Undian liburan impiannya berubah menjadi awal petaka bagi Rinjani, kesalahan satu malam yang dibuat bukan untuknya menjerat Rinjani masuk ke kehidupan seorang tuan mafia.
"Aku tidak akan menikahimu, namun lahirkan janin itu dan tinggalkan dia untuk jadi penerusku," ucapnya tajam penuh intimidasi seraya melemparkan surat perjanjian dan pulpen.
Namun bukannya takut, Rinjani malah melepaskan flatshoes kotornya, "talk to my flatshoes, sir!" ia melemparnya pada Loui, meski lemparannya seburuk lemparan balita.
Mohon dibaca dari awal sampai akhir ya guys 😉 salah satu cara untuk mendukung author dalam berkarya 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 ~ Jani yang down to earth (melantai)
Pelayan menyodorkan sepiring nasi putih dan semangkok kecil saus sambal ke depan meja makan, "buen provencho..." ucapnya sebelum mundur dari hadapan Jani.
Secara otomatis, alisnya mengernyit dengan dahi berkerut. Tidak sesuai ekspektasinya, justru membuat selera makan Jani merosot tajam.
"Ini apa?"
"Nasi hangat dan sambal Tabasco, saus sambal khas Amerika..." jawab Mathew. Rinjani menghela nafasnya, betapa ia rindu dengan makanan pokok dan favoritnya di rumah sana. Ia menyesal pernah tak bersyukur atas anugrah Tuhan, karena nyatanya disini, ia kesulitan mendapatkan makanan favoritnya.
Ia sadar jika makanan pokok disini bukanlah beras, terasi pun tak ada apalagi asin jambal. Wajahnya menyiratkan kekecewaan.
"Kau saja yang makan Mathew, lagipula nasi ini masih mentah..." tunjuk Jani ke arah nasi yang memang barulah setengah matang, karena ketidakmampuan sang juru masak rumah.
Melihat Rinjani yang begitu, Mathew ikut merasa bersalah karena tak dapat memberikan apa yang gadis itu mau, "maaf nona," balasnya mengangguk.
"Mau kubawakan steak saja?"
Rinjani mengangguk terima saja pasrah, lama-lama hidup disini ia bisa mati karena tak makan, tapi sejurus kemudian ia ingat saat perjalanan tour yang gagal bersama Sisca waktu lalu, "Mat, sorry...bisa antarkan aku ke minimarket halal, nanti?"
"Siap, nona."
Loui meraih gelas slokinya, lalu meneguk wine yang ada disana sebagai welcome drink dari restoran yang ia datangi bersama partner bisnis.
Sebaris pelayan mengantarkan hidangan pesanan ke meja Loui dan partner bisnisnya itu.
"Wah, makan siang kita sudah datang. Sepertinya ini nikmat, tuan Lou..." seru mister Yuri.
"Ini adalah hidangan terbaik yang ada di restoran kami," mereka menaruh satu persatu menu yang dibawa dengan harapan sang konsumen suka. Namun naas, hidung Loui sepertinya sedang tak bersahabat dengan si empunya.
Hekkk!
Loui terhenyak mencium aroma yang menguar dan terbatuk, "uhuukk!"
"Tuan Lou," ujar Oscar menoleh.
"Ada apa tuan?" tanya mister Yuri.
Loui menggeleng, "tak apa, silahkan teruskan saja."
"Singkirkan makanan-makanan ini dari hadapanku, Os...entah kenapa aromanya begitu bau menusuk, membuatku ingin muntah!" ucapnya geram. Oscar mengernyit, "bukankah tadi anda yang bilang kalau anda---"
"Cepat singkirkan!" bentak Loui membuat mister Yuri ikut terkejut.
"Ada yang salah tuan Loui?" tanya nya lagi, Loui kini menggeleng kaku, "silahkan anda teruskan, saya ke belakang sebentar.."
Loui akhirnya mengalah dan pergi ke toilet disusul Oscar dan anak buahnya yang lain.
"Si al! Kenapa hidungku ini!" padahal tak ada yang salah dengan hidangan yang disajikan, buktinya mister Yuri asik-asik saja, sudah melahap. Bahkan perutnya sudah keroncongan sejak tadi, karena jujur saja, Loui belum masuk makanan apapun selain roti tadi pagi bersama daging ham dan telur.
Loui membasuh wajahnya dengan air, mengontrol rasa mual yang mulai mereda, "jika begini caranya aku tidak akan bisa makan!" ia keluar dari bilik disambut wajah keheranan Oscar, "kamu tak apa?"
"Apakah pelayan tadi tak waras?! Makanan bau seperti itu dissbut hidangan terbaik, ditaruh dimana hidung mereka?!" sewotnya menyalak, Oscar sampai mengernyitkan dahinya mendapati omelan ini, karena menurutnya makanan yang barusan dihidangkan nikmat-nikmat saja, bahkan ia pun sudah tergiur akan tampilan dan baunya.
"Aku mau pulang saja, lebih baik aku membeli jajanan streetfood di dekat panti, atau Manhattan." Katanya langsung melengos begitu saja kembali ke depan. Oscar mele nguh kasar, padahal ia sudah membayangkan betapa enaknya lidah yang tengah lapar dimanjakan dengan pasta yang tadi sempat disajikan, "kenapa kau yang gila aku yang harus ikutan menanggung kegilaanmu, Lou..." keluhnya.
Mereka berpamitan sejenak pada mister Yuri, dan memutuskan untuk pulang, karena lidah, perut, penciuman dan otak Lou mendadak koslet. Berkatnya, Oscar harus kembali bersabar, anggap saja ia sedang menghemat kinerja otot-otot lambungnya.
.
.
Jani sudah berada di Manhattan, dengan diantar Mathew ia memilah-milih kebutuhan yang ia perlukan.
Minimarket ini tidak sebesar mall kota, namun cukup lengkap menyediakan kebutuhan bagi para moslem dan orang melayu termasuk beras, meskipun beras yang dijual semahal harga diri.
"Busett, nih beras harganya....ck..ck, ngga ada subsidi apa beras raskin gituh?!" omel Jani, ia mengambil satu bungkus berisi 5 kg, dan melanjutkan mendorong troli. Ia mengambil cabe keriting, bubuk cabe dan menemukan....terasiii!
Nemu terasi aja udah kaya nemu harta karun.
"Nah ini, Mat! Ini yang namanya terasii, cium-ciummm!" titahnya ke arah hidung Mathew yang sontak bergidik karena menurutnya bau bahan makanan itu mirip sama bau kaos kaki seminggu udah gitu kecebur got.
"Bau," jawab Mathew.
"Hey, jangan menghina terasi ya...kelilipan pesona terasi baru nyahokk loh!" oceh Jani.
Belanja sana, belanja sini, namun satu yang Mathew tau sekarang, Rinjani tak seperti wanita-wanita yang telah dikencani Loui sebelumnya, mereka sama-sama wanita, dan sama-sama doyan belanja. Namun bedanya Rinjani lebih memilih benda bau itu ketimbang tas berbranded mewah dan harga selangit.
Setelah membayar, Rinjani memilih pulang untuk segera mengeksekusi bahan makanan, yang cuma beli apa tapi abis berapa, "gilakkk, belanja begini doang abis ampir seratus dollar? Ck..ck..." decak Jani terdengar oleh Mathew, dan satu lagi fakta yang ia tau mengenai Jani, ia sepertinya cocok ditempatkan menjadi manager keuangan, karena pribadinya yang pelit dan perhitungan.
Perempuan itu langsung ngibrit ke mencari dapur, meminta Mathew membawa seluruh barang belanjaannya, menyingkirkan Marriot dari meja kerjanya.
"Nona, biar saya saja..." mungkin Marriot satu-satunya wanita yang ada disini, itupun usianya telah lanjut.
Jani menggeleng, melihat dari kejadian sebelumnya yang nasinya belum matang.
"Biar Jani saja, kamu bisa lihat Jani memasak dan membantu..." ia tersenyum hangat, membuat Marriot ikut tertular senyuman hangat Jani, selama ini Loui tak pernah membawa perempuan ke mansionnya ini. Jika ada yang mengikuti pun, mereka tak pernah sampai masuk ke ranah rumah hanya tertahan di distrik depan.
Dan kesan pertama yang ditunjukan Jani adalah, ramah. Marriot suka.
Jani begitu fleksibel, setidaknya begitu yang Mathew lihat sejak ia duduk berjaga di kursi bar kecil dapur mansion ini.
Ia mengikat rambutnya dengan karet bekas yang ada disana, ia juga tak takut kotor dan kecipratan minyak panas.
Baru kali ini Mathew menikmati pekerjaannya, asik melihat Rinjani sat-set mengupas sayuran dan rempah lalu menyalakan kompor sambil sesekali menjelaskan dan bercanda dengan ibu Marriot.
.
.
Satu persatu masakan ala kadarnya buatan Jani matang, "emhhhh, biar bahan-bahannya terbatas tapi ini lebih afdol ketimbang kentang tumbuk di lidah Jani!" ujarnya berseru senang, terlihat jelas hidangan itu begiti menggiurkan.
"Apa ini namanya?" tanya Mathew.
"Capcay ala Rinjani, ini nasi putih, ayam goreng, dan jeng----jeng---sambal terasi plus lalapan ala Rinjani !!!!" serunya. Meskipun lalapan yang dumaksud hanya kol dan wortel rebus.
"Yuk, yuk makan, anggap aja di rumah emak!" ajaknya langsung duduk melantai di dekat pantry, membuat Marriot dan Mathew melongo dibuatnya.
"Maaf nona, apakah tidak sebaiknya...." keduanya saling pandang, melihat Jani sudah duduk emok sambil nyolek sambal yang baru saja ia tuangkan dari blender, karena ketidakhadiran cobek di mansion ini. Mansion aja mewah, cobek ngga ada! Omelnya.
*Bau-bau deh tuh ntar kalo bikin jus*!
"Yeee, masih pada melongo disitu, sini! Duduk di samping Jani..." pinta Jani.
.
.
.
.
etdah teh sih itu hadiah ga slah ampe 10 pintu tuh kulkas😂😂