Suaminya gugur di medan tugas. Belum genap setahun jadi janda, Laras sudah harus menelan pahit: ibu dan adiknya sendiri menguras habis santunan, sementara bayi perempuannya, Nala, cuma bisa disambung hidup dengan air tajin di kampung.
Satu-satunya yang ia punya hanyalah air susu—dan tangan yang bisa menyulap beras seadanya jadi masakan sewangi surga.
Maka ketika seorang Letnan Kolonel berwajah dingin membutuhkan **ibu susuan** untuk bayi yatim yang hanya mau menyusu padanya, Laras menelan semua gunjingan tetangga dan masuk ke rumah dinas Danyon Bima Prakoso.
Kata orang, Sang Danyon itu keras, irit bicara, tak tersentuh.
Hanya Laras yang tahu: setiap fitnah yang dilempar padanya, diam-diam sudah ditahan lelaki itu di belakang punggungnya.
Dari dapur umum yang bikin satu batalyon terpana, sampai piring-piring yang menaklukkan para jenderal—Laras membalikkan keadaan, satu masakan demi satu masakan, menampar semua mulut yang pernah memandangnya rendah.
Tapi bayi yang ia besarkan dengan air susunya sendiri… menyimpan sebuah rahasia yang dijaga negara selama bertahun-tahun.
Dan hati Sang Danyon yang dingin itu, ternyata sudah lama hangat—hanya untuknya.
*"Kamu boleh jaga nama baikmu. Tapi malam ini, biar aku yang jaga kamu."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1
Kain yang Basah di Dada
Kancing blus di dada Laras baru saja terbuka ketika tirai pintu terangkat.
Udara sore yang pengap seakan berhenti bergerak. Satya masih menyusu rakus di pelukannya, pipi kecilnya menekan kulit Laras yang basah oleh keringat. Nyeri akibat payudara yang sejak siang mengeras belum sepenuhnya reda. Setiap isapan bayi itu terasa tajam, tetapi Laras tidak berani melepaskannya.
Anak itu baru turun demam. Sejak pagi, hanya air susunya yang mau diterima.
Di ambang pintu berdiri seorang laki-laki tinggi dengan seragam loreng. Tangan kirinya masih memegang kotak obat, sedangkan tangan kanannya menahan tirai yang terbuat dari kain tipis.
Laras membeku.
Sehelai kain tambalan di bagian depan blusnya telah basah oleh campuran susu dan keringat. Kain itu menempel pada kulit, memperjelas keadaan yang paling ingin ia sembunyikan dari seorang laki-laki asing.
Terlebih laki-laki itu adalah pemilik rumah ini.
Letkol Inf. Bima Prakoso.
"Komandan..." Suara Laras pecah di tenggorokan.
Tangannya bergerak hendak menutup dada, tetapi Satya langsung merengek. Jari-jari mungil bayi itu mencengkeram ujung blusnya seolah takut sumber kehangatan itu akan direnggut.
Bima tidak masuk. Rahangnya mengeras, lalu pandangannya berpindah begitu cepat ke meja kecil di sudut kamar.
"Obat cadangan," katanya pendek.
Ia melangkah sekali, meletakkan kotak obat di ujung meja, kemudian mundur lagi. Hanya sesaat, Laras melihat bekas luka memanjang di tengkuknya ketika laki-laki itu memalingkan wajah.
Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi. Bahkan tidak ada teguran mengapa Laras tidak mengunci pintu.
Namun justru sikap datar itu membuat telinga Laras terasa semakin panas.
"Maaf. Saya tidak dengar Komandan pulang."
"Saya juga tidak mengetuk."
Jawaban itu membuat Laras mengangkat mata. Bima tetap menatap ke arah lain, seakan retakan cat di dinding jauh lebih penting daripada tubuh perempuan yang baru saja tidak sengaja dilihatnya.
Dari halaman depan terdengar suara ember dipindahkan. Iwan pasti sedang mengisi bak mandi, cukup dekat untuk dipanggil jika diperlukan. Kenyataan bahwa ada orang lain di rumah itu seharusnya membuat Laras sedikit tenang.
Seharusnya.
Namun keringat dingin tetap mengalir di punggungnya.
Satya menyedot lebih kuat. Laras menahan napas ketika nyeri menusuk sampai ke bawah ketiaknya. Sejak tiba tiga hari lalu, tubuhnya belum sempat menyesuaikan diri dengan jadwal menyusu bayi ini. Satya mudah muntah, sering terbangun, dan akan menangis sampai bibirnya membiru jika diberi susu botol.
Begitu Laras mendekapnya, anak itu diam.
Itulah alasan Laras berada di rumah dinas seorang duda yang hampir tidak pernah bicara kepadanya.
Bukan karena ia berani. Bukan pula karena ia tidak punya malu.
Ia hanya tidak punya banyak pilihan.
Bima masih berdiri di ambang pintu.
Laras hampir lupa akan keberadaannya sampai sepatu lars itu bergeser. Ia buru-buru menunduk. Dengan satu tangan, ia menarik ujung selendang untuk menutupi sisi tubuhnya, tetapi gerakan itu kembali membuat Satya protes.
Bima menahan tirai lebih rendah agar kamar tidak terlihat dari halaman.
Gerakan kecil itu begitu cepat, nyaris seperti kebiasaan seorang prajurit yang memastikan posisi aman. Akan tetapi, bagi Laras, kain yang turun itu terasa seperti perlindungan yang tidak ia minta dan tidak ia sangka akan diberikan.
"Demamnya?" tanya Bima.
"Sudah turun. Tadi tiga puluh tujuh koma dua. Dia juga tidak muntah setelah menyusu siang."
Untuk pertama kalinya, Bima menatap wajah Laras, bukan tubuhnya, bukan kain basah di dadanya. Tatapannya tajam, menilai apakah laporan itu bisa dipercaya.
"Kalau naik lagi, panggil Iwan. Jangan tunggu sampai malam."
"Baik, Komandan."
Satya akhirnya mengendurkan mulut. Matanya setengah terpejam, tetapi tangannya masih menggenggam blus Laras. Setetes susu tertinggal di sudut bibirnya. Laras menyekanya dengan ibu jari, lalu menegakkan tubuh bayi itu untuk disendawakan.
Bima memperhatikan gerakan tersebut. Wajahnya tetap keras, namun bahunya yang sejak tadi tegang turun sedikit ketika Satya mengeluarkan suara sendawa kecil.
Laras menahan keinginan untuk tersenyum. Seorang komandan yang membuat satu batalyon berdiri tegak ternyata bisa menunggu napas lega hanya karena seorang bayi berhasil bersendawa.
"Terima kasih sudah membawa obat," katanya pelan.
Bima mengangguk satu kali.
Ia melepaskan tirai. Kain itu berayun di antara mereka, sebentar menampakkan seragam lorengnya, sebentar menutupinya. Sebelum berbalik, pandangannya sempat jatuh sekali lagi pada Satya yang kini tenang dalam pelukan Laras.
Lalu suaranya terdengar dari balik kain.
"Lanjutkan."
Langkah sepatu lars menjauh tanpa tergesa.
Laras tetap duduk kaku. Telapak tangannya menutupi kain basah di dada, sementara di lengannya Satya mulai tertidur dengan perut kenyang. Malu masih membakar wajahnya, tetapi tidak ada bentakan, tidak ada pandangan merendahkan, dan tidak ada tangan yang mencoba mengambil keuntungan dari keadaannya.
Hanya sebuah kotak obat di atas meja dan tirai yang sengaja diturunkan lebih rapat.
Di luar, bayangan Bima melintas sekali sebelum hilang menuju ruang depan.
Tirai itu masih bergoyang pelan ketika satu kata tadi terus tertinggal di kepala Laras.
Lanjutkan.
Perlahan, Laras menurunkan dagunya ke ubun-ubun Satya. Rambut tipis bayi itu basah oleh keringat, tapi napasnya sudah teratur. Demamnya benar-benar turun. Untuk hari ini, itu cukup.
Namun ketenangan itu hanya bertahan sampai pikirannya melayang ke tempat lain.
Setahun lalu, Laras masih menunggu suara sepeda motor suaminya berhenti di depan rumah Mbah Inah. Sekarang yang datang adalah surat gugur, lalu penagih utang, lalu ancaman bahwa adiknya akan celaka. Uang santunan habis. Beras tinggal segenggam. Nala, bayinya yang baru lahir, menangis kelaparan di gendongan Mbah Inah, sementara susu Laras justru berlimpah.
Tiga hari lalu, Mbah Inah mendorongnya pergi. Mata perempuan tua itu merah, tetapi suaranya dibuat tegar.
"Pergilah, Nduk. Mbah bisa menjaga Nala. Cari rezeki yang halal, lalu cepat pulang."
Laras mencium kening Nala lama sekali sebelum menyerahkannya. Bayi perempuan mungil itu menggeliat mencari dada ibunya, lalu menangis ketika Laras melepaskan genggaman jari-jari mungilnya. Suara tangis itu masih menempel di telinganya, bersama rasa bersalah yang tak kunjung reda, dua puluh kilometer dari desa, di kamar sempit rumah dinas ini, dengan anak orang lain di pangkuannya.
Jari Laras mengusap punggung Satya perlahan.
"Pelan-pelan, Le," bisiknya, lebih untuk dirinya sendiri. "Tidak ada yang akan mengambilnya darimu."
Kalimat itu justru melukai dirinya sendiri.
Di luar, langit mulai menggelap. Ember-ember di halaman sudah tidak terdengar lagi. Iwan pasti sudah selesai. Rumah dinas yang besar itu kembali sunyi, hanya ditemani suara dengkuran halus Satya dan detak jantung Laras yang masih berdebar tidak karuan.
Ia memandangi kotak obat di atas meja. Bima tidak berkata banyak, tapi ia datang, tepat ketika Laras paling tidak siap, dan pergi tanpa menuntut apa pun.
Laras tidak tahu apakah itu membuatnya lega atau justru semakin waspada.
Yang ia tahu, besok pagi ia harus menyusui Satya lagi. Lalu lusa. Lalu hari-hari setelahnya.
Sampai ia cukup punya modal untuk pulang.