Kisah cinta segitiga antara Dika, Ranti dan Vika. Semua berawal dari ketidaksengajaan hingga menjadi cerita cinta yang cukup pelik. Menguras airmata dan juga emosi Ranti yang akhirnya mengetahuinya setelah hubungan rumah tangganya dengan Dika telah menginjak tahun kelima dengan dikaruniai buah hati cantik berusia 2 tahun. Sementara Vika adalah sahabat baiknya semasa SMA. Semua rasa dihatinya bercampur aduk, bergejolak membuatnya dilema antara menjaga keutuhan rumahtangganya dan juga mempertahankan harga dirinya sebagai wanita yang selalu menjunjung tinggi cinta dan kesetiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fifie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI BAHAGIA
Aku, Vika dan Ranti hari ini melakukan pertemuan dengan artis Ahmad George yang hendak membeli rumah Vika. Seperti kesepakatan bersama, kami berjumpa dirumah seorang notaris terkenal yang biasa mengurus surat-surat resmi jual beli. Cukup lama kami berdiskusi mencari jalan terbaik. Akhirnya kesepakatan terjadi juga walaupun agak melenceng dari perjanjian awal. Ternyata sang artis hanya membayar tunai 5 miliar dulu. Sisanya akan dilunasi dalam waktu 6 bulan kedepan. Dan Vika juga harus mengurus semua dokumen dan lain-lain sebagai tanggung jawabnya selaku pihak penjual. Kami juga membawa beberapa orang pengacara sebagai saksi. Setelah perhitungan yang detail akhirnya Vika menyetujui sisa total keseluruhan yang ia peroleh saat ini adalah 4 miliar lebih. 2 miliar lagi baru jatuh tempo 6 bulan kedepan terhitung mulai hari ini.
Aku menarik nafas lega melihat semua fihak menandatangani surat perjanjian itu. Vika memberikan nomor rekeningku kepada pihak pembeli, membuat Ranti terbelalak kaget.
"Vika! Kenapa bukan rekeningmu sendiri?" bisiknya pada Vika. Vika hanya melambaikan tangannya dengan maksud agar Ranti menunggu penjelasannya nanti. Sedang aku hanya diam.
Kami pun berhasil menyelesaikan transaksi jual beli ini walaupun masih tergantung 6 bulan lagi untuk sisanya.
Didalam mobil menuju rumah Vika, lagi-lagi Ranti menanyakan maksud Vika.
"Vik, kamu gila ya?"
"Begini, Ran! Arif mantan suamiku tahu nomor rekening dan PIN ATM-ku. Makanya untuk sementara waktu, aku titip uang itu pada mas Dika. Aku akan buka rekening baru setelah semua urusan utang piutangku pada kalian selesai. Aku udah diskusi sama mas Dika semalam. Mas Dika juga awalnya menolak. Tapi aku desak, daripada uang itu habis dikeruk Arif hingga membuat aku melarat. Dan terus-terusan merongrong kalian,.... lebih baik uang itu aku titip pada kalian. Boleh ya?"
"Kamu memang percaya padaku? Pada mas Dika?" Ranti mendelik pada Vika.
"Kalianlah yang selalu ada untuk aku. Susah senang, aku ingin selalu bersama kalian." jawab Vika sambil senyum. Ranti hanya menggelengkan kepala mencolek bahuku yang fokus mengemudi didepan. Aku mengangkat bahu.
"Besok kita ke bank mengurus perpindahan uang ke rekening barumu, Vik!" kataku membuat Vika tertawa.
"Hadeeeuh.... Daripada urus buka rekening, mending kalian cari travel umroh yang bermutu aja kali'. Bukannya mas Dika bilang, kalo bisnis ini goal mau umrohin ayah dan bapak Ranti khan?"
"Jadi kamu juga tau niatan mas Dika, Vik?"
"Iya, nona manis! Makanya, aku respek banget sama mas Dika-mu itu. Selain jujur, mas Dika itu adalah anak yang baik. Yang suka membahagiakan orang-orang yang dia sayangi."
Ranti memeluk Vika. Mereka tertawa bersama. Aku hanya tersenyum melihat kedekatan mereka layaknya saudara kandung.
"Tapi tetep.... Aku mau kamu sendiri yang pegang uangnya!" tuturku membuat Vika memonyongkan bibirnya padaku. Ranti tertawa.
"Mas bisa ambil uang komisi mas sesuai perjanjian kita. Juga mas kalkulasikan jumlah pengeluaran uang mas mulai dari rumah sakit diBatam, tiket pesawat, dan biaya-biaya lain yang aku pakai ya mas! Jangan sungkan. Aku orang yang baik hati koq! Mumpung aku lagi kaya raya nih!"
"Belum apa-apa udah sombong!" celetukku membuat Vika dan Ranti kembali tertawa.
Sepanjang jalan mereka tertawa. Karena ini hari bahagia.
"Mumpung Jingga ga ikut, gimana kalau kita party dulu ke club malam ini? Aku traktir semuanya. Ya?"
"Hhhh.... Ini yang aku ga suka. Belum apa-apa udah foya-foya! Ditambah lagi jadi provokator ngomporin istriku bertindak diluar kebiasaan kehidupannya. Maaf, aku menolak dan melarang Ranti juga berpesta bareng kamu. Putri kecil kami pasti udah menunggu lama dirumah!"
"Iya, Vik. Maaf, aku ga bisa! Kamu bisa pergi sama temen yang lain. Aku khan punya tanggung jawab ngurus anak."
"Gimana sih kalian ini? Temen-temen aku itu cuma kalian! Lagipula ga da salahnya sesekali menikmati hidup mensyukuri kembalinya Vika yang dulu. Kalian mau apa, aku beliin. Ranti, kamu mau ganti hape atau beli tas branded...silahkan pilih. Aku yang bayar!"
Aku diam menelan ludah. Ini pribadi Vika yang tidak aku sukai. Boros, royal, dan tak pernah berfikir masa depan.
Ranti seperti bisa membaca fikiranku. Ia terlihat kikuk menatapku karena sifat sahabatnya yang mulai menyebalkan membuatku illfeel.
"Ya udah, turunin aku disini mas! Aku pesta sendiri deh! Kalian itu sahabat yang ga asik!" tutur Vika menggerutu. Ranti hanya senyum saja. Aku jelas menghentikan mobil dengan suka cita.
"Kamu pegang uang khan, Vika?" tanyaku setelah Vika keluar.
"Jangan pikirin aku! Aku masih punya koq!"
"Oke!"jawabku sekenanya.
"Vikaaa, selamat bersenang-senang yaaaa! Maaf, aku ga bisa ikut kamu!" Ranti ikut berkata dibalik jendela mobil.
"Ya, urus aja tuh suami sama anak kamu. Aku pergi!"
Aku lega Vika berlalu.
"Ga enak sebenernya mas, sama Vika!" kata Ranti setelah pindah duduk disamping aku.
"Kenapa harus ga enak! Kita semua punya prioritas koq! Harus tegas dalam berprinsip. Jingga mengunggu kita dirumah. Gimana kalo anak kita nangis karena kangen kita, terus mbok Nah kewalahan ngadepinnya. Kamu ga sedih apa, liat Jingga kek gitu!"
Ranti memegang lenganku. Bergelayut manja membuatku luluh dari kejengkelanku.
Ranti itu perempuan pintar yang mampu melumerkan hatiku yang batu. Bahkan tanpa kata-kata manis ia bisa membuatku mati kutu tak berkutik lagi.
Berbeda 180% derajat dengan Vika. Sebetulnya untuk visual dan fisik, Vika memang lebih diatas Ranti. Tapi setelah mengenal Vika, tetap Ranti yang terbaik bagiku.
Vika itu tipikal wanita pemberontak dan selalu ingin dituruti kemauannya. Seringkali melawan setiap ucapku, berdebat bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun. Tapi justru itu yang menjadi daya tariknya. Terlebih bagi pria penakluk. Untung aku tidak memiliki sifat seperti itu. Karena aku sudah cukup puas dengan apa yang kupunya saat ini. Semuanya lebih dari cukup bagiku. Tinggal hidup lebih keras sedikit lagi untuk masa depan dan hari tua.
Aku dan Ranti berdiskusi mengenai niatanku mengumrohkan ayah dan bapak mertuaku. Ranti berjanji akan mencari dulu travel umroh terpercaya untuk mengurus keberangkatan kedua orangtua kami yang masih tersisa.
Aku tersenyum lega. Membelai pipi Ranti yang bersandar dibahuku. Bergegas pulang menikmati sisa malam dihari bahagia ini.
Hape Ranti berdering beberapa kali. Pukul berapa ini? gumam hati kecilku terbangun karena suaranya. Untung Jingga tidur pulas sekali hingga tak terganggu.
"Ya? Selamat malam, dengan siapa ini?" Ranti menjawab suara diseberang hp-nya dengan suara parau.
"Oiya, ya baik. Tolong kirim alamatnya aja, mas! Nanti suami saya yang jemput. Oke, terima kasih!"
"Siapa sih malam-malam telpon!? Ini jam 2 dinihari lho!" Aku mengumpat pelan.
"Mas, Vika mabuk di club malam. Itu bartendernya yang ngabarin. Katanya mereka mau tutup. Tolong jemput Vika, mas! Antarkan dia kerumahnya, mas! Pleasee, tolong!"
"Sayang? Kamu pikir suamimu ini gundiknya apa? Kenapa harus aku sih? Biar aja dia tidur dijalanan. Ga sadar-sadar juga tuh orang sama dirinya! Hhhh...., nyusahin mulu kerjaannya!"
"Maaas.... tolonglah! Kasian! Lagipula, uang Vika ada ditabungan kita lho mas! Seengga'nya kita punya tanggung jawab sama dia."
"Hhhh.... Ranti! Aku paling sebel disuruh-suruh untuk urusan ga penting yang sama sekali bukan urusanku!"
Ranti memelukku dari belakang. Membelai punggungku pelan seperti merayu.
"Mas, masa' harus aku yang jemput Vika! Kasian Jingga, mas! Vika juga kasian. Ga punya siapa-siapa selain kita. Mas ku tersayang! Maaf, aku minta tolong sama kamu!" suara lembut Ranti dibelakang telingaku. Membuatku menarik nafas panjang. Bangkit dari tempat tidur dan berjalan kelemari mencari baju ganti.
Ranti membantuku merapikan pakaianku. Memelukku yang malas berkata lagi.
"Hati-hati ya mas! Makasih ya mas, kamu mau aku suruh-suruh!" Aku tak menjawab perkataan Ranti. Pergi keluar dengan kunci mobil ditangan.
"Mas...!"
"Iya. Aku pergi dulu!" aku akhirnya menjawabnya walau dengan ketus dan muka sepat.
Jam 2 dini hari. Udara dingin menyeruak tubuhku membuat gigiku bergerutuk. Hhh.....! Ampun deh, nih perempuan gila! Selalu ada aja kelakuannya yang bikin hidupku jadi kacau begini. Aku bergumam sendiri. Berusaha menenangkan hatiku yang terselimuti amarah tapi tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti alur saja.
Vika benar-benar mabuk berat. Tubuhnya hanya meringkuk diatas meja bar yang bau alkohol menyengat.
Setelah mengucapkan terima kasih dan membayar bill Vika yang hampir tujuh ratus ribu, aku membopong Vika yang tak sadarkan diri masuk mobil.
Tubuhnya yang ringan membuatku tanpa kesulitan. Tapi bau alkohol membuatku hampir mau muntah ketika merapikan pakaiannya yang tersingkap sebelum mesin mobil kunyalakan.
Keperiksa isi tasnya. Memastikan barang-barangnya masih utuh didalamnya. Ada hp, beberapa alat make up dan dompet. Kubuka dompetnya. Ada lembaran uang seratus ribuan kira-kira sepuluh atau sebelas lembar. KTPnya dan surat-surat lainnya. Lengkap. Baru kustater mobil dan melaju dengan kecepatan sedang.
Wajah polos Vika seperti bocah tak berdosa yang terlelap dalam mimpinya. Sangat enjoy hidupnya. Bisa-bisanya ia tak peduli dengan dirinya sendiri hingga mabuk diluar batas seperti ini. Bagaimana kalau ada orang jahat yang memanfaatkannya. Bagaimana kalau ada pria hidung belang yang menjamah tubuhnya. Sungguh aku tak habis fikir.
Vika kembali ku gendong hingga masuk rumahnya. Untung aku memegang kunci serep rumahnya sewaktu transaksi pembelian kredit rumah ini. Jadi tak perlu repot-repot mencari dulu kunci dan menghabiskan waktu menanyai orang mabuk.
Tiba-tiba Vika merangkul leherku. Menangis tersedu membuatku hanya diam memeluknya dipinggir kasur.
"Udah sadar?" tegurku agak keras. Vika masih tak berhenti menangis. Memelukku semakin erat dengan tangan dingin dan gemetar.
"Hari ini hari ulang tahunku. Tapi ga ada seorangpun yang peduli padaku, apalagi mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Ranti juga sepertinya lupa kalau sekarang tanggal lahirku." ujar Vika disela tangisnya.
Aku termangu mendengarnya. Miris memang. Pasti berat baginya menjalani kehidupan yang berubah 180% dari hidupnya terdahulu. Memang kuakui, kini Vika hanya memiliki kami. Aku dan Ranti. Vika yatim piatu. Anak tunggal, dan sepertinya tak memiliki saudara baik dari papa maupun mamanya. Bahkan teman-teman yang dulu mengerubunginya. Semua menjauh satu persatu seiring kebangkrutannya dan keterpurukan pernikahannya.
Ranti menangis dipelukanku lama. Kubiarkan ia menumpahkan semua tangisnya agar merasa lega setelahnya. Matanya bengkak karena hampir satu jam mengeluarkan airmata yang deras mengalir.
Kuhapus butiran dipipinya dengan lembut. Membersihkan sisa-sisanya dengan tissue.
"Selamat ulang tahun, Vika! Semoga panjang umur, selalu bahagia dan bersyukur atas nikmat yang Allah beri untukmu!" kataku membuatnya kembali menangis dan merangkulku lagi.
"Maaaaas.... !!!"
"Udah nangisnya! Andai Jingga liat kelakuan antinya yang seperti bocah ini pasti Jingga bakalan ketawa. Cup cup cup...! Vika mau tiup ?" godaku mengeluarkan korek gas dikantong celana dan memantiknya. Vika tertawa malu disela tangisnya.
"Aku kayak jadi adexnya Jingga ya mas?" ujar Vika dengan wajah bersemu merah.
"Kamu lebih mirip badut hidung tomat. Tuh liat, hidungnya sampe merah banget kaya tomat!"
"Idiiih, aku jelek banget ya dimata mas? Sampe dibilang mirip badut!"
"Emang badut jelek? Kata siapa? Badut itu lucu, luar biasa. Dia bertopeng berdandan hanya untuk menyenangkan anak-anak yang menyukainya. Padahal dibalik topeng badutnya, ada banyak kesedihan dan penderitaan disana." Aku memotivasi Vika.
"Ternyata badut itu orang hebat ya mas?!"
"Ya, tentu. Kamu fikir bekerja sebagai badut itu tidak menpertaruhkan harga diri gitu? Mereka meredam rasa sakit, rasa malu, karena ada sebagian orang memandang rendah pekerjaannya sebagai badut. Belum lagi kostum badut yang berat dan panas. Kalo orang yang ga biasa, ga akan bisa bertahan lama didalam kostum itu. Makanya jangan remehin badut! Bukan masalah cakep atau jeleknya."
"Iya ya, mas! Kita kadang memandang rendah kerjaan orang lain."
"Kita? Elo aja kaliii'!" godaku membuat Vika mencubit manis tanganku.
"Kalo masalah cakep, kamu liat tuh para waria ditaman lawang. Dandanannya lebih cakep dan lebih seksi dibanding wanita asli. Iya khan?" kataku lagi. Vika tertawa renyah. Sepertinya kesadarannya dipengaruhi alkohol juga sudah pulih.
"Mas! Ini udah jam 3 ya? Mas ga apa masih nemenin aku?" kata Vika membuatku tersentak. Iya juga ya!? Ga sadar aku.
"Andai kamu ga mabuk, aku ingin ajak kamu sholat tahajud. Bersyukur pada Allah atas segala nikmat. Sayang kamunya malah seperti ini!" ucapku membuat Vika menunduk.
"Dulu papa mama pasti selalu merayakan ulang tahunku. Memberiku surprise kejutan. Bahkan mbok Ratni dan mbak Darti setiap tahun memberiku ucapan dan kado meskipun papa mama sudah ga ada."
"Kamu bisa khan kunjungi mereka, orang-orang yang menyayangimu dengan tulus."
"Mereka sudah pulang ke Brebes setelah aku dan Arif memecatnya dan menjual rumah yang di Pamulang."
"Kamu tau alamatnya?"
"Engga', mas! Aku nyesel sekarang karena ga peduli pada mereka yang begitu menyayangiku. Padahal mereka mengurusku dari kecil. Tapi gara-gara Arif, aku terpengaruh."
"Udah! Masa lalu yang pahit sebaiknya kamu lupakan. Tutup rapat dan tinggalkan. Buka lembaran baru dengan doa dan niat yang baik. Oke? Sekali lagi, selamat ulang tahun ya Vika! Umur kita semakin bertambah, tapi sisa hidup kita berkurang. Ini hari bahagia kamu. Kamu sekarang punya uang, jadi...jangan sia-siakan hidupmu yang sekarang."
Vika memelukku erat. Matanya lagi-lagi basah. Tapi kali ini bibirnya tersenyum bahagia.
"Aku bersyukur Allah mempertemukanku denganmu mas! Walaupun aku kadang sedih karena tak tahu harus bagaimana denganmu. Tapi aku bahagia, mas! Bahagiaaaaa sekali. Jangan tinggalin aku ya mas, walaupun tabiatku buruk bikin kamu kadang pusing kepala. Tapi jujur, aku ga bisa menjauh darimu mas! Aku butuh kamu, mas!" Lagi-lagi kata-kata Vika membuat jantungku berdebar kencang. Aliran darahku berdesir keras. Hhhh.... Akupun tak tahu harus bagaimana dengannya.
Kuraih handphoneku. Menuliskan pesan pada Ranti, bahwa aku menginap dirumah Vika karena Vika mabuk tak sadarkan diri. Aku lagi-lagi sedikit berbohong. Padahal Vika sudah sadar. Tapi aku tak sanggup meninggalkannya dikala hatinya sedih seperti sekarang ini. Aku terjerat Vika. Tapi berusaha sadar dan tak bertindak diluar batas.
"Malam ini aku menemanimu. Tapi kamu juga harus tau batasan. Aku ini suami sahabatmu. Dan aku ga mau membuat hubunganmu dan Ranti menjadi alasan aku menerimamu. Aku tidur disofa depan!" kataku membuat Vika berbinar kegirangan. Ia meloncat kearahku dan memeluk tubuhku. Tapi ia segera melepas dengan senyum malu-malu.
"Tidurlah! Aku juga mau tidur karena besok pagi harus kerja!" Aku mengecup keningnya. Membalikkan tubuhnya agar kembali kekasur busanya. Lalu melangkah keluar kamar menutup rapat pintunya dengan dada berdebar.
Aku gila! Lagi-lagi aku mencium keningnya. Dia bukan istriku. Juga bukan adikku. Tapi aku tak mengerti rasa sayang yang aku miliki untuknya.
"Terimakasih banyak, mas! Have a nice dream yaa..." teriak Vika dari balik pintu.
Aku melangkah gontai menuju sofa di ruang tamu. Menarik bantal asesoris dan menjatuhkan kepalaku diatasnya. Berusaha memejamkan mata walau hanya 1 atau 2 jam menjelang subuh.
Bersambung-
hidup bkn hny melulu seneng, tp jg ada sedihnya...
smoga Dika tenang disisiNya...
jd laki koq gitu amat...
sapa coba yg g sakit hatinya...
dari awal baca udah greget ma sikap Dika..