Hari itu, Alya memberikan hadiah terakhir untuk suaminya.
Bukan harta, bukan pula kenangan. Melainkan kesempatan untuk hidup bersama wanita yang lebih dipilihnya.
Lalu ia pergi, membawa sebuah rahasia yang baru disadari Adrian saat semuanya sudah terlambat.
Follow instagram @Tantye005 untuk info seputar novel🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Demi posisimu
Wajah bahagia Safira yang sejak tadi diperlihatkan berubah masam setelah kepergian Alya dan Pradipta.
"Lihatlah Mas, mantan istrimu bukan wanita baik-baik. Masa sudah jalan sama pria lain padahal belum resmi bercerai darimu. Aku jadi curiga kalau sebenarnya dia juga selingkuh tapi ingin terlihat suci," ujar Safira.
Dia terus menjelek-jelekkan Alya pada Adrian sepanjang jalan menuju kamar. Kebetulan mereka menginap di hotel yang ada di dalam mall.
"Apa jangan-jangan dia juga hamil bukan anakmu?"
Kali ini Adrian tidak bisa menoleransi ucapan Safira. Pria itu berhenti melangkah dan menatap tajam istrinya.
"Aku hanya curiga, nggak perlu menatapku sampai segitunya."
Safira memilih untuk diam setelah tiba di kamar hotel, duduk di bibir ranjang dan memperhatikan Adrian yang melepas jasnya dan melempar ke sofa.
Perjalanan dinas kali ini benar-benar dadakan untuknya. Adrian mengajaknya karena katanya ada pekerjaan di Bandung yang harus di selesaikan. Dan mungkin mereka akan tinggal sekitar dua bulan lebih.
Namun, alih-alih menyewa apartemen, Adrian memilih hotel saja yang dekat dengan lokasi kontruksi.
"Mas sudah tahu sejak awal kalau Alya ada di kota ini?" tanya Safira, berjalan mendekati Adrian dan memeluknya dari belakang.
"Nggak."
"Berarti ini juga pertama untukmu bertemu dengan Alya lagi?"
"Hm."
Safira tersenyum senang, artinya Adrian sudah tidak memiliki perasaan lagi pada Alya, terbukti pria itu tidak peduli pada Alya yang tadi bersama pria lain.
"Kok papa nggak bisa menemukan jejak Alya ya mas? Padahal cuma di Bandung," lirih Safira.
Adrian lantas berbalik dan memeluk istrinya. Menatapnya dengan senyuman. "Jangan beritahu papa bahwa kita baru saja bertemu Alya di sini," pintanya.
"Kenapa? Mas berusaha melindungi Alya?" Tampaknya Safira tidak suka dengan permintaan suaminya.
"Bukan begitu sayang, tapi jika papa tahu keberadaan Alya, papa akan melakukan apapun untuk mengambil cucunya. Kamu tahu kan Alya seperti apa? Bagaimana jika syaratnya dia kembali lagi?"
Safira tampak berpikir. Benar tidak ada untung baginya jika papa mertuanya tau keberadaan Alya dan calon cucunya. Bisa-bisa posisinya akan tersingkirkan sebagai menantu Ardana. Apalagi dia masih istri sirih yang bisa dibuang kapan saja.
"Aku nggak akan memberitahu papa." Safira tersenyum senang mendapatkan sebuah kecupan dibibirnya.
Dia benar-benar mengira Adrian telah berubah dan melupakan Alya. Padahal apa yang sedang dilakukan suaminya semata-mata demi melindungi Alya dari obsesi papanya.
***
"Bayinya laki-laki?" tanya Pradipta, masih setia berdiri di samping Alya yang sedang memilih perlengkapan bayi dan semuanya berwarna biru.
Yap, Dipta baru saja membawa Alya ke lantai di mana hampir semuanya adalah perlengkapan bayi.
"Iya mas."
"Pilih abu-abu juga, terkadang hasil usg bisa melenceng," saran Pradipta.
Lantas Alya menoleh dan menatap Dipta yang sedang berlutut memilih selimut bayi. Dia bukan memperhatikan motif, tetapi serat kain apakah nyaman digunakan atau tidak.
"Kok saya nggak kepikiran ya mas?"
"Kepikiran apa?"
"Kepikiran kalau ambilnya yang abu-abu saja." Senyuman Alya sangat lebar.
Wanita itu sibuk mengembalikan barang yang telah dipilihnya dan mengambil warna netral demi menghindari hal-hal yang tidak dinginkan.
"Anak pertama ya pak?" ujar karyawan toko berdiri tepat di samping Dipta.
"Iya anak pertama," sahut Dipta dengan tatapan tidak pernah lepas pada ibu hamil.
"Pantas terlihat antusias. Tapi Pak, jangan terlalu fokus pada bayi saja. Terkadang yang harus diperhatikan adalah ibunya setelah melahirkan."
Kening Dipta mengerut, tetapi saat diajak untuk melihat-lihat barang, dia ikut karena penasaran dengan ucapan karyawan toko.
Dan wajahnya seperti tersulut api, ia merasakan panas secara mendadak melihat banyaknya perlengkapan wanita yang cukup memalukan dilihat oleh pria yang bahkan belum menikah.
"Biasanya orang-orang terlalu fokus kepada bayi, padahal ibunya juga membutuhkan kenyamanan."
"Kami menyediakan paket perlengkapan menyusui, piyama dan daster menyusui."
"Itu Saya ...."
"Mas Dipta, sini sebentar," panggil Alya.
Dipta tidak membuang kesempatan untuk kabur. Sepertinya yang dia ikuti tadi bukan karyawan, melainkan spg.
"Kenapa?" tanya Dipta dengan napas sedikit tidak stabil.
"Mas dari mana sampai wajah dan telinganya merah?"
"Itu tadi saya ... saya ...."
"Mbak Alya!"
Alya dan Pradipta langsung menoleh.
"Siapa yang tadi bilangnya mau istirahat pas saya ajak jalan," sindir Arkana pada atasannya.
Benar, tadi Pradipta bukan tidak memiliki teman, tetapi sengaja menolak ajakan Arkana untuk mendaki sehingga Arkana mengajak Sena jalan-jalan.
"Ketahuan modusnya pak bos." Sena cekikikan sendiri dan terus menggoda dua manusia yang entah isi hatinya seperti apa.
Selesai belanja keperluan bayi, mereka memutuskan untuk makan siang sebelum pulang dan pilihan mereka masih di sekitar mall agar Alya tidak terlalu lelah berjalan kaki.
"Tadinya aku sama mas Arka mau belanja perlengkapan bayi untuk mbak Alya, eh malah ketemu orangnya langsung."
"Tadinya nggak kepikiran, tapi karena diajak jalan sama mas Dipta ya sekalian saja. Eh tapi untung loh mas Dipta ingatkan saya."
"Ingatkan apa?" tanya Arkana dan Sena serempak. Kedua manusia itu jelas penasaran, apalagi mereka tahu bagaimana ugal-ugalannya Dipta mencintai Alya.
Sena dan Arkana ingin tahu sudah sejauh mana hubungan mereka.
"Ingatkan kalau sebaiknya pilih warna netral saja untuk penglengkapan bayinya, takutnya meleset dari perkiraan."
"Berarti pak Dipta sudah cocok jadi ayah."
Uhuk
Pradipta tersedak air liurnya karena ucapan Sena. Dia tiba-tiba mengingat momen saat karyawan tadi memperlihatkan set perlengkapan ibu menyusui beserta patung-patungnya.
"Minum dulu Mas." Alya dengan sigap memberikan air minum pada Pradipta.
"Keliatan kecintaan banget ya sama kekasihnya," celetuk Safira yang entah datang dari mana sehingga sudah berada di belakang Alya.
Sena langsung bangkit dari duduknya. Sigap menjadi tameng untuk Alya.
"Yang penting nggak kecintaan sama suami orang nggak masalah tuh." Menatap tajam Safira.
"Jangan ikut campur kamu!"
"Ouh sekarang sudah merasa berkuasa karena jadi istri putra tunggal Ardana ya? Padahal baru sirih loh ... yang ...."
Ucapan Sena berhenti, kepalanya tertoleh kesamping karena tamparan yang baru saja dilayangkan oleh Safira.
Melihat hal itu, Alya langsung berdiri dan membalas apa yang dilakukan Safira. "Beraninya kau menyakiti adikku!" bentak Alya dengan pancaran matanya yang tajam. "Kau mengira siapa sampai bebas memukulnya, Safira!"
"Aku ..."
"Ayo!" Belum juga sempat Safira membela diri, tangannya sudah ditarik oleh Adrian agar menjauhi meja tempat makan siang Alya dan yang lainnya.
"Lepaskan aku mas. Aku harus memberi pelajaran pada Sena, dia menghinaku." Safira berusaha melepaskan genggaman tangan Adrian, tetapi sangat sulit karena terlalu kuat.
Napasnya tersentak, dan punggungnya terasa sakit saat dihempaskan ke tembok tepat di bawah tangga darurat.
"Berhenti ikut campur dengan masa laluku Safira!" bentak Adrian dengan mata memerah.
.
.
.
Jangan lupa like, komen dan subscribe. Dukungan kalian semangat author.
makin besar kepala aja diaa....
Biarkan Alya dengan kebahagiaan nya