sindy Aulia perempuan tangguh dengan segala hinn dari kakak ipar & mertuanya, kata kata pedas yang di ucapkan mertua dan kakak iparnya menjadi cambuk untuknya bisa menjadi sukses, menjadi seorang penulis novel di aplikasi berbayar. yuk ikuti kisahnya baca selengkapnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siti jubaedah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sidang cerai pertama
Semua ibu ibu yang akan pergi menuju butik Almia store, sudah berkumpul untuk pergi bersama sama.
tas mewah dan baju bagus, sudah melekat di tubuh Bu Sela, tak lupa juga dengan gelang yang melingkar cantik di tangannya.
tak lama taksi daring datang mereka pergi menggunakan taksi daring, di jalan memakan waktu hampir 1 jam Karena sedikit macet.
tiba di butik semua karyawan sudah siap melayani para pembeli, Mirna yang di tugaskan mengelola butik Sindy.
dengan sigap melayani para pembeli, begitu juga dengan 2 Karyawan lainnya. sedangkan 1 karyawan kepercayaan Sindy, yang bernama Sukma, dia menjaga kasir, sesekali di Pantau oleh Mirna.
Bu Sela dan Anggi, ketika awal masuk ke dalam butik, mereka berdua banyak sekali mengambil pakaian & gaun. bahkan Bu sela mengambil beberapa gamis.
Baju yang di pajang di butik begitu mewah dan elegan. Bahkan ada beberapa gamis yang hanya di jual dua atau tiga pic saja. Bahkan butik Almia store. Menerima jasa pembuatan gaun pengantin dan pesanan untuk seragam. Tak hanya pakaian wanita ada juga beberapa pakaian pria. Anak anak. Bahkan tas dan sandal dengan brand ternama Di Indonesia pun berjajar rapi di dalam etalase.
Saat mereka asyik memilih pakaian, mereka tak menyadari dari luar ada sosok orang, yang melihat mereka berbelanja. Ya itu Sindy, setelah selesai memasak. Sindy datang ke butik untuk memantau butik dan toko serba satu harga. Karena dari kejauhan sudah melihat mertua dan iparnya berada di dala. butik. Sindy memilih masuk dahulu, ke toko serba satu harga.
mengambil uang pemasukan beberapa hari yang lalu. setelah menggambil uang Sindy ber pura pura menjadu pembeli di tokonya sendiri.
"Wulan sini"panggil Sindy kepada karyawannya yang bernama Wulan, dia orang yang di percaya Sindy untuk mengelola toko satu harganya.
"iya ada apa mba,?" sahut wulan
"di dalam butik ada ibu mertuaku dan Kakak ipar, kamu tolongin saya pura pura layani saya menjadi pembeli di sini" pinta Sindy dengan memohon
"baik mba" balas Wulan
Wulan baru lulus sekolah beberapa bulan yang lalu, anak yang baik sopan & Satun dan jujur.
Setelah Ibu Sela dan Anggi selesai, berbelanja di butik mereka berdua tak sengaja melihat Sindy, sedang memilih tas dan sandal sontak saja Anggi yang melihat itu berbicara kepada sang ibu.
"duh ibu masa menantu ibu malu malu in sangat si, padahal kan uang suaminya banyak masa berbelanja di toko kaki lima kaya begitu, gak level sama kita" ucap Anggi dengan nada yang Tinggi. membuat ibu ibu yang pergi bersama mereka, melihat ke toko yang Anggi maksud.
" Duh dasar mba Anggi udah mau jadi Janda saja gx berhenti masih nyinyir ipar sendiri" batin Sindy
"Mm. Mungkin dia mau menghemat Anggi secara Kalian kan sering bgt recokin mba Sindy" balas ibu ibu yang tadi bersama mereka.
"Recokin bagaimana Bu maksudnya, bukankan anak laki laki adalah hak ibunya jadi wajar dong kalau saya dan Ibu sering minta uang" balas Anggi dengan emosi.
"Duh udah deh gak usah berantem, lagian mba Sindy mau belanja di mana pun itu hak dia" ucap ibu lainya.
"Hemm iya Bu" balas Bu sela Dengan tatapan mata yang Sinis
Sindy yang melihat itu dalam hatinya tertawa begitu bahagia. Karena baru sekarang ada orang yang membelanya.
Gegas Sindy membayar, barang yang dia ambil di toko satu harga itu sebuah tas dan sandal keluaran terbaru di toko. Walau di banderol dengan harga yang murah namun. Barang yang di jual bukan barang murahan
Gegas Sindy keluar dari toko menghampiri Anggi dan mertuanya.
Mencium takzim Tangan mertua dan Anggi, lalu Sindy berpamitan untuk pulang lebih awal
setelah kejadian di depan butik, Anggi, tak lagi mengganggu Sindy. akhir akhir ini kedai yang di bukanya membuahkan hasil yang lumayan awalnya kedai itu hanya menggunakan gerobak dan etalase Kecil di depan rumah, Karena Jualannya tak begitu ramai. namun saat ini sudah berjalan hampir 3 Minggu jualan Anggi begitu ramai.
berkat promosi yang dilakukan oleh Bu Sela, Ibu dua anak itu walau, sudah berumur tepat saja bugar dan masih aktif dengan beberapa kegiatan. Jadi setiap ada kegiatan dengan senang dan antusias Bu sela mempromosikan Jualan Anggi
sidang cerai pertama
Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi saat Anggi sedang duduk santai di teras rumah yang sekarang sudah beralih fungi menjadi kedai kecil yang menjual aneka minuman. kebab, kentang goreng, burger dan sosis bakar. Kedai yang Anggi buka sudah berjalan hampir satu minggu.
Tak lama datang tukang pos yang menyerahkan surat panggilan sidang pertama yang akan di laksanakan lima hari lagi.
Anggi, yang melihat surat panggilan sidang itu menatap nanar kepada secarik kertas, yang menyatakan panggilan Sidang pertama. Anggi, Tak lama datang anak anak yang biasa membeli jajan di kedai Anggi.
"Mba Anggi" panggil Aurel
"Astaghfirullah" ucap Anggi
"Mba, mengapa ?" Tanya Aurel
"Mm gpp Aurel, tadi mba lagi ngelamun" balas Anggi
"Duh Mba jangan banyak ngelamun, nanti cepat tua. Aku mau sosis bakar 2, minum capuccino 2 ya mba" ucap Aurel
"Hehe, iya oke Tunggu ya ada yang mau di beli lagi?"
"Ga mba itu saja, kita nunggu yang lain datang dahulu" jawab Sisil
Kedua Anak remaja itu duduk dengan santai di lesehan, sambil menunggu teman dan camilan yang di pesannya.
Sore menjelang malam Anggi, memberi tahu bahwa dia Akan sidang pertama hari Rabu pekan depan, hal yang membuatnya terlihat murung setelah mendapatkan surat panggilan sidang pertama.
Tak terasa waktu yang di tunggu pun tiba Sidang Pertama, suaminya Sindy Devan, tidak hadir membuat Sidang itu dengan mudah, selanjutnya Sidang kedua yang akan di laksanakan sekitar 2 Minggu lagi.
***Pop Anggi***
namaku Anggita, orang orang biasanya memanggilku dengan sebutan Anggi. setelah sidang pertama di laksanakan, hatiku makin mantap untuk mengakhiri, pernikahan dengan emas Devan. yang sebentar lagi akan menjadi Mantan suamiku.
Sore menjelang malam aku, memberi tahu bahwa. Akan sidang pertama hari Rabu pekan depan, hal yang membuatnya terlihat murung setelah mendapatkan surat panggilan sidang pertama.
Tak terasa waktu yang di tunggu pun tiba Sidang Pertama, suaminya Anggi, tidak hadir membuat Sidang itu dengan mudah, selanjutnya Sidang kedua yang akan di laksanakan sekitar 2 Minggu lagi.
Selesai sidang pertama, aku pokus menata karirnya yang awalnya hanya kedai kecil, berangsur menjadi Seperti cafe.
kebetulan Tanah kosong di samping rumah masih cukup luas untuk di buat menjadi cafe, maka dengan memanfaatkan lahan yang Ada, Aku membangun cafe di samping rumah.
perceraian ku sudah menjadi buah bibir di tempat aku tinggal, namun aku tak menghiraukannya. karena bagaimanapun bukan aku yang berselingkuh.
****
pagi ini saat aku sedang memantau 2 karyawanku untuk membersihkan kedai, yang sebentar lagi akan buka. Aku sudah menyiapkan bahan minuman dan juga bahan camilan yang aku beli di pasar tradisional. untuk bahan minuman kadang aku membelinya lewat daring.
terlihat Sindy dan sahabatnya, "sepertinya aku pernah bertemu dengan sahabatnya itu. tetapi di mana ya" pikirku
saat mereka berjalan begitu dekat ya, aku ingat" aku pernah melihatnya mengatur karyawan yang ada di butik Almia Store, "Ternyata pemilik butik itu sahabat Sindy," gumamku dalam hati
"pantas saja Sindy, akhir akhir ini memiliki koleksi baju yang bagus dan juga tas yang mahal mahal" mungkin dia dapat harga diskon pikirku
Ku aku, Sindy memang wanita cantik, pintar memasak, mengurus rumah, bahkan walau dia hanya di rumah saja dia tetap produktif, dalam mencari uang. bahkan dia tidak pernah menuntut banyak kepada adikku.
Tetapi aku tidak menyukai, karena dia bukan wanita karier yang bekerja di kantoran, Walau sebelum menikah dia wanita karier bekerja di kantor, bahkan aku dengar dia memiliki jabatan yang cukup tinggi. Namun karena baktinya kepada suami dia rela melepas jabatannya.
"mbak" safa Sindy
Sindy membuyarkan lamunanku
"Hmm iya mau apa" tanya ku dengan ketus
Aku tidak suka dengan Sindy, karena semua apa yang dia punya sekarang harusnya berbagi denganku, karena semua yang iya dapat pasti hasil kerja keras Adam adikku.
"aku mau pesan 2 kopi capuccino, 2 Ketang goreng dah sosis bakar mba" Jawabnya dengan Ramah
"oke, Tunggu sebentar" jawabku
gegas aku kedalam, menyuruh salah satu karyawan menyiapkan pesanan Sindy
saat aku lihat, Sindy begitu bahagia hati ini rasanya makin Iri kepadanya.
tak lama pesanan yang di pesan Sindy, di Antar salah satu karyawanku semenjak berjualan terkadang kedai aku titip kepada karyawan. bahkan Aku menikmati hasil kerja kerasku Sendiri, Walau aku akui sekarang aku bisa membeli apa pun dengan hasil kerja kerasku namun tetap saja Rasa iri itu selalu ada.
*****
di meja Sindy, Marni yang Melihat perubahan Anggi dari mulai tatapan dan Nada berbicara, merasa bahwa Anggi itu iri terhadap Sindy. namun Marni diam saja tak banyak berbicara.
mereka berdua larut dengan obrolan ngalor ngidul seraya cekikikan tertawa.
hal itu membuat Anggi makin iri, Ternyata Sindy pun menyadarinya namun Sindy, tak mau membuat masalah dia biarkan saja kakak iparnya seperti itu, selagi kakak iparnya tak mengganggunya sepertu dahulu.