadapan dengan hukum."

​"Kamu... kamu beneran gak malu punya istri penuh skandal kayak aku, Gus?" tanya Bita lagi, sisi tidak percaya dirinya kembali menyembul sedikit.

​Ibra menangkup kedua pipi Bita dengan lembut, memaksa wanita itu untuk melihat kesungguhan di matanya. "Tsabita, dengarkan saya. Saya tidak pernah melihat masa lalumu sebagai noda. Di mata saya, kamu adalah wanita berani yang hari ini berdiri teguh membela kehormatan kita. Saya justru bangga luar biasa memiliki istri seperti kamu."

​"Makasih ya, Gus," bisik Bita malu-malu, menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan senyum lebarnya.

​Ibra terkekeh rendah, suara tawa tertahannya terdengar begitu seksi di koridor sepi itu. Ia menarik Bita kembali ke dalam dekapannya, memeluk istrinya dengan erat seolah menegaskan bahwa mulai hari ini, tidak akan ada satu pun badai dari luar yang bisa menyentuh wanita di dalam pelukannya. Di balik dinding pesantren ini, Bita akhirnya tahu, dia telah pulang ke tempat yang tepat.

1
Anita Rahayu
kapan ni buat dedek bayi yg gemoy
Elma Grace: eh tenang aja. ada kok nanti. tunggu yaa, bikin sedikit konflik biar makin deket dulu merekanyaa
total 1 replies
merry
kyky reno ngk bergerak sndrian dehh,, x Safira itu terlibat krn iri sm bita x y
Clarisa Putri: aku juga mikir gini
total 1 replies
Sri Jumiati
apa safira suka sm gus ibra ya
Elma Grace
/Rose//Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!