NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / One Night Stand / Menikahi tentara
Popularitas:47
Nilai: 5
Nama Author: Vira Dusk

Laras terbangun dengan tubuh nyeri di ranjang asing—di sampingnya, seorang perwira TNI berdada bidang yang bahkan belum ia tahu namanya. Semalam adalah sebuah jebakan. Tapi lelaki dingin itu, **Mayor Bramantya**, justru bersikeras satu hal: *"Saya akan bertanggung jawab. Kita menikah."*

Laras cuma berniat "kerja sama dulu, lihat situasi, kalau tak cocok kabur." Ia punya rahasia: dulu anak angkat yang disiksa dan nyaris dijual ayah tirinya, kabur ke kota besar, menempa diri jadi desainer berbakat dengan tangannya sendiri. Yang tak ia duga—sang Mayor yang garang di luar itu ternyata memuja istrinya sampai ke ubun-ubun:

> *"Siapa pun kamu dulu, yang kucintai kamu yang sekarang."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25

Harga Diriku Bukan Seorang Lelaki

"Tapi... perempuan itu memang dari mana asalnya?"

Pertanyaan itu melayang di tengah jalan.

Laras memandang orang-orang di balik pagar. Sebagian benar-benar penasaran. Sebagian hanya ingin membawa cerita baru ke meja makan. Beberapa terlihat malu karena ikut mendengarkan.

"Nama saya Larasati Purnama," katanya. "Saya dibesarkan oleh orang tua angkat. Saya datang ke Malang untuk menyelamatkan diri dari rencana mereka menjual saya kepada lelaki lain."

Kerumunan berguncang oleh bisikan.

"Malam di penginapan itu bukan rencana saya mendapatkan Bram. Saya diberi obat ketika melarikan diri. Bram juga menjadi korban orang yang mengejar saya. Kami sudah menjelaskan bagian yang perlu kepada keluarga dan pihak berwenang."

Tania mencibir. "Cerita yang sangat rapi."

"Tidak rapi sama sekali," jawab Laras. "Saya kehilangan dokumen, rumah, dan semua yang pernah saya kenal. Saya bangun ketakutan setiap kali mendengar langkah di belakang. Saya harus membuktikan identitas saya dari awal. Tidak ada bagian yang menguntungkan dari menjadi korban."

Polisi perempuan mengangguk kecil, membenarkan tanpa membuka rincian laporan yang dilindungi.

Laras melanjutkan, suaranya makin mantap.

"Bram menikahi saya bukan karena saya memerasnya. Dia memberi saya pilihan untuk menolak. Keluarganya juga memberi jalan keluar kalau saya ingin pergi. Saya memilih menikah setelah mengenal tanggung jawabnya, dan dia memilih saya dalam keadaan sadar."

"Karena kamu membuatnya kasihan," kata Tania.

"Mungkin awalnya ada tanggung jawab. Tapi pernikahan tidak bisa hidup hanya dari rasa kasihan. Kami yang akan menjalani dan memperbaikinya setiap hari."

Laras memandang langsung ke mata Tania.

"Yang paling penting, saya tidak akan menghancurkan perempuan lain demi mempertahankan seorang lelaki. Tidak ada lelaki yang pantas dibayar dengan harga diri, keselamatan, atau kebebasan perempuan lain."

Jalan itu benar-benar sunyi.

"Kalau seorang suami bisa direbut hanya karena perempuan lain datang, berarti dia memang tidak layak dipertahankan. Saya akan pergi dengan kepala tegak. Tetapi Bram bukan barang yang bisa direbut. Dia manusia yang membuat pilihan sendiri."

Bram tidak tersenyum, tetapi genggaman di sisi tubuhnya mengendur. Tatapannya kepada Laras penuh kebanggaan yang tidak disembunyikan.

"Kamu menyewa lima lelaki untuk mengepung saya karena kamu tidak menerima pilihannya," lanjut Laras. "Jadi jangan bicara tentang cinta. Yang kamu inginkan bukan Bram. Kamu ingin menang."

Tania menerjang satu langkah, tetapi petugas menahannya.

"Diam! Kamu tidak tahu berapa lama aku menunggunya!"

"Menunggu seseorang tidak membuatnya berutang cinta."

Seorang gadis remaja yang berdiri bersama ibunya mengangkat ponsel, lalu buru-buru menurunkannya ketika Laras menatap.

"Maaf, Bu. Saya tadi merekam."

"Hapus bagian tentang penginapan dan asal-usul saya," kata Laras. "Kalau kamu ingin menyimpan sesuatu, simpan kalimat bahwa tidak seorang pun berutang cinta karena ditunggu."

Gadis itu mengangguk dan menunjukkan layar ketika menghapus rekaman. Ibunya merangkul bahunya.

"Dengar baik-baik kata Bu Laras," ujar sang ibu. "Cinta tidak boleh membuatmu kehilangan akal."

Tania menatap mereka dengan bibir gemetar. Dukungan yang ia bayangkan akan datang justru bergerak ke arah Laras.

Seorang ibu di dekat pagar mengembuskan napas keras. "Benar itu. Anak perempuan kita harus dengar."

Lelaki yang tadi mempertanyakan asal Laras menunduk. "Saya cuma bertanya."

"Dan saya sudah menjawab secukupnya," kata Laras. "Sisanya bukan milik orang banyak."

Pak Suryadi menutupi wajah sesaat. Kemudian ia menghadap warga.

"Saya minta semua berhenti menyebarkan cerita yang belum kalian ketahui. Kesalahan hari ini dilakukan putri saya. Jangan ubah korban menjadi bahan gosip."

Tania tertawa pahit. "Papa bahkan membelanya di depan semua orang."

"Papa membela yang benar. Seharusnya Papa melakukan itu sejak kamu mulai mengganggu rumah tangga orang."

Polisi meminta Tania masuk ke kendaraan berbeda dari Bang Somad. Sebelum pintu tertutup, Tania menatap Laras.

"Ini belum selesai."

"Bagi saya, bagian tentang Bram sudah selesai sejak dia memilih," jawab Laras. "Bagian tentang kejahatanmu akan diselesaikan hukum."

Pintu mobil menutup.

***

Di kantor polisi, proses berlangsung berjam-jam.

Laras mengulang kronologi dari saat merasa diikuti sampai tangan pertama menyentuh bahunya. Dokter memeriksa goresan, memar, dan ketegangan otot. Baju robek difoto lalu disimpan sesuai kebutuhan pembuktian. Salinan rekaman kamera toko dipindahkan dengan berita serah terima.

Bram duduk di luar ruang pemeriksaan ketika polisi perempuan menemani Laras. Ia tidak memaksa masuk dan tidak menjawab menggantikan istrinya.

Saat Laras keluar, secangkir teh hangat sudah menunggu.

"Masih bisa berdiri?" tanya Bram.

"Bisa. Tapi kalau masih ada formulir, saya mungkin menggigit meja."

"Meja milik negara. Jangan tambah perkara."

Laras menatapnya dua detik, lalu tertawa kecil untuk pertama kalinya sejak serangan.

Bram mengusap punggung tangannya. "Bagus. Suaramu kembali."

Penyidik memanggil mereka untuk menjelaskan langkah selanjutnya. Bang Somad dan anak buahnya diperiksa atas dugaan pengeroyokan, ancaman, dan tindakan lain berdasarkan bukti. Peran Tania akan ditentukan setelah percakapan, transfer, serta kesaksian diperiksa.

"Apakah Saudari ingin mencabut laporan jika keluarga pelaku meminta damai?" tanya penyidik sebagai bagian dari pencatatan sikap awal.

"Tidak," jawab Laras. "Permintaan maaf bisa saya dengar nanti, tetapi proses tetap berjalan."

Penyidik menatapnya untuk memastikan. "Saudari mungkin menerima tekanan sosial karena pelaku berasal dari lingkungan yang dikenal keluarga suami. Kalau itu terjadi, simpan pesan dan laporkan. Jangan menemui siapa pun sendirian."

"Saya mengerti."

"Kami juga akan mencatat permintaan perlindungan jika ancaman berlanjut. Nomor pelapor dapat dihubungi kapan saja."

Laras menerima lembar informasi dan memasukkannya ke tas pengganti yang dibelikan Bram dari kios depan kantor. Benda sederhana itu terasa seperti tanda bahwa hidupnya tidak lagi bergantung pada keberanian tanpa perlindungan.

Bram menambahkan, "Keputusan ada pada Laras sebagai korban. Saya mendukungnya."

Pak Suryadi yang duduk di sisi lain ruangan mengangguk. "Saya tidak akan meminta laporan dicabut."

Wajahnya tampak lebih tua beberapa tahun. Ketika Tania dibawa melintas menuju ruang pemeriksaan, putrinya tidak menatapnya.

"Papa akan mencarikan pendamping hukum agar hakmu tetap dipenuhi," katanya. "Tapi Papa tidak akan berbohong untukmu."

Tania berhenti. "Aku benci Papa."

Pak Suryadi menelan ludah. "Papa tetap mencintaimu. Itu sebabnya Papa tidak membiarkanmu terus merasa selalu benar."

Tania dibawa pergi tanpa menjawab.

***

Hari sudah gelap ketika Bram dan Laras meninggalkan kantor.

Bu Rahayu menelepon berkali-kali. Bram hanya mengatakan bahwa mereka aman dan sedang dalam perjalanan. Ia tidak menjelaskan baju robek, polisi, atau nama Tania lewat telepon.

"Ibu pasti melihat memarnya," kata Laras di dalam mobil.

"Kita bilang yang sebenarnya."

"Jangan semua malam ini. Tekanan darah Bapak bisa naik."

"Kalau kita menyembunyikan terlalu banyak, mereka akan mendengar versi tetangga lebih dulu."

Laras menyandarkan kepala ke kursi. "Kita bilang ada orang mengganggu di toko, polisi menangani, saya tidak terluka parah. Soal dalang dan asal-usul, besok setelah mereka tenang."

"Setuju."

Di rumah, Bu Rahayu langsung memeluk Laras begitu pintu dibuka.

"Ya Allah, Nak. Bram bilang tidak parah. Ini bajumu kenapa?"

"Sudah diperiksa dokter, Bu. Cuma memar dan goresan."

Pak Hardjono berdiri di belakang istrinya. Wajahnya kaku. "Siapa?"

Bram menjawab hati-hati. "Sekelompok orang. Sudah ditahan. Laporan dan bukti lengkap."

"Kamu ada di sana?"

"Saya datang saat kejadian berlangsung."

Pak Hardjono memandang buku-buku jari putranya, lalu memeriksa Laras dari jarak sopan. "Ada balasan dari pihak satuan?"

"Tidak. Saya bertindak sebagai warga dan suami, lalu menyerahkan semuanya kepada polisi."

"Bagus. Jangan beri siapa pun kesempatan mengatakan seragam dipakai untuk urusan pribadi."

Bu Rahayu mendelik kepada suaminya. "Anak kita baru diserang, yang kamu pikirkan prosedur."

"Prosedur melindungi mereka juga."

Pak Hardjono mengambil napas, lalu suaranya melunak. "Kalau kamu terlambat datang, bagaimana kondisi Laras?"

"Dia sudah membuka jalan keluar, menciptakan saksi, dan mengaktifkan rekaman. Saya membantu menyelesaikannya."

Mata Pak Hardjono beralih kepada menantunya. "Kamu menyelamatkan dirimu lebih dulu. Bagus. Tapi lain kali, kalau ada bayangan yang mengikuti, masuk ke tempat aman sebelum memastikan siapa mereka."

"Baik, Pak."

"Ini bukan teguran. Bapak hanya tidak mau kehilangan anak lagi."

Laras tercekat. Bu Rahayu segera menggenggam tangannya, sementara Bram memalingkan wajah seolah memberi ruang untuk emosi yang tiba-tiba penuh.

Laras menyentuh lengan ibu mertuanya. "Bapak benar, Bu. Dan Mas Bram tidak berlebihan."

Mereka tidak menyebut Tania malam itu. Namun sebelum tidur, pesan mulai masuk ke ponsel Bu Rahayu dari grup lama keluarga prajurit.

`Benarkah ada keributan di rumah Pak Suryadi?`

`Katanya menantu Ibu diserang karena masalah masa lalu.`

Bu Rahayu menunjukkan layar kepada Bram. "Kabar sudah sampai."

Bram mematikan notifikasi. "Besok saya jelaskan secukupnya. Malam ini Laras istirahat."

***

Di kamar, Bram membersihkan goresan di siku Laras sekali lagi. Gerakannya sangat pelan.

"Sakit?"

"Sedikit."

"Yang lain?"

Laras tahu ia tidak sedang bertanya tentang memar.

"Saya marah karena satu kalimat tentang asal-usul masih bisa membuat saya hampir kembali menjadi orang yang dulu."

"Kamu tidak kembali. Kamu berdiri di depan mereka dan bicara."

"Karena kamu ada di sana."

"Bukan. Saya ada di sampingmu. Yang berdiri adalah kamu sendiri."

Laras menatap wajahnya. "Kalau suatu hari ternyata masa lalu saya buruk?"

"Masa lalu yang dilakukan orang lain terhadapmu bukan kesalahanmu. Kalau ada kesalahanmu sendiri, kita hadapi. Sama seperti kamu akan menghadapi kesalahan saya."

"Kamu terdengar sangat yakin."

"Saya yakin pada orang yang saya lihat sekarang."

Bram mencium keningnya, lalu menarik selimut sampai bahu.

Ponselnya bergetar di meja. Sebuah pesan dari rekan lama Pak Hardjono masuk, berisi tangkapan layar percakapan warga.

Bram membacanya, dan kelembutan di wajahnya hilang.

Laras bangkit. "Apa?"

Ia menyerahkan layar. Seseorang bukan hanya membicarakan serangan, tetapi juga mencari nama Pak Rusdi dan daerah asal Laras.

Bram memandang istrinya.

"Ada yang masih mengungkit masa lalumu. Aku tidak akan diam."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!