Kirana Paramitha terbangun dari Peti Kaca Rembulan menghadapi Hukum Sumpah Sejiwa: wanita berusia dua puluh tahun wajib bersuami. Saat tunangannya kabur demi adik angkatnya, Kirana menjumpai Rangga Adinata, Panglima Kabut yang dilanda Krisis Api Darah. Dengan kidung dan ramuan ia menenangkannya, lalu bersumpah sejiwa. Tersembunyi sebagai penyanyi "Kinanti", Kirana membangun rumah tangga, melahirkan tiga anak bertalenta naga, dan bersama Rangga menyatukan ras-ras Cakrawala dalam Majelis Sejagat.
note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14 - KEK, KELUARGA KITA TAK MAMPU MENGHIDUPINYA
Di ruang kerja Ki Ageng, secangkir teh yang disajikan tadi sudah tidak lagi mengepul. Pertanyaan kakeknya tentang pemuda itu masih menggantung di udara, dan tidak seorang pun yang berani memecah keheningan di antara mereka.
Ki Ageng tidak terburu-buru. Ia justru mengamati raut wajah cucunya dengan saksama, mencari tahu jawaban yang sebenarnya dari kilau lembut yang sulit disembunyikan di mata gadis itu.
Teringat semalam: ketika dilanda Masa Api Darah dan kembali menjadi kanak-kanak, Rangga yang terisak itu menyandarkan dahinya ke dahi Kirana, menggenggam erat tangannya, lalu berbisik memanggil namanya berulang kali. Hanya dengan mengingatnya saja, telinga Kirana sudah terasa panas dan jantungnya berdetak lebih cepat.
"Rara menyukainya," jawab Kirana lirih, nyaris tidak terdengar di tengah heningnya ruangan.
"Hanya saja, sayang sekali... Rara tidak mampu menyukainya." Ada nada menyesal yang tak sanggup ia sembunyikan di ujung kalimatnya, sebab orang yang ia sukai berdiri di panggung yang jauh lebih tinggi daripada jangkauan keluarganya.
Ki Ageng menatap mata cucunya dan mendapati bahwa gadis itu benar-benar menyukai pemuda tersebut. Namun ia juga menyadari bahwa cucunya tidak membuka jati diri pemuda itu. Ia mencoba bertanya dengan hati-hati: "Benarkah kondisi pihak lain tidak layak disebut-sebut, sehingga kelak kau harus menanggung hidupnya?"
Kirana: "..." Ia tidak ingin menjawab terlalu cepat, takut lidahnya menyebut nama yang seharusnya tetap tersembunyi di balik sumpah suci itu.
Batin Kirana: bukan karena pemuda itu tidak layak tampil di hadapan orang. Justru panggungnya terlalu besar; satu batuk saja bisa meruntuhkan seluruh rumah makan keluarga Wijaya sampai ke fondasinya!
Kirana yang hatinya rumit itu terpaksa memberanikan diri mengangguk pelan, setuju dengan anggapan kakeknya yang sebenarnya keliru besar.
Ki Ageng tersenyum ringan, penuh percaya diri: "Itu bukan masalah besar. Bukankah keluarga Wijaya kita mampu menanggung satu orang lebih? Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Kirana: "..." Ia tidak tahu harus berkata apa lagi di hadapan keyakinan kakeknya itu.
Batin Kirana lagi: "Kakek, Kakek terlalu percaya diri! Kalau saja Kakek tahu siapa sebenarnya pemuda itu, pasti Kakek akan tertawa berbeda."
"Seberapa kaya pun keluarga Wijaya, mana mungkin mampu menghidupi panglima pertama Kekaisaran Cakrawala yang tunjangannya saja cukup untuk membangun seratus rumah makan baru!" Kirana hampir saja berkata keras, tetapi urung. Ia hanya bisa menelan ludah dan menahan diri.
Ki Ageng tidak membahas hal itu lebih jauh. Ia menyesap tehnya, lalu berkata: "Keluarga kita hendak membuka cabang di Provinsi Kedaton. Kalau tidak ada aral, cabang di Kedaton akan menjadi yang terbesar di antara semua cabang. Sebentar lagi kau dan Sekar akan masuk Akademi Militer Kekaisaran bersamaan, dan ayahmu berniat menyerahkan kursi belajar itu kepada Sekar."
Setelah berkata demikian, Ki Ageng menatap ekspresi Kirana dengan cermat, menunggu reaksi apa pun dari gadis itu.
Namun wajah Kirana tidak berubah sedikit pun. Ia hanya bertanya dengan tenang: "Apa alasannya?"
"Kesehatanmu tidak baik, sedangkan Sekar teliti dan mengerjakan segala sesuatu dengan aman."
Kirana tertawa kecil: "Itu memang gaya bicara Ayah. Lalu, Kakek sendiri bagaimana pendapatnya?"
Sikap cucunya yang tenang itu membuat Ki Ageng sangat senang. Ia mengangguk puas, seolah baru menyadari bahwa cucunya telah tumbuh menjadi perempuan yang jauh lebih dewasa dari perkiraannya.
Sebenarnya Ki Ageng sudah lama mengamati cucunya ini. Sebelumnya Kirana memang terlihat lemah; bagaimanapun, ia telah terbaring lima tahun lamanya di dalam Peti Kaca Rembulan. Setelah terbangun pun, gadis itu lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, seolah tidak mendengar apa pun yang terjadi di luar jendela.
"Cucu sulungku kelak masuk militer, cucu keduaku sibuk bernyanyi di panggung hiburan, dan Sekar itu..." gumam Ki Ageng di dalam hati, menimbang-nimbang masa depan setiap anaknya satu per satu.
Ki Ageng meletakkan cangkir teh kosong di depan Kirana, lalu berkata dengan suara pelan: "Gadis bernama Sekar itu memang baik. Tetapi rumah makan ini milik keluarga Wijaya."
Maksud dari perkataan itu jelas: keluarga boleh memanjakan Sekar, menghidupinya, dan memperlakukannya dengan baik tanpa syarat apa pun.
Tetapi rumah makan Wijaya, untuk seorang anak angkat, tidak boleh digeser begitu saja dari genggaman keluarga kandungnya.
Kirana sedikit terkejut, tetapi segera mengakui bahwa hal itu masuk akal. Kakeknya memang selalu berpikir jauh ke depan.
Kakeknya jauh lebih cermat daripada ayahnya, Bawono. Kalau tidak, mana mungkin rumah makan Wijaya berdiri di berbagai provinsi sekaligus.
Kirana tersenyum: "Kakek, kalau cabang di Provinsi Kedaton dipercayakan kepada Rara, Rara pasti tidak akan mengecewakan Kakek."
"Baiklah, Rara. Kakek menunggu penampilanmu."
Setelah keluar dari ruang kerja Ki Ageng, Kirana merasa lega, seolah beban berat di bahunya mulai mengendur sedikit demi sedikit.
Ia tahu sejak dulu bahwa ayahnya berat sebelah, tetapi untungnya kakek masih berpihak kepadanya. Setidaknya masih ada satu orang dewasa yang melihat segala sesuatunya dengan mata jernih.
Namun begitu ingatannya kembali kepada Rangga, ia lagi-lagi menghela napas panjang. Masalah dengan suaminya yang baru itu belum juga menemukan ujungnya.
Menatap nama pasangannya yang tertera pada catatan pribadi di Gelang Lentera, hati Kirana tiba-tiba mendung. Mengerikan!
Pihak lain tidak mengirim sepatah kata pun. Kirana merasa seperti ada sebilah pedang yang menggantung di atas kepalanya, siap jatuh kapan saja tanpa peringatan.
Benar-benar meresahkan; setiap kali Gelang Lentera itu berbunyi, jantungnya pasti mencelos lebih dulu sebelum ia sempat melihat siapa pengirimnya.
Saat itu, Gelang Lentera di pergelangan tangannya tiba-tiba berbunyi nyaring, membuat Kirana tersentak kaget dari lamunan.
Pikirannya langsung melayang pada Rangga; jangan-jangan dia yang menghubungi! Entah mengapa, harapan di dadanya naik seketika sebelum akal sehat sempat menahannya.
Kirana bergegas masuk ke kamarnya, menutup pintu, lalu menatap nama yang terpampang di cermin gema gelangnya dengan jantung berdebar.
Begitu melihat nama itu, ekspresinya langsung berubah dingin seperti disiram air es.
Ia menekan tanda terima tanpa ekspresi, enggan meladeni; tangan yang lain meremas ujung gaunnya sambil menahan napas.
Karena yang memanggilnya adalah Danendra Prasaja, bukan Rangga.
Pikirannya sekarang penuh oleh Rangga, urusan masuk akademi, dan pembukaan cabang di Provinsi Kedaton. Tidak ada ruang lagi untuk urusan orang lain, apa lagi untuk orang yang sudah membuangnya di hari pernikahan.
Mana ada waktu untuk meladeni kentang busuk seperti dia! Orang semacam itu hanya layak dilewati tanpa menoleh sedikit pun.
Tetapi Danendra tampaknya sangat gigih; panggilannya terus berulang tanpa henti, seolah tidak mengenal lelah.
Setelah menyadari Kirana tidak menjawab, ia akhirnya menyerah dan mengirim sepucuk pesan, berharap nama yang terpampang itu cukup untuk membuat gadisnya sudi membacanya.
"Rara, jawab panggilannya. Ini soal penginapanmu."