NovelToon NovelToon
Istri Taruhan

Istri Taruhan

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Selingkuh / Playboy / Pernikahan Kilat / Obsesi / Teen School/College / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Romansa / Tamat
Popularitas:2.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: IkeFrenhas

Andre Pratama kalah taruhan dengan teman-temannya. Sebagai hukuman, dia harus melamar seorang wanita yang sangat tidak dia harapkan.

Namun, demi memenuhi janji dengan teman-temannya, dia melakukan lamaran tersebut. Padahal, dia masih menjalin hubungan dengan sang primadona di kampusnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IkeFrenhas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Hati yang Mencintai

Katanya, hati itu akan luluh saat terus disirami rasa tulus. Hati juga akan luluh kala diberi banyak kesabaran.

Bahkan, batu pun akan mengalami lekukan di bagiannya kala tersiram tetasan hujan setiap hari.

Namun, berlakukah itu untuk rasa cinta?

Betapapun Dewi selalu mencoba bersabar dalam rasa itu, tapi mampukah dia meluluhkan hati Andre yang telah dimiliki orang lain?

Mampukah dengan ketulusan Dewi melayani, cinta di hati Andre tumbuh di hatinya?

Berulang kali Dewi mencoba menerka-nerka. Kadang, Andre bersikap acuh padanya. Namun, tak bisa dipungkiri, jika lelaki itu mampu bersikap sangat peduli.

Senyum itu sebuah jalan yang Dewi pilih, guna menutupi kedukaan hati.

Apa yang bisa gadis itu lakukan untuk menerima kenyataan hidup, jika lelaki yang telah lama bersemayam di hatinya sama sekali tidak pernah meliriknya. Siapakah seorang Dewi dibandingkan Anggita dengan segala kesempurnaannya.

Dulu, dulu sekali. Saat seorang Dewi masih menjadi seorang atlit di sekolahnya, saat itulah dia merasakan hidup dalam kesempurnaan. Menyukai seorang atlit pria yang begitu mengagumkan di mata gadis itu, Andre Pratama.

Namun, kekaguman tersebut hanya mampu tersemat dalam hatinya. Nyatanya, dia hanya mampu menjadi pengagum rahasia saja. Tanpa berani tampil kepermukaan.

Jangankan untuk mengobrol dan berbagi kisah, untuk sekedar bertegur sapa saja Dewi tak punya nyali.

Semua kado ucapan selamat untuk sang juara , dia berikan lewat orang lain. Bisa jadi, Andre tidak pernah mengetahui kelakuannya kala remaja. Dewi hanya bersembunyi dan terus bersembunyi.

Hingga suatu hari, sang Dewi berhenti dari dunia atlit dan menjadi sosok yang berbeda.

Dia kubur dalam-dalam semua mimpinya di masa depan, beserta kenangan sang idola.

Siapa sangka, takdir mempertemukan mereka. Ternyata Dewi kuliah di kampus yang sama di mana Andre melanjutkan pendidikan. Melalui taruhan itu pula, Dewi bisa berstatus sebagai istri lelaki itu.

Walaupun, status hanya status. Andre tidak pernah memperlakukannya layaknya seorang istri.

Namun, Dewi telah bertekad. Dia akan mencurahkan segala rasa yang dia punya selama ini. Rasa yang terpendam bertahun lamanya, saat dia duduk di bangku SMP sampai sekarang. Rasa yang telah mengakar dan begitu sulit untuk dicabut dari dalam hatinya.

Nyatanya, semakin hari ... rasa cinta yang Dewi punya semakin tumbuh subur.

Biarlah, satu tahun ini Dewi manfaatkan untuk mencurahkan rasa cinta yang dia punya. Mencuci pakaian Andre, memasakkkan berbagai macam menu yang disukainya. Bahkan, jika dihitung tentulah uang belanja yang suaminya berikan tidak akan cukup sampai satu bulan.

Dewi harus merogoh tabungan untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.

Dewi tidak pernah menuntut berapapun uang yang suaminya berikan. Dia tahu, Andre belumlah memiliki pekerjaan yang mapan.

Tanpa diketahui Andre, Dewi memiliki usaha toko pakaian yang dikembangkan bersama temannya.

Tidak berniat menceritakan tentang usahanya, tentu saja. Dewi merasa jika hal itu tidaklah perlu.

Seperti saat ini, dia dan temannya tengah sibuk mengurus penjualan di toko. Dewi bagian pemasangan iklan dan promosi via media sosial. Bisnis ini telah dirintis mereka semasa kuliah.

"Wi, gimana hubungan lo sama si Andre?" Amika memulai obrolan ditengah kesibukan mereka.

"Enggak gimana-gimana." Dewi menjawab singkat. Sejujurnya, dia tidak berniat membahas masalah ini dengan siapapun.

Dewi mendesah pelan. "Amika, hmmm." Dia sedikit ragu menanyakan masalah ini.

"Apaan? Bilang aja, kayak siapa aja, sih." Amika terkekeh pelan melihat reaksi Dewi saat ini.

Dewi menggembungkan kedua pipinya, mengerucutkan bibir dengan kedua mata yang menyipit. Wajahnya terlihat imut. Sangat menggemaskan.

"Hmm ... soal video yang Lo kasih ke gue waktu itu. Hmm, Lo dapat dari mana?" tanya Dewi lagi. Dia penasaran dari mana sahabatnya itu dapat video Andre dan Anggita. Apalagi percakapan keduanya yang cenderung sangat menyakitkan hatinya.

"Dari temen juga, sih." Amika tampak acuh menjawab pertanyaan Dewi.

"Temen ...." Dewi menghentikan aktifitasnya. Menatap Amika penuh selidik. Apa yang disembunyikan Amika darinya?

"Temen siapa? Gue kenal, gak?" lanjut Dewi, dengan mata fokus menatap Amika. Yang ditatap tampak salah tingkah.

"Itu, hmm ... Arman." Amika menjawab lirih dengan wajah tertunduk, tampak semburat merah merona di kedua pipinya.

"Arman ...." Dewi berpikir sejenak. Mengingat nama Arman yang mungkin dia kenali. "Kak Arman maksudnya?"

Amika mengangguk lemah. Dia semakin kikuk menghadapi Dewi.

"Aha. Sepertinya ada rahasia yang aku enggak ngerti." Dewi mengulum senyum. Mengerling sejenak dengan tatapan menggoda.

"Iihh, apaan sih?" Wajah Amika semakin merah merona. Senyum malu-malu tercetak jelas di wajahnya.

"Cieeee ... jadi ceritanya, kalian berdua punya misi begitu. Pantesan Kak Arman sering nolongin aku, ternyata. Ada udang dibalik bakwan. Rasanya enak, mantaabb." Cicit Dewi panjang lebar dengan wajah cerah.

"Enggak gitu juga, sih. Kak Arman enggak suka aja kalau si Andre itu mainin perempuan. Jadi, emang dia membela apa adanya sih," terang Amika.

"Membela apa adanya, gimana maksudnya?"

"Ya itu ... sebenernya, Kak Arman udah kenal kok sama lo dan Andre. Tahu juga lo dulu gimana." Amika tampak antusias menjelaskan.

"Ah iya, kayaknya emang gak asing sama kak Arman. Cuma gue malah asing sama hubungan kalian. Ada apa sih?"

"Lha, kok malah bahas kita, sih?"

"Ya ... iya. Masak belain kak Arman mulu sedari tadi." Dewi kembali tertawa melihat raut wajah Amika yang lucu. Seperti sedang kepergok melakukan sesuatu.

Terdengar suara lelaki di luar ruangan mereka. Sontak Amika berdiri menyambut kedatangan seseorang yang suaranya sangat dia kenal.

"Tuh, kan. Kayaknya udah kenal banget Ama suaranya. Sejak kapan dia ke sini?" Protes Dewi masih dengan nada menggoda.

"Apa sih?" Amika menuju pintu, wajahnya semringah saat mendapati seorang lelaki yang berdiri di sana.

"Hai Kak Arman. Udah ditungguin dari tadi lho." Dewi menyapa dengan ramah. Wajahnya berbinar-binar, sesekali melirik Amika yang mengerucutkan bibir ke arahnya.

"Apa, sih ... Wi? Siapa juga yang nungguin?" sungut Amika.

"Gue kok yang nungguin. Weee." Dewi menjulurkan lidah, merasa menang telah berhasil menggoda Amika.

Sedangkan Arman masih berdiri mematung. Tangannya mengusap tengkuk. Merasa telah dipermainkan Dewi.

"Masuk, Kak ... Mau duduk aja, atau bantuin kita? Eh, bantuin Amika aja deh. Biar aku kembali menyelesaikan pekerjaan yang tertunda tadi." Mereka bertiga masih berhadapan. Sejenak sebuah senyuman terbit di ketiganya. Lantas Dewi pun berbalik, tidak ingin mengganggu Amika.

"Eh, enggak ... sini aja." Tolak Arman canggung.

"Ih, Kak Arman. Masak aku jadi obat nyamuk. Ogah ...." Dewi mengedipkan sebelah mata kepada Amika. Yang dibalas kerucutan bibir.

"Bye ...." Dewi melambaikan tangan. Kemudian melangkah menuju mejanya. Mengingat sesuatu, seketika tubuhnya kembali berbalik. "Oh iya, Kak. Makasih bantuannya, ya. Dijamin, tetap jadi rahasia kita."

Arman mengangguk. Sedangkan Amika tersenyum tulus. Kemudian mereka kembali bergelut dengan pekerjaan masing-masing.

Sesekali Dewi melirik ke arah dua manusia yang tampak jelas sedang merasakan bunga-bunga cinta tengah bermekaran di hati mereka.

Lelakinya tampak menatap wanitanya dengan tatapan penuh hangat. Sedangkan sang wanita menunduk malu-malu dengan senyuman terkulum di bibir.

Begitulah cinta, dia bisa tumbuh di hati siapa saja yang dikehendakinya. Namun, hati tetaplah milik pemiliknya.

1
Sarinah Sianturi
Luar biasa
westi
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Satria Devi
thor tolong janan buat dewi menangis terus dong
Nurhayati Nia
othor ah ngasih irisan bawang jadi nangisan para emak reiders 😭😭😭
Ike Frenhas: jangan habiskan tisu di rumah yaa. hihi
total 1 replies
Nurhayati Nia
ntar kamu akan merasakan sakit ny perpisahan ndre
Ike Frenhas: biar tahu rasa dia. huhuhu
total 1 replies
Anonymous
A
Ike Frenhas: B .......
total 1 replies
Arida Susida
Luar biasa
Arida Susida
Lumayan
Reader
oo jd ni mak-bapak David-Adrian...yg masih ada di cerita Suamiku Mencintai Adikku hanya Mama Amika...
Ike Frenhas: iya benar, Kak 😁😁
total 1 replies
Tatik 05
mksh Thor udah ngasih hiburan....🙏
Ike Frenhas: terima kasih kembali, Kak.

terima kasih juga sudah mau mampir yaa 🤗🤗
total 1 replies
Tatik 05
klu menurut q Dewi orangnya lebay sangat...klu ada unek" TDK mau ungkapkan atau bertanya...tp malah menyindir...itu TDK Baek dlm rmh tngga...trs klu skrg dia dpt TLP dr laki" laen dan yg nrina suaminya sndri mau bilang dan alasan apa pun klu suami sampai marah jgn menyalahkannya.,.Dewi hrs intropeksi diri...
Juliani Julita
sangat bagus
miChan
👍👍👍
Sri Wahyuni
s dewi itu hrs nya brjuang memperhn kn rmh tngga nya selesai dngn kpla dingin jngn bsa y mewek dan menghindar
Sri Wahyuni
pling ksel bca novel krakter cwe y kya s dewi ga tegas
Adelia ZahrotusShifa
terus semangat berkarya thoooor
Ida Damayanti
semangat berkarya ya...💪
Putri marlise Harianja
keren bngt ceritanya,wlaupun terjatuh namun selalu berusaha menggenggam cintanya
Sugi Harti
ya Allah sedih banget , hariku cenat cenut bacanya
Hasna
ahhaaa aku senyum senyum sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!