Elnaya Bellarose Valenzia, gadis polos yang selalu menjadi korban perundungan di Golden International School, mengalami percobaan pembunuhan misterius yang membuatnya koma.
Mengetahui hal itu, saudara kembarnya, Elnara Bellamont Valenzia, seorang bad girl yang bersekolah di luar negeri, kembali ke Indonesia untuk mencari pelaku. Dengan menyamar sebagai Elnaya, ia mulai menyelidiki rahasia di balik kejadian tersebut.
Namun di tengah pencariannya, Elnara justru menarik perhatian dua siswa paling berpengaruh di sekolah: Alaric Alden Adinata, ketua OSIS yang sempurna, dan Nathaniel Atharva Pradana, ketua geng Blaze yang terkenal sebagai bad boy.
Semakin dalam Elnara mengungkap kebenaran, semakin banyak rahasia gelap yang terkuak. Hingga ia menyadari bahwa orang yang menghancurkan hidup saudara kembarnya ternyata lebih dekat dari yang pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fayepey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Indonesia
Elnara memarkirkan mobil sport terbarunya di halaman sebuah mansion besar yang selama ini ia tempati di London. Ia baru saja pulang sekolah bersama teman-temannya. Selama berada di London, ia tinggal bersama oma dan opanya. Di sana juga terdapat salah satu cabang perusahaan Valenzia yang untuk sementara masih dikelola oleh sang opa.
Gadis yang biasa dipanggil Nara itu berjalan masuk ke dalam mansion sambil berlompat-lompat kecil. Wajahnya masih terlihat ceria setelah seharian beraktivitas di sekolah.
"Hai, Oma. Aku baru pulang," sapanya saat melihat sang oma duduk di sofa ruang keluarga.
Oma Ena yang sedari tadi tampak melamun langsung mengalihkan pandangannya ke arah cucu kesayangannya itu. Ada sesuatu yang berbeda dari raut wajah wanita paruh baya tersebut.
"Sayang, sini dulu, yuk. Ada yang mau Oma bicarakan," ujar Oma Ena sambil menepuk-nepuk sofa di sampingnya.
Niat Nara untuk langsung pergi ke kamar pun terurungkan. Ia berjalan mendekat lalu duduk di samping oma.
"Oma ada yang mau dibicarakan?" tanyanya penasaran.
Oma Ena mengangguk pelan.
"Oma mau ngomong apa?" tanya Nara lagi.
"Kita besok ke Indonesia, ya."
Ucapan mendadak itu membuat dahi Nara langsung berkerut.
"Why?" tanyanya heran.
"Tadi mami kamu ngabarin Oma kalau Naya kecelakaan dan sekarang kondisinya kritis."
Seketika tubuh Nara membeku.
"Naya? Kritis? Apa yang terjadi?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Ada yang mencelakainya di sekolah. Mami dan papi kamu juga baru tahu kalau selama ini Naya ternyata jadi korban perundungan di sekolahnya."
"What the—"
Nara refleks mengumpat.
"Oh God...!"
Tangannya langsung menutupi mulut. Dadanya terasa sesak mendengar kabar itu.
"Oma, aku mau lihat Naya," ucapnya penuh desakan.
Elnaya, atau yang biasa dipanggil Naya, adalah saudara kembar Nara yang tinggal bersama mami dan papi mereka di Indonesia. Sejak kecil mereka memang sengaja dipisahkan. Dunia bisnis keluarga Valenzia tidak sesederhana yang terlihat. Terlalu banyak musuh yang mengincar keluarga mereka, termasuk anak-anaknya.
Karena itulah mami dan papi mereka memilih menyembunyikan identitas kedua putrinya dengan cara yang berbeda. Nara dikirim bersekolah ke luar negeri sejak usia dua belas tahun, sementara Naya tetap tinggal di Indonesia.
Namun keputusan itu ternyata membawa konsekuensi yang tidak pernah mereka bayangkan.
Karena identitas keluarganya disembunyikan, banyak orang menganggap Naya berasal dari keluarga biasa, bahkan miskin. Hal itu membuatnya menjadi sasaran perundungan. Berbeda dengan Nara yang secara terbuka menggunakan nama keluarga Valenzia. Semua orang tahu siapa dirinya, sehingga tidak ada yang berani macam-macam padanya.
"Kita pulang besok, ya. Sekarang hubungi mami kamu dulu," ujar Oma Ena lembut.
Nara mengangguk pelan sebelum berjalan menuju lift pribadi yang mengarah ke lantai atas.
Sesampainya di kamar super mewah miliknya, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. Ia duduk di tepi ranjang sambil menatap layar ponselnya.
Jam menunjukkan pukul sembilan malam di London. Itu berarti di Indonesia sudah pukul tiga dini hari.
Meski begitu, Nara tidak peduli.
Yang penting sekarang ia harus melihat kondisi adiknya.
Dengan tangan sedikit gemetar, ia langsung melakukan panggilan video kepada maminya.
Tidak butuh waktu lama hingga panggilan itu diangkat.
"Mami..." sapa Nara dengan mata yang sudah memerah.
"Sayang, kamu sudah dengar kabar dari Oma?" tanya maminya.
Suara wanita itu terdengar serak seperti habis menangis berjam-jam.
Mendengarnya, air mata Nara kembali jatuh.
"Mii, gimana bisa Naya kritis? Gimana bisa, Mi?" tanyanya sambil menangis.
"Naya diduga ada yang mendorongnya dari lantai dua."
Nara langsung menegang.
"Tapi untungnya sebelum kejadian itu, dia sempat menelepon Mami. Sayangnya saat Mami sampai di sana, ponselnya sudah hilang. Dan waktu akhirnya ditemukan..."
Ucapan maminya terhenti. Isakan terdengar jelas dari seberang layar.
"Kenapa, Mi? Jelasin pelan-pelan, ya," desak Nara dengan suara bergetar.
"Kepala adik kamu bocor karena benturan yang cukup keras. Dia jatuh dari lantai dua."
Tubuh Nara terasa dingin seketika.
"Siapa pelakunya?" tanyanya.
"Belum diketahui, Nara. Saat kejadian terjadi, ada seseorang yang meretas CCTV sekolah dan menghapus seluruh rekaman yang bisa dijadikan bukti."
Rahang Nara mengeras mendengarnya.
"Tapi kita nggak bisa sembarangan mengusut kasus ini secara terbuka," lanjut maminya.
"Kenapa?"
"Papi sedang memikirkan dampaknya untuk kalian berdua ke depannya. Kalau identitas keluarga kita sampai terekspos karena kasus ini, keselamatan kalian bisa terancam."
Nara terdiam.
Ia mengerti maksud maminya.
Jika kasus itu dibawa ke media dan diusut secara terang-terangan, maka bukan tidak mungkin banyak musuh lama keluarga Valenzia akan mengetahui keberadaan mereka.
"Besok Nara pulang ke Indonesia bersama Oma dan Opa," ucapnya akhirnya.
Maminyanya mengangguk pelan sambil mengusap air mata yang terus mengalir.
"Ya, Sayang. Kami tunggu."
Setelah itu panggilan berakhir.
Nara menurunkan ponselnya perlahan. Tatapannya kosong mengarah ke jendela kamar yang memperlihatkan gemerlap kota London di malam hari.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa begitu takut.
Takut kehilangan satu-satunya saudara kembar yang sangat ia sayangi.
***
Pukul tujuh pagi di London, Elnara, Oma Ena, dan Opa Jhon sudah bersiap untuk berangkat ke Indonesia. Setelah semua barang selesai dimasukkan ke dalam jet pribadi keluarga Valenzia, mereka pun segera lepas landas dari London.
Sepanjang perjalanan, Nara hampir tidak bisa tidur dengan tenang. Pikirannya terus tertuju pada Naya yang masih terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit. Berkali-kali ia menatap ponselnya, berharap ada kabar baik yang datang.
Setelah menempuh perjalanan panjang, jet pribadi itu akhirnya mendarat di Jakarta sekitar pukul tiga dini hari keesokan harinya.
Begitu keluar dari bandara, mereka langsung disambut seorang sopir pribadi yang sudah menunggu.
"Selamat datang, Tuan, Nyonya dan Nona muda," sapa pria itu sopan.
Tanpa membuang waktu, mereka segera masuk ke dalam mobil dan berangkat menuju rumah sakit tempat Naya dirawat.
Sesampainya di sana, Nara langsung berlari memasuki area VIP rumah sakit. Matanya segera mencari sosok yang paling ingin ia temui.
"Mami!"
Felly yang sedang duduk di luar ruang ICU langsung menoleh. Begitu melihat putri sulungnya datang, matanya kembali berkaca-kaca.
"Nara, sayang..."
Mereka langsung berpelukan erat.
"Mami, aku kangen," ujar Nara dengan suara bergetar.
"Mami juga kangen sama kamu, Nak," jawab Felly sambil mengusap rambut putrinya.
Tak lama kemudian, Ronal ikut mendekat dan memeluk anak gadisnya itu.
"Sudah lama kamu nggak pulang, Baby. Gimana perjalanannya?" tanya Ronal yang jelas sangat merindukan putrinya.
"Aman, Papi. Keadaan Naya gimana?" tanya Nara.
"Masih kritis, Sayang," jawab Felly lirih.
Nara menatap kedua orang tuanya. Wajah mereka terlihat sangat lelah, mata sembap, dan jelas kurang tidur selama dua hari terakhir. Kondisinya tidak jauh berbeda dengan dirinya, Oma, dan Opa yang juga kelelahan setelah perjalanan panjang.
"Lebih baik kita istirahat dulu. Nggak bagus, kan, kalau Naya sadar nanti malah kalian yang jatuh sakit," ujar Oma Ena kepada anak dan menantunya.
"Iya, Oma. Pihak rumah sakit sudah menyediakan dua kamar VVIP untuk kita menginap," jawab Felly.
Sejak Naya dirawat, mereka memang memilih tinggal di rumah sakit daripada pulang ke rumah.
Pagi menjelang siang, mereka berlima akhirnya memutuskan pulang ke rumah untuk beristirahat. Awalnya Felly menolak dan ingin tetap berada di rumah sakit, tetapi setelah dibujuk oleh Nara, Ronal, serta kedua mertuanya, ia akhirnya bersedia pulang.
Lagipula, ada beberapa bodyguard yang berjaga di depan ruang ICU Naya selama dua puluh empat jam.
Sesampainya di rumah, Nara langsung menuju kamar barunya yang sudah dibersihkan oleh para maid. Kamar itu berada di lantai tiga dan memiliki balkon besar yang menghadap taman belakang.
Baru saja ia meletakkan koper, terdengar ketukan di pintu.
Tok.
Tok.
"Nara, boleh masuk?" tanya Ronal dari luar.
"Boleh, Pi."
Ronal masuk lalu duduk di sofa yang berada di sudut kamar. "Nara, Papi mau ngomong sesuatu sama kamu."
Nara ikut duduk di hadapan papinya. "Papi mau ngomong apa?"
Ronal menarik napas pelan sebelum menjawab.
"Kamu bisa, kan, gantikan Naya di sekolah sampai dia sadar dan kasus ini terbongkar?"
Nara langsung mengernyit. "What? Jadi aku harus pindah sekolah gitu, Pi?"
"Iya, sementara waktu."
"Nanti Papi yang urus surat kepindahan kamu. Yang penting untuk sekarang kamu masuk dulu sebagai Naya."
"Dan berpenampilan seperti Naya juga?"
Nara tentu tahu bagaimana penampilan saudara kembarnya itu. Naya selalu memakai seragam yang sedikit kebesaran dan kacamata minus yang membuatnya terlihat semakin pendiam. Sangat berbeda dengan dirinya yang lebih percaya diri dan fashionable.
"Iya. Tapi kalau nggak persis juga nggak apa-apa. Kamu tetap jadi diri kamu sendiri," jawab Ronal.
Nara berpikir sejenak.
"Kenapa nggak sebagai diri sendiri aja? Kan aku nggak perlu pusing."
"Soalnya kalau kamu masuk sebagai Elnara, prosesnya bakal lebih rumit. Harus ada berkas baru dan berbagai administrasi lainnya. Sedangkan sekarang Papi butuh kamu menyamar sebagai Naya untuk menyelidiki kasus ini."
Nara terdiam cukup lama.
Ia memikirkan semua kemungkinan yang akan terjadi jika dirinya benar-benar masuk ke sekolah itu.
"Oke. Tapi dengan satu syarat."
"Apa?" tanya Ronal bingung.
"Aku nggak mau nutupin identitas aku sebagai bagian dari keluarga Valenzia. Aku mau mereka mengenal aku sebagai Naya dari keluarga Valenzia. Papi bisa, kan, ngumumin ke publik kalau Naya itu anak Papi?"
Ronal langsung menghela napas panjang.
"Ini nggak semudah itu, Nara. Kamu tahu sendiri risikonya."
"Aku tahu. Kalau Papi yang mempublikasikannya, mereka pasti percaya. Dan Papi nggak usah khawatir, aku bisa jaga diri. Aku nggak sepolos Naya, Pi."
Ronal terdiam.
"Kalau Papi benar-benar mengumumkan Naya ke publik, apa yang akan terjadi di sekolah itu? Dan kamu gimana?"
"Mereka nggak akan semudah itu ganggu aku kalau tahu aku berasal dari kalangan atas. Sedangkan untuk aku sendiri, nggak masalah kalau identitasku tetap disembunyikan dulu. Nanti kalau aku sudah siap, baru aku perkenalkan diri sebagai Elnara."
Ronal menatap putrinya beberapa saat.
Ia tahu Nara jauh lebih berani dan kuat dibandingkan Naya. Namun tetap saja, sebagai seorang ayah, ia tidak bisa berhenti khawatir.
Akhirnya ia mengangguk pelan.
"Oke. Papi akan lakukan itu untuk kamu."
Mendengar jawaban tersebut, senyum tipis akhirnya muncul di wajah Nara.
Bagaimanapun caranya, ia akan menemukan siapa orang yang sudah berani menyakiti saudara kembarnya.