NovelToon NovelToon
Bangkit Sistem Penghakiman, Semua Penjahat Berlutut!

Bangkit Sistem Penghakiman, Semua Penjahat Berlutut!

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Sistem
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Darma

"Raka Laksana — yatim piatu, detektif gagal, ditertawakan semua orang. Sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dalam dirinya: “Sistem Penghakiman”. Mata Dosa yang bisa membaca dosa siapa pun. Buku Penghakiman yang bisa menjatuhkan hukuman di hadapan seluruh negeri. Kekuatan yang tak dimiliki polisi, jaksa, atau hakim mana pun.

Menyamar sebagai konsultan biasa di Satreskrim Kota Elang Biru, Raka membongkar kasus demi kasus — pembunuhan, sindikat perdagangan manusia, konspirasi elite — sambil menyembunyikan identitas aslinya sebagai eksekutor bayangan. Sistem terus naik level, skill terus bertambah, dan setiap penjahat yang lolos dari hukum biasa... tidak akan lolos dari tangannya.

Tapi ada satu kasus yang tak pernah bisa ia lupakan: dua puluh tahun lalu, kedua orangtuanya difitnah dan dihancurkan oleh **Keluarga Halim** — konglomerat paling berkuasa di kota ini. Setiap kasus yang ia selesaikan membawanya selangkah lebih dekat pada kebenaran itu.

Dan pada hari penghakiman tiba, seluruh bangsa akan menyaksikan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28: Bakpao Iblis

Bardi menyambut surat penggeledahan dengan senyum.

Pagi itu, Bakpao Surya baru dibuka. Uap putih keluar dari kukusan. Beberapa pelanggan yang hendak membeli sarapan langsung mundur ketika melihat mobil Satreskrim berhenti di depan warung.

Yudha menunjukkan surat.

Sebelum satu langkah pun masuk, Andi merekam pembacaan surat dengan kamera kantor. Bayu meminta dua saksi lingkungan berdiri di depan warung, sesuai prosedur. Yudha tidak memberi Bardi satu celah pun untuk kelak berkata polisi menanam bukti.

"Bardi Sucipto, kami melakukan penggeledahan terkait penyidikan kasus pembunuhan berantai Siska dan Melani. Anda diminta bekerja sama."

Bardi membaca surat itu dengan tenang.

Terlalu tenang.

"Silakan, Pak. Warung saya bersih. Mau bakpao dulu? Baru matang."

Tidak ada yang menjawab.

Senyum Bardi tidak hilang.

Dimas memberi isyarat pada tim. "Area depan, dapur, ruang belakang. Dokumentasi semua. Jangan sentuh tanpa foto."

Raka masuk paling belakang, menjaga napasnya tetap pendek. Bau rempah yang dulu membuatnya menelan paksa kini terasa seperti tangan basah di tenggorokan.

Area depan warung bersih.

Terlalu bersih.

Meja dilap. Kukusan rapi. Tepung dalam wadah tertutup. Daging cincang di freezer depan terbungkus label sederhana. Nota plastik ada. Alat masak standar. Tidak ada darah. Tidak ada pakaian korban. Tidak ada pisau yang tampak berbeda dari dapur biasa.

Dimas memeriksa ruang belakang dan mulai mengerutkan dahi.

"Kalau ini tempatnya, dia membersihkan dengan sangat baik."

Bardi tertawa kecil. "Saya pedagang makanan, Pak. Kalau kotor, pelanggan lari."

Bayu tampak kesal, tapi menahan diri.

Nadia ikut masuk dengan masker dan sarung tangan. Matanya menyapu ruang seperti pisau. Ia tidak terlihat puas, tapi juga belum menemukan celah.

"Freezer besar?" tanya Yudha.

"Hanya itu," kata Dimas, menunjuk lemari es besar di sudut belakang. Ukurannya memang sedikit terlalu besar untuk warung kecil, tetapi masih bisa dibela sebagai tempat bahan.

Bardi segera berkata, "Stok daging dan kacang hijau, Pak. Harga naik turun. Saya beli banyak kalau murah."

Raka menatap lemari es itu.

Mata Dosa aktif.

Aura hitam tidak menyebar dari dalam lemari.

Ia naik dari bawahnya.

Dari lantai.

Pekat. Terpusat. Seperti lubang yang ditutup papan tipis.

Raka melangkah mendekat.

"Komandan."

Yudha menoleh.

Raka menunjuk lantai di bawah lemari es. "Ada sesSatu di bawah."

Bardi akhirnya berkedip.

Hanya sekali.

Tapi Raka melihatnya.

Dimas mendekat. "Dari mana kau tahu?"

"Lemari ini terlalu strategis. Tidak menempel penuh ke dinding. Ada bekas geser di lantai yang berbeda dari debu sekitar. Dan ubin di depannya punya garis sambungan baru."

Itu semua benar.

Bukan seluruh kebenaran.

Tapi cukup untuk digerakkan.

Yudha memberi perintah. "Pindahkan. Dokumentasikan dulu."

Dua anggota memotret, lalu mendorong lemari es besar itu. Berat. Bardi tetap tersenyum, tapi rahangnya mengeras.

Di bawahnya, ada pintu jebakan berbentuk persegi, pegangan logamnya disamarkan dengan lapisan debu dan cat.

Ruangan itu hening.

Bardi menghela napas kecil. "Oh, itu gudang bahan lama. Sudah lama tidak dipakai."

Yudha menatapnya. "Kau baru saja lupa menyebut gudang bawah tanah saat kami tanya area penyimpanan."

"Saya panik, Pak. Banyak polisi."

"Kau tidak terlihat panik."

Senyum Bardi kembali melebar. "Saya berusaha sopan."

Pintu jebakan dibuka.

Bau dari bawah menghantam ruangan.

Kribo yang menunggu di area depan langsung menutup mulut dan mundur. "Aku tidak turun," katanya pelan. Tidak ada yang memaksanya.

Yudha turun pertama bersama Dimas. Raka mengikuti, lalu Nadia. Tangga sempit membawa mereka ke ruang bawah tanah yang seharusnya tidak ada di bawah warung kecil.

Lampu dinyalakan.

Tidak ada yang langsung bicara.

Meja potong stainless steel besar berdiri di tengah ruangan. Permukaannya sudah digosok berkali-kali, tetapi di sela baut dan sudut kaki meja ada noda gelap yang tidak hilang. Di satu sisi ada penggiling daging industri. Di dinding, rantai dan tali pengikat tergantung dengan rapi yang membuatnya lebih mengerikan daripada jika berantakan.

Freezer besar berdiri di ujung ruang.

Nadia membukanya.

Ia diam selama dua detik.

Lalu berkata dengan suara datar yang nyaris pecah, "Ini bukan daging sapi atau kambing."

Dimas memaki.

Raka memegang pegangan tangga agar tidak jatuh.

Untuk sekejap, potongan memori menggigit lidahnya: bakpao hangat, senyum Bardi, kata "resep sendiri". Tubuhnya ingin naik kembali, keluar, memuntahkan semua yang tersisa dari hari itu. Tapi Nadia sedang berdiri di depan freezer dengan tangan gemetar dan tetap memberi instruksi. Dimas hampir kehilangan kendali dan tetap menahan diri. Yudha tetap menghitung bukti.

Raka memaksa dirinya tetap di sana.

Bau rempah, darah lama, logam, dan dingin freezer bercampur menjadi sesSatu yang akan ia ingat seumur hidup.

Di rak lain, tim menemukan tas kecil, pakaian perempuan, gelang plastik hijau, anting murah, dan beberapa benda pribadi. Nadia langsung meminta semuanya difoto dan dikantongi terpisah.

"Kemungkinan milik Siska dan Melani," katanya. Kali ini, tangannya sedikit gemetar saat menulis label.

Andi yang memeriksa kotak kayu di sudut menemukan tumpukan foto polaroid.

Ia berhenti.

"Komandan."

Yudha mengambil foto pertama, lalu wajahnya berubah.

Foto korban. Ada Siska. Ada Melani. Ada beberapa wajah lain. Sebelum dan sesudah. Disusun seperti koleksi.

Yudha menutup foto itu cepat. Tidak semua orang di ruangan perlu melihat untuk memahami.

"Sita semuanya."

Di atas, Bardi masih berdiri dengan borgol setengah terpasang, dijaga Bayu.

Ketika Dimas naik dan melihatnya masih tersenyum, sesSatu di wajah Dimas pecah.

"Kau buat orang makan itu?"

Bardi memiringkan kepala. "Pelanggan saya selalu bilang bakpao saya paling enak di Distrik Surya."

Tinju Dimas menghantam wajah Bardi.

Bardi jatuh ke kursi, bibirnya pecah. Senyumnya hilang satu detik, lalu kembali seperti luka yang membuka lagi.

Yudha menangkap lengan Dimas sebelum pukulan kedua.

"Cukup! Jangan beri dia celah membatalkan proses."

Dimas bernapas keras. Matanya merah.

"Dia..."

"Aku tahu," kata Yudha, suaranya rendah dan berbahaya. "Karena itu kita pastikan dia tidak keluar. Dengan hukum. Bukan dengan tanganmu."

Nadia naik dari ruang bawah tanah membawa sampel pertama dalam wadah steril.

Wajahnya pucat. Suaranya tetap bekerja.

"Tes DNA butuh konfirmasi. Dua puluh empat jam. Tapi berdasarkan pengalaman saya... itu jaringan manusia."

Bardi tertawa pelan.

Tidak keras.

Cukup untuk membuat semua orang di warung itu ingin mematikan suara dunia.

Raka menatapnya.

Mata Dosa masih melihat aura hitam melingkari pria itu seperti api tanpa panas.

Bardi akhirnya diborgol penuh.

Saat dibawa keluar, ia menoleh ke kukusan yang masih mengepulkan uap.

"Sayang," katanya. "Adonannya sudah pas hari ini."

Bayu hampir memukulnya. Raka menahan bahunya.

"Jangan," kata Raka pelan. "Dia ingin itu."

Bardi menatap Raka, senyumnya makin tipis.

"Mas yang kemarin bilang enak, kan?"

Perut Raka berbalik.

Tapi wajahnya tetap diam.

"Aku juga bilang kita butuh bukti," jawab Raka. "Sekarang kita punya."

Untuk pertama kali, senyum Bardi tidak langsung kembali sempurna.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!