Aruna selalu memilih duduk di barisan paling belakang.
Di sana, dia merasa aman, terlindung dari keramaian, dari tatapan, dari hal-hal yang membuat dadanya sesak.
Hujan adalah teman terbaiknya, satu-satunya suara yang mengerti diamnya.
Sampai suatu pagi, di tengah gerimis dan jendela berkabut, Bu Maita menyebut dua nama yang tak pernah Aruna bayangkan akan berdampingan.
“Aruna Pratama dan Dhira Aksana.”
Dhira, cowok yang selalu jadi pusat perhatian, yang langkahnya tenang tapi meninggalkan riak kecil di mana pun dia lewat.
Sejak saat itu, barisan belakang bukan lagi tempat untuk bersembunyi.
Perlahan, tanpa sadar, Aruna mulai membuka ruang yang sudah lama dia kunci rapat-rapat.
Di antara rintik hujan, catatan pelajaran, dan detik-detik canggung yang tak terduga, Aruna belajar bahwa beberapa pertemuan datang seperti gerimis.
pelan, jujur, dan sulit dilupakan.
Karena kadang, seseorang masuk ke dalan hidupmu setenang hujan, tanpa suara, tapi kamu ingat selalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembelaan yang Tulus
Pintu toilet terbuka pelan.
Aruna keluar.
Matanya merah. Bengkak parah. Wajahnya basah—entah air mata atau air wudhu yang dia ambil buat nyoba tenang—tapi gagal.
Kayla langsung memeluknya. Erat. "Run... udah... udah nggak apa-apa..."
Tapi Aruna... cuma diam. Tubuhnya lemas. Kayak boneka yang kehilangan isi.
Dhira berdiri di depan mereka. Tangannya masih mengepal. Rahangnya keras. Matanya... matanya penuh amarah—tapi bukan amarah buat Aruna.
Amarah buat dunia yang nyakitin gadis ini.
"Aruna," panggil Dhira pelan.
Aruna angkat kepala. Lirik Dhira sebentar. Terus nunduk lagi.
Nggak berani tatap mata cowok itu lebih lama.
"Aruna, lihat gue," kata Dhira, suaranya lebih keras sedikit.
Aruna... diam.
Dhira melangkah maju. Berdiri tepat di depan Aruna. Jarak mereka... dekat banget.
"Lihat gue, Aruna," ulang Dhira, kali ini suaranya... lembut. Lembut yang nyaris nggak pernah dia pakai ke siapa pun.
Aruna... pelan-pelan angkat kepala.
Matanya bertemu mata Dhira.
Dan Dhira... ngeliat betapa hancurnya gadis ini.
Hancur karena kata-kata. Hancur karena jadi bahan lelucon. Hancur karena... merasa nggak pantas.
Dadanya sakit.
Sakit ngeliat Aruna kayak gini.
"Jangan dengerin mereka," kata Dhira tegas. Tapi nggak kasar. Tegas yang... peduli. "Mereka nggak ngerti apa-apa tentang lu."
Aruna menggeleng pelan. Suaranya serak—pecah—kayak orang yang udah nangis berjam-jam. "Tapi... tapi mereka benar, Dhir..."
"Nggak."
"Aku... aku nggak pantas buat kamu." Air mata Aruna jatuh lagi. "Kamu terlalu baik. Kamu... kamu terlalu terang. Sementara aku..." Suaranya bergetar parah. "Aku cuma bayangan yang... yang nggak ada artinya..."
Deg.
Dhira... nggak bisa denger ini lagi.
Nggak bisa.
Tangannya bergerak—cepat—naik ke wajah Aruna.
Menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya.
Lembut.
Aruna... terkejut. Jantungnya berhenti sedetik. Napasnya tertahan.
Dhira... pegang wajahnya. Pegang dengan tangan yang hangat. Tangan yang... gemetar sedikit.
Mata mereka bertemu.
Dekat. Terlalu dekat.
"Siapa bilang?" tanya Dhira, suaranya rendah tapi tegas. "Siapa yang bilang lu nggak pantas?"
Aruna nggak bisa jawab. Tenggorokannya kering.
"Gue yang tentuin siapa yang pantas buat gue, bukan mereka," lanjut Dhira. Matanya menatap dalam—sangat dalam—ke mata Aruna yang basah. "Dan gue pikir..."
Jeda.
Dhira menarik napas.
"Gue pikir... lu pantas, kok."
Deg.
Dunia Aruna... berhenti.
Suara-suara di koridor menghilang. Suara langkah kaki. Suara bisikan anak-anak yang lewat. Suara detak jam dinding.
Semua... hilang.
Yang ada cuma... suara jantungnya sendiri yang berdegup kencang nggak karuan.
*Dia bilang... aku pantas...*
*Dia... dia bilang...*
Air mata Aruna jatuh lagi. Tapi kali ini... bukan air mata sedih.
Air mata... lega. Bahagia. Hancur tapi bahagia.
"Dhir..." bisiknya pelan, suaranya nyaris nggak kedengeran.
Dhira tersenyum kecil. Senyum yang... tulus. Senyum yang bikin Aruna merasa... dilihat.
Beneran dilihat.
Bukan cuma sebagai bayangan.
Tapi sebagai... seseorang.
---
Kayla berdiri di samping mereka.
Ngeliat semuanya.
Ngeliat tangan Dhira yang menangkup wajah Aruna.
Ngeliat tatapan Dhira yang... lembut. Tatapan yang Kayla nggak pernah lihat sebelumnya.
Ngeliat senyum Aruna yang... bahagia meskipun masih nangis.
Kayla... tersenyum.
Tersenyum lega.
*Alhamdulillah... Aruna... kamu bahagia...*
Tapi...
Ada sesuatu.
Sesuatu yang Kayla rasakan di dadanya.
Sesuatu yang... nyesek.
Sesuatu yang... sakit.
Dia nggak ngerti awalnya.
Tapi sekarang... sekarang dia ngerti.
*Aku... aku juga suka dia...*
*Aku juga... suka Dhira...*
Kayla langsung menggeleng cepat. Mengusir pikiran itu.
*Nggak. Nggak boleh. Aruna sahabatku. Aku nggak boleh... aku nggak boleh suka cowok yang dia suka...*
Tapi hati...
Hati nggak bisa dibohongi.
Hati nggak peduli sama logika.
Hati cuma tau... sakit.
Kayla menggigit bibir bawahnya. Erat. Sampai nyaris berdarah.
Dia tersenyum lagi—senyum yang dipaksakan—lalu berbalik.
"Aku... aku ke kelas dulu ya, Run. Kamu udah aman sama Dhira kok," katanya cepat, suaranya dibuat ceria meskipun dadanya remuk.
Aruna noleh. "Kay—"
Tapi Kayla udah jalan cepat. Menjauh.
Sebelum air matanya jatuh.
Sebelum Aruna ngeliat... ngeliat sahabatnya yang juga... hancur.
---
Kayla jalan cepat di koridor.
Kepalanya nunduk. Tangannya ngelap mata kasar.
*Jangan nangis. Jangan nangis. Aruna butuh kamu. Dia butuh kamu jadi sahabat yang baik...*
Tapi air mata... tetep jatuh.
Jatuh diam-diam.
Kayla sampai di tangga. Berhenti sebentar. Bersandar di dinding.
Napasnya sesak.
*Kenapa... kenapa aku harus suka dia...*
*Kenapa harus Dhira...*
*Kenapa...*
Tapi sebelum Kayla bisa nangis lebih lama...
Dia ngeliat.
Ngeliat seseorang di ujung koridor.
Cowok.
Berkacamata tebal. Kurus. Buku-buku di pelukan.
Elang.
Cowok itu berdiri di sana. Diam. Ngeliat ke arah Dhira dan Aruna dari kejauhan.
Wajahnya... pucat. Pucat banget.
Matanya... berkaca-kaca.
Tangannya... gemetar memegang buku sampai buku-buku itu hampir jatuh.
Kayla... terdiam.
*Dia... dia juga ngeliat...*
Elang...
Elang ngeliat Dhira pegang wajah Aruna.
Ngeliat Dhira bilang kata-kata yang... yang Elang pengen banget bilang tapi nggak pernah berani.
Ngeliat Aruna tersenyum.
Tersenyum bahagia.
Karena Dhira.
Bukan karena... dia.
Dan sesuatu di dalam Elang... patah.
Hancur.
Remuk jadi debu.
Kayla hampir jalan ke arah Elang. Hampir bilang sesuatu.
Tapi...
Elang berbalik.
Cepat.
Dan berlari.
Berlari kencang.
Keluar dari koridor. Keluar dari gedung. Keluar dari sekolah.
Kayla berdiri di situ. Ngeliat punggung Elang yang... kecil. Membungkuk. Kayak orang yang... kalah.
Dan dadanya... sakit.
Sakit ngeliat orang lain yang juga... patah hati.
*Kita sama, ya...*
*Sama-sama... cinta yang nggak akan pernah terbalas...*
---
Elang berlari.
Berlari sekencang yang dia bisa.
Kakinya terasa berat. Dadanya sesak. Napasnya ngos-ngosan.
Tapi dia tetep lari.
Lari sampai keluar gerbang sekolah.
Lari sampai nyebrang jalan—hampir ketabrak motor tapi dia nggak peduli.
Lari sampai... sampai kakinya nggak kuat lagi.
Dia terjatuh.
Jatuh di trotoar taman kota.
Lututnya lecet. Tangannya juga. Kacamatanya hampir jatuh tapi dia tangkep cepat.
Buku-buku yang dia pegang... berserakan di tanah.
Elang... duduk di situ.
Di trotoar yang kotor. Di bawah pohon yang daunnya mulai rontok.
Sendirian.
Tangannya gemetar. Napasnya pendek-pendek. Dadanya... dadanya kayak diremas kuat-kuat terus dibakar pelan-pelan.
*Sakit...*
*Sakit banget...*
Dan akhirnya...
Elang nangis.
Nangis keras.
Nggak peduli orang-orang yang lewat ngeliat dia.
Nggak peduli ada yang bisik-bisik.
Dia cuma... nangis.
Nangis untuk cinta yang nggak pernah dimulai.
Nangis untuk keberanian yang nggak pernah dia punya.
Nangis untuk dirinya yang... yang terlalu lemah. Terlalu cupu. Terlalu... nggak terlihat.
*Kenapa... kenapa aku nggak bisa berani...*
*Kenapa aku... kenapa aku harus jadi aku...*
*Kenapa aku nggak bisa jadi kayak Dhira...*
*Kenapa...*
Tangannya memukul tanah. Sekali. Dua kali. Berkali-kali.
Sampai tangannya sakit. Sampai tangannya kotor penuh debu dan darah dari lecet.
Tapi rasa sakit di luar...
Nggak ada apa-apanya dibanding rasa sakit di dalam.
*Aruna...*
*Aku... aku mencintaimu...*
*Lebih dari Dhira...*
*Lebih dari siapa pun...*
*Tapi kamu... kamu nggak akan pernah tau...*
*Karena aku... aku terlalu pengecut...*
*Maafkan aku...*
*Maafkan aku karena... karena aku nggak bisa jadi orang yang kamu butuhkan...*
Elang memeluk lututnya. Menundukkan kepala di atas lutut.
Dan nangis.
Nangis sampai suaranya serak.
Nangis sampai air matanya kering.
Nangis sampai... sampai dia nggak bisa nangis lagi.
Cuma... duduk di sana.
Kosong.
Hampa.
Kayak... kayak orang yang kehilangan segalanya meskipun dia nggak pernah punya apa-apa.
---
Sementara itu.
Di sekolah.
Dhira melepaskan tangannya dari wajah Aruna.
Pelan.
Aruna... masih diam. Wajahnya merah. Jantungnya masih berdebar kencang.
"Udah. Nggak usah nangis lagi," kata Dhira sambil senyum kecil. "Gue nggak suka liat lu nangis."
Aruna... mengangguk pelan. Ngelap matanya kasar dengan lengan baju.
"Maaf... maaf aku... aku lemah..." bisiknya.
"Lu nggak lemah." Dhira menatap Aruna serius. "Lu kuat. Lebih kuat dari yang lu pikir. Cuma... lu butuh diingetin aja."
Aruna... tersenyum tipis. Senyum pertama hari itu yang... beneran.
"Terima kasih, Dhir..."
Dhira mengangguk. "Ayo balik ke kelas. Istirahat udah mau selesai."
Aruna mengangguk lagi.
Mereka jalan bareng. Berdampingan.
Dan untuk pertama kalinya...
Aruna nggak merasa sendirian.
Nggak merasa kayak bayangan.
Dia merasa... dilihat.
Dihargai.
Dicintai... mungkin.
Tapi...
Yang Aruna nggak tau...
Ada seseorang yang mencintainya lebih dalam.
Lebih tulus.
Lebih sakit.
Tapi orang itu...
Nggak akan pernah bisa bilang.
Karena cinta yang nggak terucap...
Adalah cinta yang paling menyakitkan.
Dan Elang...
Elang merasakan semua itu.
Sendirian.
Di taman kota yang sepi.
Di bawah langit yang mulai mendung.
Menangis untuk cinta yang tidak pernah diberikan kesempatan.
---
**Cinta Elang adalah cinta yang tidak pernah dimulai.**
**Dan itu adalah jenis kehilangan yang paling menyakitkan.**
**Karena kamu nggak kehilangan seseorang yang pernah jadi milikmu.**
**Kamu kehilangan... harapan bahwa suatu hari dia akan melihatmu.**
**Dan saat harapan itu mati...**
**Kamu mati bersamanya.**