NovelToon NovelToon
KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU

Status: tamat
Genre:Horor / Sudah Terbit / Eksplorasi-misteri dan gaib / Misteri / Tamat
Popularitas:7.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Junan

Juara Pertama "Lomba Menulis Novel Cerita Seram" yang diadakan oleh Noveltoon.

Mbah Arni dan suaminya bersahabat dengan seorang penari tradisional. Saat menginap di rumah Mbah Arni, penari itu tiba-tiba lenyap ditelan bumi.

Semenjak hilangnya penari itu, setiap malam Mbah Arni merasa ada yang berkelebatan di sekitar rumahnya. Terlebih, ketika suaminya sudah meninggal dan Mbah Arni tinggal sendirian, bayangan itu semakin intens mengganggu perempuan tua itu.

Apa yang terjadi dengan penari itu? Mengapa sahabat lain Mbah Arni yang bernama Lastri memilih mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri?

Mengapa Imran dan Parto takut dengan Mbah Arni?


SEASON KEDUA

Imran yang baru masuk SMP bertemu dengan seorang gadis misterius yang hanya ia temui di hari pertama ia bersekolah.

Ke mana perginya gadis itu?

Mengapa nama gadis itu sama dengan nama teman kedua orang tuanya yang tewas kecelakaan puluhan tahun yang lalu?

Apa yang dilakukan ayah Imran dan teman-temannya ketika SMP?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Junan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PART 14 JIMAT DARI DUKUN

Siang harinya, setelah azan Zuhur ibu-ibu beramai-ramai pergi ke rumah Mbah Kardi, dukun yang cukup terkenal di kampungku. Rumahnya berada di ujung sebelah tenggara, dekat dengan sawah. Melihat ibu-ibu berjalan beriringan, banyak anak-anak yang mengikuti dari belakang termasuk aku dan Parto.

"Permisi."

"Silakan masuk! Gantian dua orang dua orang, yang lain tunggu di luar!" jawab Cak Pandir selaku keponakan dan asisten Mbah Kardi.

Ibu-Ibu pun mengikuti arahan Cak Pandir. Tampak Bu Hendra dan Bu Hari masuk ke ruangan praktek Mbah Kardi lebih dahulu. Entah apa yang mereka lakukan di dalam ruangan itu, tidak ada yang tahu karena ruangan tersebut dijaga ketat oleh Cak Pandir. Kurang lebih limabelas menit kemudian Bu Hendra dan Bu Hari keluar dari ruangan tersebut dengan wajah berseri-seri. Giliran Bu Mila dan Bu Inggrid yang disuruh masuk ke dalam ruangan.

"Dikasih apa saja bu sama Mbah Kardi?" tanya Bu Neni.

"Beda-beda, Bu Neni. Aku dikasih jimat berupa kalung, kalau Bu Hari dikasih jimat berupa gelang." Jawab Bu Hendra.

"Lo, kok bisa beda begitu?"

"Menurut Mbah Kardi disesuaikan dengan aura orang yang memakainya, sih. Supaya efek jimatnya lebih kuat. Aku juga minta jimat untuk anak-anakku."

"Loh, bapaknya anak-anak nggak dimintain juga?"

"Hus .... Kalau sampai bapaknya anak-anak tahu aku ke sini bisa dimarahi habis-habisan aku nanti."

"Oooo ... begitu"

"Bayar berapa tadi?"

"Enggak kok, Mbah Kardi nggak 'narif, kita 'ngasih seikhlasnya saja. Aku 'ngasih duapuluh tadi."

Menjelang sore ibu-ibu sudah dilayani semuanya oleh Mbah Kardi. Aku dan Parto sudah beranjak akan pulang ketika tiba-tiba seseorang memanggilku, setelah kutoleh ternyata yang memanggilku adalah Mbah Kardi sendiri.

"Kalian berdua enggak minta jimat?"

"Hm .... Mboten Mbah, mboten gadah yotro (Tidak, Mbah, tidak punya uang)." Jawabku ngasal.

"Sini ikut Mbah! Mbah kasih gratis buat kalian berdua."

Karena 'nggak enak hati, kami pun ikut masuk ke ruangan Mbah Kardi. Akhirnya kami tahu apa yang ada di dalam ruangan itu. Di meja nampak beberapa jenis bunga dan keris, ada juga kemenyan yang sedang dibakar, sementara di dinding ada beberapa tulisan-tulisan yang tidak kami mengerti maknanya, ada tulisan jawa, huruf-huruf arab, dan tanduk hewan. Dengan penerangan minim ruangan itu terasa nuansa mistisnya.

"Ini kalung buat kalian berdua."

"Apa isinya, Mbah?"

"Isinya macem-macem, Le. Untuk keselamatan kalian berdua biar nggak diganggu Lastri."

"Ini boleh dilepas, Mbah?"

"Dilepas hanya waktu pipis atau eek saja."

"Terima kasih, Mbah."

Setelah bersalaman kami pun pulang. Ketika agak jauh dari rumah Mbah Kardi sayup-sayup aku mendengar suara tawa seseorang dari dalam rumah Mbah Kardi.

*

Malam harinya setelah salat Magrib, aku dan Parto ikut tahlilan lagi di rumah Mbah Arni. Seperti biasa berangkat dan pulangnya bareng bapak-bapak tetangga. Sampai di rumpun bambu Pak Suwarno, Parto berbisik di telingaku.

"Im, gimana kalau kita coba keampuhan jimatnya?"

"Maksudmu gimana?"

"Ayo, kita lepas sebentar kalungnya sambil menoleh ke rumpun bambu itu!"

"Oke, To"

"Satu ..."

"Dua ..."

"Tiga ..."

Kami mengangkat kalung tersebut ke atas kepala sambil menoleh ke arah kiri. Hampir copot jantungku ketika dengan tiba-tiba di rumpun bambu itu berdiri sesosok Lastri lengkap dengan baju putih panjang dan rambut gimbalnya, sementara matanya yang ****** melotot ke arah kami.

"Ya Tuhan ...," teriakku sambil kembali melepaskan pegangan pada kalungku sehingga kalung itu kembali terpasang di leher. Ajaibnya sosok menyeramkan itu kembali lenyap dari pandangan.

"Ternyata jimat ini ampuh, Im."

"Iya, To. Hampir copot jantungku tadi. Lastri tiba-tiba nongol tanpa permisi."

Kami pun melanjutkan perjalanan pulang bersama bapak-bapak tetangga.

"Im, aku nginep di rumahmu lagi, ya?"

"Oke .... Ayo, langsung ke rumah aja sudah ngantuk!"

Sesampai di rumah

"Bu, Aku mau tidur. Parto nginep di sini lagi."

"Boleh. Tapi sholat Isya' dulu sebelum tidur!"

"Hm... Sudah tadi. Iya, sudah sholat tadi."

"Dimana ? Kan baru masuk Isya'?"

"Maksudnya sudah barusan di rumah Parto."

"Oalah... ya, sudah selamat tidur. Jangan lupa berdoa!"

Kami pun masuk ke kamar, tidak enak sebenarnya berbohong kepada Ibu tapi mau gimana lagi rasa ngantuk begitu kuat menyerang. Jangankan salat Isya, berdoa sebelum tidur sudah lupa dilakukan. Begitu menggelar selimut di kolong tempat tidur, kami berdua langsung terlelap. Sepertinya Lastri takkan datang malam ini.

Sebelum subuh sebenarnya aku sudah terbangun tetapi karena cuaca terasa dingin dan masih mengantuk aku pun tidur kembali. Aku baru bangun saat ibu mengetok pintu kamar, kembali kubohongi ibu bahwa aku sudah salat, dan kami pun melanjutkan tidur sampai kita kesiangan,

"Ayo bangun! Saatnya sekolah."

"Iya, Bu. Kami pun bergegas mandi dan berangkat ke sekolah"

*

"Tumben telat datangnya, nih? Biasanya kalian datang pagi." Sapa Juwari.

"Badan sakit semua, Ri."

"Oalah. Dengar-dengar tadi malam Lastri datang lagi."

"Iyatah, Ri. Siapa yang didatangi?"

"Bu Siska."

"Bu Siska, ibunya Anik dan Yuli?"

"Iya. Tadi malam habis bantuin Mbah Arni, Bu Siska pulang. Dia lihat Anik dan Yuli sedang tidur di kamar. Dia ciumi kedua anaknya tersebut dan dia pasang selimut pada kedua anaknya. Kemudian, Bu Siska berjalan ke dapur karena haus. Sesampai di dapur ia terkejut."

"Terkejut kenapa?"

"Ternyata Yuli dan Anik ada di dapur sedang bantuin bapaknya membungkus kerupuk untuk dijual."

"Terus?"

"Bu Siska syok, bingung. Entah mana yang asli dan yang jadi-jadian? Akhirnya dia berjingkat-jingkat mundur menengok ke kamar kembali dan benar saja, Ana dan Yuli yang semula dilihatnya sedang tidur sudah tidak ada di sana lagi, yang ada Lastri dengan mata melototnya."

Juwari melanjutkan ceritanya.

"Irwan juga nggak masuk hari ini."

"Kenapa dia?"

"Badannya panas, kata ibunya tadi malam Irwan tidur dikeloni Lastri."

"Kok bisa?"

"Iya. Pulang dari tahlilan Irwan kan mau tidur, dilihatnya ibunya ada di kamar. Jadi, dia langsung naik ke kasur memeluk ibunya. Semenjak banyak orang diteror Lastri, Irwan memang tidur sama ibunya. Irwan pun terlelap sambil memeluk ibunya, tapi tiba-tiba Irwan mendengar suara gedoran keras di pintu dilanjutkan dengan suara keras ibunya dari luar rumah. Irwan pun tersentak kaget, kalau yang menggedor-gedor pintu adalah ibunya terus siapa yang sedang ia peluk? Dalam kebingungannya ia melepaskan pelukan terhadap ibunya, setelah diamati yang ia peluk memang bukan ibunya, rambut ibunya tidak segimbal itu. Bajunya pun tidak sekumuh itu, sosok di depan Irwan pun menoleh ke arahnya dan memperjelas pandangan Irwan bahwa yang sedang di depannya adalah Lastri. Irwan pun berteriak ketakutan dan berlari ke arah pintu membuka pintu dan memeluk ibunya."

"Ya ampun. Kasihan Irwan. Untung kami pakai ini."

"Apa itu?"

"Jimat dari Mbah Kardi."

"Mbah Nur kan melarang kita pakai jimat?"

"Mbah Nur kan nggak tahu kita pakai jimat"

"Iya. Tapi ..."

"Ya, sudah kamu jangan bilang-bilang sama Mbah Nur."

"Aku akan bilang sama Mbah Nur."

"Awas kalau kamu sampai bilang ke Mbah Nur!" Ancam Parto sambil memegang kerah baju Juwari.

"Kalian kenapa berubah seperti ini?" suara Juwari lirih.

-Bersambung-

1
intan naysila
kesimpulanku :
pak rengga melecehkan mita karna minta cantik dan makaya ada cerita anak dilecehkan saat masuk ruang lab pak rengga, mita hamil dan pak rengga gak mau tanggung jawab makanya dia coba bunuh Mita dgn menabrak mita
Evellyn Decianaa
Udah baca pas 2020, 2024 sekarang baca lagi.. 😂😂😂
☠🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🍾⃝ͩʟᷞɪͧʟᷡʏͣBinℛᵉˣ
padahal baca ini siang2, tapi ntah kenapa ada rasa takut membacanya.
baru beberapa chapter aja udah buat sakit jantung
Tantina Wyvaldia
gimana kalau p anton nikahi sepupunya parto?
Tantina Wyvaldia
Luar biasa
Tantina Wyvaldia
ceritanya terinspirasi "LIMA SEKAWAN", ya kak?
Tantina Wyvaldia
penuh kesenduan
Tantina Wyvaldia
get soul
Tantina Wyvaldia
astagfirullah
Tantina Wyvaldia
Luar biasa
Mini Upa
lumayqn bagus aku tungu dgn dgn kish selanjutx
Tantina Wyvaldia
kak author sukses bikin takut
Tantina Wyvaldia
semakin menarik dan pantas jadi yang terbaik, sayang, aku terlambat tahu cerita ini
van aridanaa
Kecewa
van aridanaa
Buruk
Fadlan
Luar biasa
cristian cris
kok aku yang patah hati ya gamonnya dari 2021 sampai 2024
Eka Pratiwi
sangat menarik
Piaa Akbar
biasa aja
DA
Datang ke buku ku ya :
ARWAH BUNUH DIRI
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!