NovelToon NovelToon
Cinta Tulus Sang Penguasa

Cinta Tulus Sang Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Risnawati

Annisa, seorang TKI dari Indonesia, merantau ke Tiongkok untuk mencari nafkah. Ia bekerja sebagai pembantu di kediaman Chensi—seorang pengusaha kaya raya, pemimpin perusahaan raksasa, dan dikenal sebagai sosok yang kejam, dingin, serta tak ada yang berani menentangnya. Hidup Annisa terasa penuh ketakutan hingga suatu malam, Chensi pulang dalam keadaan mabuk berat dan melakukan perbuatan keji yang merenggut kehormatannya. Kejadian itu membuat Annisa hamil, memaksanya menghadapi pilihan sulit: bertahan atau kembali pulang dengan membawa beban yang tak terbayangkan. Akankah sang tiran yang dingin itu akhirnya berubah, atau justru menambah penderitaan bagi Annisa dan janin di dalam kandungannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelukan Bahagia

Setelah kembali ke ruang tengah, suasana masih hening dan penuh harap. Jam terus berjalan, menandai berapa lama operasi berlangsung. Annisa duduk bersandar, sesekali memejamkan mata dan berbisik doa dalam hatinya, sementara Chensi berdiri di dekat jendela, menatap ke luar dengan tatapan kosong namun penuh ketenangan.

Tanpa suara, Chensi melangkah ke sudut ruangan yang agak terpisah. Ia menundukkan kepala, lalu berdiri tegak dengan posisi yang sangat khusyuk. Di sana, di atas meja kecil, berdiri sebuah patung dewa yang ia yakini sebagai pelindung keluarganya dan keberhasilannya selama ini. Dengan gerakan yang teratur dan penuh penghormatan, ia menunduk, mempersembahkan harapan, dan memohon agar segala urusan berjalan lancar, serta keselamatan bagi ibu Annisa, gadis itu sendiri, dan anak yang dikandungnya.

Annisa menatapnya dari jauh, matanya tak bisa beralih. Ia melihat raut wajah lelaki itu yang terlihat begitu tulus, tenang, dan seolah terhubung dengan keyakinannya sendiri. Namun setiap detik ia menatap, perasaan yang campur aduk semakin menyelimuti hatinya.

“Inilah batas yang tak bisa dihapus,” batinnya lirih. “Ia berdoa dengan caranya, aku dengan caraku. Ia memohon pada yang ia yakini, aku memohon pada Tuhanku sendiri. Dua jalan yang berbeda, dua kebenaran yang sama‑sama diyakini sepenuhnya. Bagaimana mungkin dua orang yang berdiri di atas dasar yang berbeda ini bisa bersatu dalam ikatan yang utuh?”

Rasa sedih perlahan merayap masuk ke dalam dadanya. Selama ini ia berusaha menepis kenyataan itu, berharap ada jalan ajaib yang bisa menyatukan mereka, namun kenyataan ini selalu kembali hadir dan mengingatkannya—mereka tidak akan pernah bisa menjadi pasangan yang sesungguhnya, tidak bisa mengikuti aturan pernikahan yang ia yakini, dan tidak bisa membesarkan anak dalam satu keyakinan yang sama.

Namun di sisi lain, Annisa tak bisa membohongi hatinya sendiri. Setiap kali Chensi memperhatikannya, setiap kali ia berusaha memahami kebiasaan dan kebutuhannya, setiap kali ia melindunginya dari bahaya dan memberikan ketenangan, rasa yang lebih dari sekadar rasa terima kasih perlahan tumbuh dan mengakar. Cinta yang ia duga tidak akan pernah ada, kini justru hadir tanpa diundang, semakin kuat seiring waktu.

“Jangan… jangan biarkan perasaan ini berkembang lebih jauh,” tegur dirinya sendiri dalam hati. “Semakin aku mencintainya, semakin sakit nanti saat kami harus berpisah atau hidup dalam ketidakjelasan selamanya. Ini hanya akan menyakiti diri sendiri dan anak yang ada di dalam kandunganku.”

Annisa menunduk dalam, menggenggam kedua tangannya erat‑erat, berusaha menekan rasa itu agar tidak meluap. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua perhatian Chensi hanyalah bentuk tanggung jawab, bukan rasa cinta yang sama. Ia berusaha melihatnya hanya sebagai majikan yang baik, atau ayah dari anaknya saja—bukan sebagai lelaki yang ia cintai.

Namun saat ia kembali mengangkat wajah, ia melihat Chensi sudah selesai berdoa. Lelaki itu berbalik, dan seketika tatapan mereka bertemu. Di mata Chensi terlihat kelembutan yang tulus, seolah ia tahu apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan gadis itu.

Chensi melangkah mendekat, lalu duduk di sampingnya dengan jarak yang cukup—tidak terlalu dekat untuk membuatnya merasa tertekan, namun cukup dekat untuk menunjukkan perhatian.

“Kau melihatnya, bukan?” tanya Chensi pelan, seolah bisa membaca pikiran Annisa. “Cara aku berdoa, cara aku menyembah apa yang aku yakini. Aku tahu perbedaannya terasa jelas, dan aku tahu itu membuatmu kembali ragu.”

Annisa menunduk, tidak sanggup menjawab langsung. “Ya… saya melihatnya. Dan saya sadar sekali, Tuan. Kita berasal dari dua jalan yang berbeda, keyakinan yang tidak bisa disamakan. Semua kebaikan dan perhatian Tuan membuat hati saya luluh, namun kenyataan ini selalu menjadi tembok yang berdiri teguh di antara kita.”

Ia menatap Chensi kembali, matanya berkaca‑kaca namun tegas.

“Jujur saja… saya merasakan ada perasaan yang tumbuh di hati saya, lebih dari sekadar rasa terima kasih. Tapi saya berusaha keras menepisnya. Karena saya tahu, jika perasaan ini terus tumbuh, nanti yang terluka hanyalah saya sendiri. Kita tidak bisa menjadi suami istri yang sah menurut ajaran saya, tidak bisa hidup dalam satu atap dengan ikatan yang jelas. Lalu apa yang akan kita jadikan hubungan ini?”

Chensi tertegun mendengar pengakuan itu. Ia tidak menyangka Annisa akan berani mengungkapkannya secara terus terang. Hatinya terasa hangat sekaligus terasa perih mendengar keraguan itu. Ia mengerti benar apa yang dikatakan gadis itu—perbedaan ini bukan hal sepele yang bisa diubah dengan kekuasaan atau harta, melainkan hal yang menyentuh dasar hidup seseorang.

Namun ia juga tidak bisa menyangkal perasaannya sendiri. Ia telah terbiasa dengan kehadiran Annisa, mulai mengagumi keteguhan hatinya, dan merasakan kebahagiaan yang baru sejak wanita itu ada di sisinya. Bahkan ia sangat takut kehilangannya.

“Annisa… aku tidak akan menyangkal perbedaan itu,” jawabnya perlahan namun tegas. “Aku juga tidak akan memaksamu mengubah keyakinanmu, dan aku juga tidak bisa begitu saja meninggalkan apa yang sudah aku yakini selama ini. Tapi satu hal yang aku yakini. Yaitu rasa yang tumbuh di hati kita ini tidak salah, dan kita berhak mencari jalan yang bisa membuat kita tetap dekat tanpa harus mengorbankan apa yang kita pegang teguh.”

Annisa hanya bisa menatapnya, tanpa kata‑kata lagi. Ia tahu jalan yang diambil tidak akan mudah, namun ia juga sadar—ia tidak bisa lagi menepis perasaan itu, meski ia tahu rintangan terbesar masih berdiri di depan mereka.

Tak lama setelah percakapan yang menyentuh hati itu, ponsel di meja berdering keras. Suara itu memecah keheningan ruangan yang penuh ketegangan dan keraguan. Chensi segera meraihnya, lalu menempelkan ke telinga, sementara Annisa menatapnya dengan napas tertahan, jantungnya berdebar kencang menunggu kabar yang dinanti‑nanti.

Beberapa detik mendengarkan, raut wajah Chensi perlahan berubah dari tegang menjadi lega, lalu tersenyum lebar—senyum yang jarang terlihat, terasa tulus dan penuh kelegaan. Ia menurunkan ponsel, lalu menatap Annisa dengan mata yang berbinar.

“Berhasil… operasinya berjalan lancar dan sukses. Bu Sari sudah sadar, kondisinya stabil, dan dokter mengatakan semuanya berjalan sesuai harapan,” ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar karena rasa lega yang meluap.

Mendengar kalimat itu, seolah beban seberat gunung terangkat dari pundak Annisa. Rasa syukur yang meluap bercampur kebahagiaan membuatnya lupa akan segala batas dan jarak yang selama ini ia jaga. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah cepat ke arah Chensi, lalu memeluk tubuh lelaki itu dengan erat, seolah ingin meyakinkan diri bahwa kabar itu benar adanya.

“Syukurlah… terima kasih, Tuhan… terima kasih banyak, Tuan Chensi…” bisiknya terisak, air mata bahagia mengalir deras membasahi bahu baju lelaki itu.

Chensi tertegun seketika, tubuhnya kaku dan mematung sejenak. Jantungnya berdegup kencang, jauh lebih cepat dari biasanya, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Ini adalah kali pertama sejak malam kelam itu, Annisa dengan sukarela mendekat, menyentuh, dan memeluknya tanpa rasa takut, tanpa paksaan, dan tanpa keraguan. Selama berbulan‑bulan ini, gadis itu selalu menjaga jarak, menghindari sentuhan, dan terlihat waspada setiap kali ia mendekat.

Namun seketika itu juga, ketegangan itu berubah menjadi kehangatan yang luar biasa. Perlahan namun pasti, kedua tangan Chensi terangkat dan membalas pelukan itu dengan lembut namun erat. Ia merasakan tubuh mungil yang sedang bergetar di dalam dekapannya, merasakan ketulusan dan rasa syukur yang tercurah sepenuhnya.

Dengan gerakan yang sangat hati‑hati dan penuh rasa hormat, Chensi menundukkan kepalanya, lalu mencium lembut puncak kepala Annisa yang tertutup rapat oleh hijabnya. Sentuhan itu bukanlah hasrat, melainkan bentuk rasa syukur, perlindungan, dan rasa sayang yang mendalam.

“Sudah, sudah… semuanya baik‑baik saja sekarang,” bisik Chensi dengan suara lembut dan hangat, mengusap punggung Annisa dengan gerakan menenangkan. “Ibumu akan segera pulih, kau tidak perlu khawatir lagi. Semua akan baik‑baik saja.”

Mereka berdiri dalam posisi itu selama beberapa menit, membiarkan kehangatan menyelimuti hati yang selama ini terpisah oleh jarak dan perbedaan. Tidak ada kata‑kata lain yang perlu diucapkan, karena kebahagiaan dan rasa syukur itu sudah terasa jelas di antara mereka.

Baru setelah detak jantungnya mulai kembali tenang, Annisa menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Ia perlahan melepaskan pelukannya, lalu mundur selangkah dengan wajah yang seketika memerah merona. Ia menunduk dalam, jari‑jarinya meremas ujung pakaiannya karena malu dan canggung.

“Maafkan saya, Tuan… saya tidak bermaksud…” ucapnya terbata‑bata, merasa malu karena kehilangan kendali diri tadi.

Namun Chensi segera mengangkat dagunya perlahan agar Annisa menatapnya kembali. Wajahnya terlihat lembut, matanya memancarkan ketenangan dan penerimaan.

“Tidak perlu minta maaf, Annisa. Justru ini adalah hal terindah yang kau berikan padaku selama ini,” jawabnya tulus. “Jangan merasa bersalah atau canggung. Itu adalah pelukan yang tulus, dan aku menerimanya dengan sepenuh hati.”

Annisa menatapnya kembali, melihat ketulusan di mata lelaki itu, dan rasa canggung itu perlahan hilang digantikan rasa damai yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Meskipun perbedaan keyakinan dan status hubungan mereka masih menjadi teka‑teki besar, untuk saat ini mereka berdua merasa cukup—karena kebahagiaan itu telah menyatukan hati mereka, setidaknya untuk sementara waktu.

1
Kasih Bonda
next Thor semangat
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Jalanilah hubungan kalian berdua seperti ini dulu, sambil terus berdoa suatu saat jika Tuhan sudah berkehendak kalian untuk bersatu selamanya.
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Chensi saat ini mulai tertarik untuk mempelajarinya, siapa tahu suatu saat nanti atas ijin Yang Maha Kuasa Chensi tidak hanya mempelajari saja namun juga memperdalam ilmunya serta meyakini apa yang sudah ditegaskan di dalam setiap ayat-ayatnya.
Naufal Affiq
semoga chensi mendapat hidayah
Naufal Affiq
bagus chensi
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
lanjut kak dewi
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
seiring berjalannya waktu semoga hubungan kalian.bisa menemukan jalan yang baik
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
asingkan aliin keluar pulau terpencil biar tidak bisa balik lagi 🙄
Kasih Bonda
next Thor semangat
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
chensi mana mau dengar wong calon cucu sendiri mau di lenyapkan
Naufal Affiq
bagus chensi,buat mereka jera seumur hidup
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Rukun-rukun ya kalian berdua 🥰👍
Kasih Bonda
next Thor semangat
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋𝐦ͬ𝐨ᷲ𝐨ᷯ𝐧ᷲ three
hukuman yg pantas buat kalian bertiga mk nya mikir sebelum bertindak
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋𝐦ͬ𝐨ᷲ𝐨ᷯ𝐧ᷲ three
memang pengawal bodo hrsnya konfirmasi dl sm tuanmu , trima sj hukumnya nya skrg
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Akhirnya Aulin menerima hukuman dari Chensi, semoga saja dia benar-benar tak akan mengganggu kehidupan Annisa di kemudian hari 👍
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
kasiann Annisa semoga dia tidak apa apa dan Chensi cepat datang menolong 😟😟
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
bego banget penjaganya mudah percaya ditambah iming iming uang lagi harusnya konfirmasi sendiri sama Chensi mengenai kedatangan Ailin🤧😤
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
huaa senangnya mendengar pengakuan kalian sekarang jangan galau lagi Annisa nanti Chansi pasti pulang
Naufal Affiq
chensi cepat pulang,annisa di bawa ailin pergi dari rumah mu,alasan kau yang menyuruhnya.tolong annisa vhensi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!