Jeany adalah gadis yang tak pandai bergaul karena memiliki fobia sosial. Hidupnya tak lagi sama sejak ia kehilangan kesuciannya.
Rasa bersalah karena telah merenggut kesucian Jeany membuat Kevin ingin selalu menjaga gadis itu sebagai seorang sahabat. Tanpa disadari, perhatian yang ia berikan membuat Jeany jatuh hati padanya. Gadis itu harus tersiksa karena sakitnya cinta sepihak. Namun ia tahu tidak mungkin memiliki Kevin, yang telah menambatkan hatinya pada kekasih cantik bernama Stevi.
"Apa aku gak boleh mempertanggungjawabkan perbuatanku? Kamu tahu aku selalu dihantui rasa bersalah!" -Kevin-
"Kamu egois. Kamu cuma mau ngilangin rasa bersalahmu. Tapi aku ... di sini aku sakit!" -Jeany-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rou Hui, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pacar Kevin Bukan Aku, Tapi Dia
Kevin melihat Jeany yang tidak memesan makanan apa pun. Sekarang sudah waktunya makan siang, tidak mungkin gadis itu tidak merasa lapar.
"Jean, lo gak makan?"
"Engga gue makan di kos aja."
"Lo masak sendiri?"
"Kadang-kadang."
Jeany tersenyum kecut dalam hati. Ia tidak pandai dan tidak suka memasak. Menu andalannya setiap kali memasak hanya mi instan, telur dadar dan nasi goreng. Mudah dan murah.
Tiba-tiba Kevin beranjak dan berjalan menuju stan yang menjual nasi campur kremes. Ia memesan satu porsi dan membayarnya. "Gue udah pesenin buat lo," katanya memberitahu Jeany.
Jeany tidak tahu harus berkata apa. Tidak mungkin ia berpura-pura menolak sedangkan sesungguhnya ia memang menginginkannya.
"Makasih," jawabnya pada akhirnya.
"Sayang, kamu kok langsung mutusin sendiri? Kali aja Jeany lagi diet jadi gak mau makan. Iya kan, Jean?" Stevi berkata sambil meminta persetujuan Jeany.
"Gue gak diet kok," elak Jeany.
"Bagus deh kalo gitu biar kita sama-sama makan. Kan gak enak gue ama Kevin makan tapi lo cuma ngeliatin aja," kata Stevi sambil tersenyum yang juga dibalas senyuman kaku oleh Jeany.
Kevin pun ikut tersenyum. Ia lega karena keputusannya untuk membelikan Jeany makan tidak ditolak oleh gadis itu. Sebenarnya tadi ia sempat memperhatikan raut wajah gadis itu ketika melihat stan penjual nasi campur. Ia menduga kondisi keuangan Jeany belum membaik sehingga lebih memilih tidak makan di luar.
Ketika mereka bertiga tengah asyik makan, seseorang menepuk pundak Jeany. "Woi, tumben makan di sini! Mentang-mentang udah punya cowok ya!" kata orang yang menepuk pundak Jeany tadi.
Tanpa dipersilakan, orang tersebut langsung duduk di kursi kosong yang berada di samping Jeany. Dahinya berkerut ketika melihat Stevi yang duduk di hadapannya.
"Kak Serly!" Jeany terkejut melihat kakak kosnya yang sudah lulus itu berada di kampus. Serly membalasnya dengan senyuman lebar.
"Hai, Vin," sapa Serly pada Kevin. Sedangkan pada Stevi, ia menatap dengan pandangan tidak suka.
"Hai, Kak," jawab Kevin sopan.
Stevi yang tidak dianggap oleh Serly diam-diam merasa kesal. Namun yang membuatnya lebih tidak suka adalah kenyataan bahwa Kevin dan Jeany mengenal orang tersebut.
"Kok Kakak bisa di sini?" tanya Jeany langsung.
"Kenapa gak bisa?"
"Kan Kakak udah lulus?"
"Yaelah gue kan kangen ama makanan kampus! Sekali-sekali boleh juga pacaran di sini," goda Serly sambil menatap penuh arti pada Kevin.
"Kakak datang ama pacar Kakak?" tanya Jeany polos. Ia tidak menangkap maksud perkataan Serly.
"Tuh yang pake kacamata di pojokan," jawab Serly sambil menunjuk dengan dagunya.
"Ya ampun cowok Kakak ganti lagi?"
Jeany sudah sering memprotes kebiasaan Serly bergonta-ganti pacar. Namun mau bagaimana lagi, kakak kosnya itu seakan tidak pernah menemukan laki-laki yang benar-benar cocok dengan dirinya.
"Udah gak usah banyak protes. Nasi lo gak habis-habis tuh," putus Serly yang tidak ingin mendengar omelan Jeany lagi. Ia berganti melihat Kevin.
"Vin, liburan ntar lo ada rencana ke mana ama adik gue ini?" tanya Serly sambil memandang sayang ke arah Jeany yang sedang asyik mengunyah makanannya.
"Eh? Gak ada rencana apa-apa, Kak," jawab Kevin ragu-ragu. Ia merasa ada yang aneh dengan pertanyaan Serly.
"Kenapa Kevin harus pergi sama Jeany?" Stevi sudah tidak tahan untuk tidak bertanya.
"Gimana sih? Ya iya dong harus pergi sama Jeany, kan mereka pacaran!" sembur Serly pada Stevi. Sejak awal ia sudah merasa tidak suka pada gadis itu, yang menurutnya tidak tahu diri karena terang-terangan mendekati Kevin yang sudah memiliki Jeany.
"Apa?!" Jeany, Kevin dan Stevi serempak terkejut dengan ucapan lugas Stevi.
"Kak, udah dibilang aku gak pacaran ama Kevin." Jeany langsung menjelaskan sebelum Stevi salah paham.
"Maksud lo kalian udah putus? Tapi bukannya kemarin dia masih datang ke kos ya?" tanya Serly tak mengerti.
Wajah Stevi sudah menggelap, berpikir kekhawatirannya selama ini tidak salah. Kevin mengkhianatinya dengan Jeany, bahkan sering pergi ke kos gadis itu.
"Kak, saya sama Jeany cuma sahabat. Kemarin saya ke kos buat bantuin Jeany belajar," tegas Kevin. Ia melirik Stevi yang raut wajahnya terlihat terpukul.
"Iya, Kak. Pacar Kevin tuh bukan aku, tapi Stevi ini," tunjuk Jeany memperkenalkan Stevi pada Serly.
Serly dan Stevi saling menatap. Jauh dalam lubuk hatinya Serly tidak terima gadis di hadapannya yang ternyata menjadi kekasih Kevin.
Cantik makeup doang. Menang Jeany ke mana manalah! batinnya tak suka.
"Aduh sorry ya gue salah. Habis Kevin so sweet banget kalo sama Jeany, gue kira mereka pacaran!" Serly berusaha memanas-manasi Stevi, berharap setelah ini hubungan Kevin dengan gadis itu merenggang.
"Iya gapapa kok. Kevin memang terlalu baik orangnya sampe banyak cewek yang baper," balas Stevi sambil menunjukkan senyum manisnya.
"Kak, aku pulang bareng Kakak aja ya?" Jeany berkata pada Serly. Gadis itu ingin memberi kesempatan pada Kevin untuk berbicara berdua dengan Stevi. Ia tahu mereka membutuhkannya.
"Cowok gue bawa motor. Lo mau bonceng tiga? Tapi lo yang duduk di tengah ya!" jawab Serly sambil tergelak membayangkan apa yang baru saja diucapkannya.
Jeany hanya menyipitkan mata. Ia tidak mengerti apa yang membuatnya bisa merasa nyaman dengan Serly yang sering mengeluarkan kalimat yang menurutnya aneh.
"Minta Kevin antarin napa! Udah sering dianterin dia juga kan?" Lagi-lagi Serly menemukan kesempatan untuk membakar Stevi dengan api cemburu.
Pada akhirnya Kevin tetap mengantar Jeany pulang. Gadis itu minta diturunkan di pinggir jalan saja, karena gang menuju rumah kosnya terendam banjir cukup dalam. Sebelum ia turun, Kevin melihatnya melepas sepatu dan kaos kakinya, lalu menggulung celana panjangnya hingga sebatas lutut.
"Makasih ya," kata Jeany ketika membuka pintu mobil.
"Sama-sama," jawab Kevin.
"Hati-hati, Jean jalannya." Stevi juga menunjukkan perhatian pada sahabat pacarnya itu.
"Iya gue duluan. Bye."
Setelah Jeany turun, Kevin melirik Stevi. Ia takut kekasihnya itu masih salah paham dengan perkataan Serly di kantin tadi.
"Stev, jangan masukin hati ya kata-kata Kak Serly tadi. Aku sama Jeany cuma sahabat, gak lebih." Kevin berbicara dengan tangan kirinya menggenggam jemari Stevi.
"Iya aku percaya kok, Sayang. Kamu gak mungkin selingkuh," jawab Stevi dengan senyuman lembut di bibirnya. "Kalaupun selingkuh gak mungkin sama Jeany," lanjutnya kemudian yang membuat jantung Kevin sesaat berdegup kencang.
"Haha kenapa gitu?" tanya Kevin menyembunyikan kegugupannya.
"Soalnya Jeany beda banget sama aku. Dia bukan tipe kamu."
Kevin hanya tersenyum, dalam hati membenarkan kata-kata kekasihnya itu.
Yeahhh, sesuka ini aku sama novelmu🫠
novel " dipaksa bercerai"
sdh berapa tahun vacun Thor, sejak corona sampai sekarang