NovelToon NovelToon
Pangeran Dari Dunia Lain

Pangeran Dari Dunia Lain

Status: tamat
Genre:Romansa / Fantasi Timur / Cinta Beda Dunia / Roh Supernatural / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:55.6k
Nilai: 5
Nama Author: Eriza Yuu

Di ulang tahunnya yang ke-20, Eriza Ravella mendapat hadiah berupa tiket pesawat liburan ke New Angeles dari bibinya. Bersama sepupunya, Sienna Aeris, keduanya berangkat. Kedua gadis itu menikmati liburan mereka dengan menyenangkan.

Suatu sore, tanpa sengaja mereka bertemu dengan pemandu wisata yang membawa rombongan mahasiswa dari perkumpulan misteri yang menyebut diri mereka Blue Rose. Kedua gadis tersebut diajak sang pemandu mengunjungi lokasi wisata horor terkenal di kota tersebut.

Perjalanan dimulai. Tidak hanya deretan bangunan kosong yang menjadi daya tarik, ternyata dibalik lokasi tempat wisata tersebut menyimpan sebuah kisah kelam di masa lalu yang masih menyisakan misteri hingga saat ini. Terutama dengan kemunculan sosok pemuda yang tidak hanya mencampur-adukkan perasaan Eriza namun keberadaannya juga penuh teka-teki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eriza Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Terakhir

Aku berjalan menyusuri Dixie Street yang selalu ramai tiap malam. Berjalan sampai di mana biasa Wallace menunggu. Tapi malam ini aku tak melihatnya di sekitar katedral. Mungkin aku datang terlalu awal. Meskipun pengunjung di depan ramai tapi jika sudah sampai di ujung jalan sekitar sini tetap saja suasananya sepi seperti biasa. Mungkin sudah tidak aneh. Akhirnya aku hanya berdiri bersandar di tepi pagar besi katedral sambil menunggu Wallace datang. Untungnya aku bawa earphone, ini cukup untuk mengusir rasa kebosanan.

Baru beberapa menit aku berdiri di sana sambil mendengarkan musik dari earphone-ku, tiba-tiba aku dikejutkan dengan tepukan seseorang. Sontak aku menoleh.

Kakek tua yang pertama kali ku temui di sekitar Lucent Inn menatapku tajam. Aku buru-buru melepas earphone-ku. Cukup takut melihat wajah kakek tua yang tanpa ekspresi itu. Aku menoleh ke sana-kemari memastikan ada orang yang melihatku, supaya kakek tua ini tidak sempat berbuat jahat padaku.

"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya kakek tua itu dengan suara berat.

"A ... A ... Aku ...," saking takutnya sampai sulit berkata.

"Jangan macam-macam, Nona. Kamu sudah masuk dalam ...," ujar kakek tua itu tapi aku tak terlalu mendengarnya.

Aku sibuk menatap ke sana-kemari sampai tatapanku melihat sosok Wallace berdiri di depan sana di antara kerumunan orang berlalu lalang. Aku pun segera meninggalkan kakek itu tanpa menunggunya selesai berkata.

"Maaf, kakek. Aku pergi dulu!" pamit ku sambil berlari cepat ke tempat Wallace.

Aku tersenyum padanya tapi ia sepertinya menyembunyikan wajahnya di antara keramaian. Ia juga tak berkata apa-apa sampai kami berjalan di gang sempit yang sepi.

"Apa yang dikatakan kakek tua tadi?"

"Tidak ada! Dia membuatku kaget, menepuk bahuku tiba-tiba," jawabku.

"Benarkah dia tidak bicara apa-apa?" tanya Wallace sekali lagi untuk meyakinkan.

"Ya, tidak ada. Aku langsung meninggalkannya saat melihatmu! Kenapa?" jawabku.

Malam ini ekspresi wajah Wallace nampak dingin.

"Tidak, hanya bertanya saja," Ia baru tersenyum kemudian.

"Apa aku datang terlalu cepat?" tanyaku pelan.

"Tidak juga. Hanya aku tidak enak membuatmu menunggu," jawab Wallace kalem.

"Habis kamu tidak mau memberiku nomor yang bisa ku hubungi," Apku membela diri.

Wallace tersenyum tipis. Seperti malam biasanya kami habiskan duduk di depan bangunan bekas restoran.

"Ngomong-ngomong siapa pemuda yang mengantarmu tadi?" tanya Wallace tiba-tiba.

"Roger?! Dia keponakan supir yang biasa mengantarku kemari. Karena dia sibuk jadi Roger yang menggantikan," jawabku.

"Oh," gumam Wallace.

"Kenapa? Kamu cemburu?" godaku.

"Tidak. Kenapa harus cemburu?" ujar Wallace.

"Jadi, kamu tidak cemburu?" tanyaku agak kecewa.

"Kamu berharap aku cemburu?" Wallace memutar balik pertanyaan ku.

"Kenapa harus?" tanyaku malah dibuat berputar-putar.

"Ya, kenapa juga harus cemburu?" Wallace pun ikut menimpali.

Aku jadi mati kutu tak tahu berkata apa lagi. Wallace menatapku dengan raut wajah serius. Ada perasaan aneh terpancar dari matanya. Aku tak mengerti apa tapi aku merasa seperti melihat ada kesedihan di sana.

"Hari ini terakhir ya kita bertemu?!" katanya seperti gumaman daripada pertanyaan.

Aku mengangguk lemah sambil berkata pelan.

"Iya."

"Apa kamu akan datang lagi ke kota ini?" tanyanya seperti berharap.

"Entahlah. Kalaupun datang aku juga tidak tahu kapan," jawabku.

"Aku mengerti," ucap Wallace.

"Tapi, kita masih bisa saling menghubungi, kan?! Kamu kan bisa meneleponku atau mengirimkan ku surat!" kataku menghibur.

Tapi Wallace menggelengkan kepala. Senyumku hilang, aku tak mengerti dengannya.

"Kenapa?" tanyaku.

"Aku tidak bisa. Kamu tidak akan mengerti. Aku tidak akan bisa melakukan itu," ujarnya sangat pasrah.

"Kenapa tidak bisa? Kenapa keluargamu memperlakukanmu seperti itu? Kenapa kamu tidak pergi saja? Kalau segala kegiatanmu dibatasi seperti ini!" kataku dengan emosi.

"Kamu tidak mengerti. Aku juga ingin seperti dirimu. Tapi, aku tidak punya pilihan. Kehidupan kita berbeda," ujar Wallace yang membuatku semakin tidak mengerti.

"Ya, kalau kamu tidak mengambil keputusan sekarang. Selamanya kamu akan tetap tidak punya pilihan!" kataku tajam.

Wallace hanya tersenyum menanggapi sikap tak sabar ku. Ia malah begitu tenang walau matanya terlihat sangat tersiksa.

"Eriza, aku boleh memelukmu sebentar saja?" tanyanya.

Aku menatapnya tak mengira dia akan berkata begitu. Tapi aku senang. Aku tersenyum tipis dan mengangguk.

Langsung saja Wallace memelukku. Pelan tidak begitu erat tapi dingin tubuhnya langsung menusuk ke kulitku. Aku sempat bergidik. Namun tak ku indahkan rasa itu. Aku terlampau senang sampai tak mempedulikan mengapa tubuhnya bisa sedingin itu.

"Kamu lihat bintang di langit itu!" ucap Wallace.

"Ya," jawabku.

"Saat aku merindukan seseorang yang jauh dariku, hanya bintang-lah yang menemaniku. Aku berharap sang bintang menyampaikan rasa rinduku padanya," kata Wallace pelan dan lembut.

Dan aku berharap akulah orang yang kamu rindu itu, aku melanjutkan dalam hati.

"Eriza, apa kamu menyesal bertemu denganku?" tanya Wallace sambil melepas pelukannya.

"Tidak, kenapa bertanya begitu?" tanyaku.

"Hanya ingin tahu," jawabnya.

"Kamu selalu bertanya yang aneh-aneh!" kataku.

Wallace tertawa kecil. Ia malah mengacak rambutku. Tangannya yang dingin dan kaku terasa seperti sebongkah es di atas kepalaku.

"Tanganmu dingin sekali!" kataku spontan.

Wallace cepat menarik tangannya kembali.

"Oh maaf, mungkin ... cuaca. Cuaca malam memang terasa dingin bagiku meskipun di musim panas," katanya.

"Oh," gumam ku, cukup masuk akal.

"Maaf, aku tidak bisa mengantarmu besok!" ucap Wallace.

"Tidak apa. Lagipula aku berangkat pagi. Kamu pasti sibuk," balasku mengerti.

"Jaga diri baik-baik, ya! Kalau ada kesempatan datanglah lagi kemari!" pesan Wallace.

Aku mengangguk lemah. Tak ada semangat. Aku juga tak berani menatap wajahnya karena mataku mulai terasa panas. Entah kenapa aku ini, aku begitu cuek dengan Alex, tapi tidak bisa mengabaikan Wallace. Padahal aku juga baru kenal beberapa hari saja dengannya. Namun sulit sekali mengabaikannya.

"Kamu kenapa diam saja?" tanya Wallace karena aku tak bicara apa-apa lagi.

"Aku tidak apa-apa. Jadi, aku tidak bisa menghubungimu nanti?" jawabku sekaligus bertanya.

Wallace menggelengkan kepalanya dengan pelan.

"Baik, aku mengerti," kataku pelan. Lantas aku bangkit berdiri.

"Aku harus pulang, sudah malam. Bye!" pamit ku dan langsung berjalan meninggalkannya.

"Aku antar sampai ...."

"Tidak usah. Aku sendiri saja! Selamat tinggal, Wallace!" Aku memotong ucapan Wallace dengan cepat tanpa menoleh lagi aku berjalan lebih cepat.

 

...★━━━━━━━━━━━━★...

Wallace hanya mampu menatap kepergiaan Eriza. Didalam kesunyian malam dan dalam kesendiriannya ia berbisik. "Maaf, Eriza!"

...★━━━━━━━━━━━━★...

bersambung ....

1
nurul hidayati
fiksi yg bagus... detail... like it
ℛᵉˣʚɞ⃝🍀𝑬𝒓𝒊𝒛𝒂𝒀𝒖𝒖: terima kasih dukungannya kakak 🙏🏻
total 1 replies
Riris Marpaung
Lumayan
Riris Marpaung
Kecewa
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Wallace sepertinya mencintai Eriza tapi mereka berdua beda alam
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Bibi dari Eriza menanyakan tentang liburan Eriza dan Sienna kepada mereka berdua
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Eriza langsung pamit pergi kepada kakek tua setelah melihat Wallace datang
❀𝑪𝒂𝒔𝒔𝒊𝒆❀💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
ceritanya sgt menarik bertemakan fantasi ringan tpi buat penasaran utk membaca lagi dan lagi
keren thor
❀𝑪𝒂𝒔𝒔𝒊𝒆❀💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
pelan pelan sembari menikmati panorama
❀𝑪𝒂𝒔𝒔𝒊𝒆❀💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
bakalan menarik bgt klo ada seseorg yg akan memecahkan misteri dari istana itu
❀𝑪𝒂𝒔𝒔𝒊𝒆❀💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
terpaksa? tpi sampe menghilangkan nyawa org 🙄
Aku dan kamu selamanya😍💏💑👪
Eriza dan Sienna berlibur dan akan mengunjungi tempat tempat di New Angeles
Aku dan kamu selamanya😍💏💑👪
Ternyata liburan itu perjalanan pertama Eriza di kota New Angeles
Aku dan kamu selamanya😍💏💑👪
Dennis datang ke kota Angeles karena penasaran ingin melihat kerajaan Dixie
Aku dan kamu selamanya😍💏💑👪
Pangeran Edmund baru mengetahui kalau Maera mengkhianati dirinya saat pangeran Edmund baru pulang dari medan perang
@ Yayang Risa Selamanya
Eriza dan Sienna sangat menikmati liburan yang sangat menyenangkan New Angeles
@ Yayang Risa Selamanya
Ternyata Eriza bisa naik ke puncak menara menggunakan lift yang di sediakan
@ Yayang Risa Selamanya
Sienna menanyakan kepada Eriza habis dari mana saja Eriza karena hampir satu jam Sienna menunggu Eriza
@ Yayang Risa Selamanya
Beberapa gedung di sekitar situ terkesan angker karena minim pencahayaan
Yayang Lop3♡ Risa
Eriza dapat tiket liburan gratis dari sang bibi pasti dia bahagia apalagi ke tempat wisata di kota terkenal
Yayang Lop3♡ Risa
Eriza dan sepupunya langsung istirahat begitu sampai hotel
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!