NovelToon NovelToon
Harga Turun Sejuta Kali

Harga Turun Sejuta Kali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Kaya Raya
Popularitas:71
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad

Saldo rekening Rp 350000
Pacar selingkuh
Harga diri nol

Lalu dunia berubah

Seluruh harga turun 1000000 kali Rumah mewah jadi Rp 50000 Mobil sport Rp 5000 Tapi uang Raka Tidak berubah

Rp 350000 Rp 350 MILIAR

Dari pemuda yang diludahi dunia menjadi pria yang membeli kotanya sendiri

Sistem Ilahi sudah aktif
Misi pertama beli rumah paling mahal di kota ini tunai
Misi kedua hancurkan semua yang pernah menghinamu

Harga Turun Sejuta Kali update setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8: Pertunangan yang Hancur

"Silakan minggir, Mas. Kursi depan untuk keluarga."

Panitia pertunangan di pintu Ballroom Garuda menahan langkah Raka dengan senyum yang terlalu tipis. Di belakangnya, lampu kristal Hotel Empat Musim memantul di lantai marmer, musik lembut mengalir, dan foto prewedding Vera bersama Ahmad berdiri sebesar pintu.

Raka melihat wajah Vera di foto itu. Senyum yang dulu ia kira rumah. Sekarang hanya topeng yang dicetak mahal.

Fajar berdiri setengah langkah di belakang, jas hitam, earphone kecil di telinga, flashdisk cadangan di saku dalam. Ia tidak bicara. Ia hanya menunjukkan undangan VIP atas nama Raka Surya Pratama.

Panitia membaca, lalu wajahnya berubah.

"Maaf, Pak Raka. Silakan."

Kata Pak membuat beberapa tamu menoleh.

Raka berjalan ke kursi paling depan.

Herman melihatnya lebih dulu dari sisi buffet. Pipi kanannya mungkin sudah tidak merah, tetapi ingatan tamparan masih membuat matanya menyala.

"Kamu benar-benar datang," desis Herman.

"Saya diundang."

"Vera tidak mau lihat kamu."

"Aneh. Dia yang mengirim undangan."

Herman hendak membalas, tetapi Fajar memandangnya. Herman mundur setengah langkah. Pengalaman buruk membuat orang belajar cepat.

Di panggung, Ahmad berdiri dengan jas biru tua. Keluarganya memenuhi meja depan. Vera muncul beberapa menit kemudian, gaun krem, wajah dipoles sempurna. Saat melihat Raka, senyumnya patah. Hanya sebentar, tetapi cukup untuk Fajar merekam.

Ahmad mengikuti arah pandangnya dan tertawa kecil. Ia mengambil mikrofon sebelum acara resmi dimulai.

"Terima kasih semua sudah hadir. Malam ini saya ingin menunjukkan bahwa wanita baik pantas mendapatkan laki-laki yang bertanggung jawab. Bukan laki-laki yang hanya bisa janji, menumpang hidup, lalu membuat keributan karena iri."

Tamu-tamu tertawa sopan. Beberapa langsung melihat ke arah Raka. Vera menunduk dengan ekspresi terluka yang terlatih.

Raka tidak bergerak.

Ahmad makin percaya diri.

"Ada orang dari masa lalu Vera yang mungkin masih belum bisa menerima kenyataan. Saya tidak akan menyebut nama. Tapi kalau dia ada di sini, saya harap dia belajar bagaimana pria dewasa bersikap."

Herman bertepuk tangan paling keras.

Fajar menunduk sedikit. "Pak, tunggu aba-aba. Layar utama terhubung ke sistem hotel. Teknisi Hendra sudah siap."

Raka mengangguk.

Vera mengambil mikrofon. Suaranya lembut, hampir pecah.

"Aku cuma ingin semua selesai baik-baik. Aku tidak pernah mau menyakiti siapa pun. Tapi kadang ada orang yang tidak paham batas."

Itu kalimatnya.

Batas.

Raka berdiri.

Seluruh ballroom menoleh.

Ahmad tersenyum lebar. "Akhirnya. Mau minta maaf?"

Raka mengambil mikrofon cadangan dari meja MC. Panitia ingin menahan, tetapi Fajar sudah berdiri di antara mereka.

"Saya akan bicara satu menit," kata Raka. "Kalau setelah itu saya terbukti berbohong, saya keluar sendiri."

Ayah Ahmad mengerutkan kening. "Siapa anak ini?"

Ahmad menjawab keras, "Mantan pelayan yang terobsesi pada Vera."

Raka menatap layar besar di belakang panggung.

"Putar."

Lampu ballroom meredup.

Video pertama muncul: Vera dan Ahmad masuk ke ruang VIP Restoran Taman, tangan saling menggenggam. Tanggal di sudut layar jelas. Empat bulan sebelum pertunangan. Tamu-tamu mulai berbisik.

Wajah Vera memucat.

"Itu cuma makan malam!" serunya.

Video kedua muncul: Ahmad duduk memeluk Vera. Suara rekaman dari celah pintu terdengar cukup jernih.

"Raka? Dia cuma cadangan."

Bisik-bisik berubah menjadi dengung.

Ahmad melangkah maju. "Matikan layar! Ini ilegal!"

Fajar mengangkat surat izin penggunaan rekaman internal untuk klarifikasi sengketa yang ditandatangani manajemen restoran. "Rekaman diperoleh dengan tanda terima. Jangan sentuh teknisi."

Ahmad berhenti.

Raka menekan remote.

Pesan suara Vera memenuhi ruangan.

"Mahar dan dekor pertunangan bisa kamu bantu dulu. Anggap saja terakhir kali kamu membuktikan kamu laki-laki baik."

Seorang tante dari pihak Ahmad menutup mulut. Ibu Ahmad berdiri, wajahnya merah karena malu.

"Vera, apa ini?"

Vera menggeleng panik. "Itu diedit. Raka sakit hati. Dia bisa manipulasi apa saja."

Raka tidak membantah dengan emosi. Ia memberi sinyal lagi.

Tampilan metadata, daftar transfer satu tahun, dan foto jadwal pemeriksaan muncul berurutan. Bagian medis sensitif disensor, tetapi tanggal dan nama cukup terlihat untuk menunjukkan satu hal: kehamilan itu bukan kejutan minggu ini.

Ahmad merampas mikrofon.

"Raka! Kamu cari mati. Vera hamil anak saya. Saya akan tetap bertanggung jawab. Tapi kamu tidak punya hak mempermalukan dia."

Raka menatapnya.

"Saya tidak mempermalukan wanita hamil. Saya mempermalukan dua orang yang memakai kehamilan, pertunangan, dan uang orang lain untuk menginjak orang yang kalian anggap miskin."

Kalimat itu membuat beberapa tamu berhenti membela Vera.

Vera menangis sekarang. Bukan air mata lembut. Air mata panik.

"Ahmad, jangan percaya dia. Aku cuma takut kamu belum siap. Aku minta bantuan Raka karena dia... karena dia dulu sayang aku."

Ahmad menatap Vera. Untuk pertama kali malam itu, rasa jijik mengalahkan kesombongannya.

"Kamu minta mantanmu bayar mahar kita?"

"Aku terdesak."

"Empat bulan kamu bohong?"

"Kamu juga tahu kita dekat!"

Kalimat itu keluar terlalu cepat.

Ballroom meledak dalam bisik-bisik.

Ayah Ahmad membanting gelas ke meja. "Cukup!"

Herman mencoba menyelinap keluar. Fajar menoleh ke arahnya.

"Pak Herman, jangan buru-buru. Ada bagian Anda."

Layar menampilkan video Herman mendorong Raka dan menyuruhnya memungut uang. Lalu rekaman ancaman laporan palsu.

Wulan yang hadir sebagai staf tambahan hotel menutup mulut. Beberapa mantan rekan restoran saling memandang, untuk pertama kali melihat Herman tidak kebal.

Raka berjalan ke depan panggung. Ia tidak menyentuh Vera. Tidak memaki. Tidak perlu.

Ia mengambil cincin yang tadi dipamerkan di meja, lalu meletakkannya kembali di depan Ahmad.

"Ini urusan kalian. Saya datang hanya untuk mengambil kembali nama saya."

Ahmad tiba-tiba mendorong Vera menjauh dari sisinya.

"Jangan dekat saya."

Vera hampir jatuh, ditahan oleh seorang sepupu perempuan. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada musik. Acara yang dibangun untuk naik status berubah menjadi sidang terbuka.

[Misi Balas Dendam Sang Penambal selesai.]

[Hadiah: 10.000 poin sistem. Manual Tai Chi Dasar diperoleh. Toko Sistem Level 2 diperkuat.]

Notifikasi itu muncul saat wajah Vera runtuh di bawah sorot kamera tamu.

Raka menyerahkan mikrofon kepada MC.

"Terima kasih atas waktunya. Silakan lanjutkan acara kalau masih ada yang ingin dirayakan."

Ia berbalik.

Di pintu ballroom, ponselnya berdering. Hendra Salim.

"Pak Raka," suara Hendra tenang, seolah tidak baru saja membantu menghancurkan satu panggung sosial. "Besok pagi saya siapkan laporan aset dan peluang akuisisi. Setelah malam ini, sebaiknya Kota N mulai mengenal nama Bapak untuk alasan yang benar."

Raka menatap ballroom yang masih kacau.

Di luar ballroom, beberapa tamu yang tadi menertawakan Raka menyingkir ketika ia lewat. Satu pemuda bahkan menunduk meminta maaf tanpa berani menyebut alasan. Raka tidak berhenti. Ia tidak datang untuk mengumpulkan permintaan maaf murah.

Fajar berjalan di sisi kirinya. "Tidak ada kontak fisik, tidak ada tuduhan tanpa dokumen, tidak ada data medis mentah yang tersebar. Bersih."

"Vera akan tetap menyerang."

"Pasti. Tapi sekarang dia menyerang dari lubang yang dia gali sendiri."

"Besok kita mulai membuat Kota N menghafal nama kita."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!