Semua orang melihat Kenji Kazuma sebagai anak lemah dan penakut, tapi apa jadinya jika anak yang selalu dibully itu ternyata pewaris keluarga mafia paling berbahaya di Jepang.
Ketika masa lalu ayahnya muncul kembali lewat seorang siswa bernama Ren Hirano, Kenji terjebak di antara rahasia berdarah, dendam lama, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh.
Bisakah seseorang yang hidup dalam bayangan, benar-benar memilih menjadi manusia biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hime_Hikari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 – Bayangan di Balik Kedamaian
Pagi di Sekolah Emerald tampak sama seperti biasanya cerah, hangat, dan penuh tawa, namun bagi Kenji, suasana itu terasa seperti jebakan yang diselimuti cahaya. Setiap langkahnya di koridor terasa berat, seolah lantainya menyimpan rahasia yang siap meledak kapan saja.
Tatapan murid-murid lain mengikuti kemanapun ia pergi. Terdengar kabar burung bahwa Kenji adalah “anak orang berpengaruh” menyebar begitu cepat. Sebagian menjauh karena takut, sebagian lagi justru menatap dengan iri, tetapi yang paling menusuk bagi Kenji adalah tatapan Ren Hirano, yang kini duduk di bangku belakang kelas, menatapnya dengan tenang bahkan terlalu tenang.
Bel pelajaran pertama baru saja dimulai, tapi waktu terasa berjalan lambat. Mira, yang duduk satu baris dengan Kenji, beberapa kali melirik dengan wajah khawatir.
“Kenji … kamu nggak apa-apa?” bisiknya pelan.
Kenji menatapnya, tersenyum samar. “Aku baik-baik saja. Cuma belum tidur.”
Padahal matanya menunjukkan hal sebaliknya ada kilatan gelap di sana, seperti badai yang belum pecah. Ren memperhatikan percakapan kecil itu dari belakang. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Dari sudut meja, ia menggambar sesuatu dengan pensil simbol naga kecil di kertas catatan.
Hanya satu garis, tapi cukup untuk membuat jantung Kenji berdegup sedikit lebih cepat saat melihatnya dari kejauhan. Waktu istirahat tiba, langit di atas sekolah mendung. Awan kelabu menggantung rendah, membuat suasana seperti menahan napas. Kenji, Yuto, dan Akira duduk di taman belakang sekolah. Biasanya tempat itu tenang, tapi kali ini udara terasa berat.
“Dia ngelakuin itu sengaja, Ken,” kata Yuto tiba-tiba, suaranya pelan tapi tegas.
Kenji menoleh. “Siapa?”
“Anak itu. Ren Hirano. Gue lihat dia gambar simbol naga di meja tadi. Lo pikir itu kebetulan?” Kenji terdiam dan angin bertiup pelan, menggoyang dedaunan.
“Itu bukan kebetulan,” jawabnya akhirnya. “Itu peringatan.”
Akira menelan ludah. “Tapi kenapa dia nunjukin secara terang-terangan gitu? Bukannya seharusnya mereka diam-diam saja?”
Kenji menatap jauh ke arah lapangan. “Karena dia nggak takut. Dia mau aku tahu. Dia mau main di wilayahku, tapi dengan caranya sendiri.”
Yuto mendengus kesal. “Anak sombong. Kalau bukan di sekolah, sudah aku tonjok.”
Kenji tersenyum samar, tapi tanpa emosi. “Jangan. Dia bukan orang biasa, Yu. Satu langkah salah, bisa bahaya buat semuanya.”
Di sisi lain taman, Mira memperhatikan mereka dari jauh, hatinya tampak sangat resah. Sejak semalam, ia bermimpi buruk tentang api, tentang dua sosok laki-laki muda yang saling menatap di tengah kobaran perang. Dan entah kenapa, saat melihat Kenji pagi ini, mimpi itu terasa seperti pertanda.
Ketika bel masuk berbunyi lagi, Mira berjalan ke arah kelas dengan perasaan gelisah, tetapi saat melewati koridor sayap timur, langkahnya berhenti. Dari balik jendela terbuka, ia melihat Ren sedang berbicara dengan seseorang berpakaian hitam bukan murid, tapi jelas bukan guru juga.
Wajah Ren tetap tenang, tapi nada suaranya rendah dan dingin. “Jangan ganggu siapapun dulu. Aku ingin melihat seberapa jauh dia bisa bertahan.”
Orang berpakaian hitam itu menunduk, lalu menghilang ke arah pintu darurat. Melihat itu Mira langsung pergi dari sana dan menjauh dimana dia melihat Ren bersama orang itu. Mira berdiri membeku di tempat. Jantungnya berdetak cepat.
“Jadi Ren itu bukan murid biasa …,” kata Mira dengan pelan.
Sementara itu, di ruang guru, seorang pria berjas rapi dengan topi hitam menyerahkan sebuah amplop pada kepala sekolah. Seketika kepala merasa sangat bingung kenapa pria tersebut memberikan amplop kepadanya.
“Dari donatur baru sekolah,” katanya sopan.
Kepala sekolah yang tidak tahu apa-apa hanya mengangguk senang, tidak menyadari bahwa amplop itu berisi lebih dari sekadar uang di dalamnya terselip foto keluarga Kazuma.
Jam pulang sekolah tiba.
Langit sudah berubah oranye, dan siswa-siswa mulai berhamburan keluar, tapi Kenji masih duduk di bangkunya, menatap meja di depan dengan tatapan kosong. Di sana, kini terukir halus simbol naga sama seperti yang ia lihat di rumahnya semalam.
Ia menghela napas panjang, lalu berdiri. “Dia benar-benar mulai main.”
Begitu melangkah keluar kelas, Ren sudah menunggunya di koridor. Tatapan mereka bertemu. Tak ada kata yang diucapkan, tapi udara di antara mereka seperti membeku.
“Indah, ya, sore ini,” ucap Ren akhirnya, suaranya ringan tapi dalam.
“Langitnya hampir mirip warna api,” kata Ren kembali.
Kenji menatap balik tanpa ekspresi. “Api yang membakar … atau api yang menelan?”
Ren tersenyum tipis. “Tergantung siapa yang menyalakan api tersebut.”
Keduanya berjalan melewati satu sama lain tanpa menoleh, tapi langkah mereka sama beratnya seperti dua bayangan yang siap saling menghancurkan. Dari kejauhan, Yuto dan Akira memperhatikan pemandangan itu.
“Aku tidak suka tatapan cowok itu,” gumam Yuto.
Akira menimpali pelan. “Rasanya kayak dia tahu segalanya.”
Malam hari. Kenji berdiri di balkon rumahnya, menatap kota yang berkilauan di kejauhan. Dari bawah, Kazuma muncul membawa dua cangkir teh panas.
“Sulit tidur?” tanyanya tenang.
Kenji mengangguk. “Papa, aku rasa mereka sudah mulai bergerak. Tapi bukan lewat perang, mereka mulai lewat pikiran.”
Kazuma tersenyum tipis. “Mereka cerdas. Dulu Daisuke juga begitu selalu bertindak dengan menyerang bukan dengan peluru, tapi dengan rasa takut.”
Ia menatap langit yang mulai gelap. “Tapi ingat, Kenji … hanya orang lemah yang takut pada bayangan. Kau bukan salah satunya.”
Kenji menatap kalung peninggalan mamanya. “Kalau Mama masih hidup, apa dia akan bangga sama aku?”
Kazuma terdiam lama sebelum menjawab, “Dia akan takut, tapi bangga.”
Kata-kata itu sederhana, tapi cukup untuk membuat Kenji tersenyum kecil samar dan menyakitkan. Keesokan paginya, suasana sekolah kembali ramai, tetapi sebelum bel pertama berbunyi, suara dentuman keras menggema dari halaman belakang. Murid-murid berlarian panik. Kenji, Yuto, dan Akira segera menuju sumber suara. Begitu mereka tiba, mereka melihat sesuatu yang membuat darah Kenji membeku.
Di dinding belakang sekolah, terbentang spanduk hitam besar dengan simbol naga merah yang baru di cat yang menyala dalam cahaya matahari pagi. Dan di bawahnya, tertulis kalimat dengan huruf kapital:
“DARAH AKAN MEMBAYAR DARAH”.
Yuto menatap ngeri. “Ken … ini gila. Siapa yang melakukan ini semua.”
Tapi sebelum kalimatnya selesai, Ren sudah berdiri di ujung lapangan, menatap mereka dari kejauhan. Angin meniup rambutnya pelan, wajahnya tenang tapi mata itu tajam seperti pisau. Kenji menatap balik tanpa berkedip, napasnya berat.
“Permainan sudah dimulai,” bisiknya pelan.
Didalam hatinya, ia tahu kali ini bukan sekadar permainan. Disaat semua siswa-siswi berkumpul di taman belakang sekolah, tampak Ren sedang memandangi mereka dari jauh dan ia tersenyum kecil.
“Ini baru permulaan Kenji … kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya,” kata Ren dengan suara dingin.
Ren pergi meninggalkan semua siswa-siswi yang sedang berkumpul karena mereka sedang heboh melihat spanduk yang dibuat oleh anak buahnya kemarin malam. Kenji yang melihat Ren pergi menjauh mulai mencurigai kejadian di balik semua ini adalah ulah dari Ren.