Lalu Argadana anak laki - laki yang memiliki garis darah keturunan setengah manusia dan setengah siluman. Di umur sepuluh tahun telah diangkat menjadi raja di Kerajaan Siluman Darah.
Tetapi sebelum dapat memimpin takhta, sang ibu memberinya misi untuk menghabisi seorang pengkhianat kerajaan selain mencari ayah kandungnya yang merupakan seorang manusia.
Dapatkah Argadana menyelesaikan misinya itu?
Silakan ikuti ceritanya dalam kisah 'Ksatria Lembah Neraka' yang akan kami update in sya allah 1 chapter/hari
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pangeran Buluk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Getaran Aneh
Sebuah suara yang baru saja terdengar seketika membuat senyum Peri Malam menghilang. Dia tahu betul siapa pemilik suara itu yang merupakan satu - satunya orang yang mengetahui bahwa namanya adalah Nawang Tresni.
"De.. Dewi Obat. Apakah aku ada menyinggungmu sehingga kau mencampuri urusanku?" teriak Nawang Tresni alias Peri Malam
Beberapa detik kemudian tampaklah seseorang melayang di udara dan mendarat tepat di samping Argadana. Ternyata wanita, di pinggangnya tergantung pedang dengan sarung yang berukiran indah berwarna putih kebiruan.
Ya ... Wanita itu memang Dewi Obat adanya. Kasih Pertiwi sedang dalam perjalanan pulang dari membasmi sekelompok perampok yang meresahkan warga di sekitar Desa Arum Sari. Karena mendapat berita bahwa desa yang tengah dilaluinya terdapat terror mengerikan dari penculik anak - anak belasan tahun yang tidak segan membunuh jika dilawan, Dewi Obat atau Kasih Pertiwi memutuskan untuk menyelidiki kebenaran berita tersebut.
Tengah dia berpatroli datanglah seorang warga yang berlari ketakutan dan mengatakan padanya bahwa ada dua orang anak kecil berusia belasan tengah dikepung oleh dua puluhan orang penculik di penghujung keluar desa. Maka tak ayal lagi Dewi Obat langsung melesat menuju tempat yang dikatakan warga tadi.
Sesampainya di sana Dewi Obat hanya menemukan beberapa orang yang jatuh tak sadarkan diri. Di saat melakukan pemeriksaan itulah Dewi Obat melihat kembang api menyebar seperti seseorang memberi signal pada orang tertentu. Pendekar wanita itu pun akhirnya melesat ke arah kembang api tadi untuk memastikan dan menemukan Argadana, muridnya sedang berdebat dengan Peri Malam.
"Guru ..." sapa Argadana dengan hormat membuat Peri Malam terkejut bukan main.
"Sial. Murid celaka itu telah menyinggung orang yang salah kali ini. Aku juga tidak tahu kalau bocah aneh itu adalah muridnya. Harus bagaimana sekarang?" batin Peri Malam yang mulai merasa was - was.
"Kau ingin menangkap muridku, Peri Malam?" tanya Dewi Obat dingin.
"Ehh.... A.. anu..." Peri Malam gugup
"Jawab...!!!" bentak Dewi Obat.
Dalam kebingungannya Peri Malam tiba - tiba berlutut pada Dewi Obat dengan wajah memelas.
"Mo ... Mohon ampuni aku, Dewi Obat. Aku tidak tahu kalau bocah bagus ini adalah muridmu. Hiks ... Hiks ..." Peri Malam merengek seperti anak kecil di depan Dewi Obat yang wajahnya berubah kelam membesi.
"Jadi kalau dia bukan muridku, kau tetap akan menangkapnya?" tanya Dewi Obat menaikkan nada suaranya.
"Eh ... Bu .. bukan begitu maksudku, Dewi Obat. A .. aku ..."
"Ahh ... Sudahlah Nawang Tresni. Karena kau telah membahayakan nyawa muridku maka sebagai gantinya kau serahkan peta letak harta karunmu padanya. Jika tidak kau tidak akan bisa mempertahankan nyawamu sampai esok" ancam Dewi Obat
Peri Malam tampak berpikir sejenak, dia merasa ragu - ragu untuk menyerahkan peta tersebut.
"Apa? Kau keberatan untuk menukarnya dengan nyawamu?" gertak Dewi Obat membuyarkan pikiran Peri Malam.
"Ehh ... Ba .. baiklah, aku akan serahkan" kata Peri Malam.
"Ini petanya, nak. Tapi tolong lepaskan aku, biarkan aku pergi membawa selembar nyawaku" katanya sambil menyodorkan sebuah gulungan berisi peta kepada Argadana.
Argadana dengan santai menerima gulungan peta tersebut dan mengucapkan terimakasih pada Peri Malam. Nenek cabul itu pun cepat - cepat merat dari situ tanpa mempedulikan para bawahannya yang pontang - panting berusaha melarikan diri.
"Nanti setelah kau selesai mempelajari semua ilmu silat dari kami berdua kau coba telusuri dulu peta itu, jika kau beruntung kau akan mendapatkan sesuatu yang istimewa dari tempat itu"
"Guru ...!!!" teriak Ningrum yang baru saja keluar dari tempat persembunyiannya.
"Kenapa guru bisa berada di sini?" tanya Ningrum menyapa gurunya.
"Nanti saja guru jelaskan dalam perjalanan" kata Dewi Obat seraya menggandeng keduanya berjalan menuju Lembah Neraka.
Di sepanjang perjalanan Ningrum menceritakan tentang keberanian Argadana melawan kepungan - kepungan penjahat bawahan Peri Malam, juga tentang jurus - jurus aneh yang dikuasai dengan sempurna oleh Argadana.
Sementara Dewi Obat merasa kagum dengan sikap ksatria yang dimiliki Argadana.
"Bocah sekecil ini sudah menguasai Pukulan Api Salju dari perguruan misterius itu, tidak mungkin dari kalangan orang biasa. Pasti ada latar belakang luar biasa yang mendukung di belakangnya" batin Dewi Obat.
***
"Kalian sungguh tidak mengecewakan guru. Hanya perlu pengalaman lebih banyak agar ilmu pengobatan kalian sempurna" tutur Dewi Obat bangga.
"Terimakasih atas bimbingannya, guru" jawab Argadana dan Ningrum bersamaan.
"Baiklah, kalian sudah menghabiskan waktu setahun untuk mempelajari ilmu pengobatan. Sekarang saatnya memulai belajar ilmu silat" kata Anung Pramana.
"Apa kalian sudah siap untuk menerima ilmu silat dari kami berdua?" tanya Anung Pramana.
"Siap, guru"
***
Di bawah bimbingan Anung Pramana dan Dewi Obat Argadana dan Ningrum mempelajari ilmu silat dari kedua pendekar legendaris itu tanpa ada rintangan yang berarti. Kedua bocah itu juga tidak segan - segan bertanya jika ada yang tidak mereka pahami.
Karena bakat keduanya sangat besar dalam waktu singkat saja mereka sudah berkembang sangat pesat dalam ilmu olah kanuragan dan kedigdayaan. Semua jurus yang mereka pelajari dari Sepasang Pendekar Naga adalah:
Jurus Sembilan Langkah Ajaib
Jurus Umbak Segara
Jurus Segulung Ombak Menerpa Karang
Jurus Tanpa Bentuk
Dan ada beberapa ilmu aji pamungkas di antara lain adalah:
Ilmu Gugur Gunung
Pukulan Naga Murka
***
Kini Argadana telah tumbuh menjadi pemuda tanggung berusia 16 tahun sedangkan Ningrum telah menjadi gadis 15 tahun. Keduanya sedang berlatih bersama saling serang bergantian. Mereka terlihat seperti pasangan yang sangat serasi, sedangkan Jendral Thalaba hanya duduk santai sambil menonton pertarungan mereka yang menurutnya sama sekali tidak menegangkan sebab dia tahu bahwa tuannya memiliki kekuatan yang jauh dari apa yang diperlihatkan nya saat ini.
Sesekali Argadana terlihat menyerang dengan sengit dan kadang Ningrum berbalik menyerang dengan ganas.
Hutan tempat mereka berlatih yang berada di tepi Lembah Neraka telah tidak karuan bentuknya terkena imbas serangan bertenaga dalam tinggi dari keduanya.
Dua sejoli itu menggunakan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi hingga mereka terlihat seperti melayang di udara. Argadana menangkis serangan tapak Ningrum dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya menyerang balik dan dengan tepat mengenai bahu Ningrum.
"Ahh ...."
Ningrum terkejut. Karena terkena serangan Argadana dia jadi lengah dan tidak sempat mempertahankan ilmu meringankan tubuhnya. Ningrum pun meluncur dengan deras ke bawah...
"Dinda..."
Sesaat sebelum tubuh Ningrum terjatuh menyentuh tanah Argadana cepat meluncur dengan Ilmu Nafas Silumannya menangkap tubuh Ningrum dan membawanya melayang turun. Dalam keadaan melayang itulah tatapan keduanya bertemu. Gemuruh di dada dirasakan oleh keduanya, ada getar - getar aneh menyeruak mencoba mengacaukan pikiran mereka.
"Ahem ...." suara deheman seseorang yang ternyata adalah suara Anung Pramana menyadarkan mereka berdua dari hayalan indah sejenak tadi.
"Kalian berdua mau sampai kapan bermain suami/istri - suami/istrian begitu?" tanya Dewi Obat yang baru saja tiba melihat kedua muridnya belum juga sadar keadaan mereka yang tengah berpelukan di depannya.
"Ahh. . . " Wajah Argadana dan Ningrum memerah bagai udang rebus. Mereka berdua merasa jengah dengan sindiran guru mereka yang memang mereka kenal sangat cerewet itu.
"Maafkan kami, guru. Kami tidak bermaksud kurang ajar pada guru. Saya cuma menolong dinda Ningrum tadi yang lengah saat berlatih" kilah Argadana sekenanya menghilangkan rasa jengahnya.
"Dengan cara memeluknya?" goda Dewi Obat. Wajah keduanya bertambah merah karena semakin jengah. Jendral Thalaba hanya menggereng saja sambil menggelengkan kepalanya melihat tuannya salah tingkah di hadapan sang guru.
"Hik .. hik ... Anak muda zaman sekarang. Sudahlah, kalian bersihkan tubuh kalian lalu istirahatlah. Latihan dilanjutkan besok"