Bima Liem wakes in another's body—a young Chinese-Javanese man in Waringin, East Java, crushed by family pressure, insults, and silent injustice.
This time, he won't stay silent. A mysterious Golden Defiance System binds to him: every time he resists moral blackmail, social pressure, or unfairness, he earns points for extraordinary abilities—god-level legal skills, deadly combat, hacking, spy drones, and hidden wealth.
Armed with law and the system, he begins an unprecedented mission: send every wrongdoer to prison—one by one. Trolls, bullies, corrupt officials, fake doctors, campus thugs, cruel neighbors—none escape the People's Prosecutor.
Everyone sees a humble village youth, unaware behind that calm face lurks a hidden billionaire, national hero, and the most dangerous man in any courtroom. You can choose silence. But if you choose evil—don't expect me to choose good.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 033: Saat Iblis Bergerak
Dua hari setelah Calvin meminta uang keamanan, Ratna tetap masuk kuliah.
Pagi itu ia duduk di kelas Hukum Pidana dengan wajah lebih pucat daripada biasanya, tapi catatannya tetap rapi. Koko duduk di sisi kiri, Zahra di kanan. Mereka bertiga tidak membahas gang, warung, atau motor tanpa pelat. Namun setiap kali pintu kelas terbuka, bahu Koko sedikit naik. Setiap kali ponsel bergetar, mata Zahra langsung turun.
Ratna pura-pura tidak melihat ketakutan teman-temannya.
Sementara itu, di apartemen Graha Bintang, Bima duduk di depan meja kecil dengan dua layar ponsel menyala. Satu menampilkan dokumen kerja Wisnu Saputra terkait kasus sebelumnya. Satu lagi menampilkan gambar dari Drone Bayangan.
Drone itu tidak menempel di tubuh Ratna. Bima tidak mau mengubah adiknya menjadi tahanan pengawasan. Ia menempatkan pantauan di titik rawan: warung depan, gang belakang kos, jalan fotokopian, dan simpang sempit dekat pagar kampus.
Sejak pagi, Calvin belum muncul.
David terlihat dua kali, berbicara dengan tukang parkir liar. Purnomo duduk di warung sambil memijat buku jari, matanya mengarah ke jalan kos. Mereka seperti orang yang menunggu, dan Bima tidak suka orang seperti itu. Preman kecil biasanya ribut di depan umum. Yang menunggu berarti sedang memilih waktu.
Menjelang sore, pesan Ratna masuk.
Kelas selesai. Kami lewat jalur fotokopian.
Bima membalas singkat.
Jalan bertiga. Jangan berhenti.
Di layar Drone, Ratna, Koko, dan Zahra keluar dari gerbang samping kampus. Jalan fotokopian lebih ramai. Ujungnya bertemu gang belakang kos yang sepi sebelum masuk ke pagar samping. Pada jam lima lewat, toko-toko mulai menutup setengah pintu. Cahaya matahari tersangkut di atap seng, menyisakan lorong panjang yang lembap.
Bima memperbesar gambar.
Di ujung gang belakang, Purnomo berdiri.
Dari arah lain, David muncul sambil menutup jalur balik. Calvin datang terakhir, jaket denimnya terbuka, langkahnya sedikit goyah. Botol minuman berwarna gelap terlihat di tangan kirinya.
Bima langsung berdiri.
Ponselnya bergetar.
Tampilan SBE muncul di layar seperti irisan cahaya dingin.
[Misi Darurat Terdeteksi: Pelindung Keluarga]
[Target ancaman: Ratna Liem]
[Ancaman: pemerasan, intimidasi, percobaan pelecehan, kekerasan fisik]
[Pilih respons:]
[1. Membayar tuntutan dan menarik korban dari lokasi]
[2. Melakukan negosiasi tanpa bukti tambahan]
[3. Menghentikan ancaman dengan kekuatan seperlunya, mengamankan korban, menyerahkan bukti kepada jalur hukum]
Bima menekan pilihan ketiga tanpa ragu.
[Respons dipilih. Batas sistem: lindungi korban, hentikan pelaku, hindari tindakan mematikan, amankan bukti.]
Bima mengambil jaket, kunci motor, dan keluar dari apartemen.
Di gang belakang kos, Ratna berhenti ketika melihat Purnomo.
"Lewat depan saja," bisik Zahra.
Mereka berbalik, tapi David sudah berdiri di belakang, senyum tipis menempel di wajahnya.
"Kenapa buru-buru?" tanya David. "Kami cuma mau ngobrol."
Koko memegang ponsel. Purnomo melihat gerakan itu dan melangkah maju.
"Jangan main rekam."
Ratna menahan tangan Koko. "Kami mau pulang."
Calvin berjalan mendekat, bau alkohol menyambar sebelum tubuhnya sampai. Matanya merah, tapi suaranya masih cukup jelas untuk terdengar di rekaman Drone.
"Kamu bikin aku repot, Ratna Liem."
"Aku tidak bikin apa-apa. Kamu yang memeras penghuni kos."
Calvin tertawa rendah. "Lagi-lagi hukum. Kamu kira karena abangmu datang bawa muka dingin, kami takut?"
Ratna menelan ludah. "Minggir."
"Bayar dulu."
"Aku tidak bayar."
Calvin mengangkat tangan, menyentuh dagu Ratna dengan dua jari.
Ratna menepisnya. "Jangan sentuh saya."
Senyum Calvin berubah buruk. "Bayar pakai uang, atau pakai cara lain. Anak kos biasanya cepat belajar kalau-"
Plak!
Tamparan Ratna mendarat di pipi Calvin.
Untuk satu detik, gang itu membeku.
Koko menarik napas tercekik. Zahra mundur sampai punggungnya menabrak tembok. David mengumpat, lalu meraih mulut Koko dari belakang agar gadis itu tidak berteriak. Purnomo bergerak menutup pintu pagar samping.
Calvin memegang pipinya. Perlahan, ia menoleh kembali.
"Kamu berani?"
Ratna gemetar, tapi ia tidak mundur. "Aku bilang jangan sentuh saya."
Calvin mendorongnya ke dinding.
Bahu Ratna menghantam tembok. Buku-bukunya jatuh berserakan. Satu sudut buku pidana terbuka di lantai, halamannya kotor oleh debu gang.
Zahra berteriak. Purnomo langsung membentak, "Diam!"
David masih menutup mulut Koko, tapi Koko menggigit tangannya. David mengaduh dan menampar udara, hampir mengenai wajah Koko.
Ratna mencoba mengangkat lutut, tapi Calvin menahan lengannya. Napasnya berat, marahnya sudah kehilangan bentuk.
"Pintar sekali kamu di depan orang banyak," desis Calvin. "Sekarang mana pasalmu?"
Ratna menatapnya dengan mata basah. "Akan ada."
"Kamu kira abangmu selalu muncul?"
Koko mencoba menendang betis David, tubuhnya terlalu kecil untuk membuat laki-laki itu mundur. Zahra meraba tasnya, mencari semprotan kecil yang biasa ia bawa, tapi Purnomo sudah melihat gerakan itu.
"Jangan sok pahlawan," geram Purnomo. Ia menepis tas Zahra sampai jatuh. Botol air, kartu mahasiswa, dan pulpen berserakan di lantai gang.
Ratna melihat kartu mahasiswa Zahra terinjak sepatu Purnomo. Sesuatu yang panas naik ke dadanya. Rasa takut masih menusuk perutnya dari dalam. Di atas rasa takut itu, kemarahan yang lebih keras naik.
"Kalian berani karena selama ini semua orang memilih diam," kata Ratna, suaranya serak. "Begitu bukti keluar, kalian hanya preman kampus dengan catatan polisi. Tidak lebih."
Calvin mendekat lagi, wajahnya memerah. "Kamu masih bisa ceramah?"
"Aku sedang menghafal wajah kalian," jawab Ratna. "Untuk BAP. Untuk persidangan. Untuk saat kalian harus dengar hakim membaca nama kalian satu per satu."
Kalimat itu membuat David ragu setengah detik. Ragu kecil, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ancaman mereka tidak sekuat tampaknya.
Di layar Drone yang masih merekam, motor Bima memasuki jalan fotokopian dengan kecepatan tinggi, lalu berhenti miring di depan gang. Ia tidak sempat melepas helm dengan rapi. Helm itu jatuh ke tanah ketika ia berlari.
Purnomo pertama kali melihatnya.
"Vin!"
Calvin menoleh.
Di mulut gang, Bima berdiri dengan napas terkendali. Matanya melewati Calvin, melihat Ratna yang tertahan di dinding, buku-buku jatuh, Koko menangis sambil memegang mulut, Zahra gemetar di dekat pagar.
Sesuatu dalam wajahnya menjadi sangat tenang.
Terlalu tenang.
"Lepaskan adik saya," kata Bima.
Calvin tertawa sekali, pendek dan kasar. "Atau apa?"
Bima melangkah masuk ke gang.
Ratna tidak tahu Bima sudah dekat. Yang ia tahu hanya satu hal: kalau ia roboh sekarang, Koko dan Zahra akan ikut hancur. Maka ia menahan tangis, menekan punggungnya ke tembok, dan memaksa Calvin melihat bahwa korban di depannya belum menyerah.
Kartu mahasiswa Zahra yang terinjak menjadi saksi kecil bahwa ancaman malam itu nyata.
Drone terus merekam dari atas seng, menangkap posisi tangan Calvin, jalan keluar yang ditutup Purnomo, dan tubuh Koko yang masih gemetar.
"Lepaskan dia sekarang," katanya, "selagi kamu masih punya tangan untuk menandatangani berita acara."