Mungkin semua orang mengatakan aku lah wanita yang paling beruntung di dunia ini,dimana aku yang hannya lulusan sekolah menengah dinikahi seorang pegawai negri yang memiliki pangkat tinggi.Aku bahkan rela meninggalkan agama dan orang tuaku yang tidak merestui hubungan kami demi suamiku.
Tapi siapa yang menyangka pernikahan ini telah membuatku menyesal seumur hidup bahkan aku sudah menggadaikan agama ku demi suami yang hannya menganggap ku babu.
Mungkin ini karma yang harus ku jalani,yang menentang orang tuaku demi pria yang memiliki pangkat tinggi.
ikuti kisah rumah tanggaku,akankah aku bertahan dengan suami yang ringan tangan ditambah mertua yang sangat kejam? Akan kah orang tua ku menerima aku kembali setelan aku murtad dari agamaku demi pilihan ku?
jangan lupa dukungannya kak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustina Pandiangan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 ~ Berubah ~
Keesokan harinya pagi-pagi sekali Kenan bangun,tidak seperti biasa dia sama sekali tidak melakukan apa pun pagi ini bahkan tidak melayani Leo seperti biasa.
Sementara Leo adalah pria yang segala sesuatunya harus di layani bahkan dia tidak pernah tau dimana letak sepatu,baju atau apa pun semua yang berurusan dengannya.
Leo bangun pagi,dia tidak menemukan pakaiannya di atas meja seperti biasa,dia ingin marah dan emosi tapi dia memendamnya karena tidak ingin terjadi keributan di rumahnya apalagi dokter Meri masih tinggal disana.
Leo dengan terpaksa mengambil pakaiannya sendiri,dia beberapa kali mengumpat karena kesulitan menemukan pakaiannya kecilnya.
"Dasar Kenan,aku sangat emosi melihatmu,kamu pikir aku takut kalau kamu marah,emangnya apa yang bisa dilakukan seorang wanita pengangguran selain menunggu gaji dari suami." Ucap Leo dengan senyum menghina.
Leo keluar dari dalam kamar,tepat Meri juga keluar mereka berdua saling tersenyum melihat ketampanan Leo hati Meri kembali berbunga-bunga.
"Selamat pagi mas,kebetulan kita bangun sama bagaimana perasaan mu pagi ini?" Tanya Meri basa-basi agar tetap tercipta hubungan yang harmonis di antara mereka berdua.
Leo hannya mengangguk,tidak melihat wajah Kenan pagi ini membuat moodnya sedikit buruk.Matanya mengelilingi seluruh rumahnya tapi dia tidak melihat istrinya,Meri tersenyum kecil ke arah Leo.
"Mas kamu mencari Kenan,sepertinya dia pergi tadi pagi-pagi sekali bersama putrimu,aku tidak tau mereka kemana yang jelas mereka tidak membawa apa pun kecuali tas kecil milik putrimu." Ucap Meri.
"Hahaha untuk apa aku mencarinya,dia tidak akan pergi kemana pun, karena dia tidak bisa hidup tanpa aku,selama ini dia hannya tinggal meminta kepada ku mana bisa dia hidup di luar sana." Ucap Leo dengan nada meremehkan Kenan istrinya.
Mereka berdua duduk di meja makan lalu membuka tudung saji,Leo sangat kaget saat melihat tudung saji yang kosong dia tersenyum kecil lalu menatap Meri.
"Hmm..Mungkin dia sedang ingin mengancam ku,kita sarapan di rumah ibu saja." Ucap Leo lalu menarik tangan Meri meninggalkan rumahnya.
"Bu...Bu...Ibu sudah masak,kami numpang sarapan dong nanti aku malas kalau harus mampir untuk sarapan lagi,kami sudah telat ini." Ucap Leo lalu menarik kursi dan duduk di tempatnya begitu juga dengan Meri.
"Mari...Mari ibu akan memasak untuk kalian berdua.Tunggu sebentar ya aku akan siapkan semuanya." Ucap Maya dengan wajah senyum bangga.
Setelan menunggu sepuluh menit sarapan yang mereka tunggu akhirnya tiba juga begitu juga dengan secangkir kopi permintaan Leo.
"Dimana istrimu yang pemalas itu,apa dia masih tidur hingga kalian makan disini,ibu tidak keberatan tapi ibu akan marah jika dia mengabaikan tugasnya pagi ini."Ucap Maya dia mengambil kursi nya lalu duduk di samping Meri.
"Ini salah Meri Tante,aku membeli baju untuk dia kemarin,mungkin dia tersinggung dia menolaknya lalu dia marah-marah tidak jelas mengatakan kalau dia juga bisa beli baju sendiri dari situ dia mengabaikan kami di rumah." Meri mengadu kepada Maya seakan mengompori hubungan mereka yang tidak pernah akur sama sekali.
Maya yang mendengar itu tertawa lepas bahkan dia hampir tersedak makanannya sendiri,untuk saja Meri segera membantunya.
"Hati-hati Tante maaf sudah membuat Tante tersedak seperti ini." Ucap Meri pura-pura merasa bersalah.
"Siapa yang tidak tertawa coba,dari mana dia punya uang,dia hannya ibu rumah tangga yang tidak tau apa pun,Tante dulu sudah melarang Leo untuk menikahi wanita pengangguran itu tapi dia ngotot dan memaksa beginilah jadinya."Ucap Maya mengakhiri sarapannya.
Mereka terus membicarakan kekurangan Kenan,bahkan Meri beberapa kali tertawa,Leo sebenarnya tidak menyukai Ibunya yang selalu merendahkan istrinya biar bagaimana pun Kenan wanita yang begitu pandai memuaskan dia di atas ranjang dan juga melayaninya dalam hal apa pun,tidak pernah terlintas di pikirannya untuk bercerai dengan Kenan.
"Sudahlah aku sudah terlambat,kita berangkat ya Meri!!"
"Ayok.." mereka berdua keluar dari dalam dapur lalu masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan dari tadi pagi.
"Meri..Meri tunggu dulu,mana baju yang kamu beli untuk Kenan kalau dia tidak mau biar Tante yang makai." Ucap Maya dia menarik tangan Meri saat dia hendak masuk ke dalam mobil.
"Ada di kamar yang di tempati Meri Tante." Maya kegirangan saat mendengar jawaban Meri kalau Meri yang membeli baju dia sudah yakin itu barang bagus karena dia tau Meri wanita yang berkelas.
Leo segera meninggalkan rumahnya,lalu keluar dari dalam gerbang halamannya, dia telah mengunci pintu rumahnya yang artinya ibunya tidak akan masuk dengan bebas.
Maya berjalan menuju pintu rumah,dia mendorong pintu beberapa kali tapi pintu tidak terbuka membuatnya kesal sendiri.
"Dasar Leo bisa-bisanya dia mengunci rumahnya toh istrinya tidak akan balik." Ucapnya dengan nada kesal.
****
Kenan mengelilingi pasar tradisional yang ada di kota kecil itu,dari beberapa toko yang dia tanya belum ada satu pun yang menerimanya karena dia datang membawa anak.Kenan duduk di sebuah kursi panjang lalu mengelus perutnya yang sudah mulai lapar,untung saja Naira sudah dikasihnya makan tadi pagi.
"Kemana lagi aku harus cari pekerjaan yang bisa membawa anak,tidak mungkin aku meninggalkan Naira di rumah." Ucapnya,dia menarik napas panjang tiba-tiba dia melihat sebuah cafe keluarga yang lumayan ramai.
"Selamat pagi pak,apa bapak butuh kariawan untuk cuci piring di cafe ini pak?" Tanya Kenan tanpa ragu-ragu.
Pria itu menatap Kenan dari atas kebawah dari wajahnya yang cantik dia sebenarnya layak untuk menjadi pelayan di depan yang khusus melayani pelanggan.
"Anda bawa anak?"
"Iya pak,aku tidak punya keluarga untuk menjaganya,please pak tolong ijinkan saya tidak papa untuk cuci piring aku janji anakku tidak akan membuat keributan." Ucap Kenan dengan wajah penuh iba.
"Hmm...Gimana ya sebenarnya kami butuh tapi aku takut anak mu akan menganggu pekerjaan mu nanti,kebetulan semalam ada yang mengundurkan diri." Ucap pemilik resto.
"Tolong pak,kalau anakku menganggu aku akan mengundurkan diri secepatnya." Kenan membuat perjanjian hingga akhirnya pemilik resto luluh akan janji Kenan.
Pada hari itu juga Kenan langsung bisa bekerja dia mencuci tumpukan piring yang segunung,dia menyakinkan Naira untuk tidak bandel lalu memberikan dia ponselnya supaya ada kegiatan anak itu.
Kenan langsung bekerja dengan serius,pemilik cafe memberinya gaji satu juta delapan ratus satu bulan dan akan naik di bulan ketiga.Kenan sangat senang mendengar itu dia akan sangat menghargai pekerjaannya itu karena di ijinkan membawa anak.
Sore harinya tepat jam lima sore,Leo pulang dari kantornya dia sengaja pulang terlambat agar Meri pulang duluan dia merasa tidak enak karena kemarahan istrinya.
Leo membuka pintu dengan kasar dia baru ingat kalau dia mengunci pintu rumahnya saat dia akan pergi ke kantor tadi pagi dan saat tidak melihat Kenan dan Naira di rumahnya dia semakin kesal.
Leo membuka pintu rumah ibunya,dia tidak ada semangat sama sekali saat tidak melihat istri dan anaknya di rumah.
💗💗💗bersambung 💗💗💗