Adnan dipertemukan kembali dengan Alina, gadis yang sama 6 tahun lalu. Satu kejadian membuat Alina bernadzar sesuatu. Dan Adnan adalah saksi hidup yang mendengarnya.
Rentetan kejadian demi kejadian seolah teratur sempurna untuk mengikat keduanya. Puzzle kehidupan Alina yang kelam dan penuh air mata mulai terkuak.
Dua hati dengan watak yang berbeda kini bersatu. Saling bertabrakan dan tak jarang beradu argumen.
Bagaimana kisahnya?
Apa mereka tetap bisa berjalan bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meminta restu Rendy dan Lisa
Bersyukurlah saat kamu masih bisa merasakan nikmatnya sehat. Di luar sana, ada orang yang berjuang demi menggapai hal tersebut.
😻😻😻
Setelah memastikan Alina masuk ke rumah. Adnan pun pulang dengan membawa perasaan kesal. Pengakuan Alina mampu mengobrak-abrik hatinya. Bukan ia tidak menerima wanita itu. Ia justru semakin ingin memboyong Alina jauh dari rumah berpagar hitam tersebut. Mungkin Adnan tidak tahu betul apa yang terjadi, akan tetapi dari sorot mata Alina, dan berbagai kenyataan yang ia lihat, juga terima. Membuatnya yakin, ada sesuatu yang tak beres.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Adnan sampai di rumah. Ia dengan cepat masuk ke rumah, mengucap salam, mencium kedua telapak tangan orang tuanya, kemudian pamit untuk membersihkan diri.
Diguyuran air shower, Adnan menghapus jejak air hujan di tubuhnya. Bayangan sosok Alina yang menangis tadi membekas, dan berlompatan di mata. Tangan Adnan mengepal, ia memukul tembok sebagai bentuk luapan amarah yang tertahan.
Mandi selesai. Ia pun melaksanakan salat Isya yang belum sempat dilakukan. Dalam sujudnya, ada untaian doa untuk Alina. Berharap, ke depannya ia bisa menyajikan kebahagian kecil, untuk menggantikan air matanya hari ini.
Dengan pakaian santai, Adnan menemui orang tuanya. Mereka makan malam bersama, lalu mengumpul menikmati waktu sebelum tidur di ruangan keluarga. Adnan menatap ke arah bundanya.
"Bunda, apa aku boleh minta tolong?" ujar Adnan.
Lisa tersenyum simpul. "Minta tolong apa, Nak?"
Rendy yang penasaran pun ikut memasang kuping lebar-lebar.
"Begini ... boleh tidak Bunda sempatkan waktu sehari saja untuk temani seseorang membeli pakaian dan jilbab?" tanya Adnan.
"Jilbab? Untuk siapa, Nak?" Lisa begitu antutias. Anaknya tidak pernah meminta hal seperti ini sebelumnya. Mungkinkah?
"Teman wanitaku," ujar Adnan. "Mungkin tepatnya calon menantu Bunda."
Lisa dan Rendy terperanjat kaget mendengar hal ini. Adnan yang tidak pernah memiliki kekasih, ataupun teman wanita. Tiba-tiba mengatakan hal demikian.
"Menantu?" Lisa mengulangi kata tersebut.
"Iya. Aku berniat melamar seseorang. Maka dari itu, Aku ingin membicarakan hal ini dengan Papa dan Bunda," ungkap Adnan.
Mata Lisa berbinar-binar, bahagia. Akhirnya, rumah ini akan segera kedatangan penghuni baru. Meski, ia tidak berharap lebih, karena pada dasarnya orang yang telah berumah tangga boleh memilih untuk hidup mandiri dari orang tuanya. Hal ini bukan tak adil, akan tetapi sebagai orang tua --kita-- hanya bisa mendoakan yang terbaik.
"Siapa gadis itu? Apa yang pernah pamanmu bicarakan?" sela Rendy.
Adnan mengangguk.
"Siapa, Mas?" tanya Lisa.
"Gadis yang dulu adikmu pinang di tengah jalan buat Adnan," ungkap Rendy.
"Ya Allah, itu beneran, Nak?" Lisa menutup mulutnya dengan satu tangan. "Kamu sudah ketemu orang tuanya?"
Adnan menggeleng. "Aku ingin langsung datang ke rumahnya bersama Papa dan Bunda."
Rendy memperhatikan wajah anaknya seksama. Tidak ada keraguan di matanya, Rendy bahkan melihat bola keseriusan yang semakin membesar.
"Kamu yakin?" Rendy berusaha memastikan keputusan Adnan.
Bagi Rendy, Adnan adalah cerminan dirinya saat muda. Ketika ia membawa Lisa ke rumah orang tuanya. Saat itu, Almarhum papa dan mamanya tidak banyak bertanya. Mereka tetap percaya dan memberi restu untuk keputusannya yang terbilang mendadak.
Hal itu pula yang ia lakukan pada Adnan. Ia percaya, Adnan memiliki alasan tersendiri di balik semua ini. Apa itu? Rendy tidak ingin terlalu terlibat. Bukan tak sayang, akan tetapi bentuk rasa sayang bukan dengan mengatur dengan siapa anaknya berhubungan. Justru, memberikan dukungan yang dibumbui nasihat lemah lembutlah adalah cara terbaik yang ia pilih.
"Menikah itu artinya kamu harus siap lahir batin. Tugas seorang imam itu berat, apa lagi dalam pernikahan. Papa tidak akan melarang, tapi ingin memastikan. Apa kamu yakin dengan keputusanmu?" mata Rendy menyorotkan keseriusan.
Lisa diam menyimak. Seakan ia memasrahkan semuanya pada kedua lelaki di dekatnya.
"In Syaa Allah, yakin," jawab Adnan tegas dengan hati bulat.
"Lalu, apa rencanamu selanjutnya?" tanya Rendy kembali.
"Langsung melamar pada orang tuanya besok. Jika, diterima. In Syaa Allah, kita bicarakan bersama soal hari pernikahaan."
"Baiklah. Niat baik memang harus cepat dilakukan." Rendy diam sebentar, lalu berujar kembali. "Papa percaya, kamu engga mungkin ngambil keputusan yang salah.
Pembicaraan malam itu pun melebar sampai ke rencana proyek di Bogor. Adnan belum menentukan PT mana yang akan memenangkan tender. Ia masih menimbang dan memilih mana yang terbaik.
"Ingat satu hal, Nak! Jangan campurkan masalah pribadi dengan pekerjaan. Andai kamu punya musuh, lalu memutuskan tidak mau mengambil PT tersebut, karena alasan pribadi --itu salah. Di sana, ada ribuan karyawan yang menggantungkan hidupnya. Jangan sampai, hanya karena kesalahan satu orang. Demi menghancurkan dia, kamu rela mempertaruhkan ribuan perut lainnya."
Nasihat papanya bagaikan cambuk untuk Adnan. Benar, ia tidak boleh egois. Bagaimanapun, masalah pribadi bukanlah sesuatu yang harus ia bawa ke ranah pekerjaan.
"In Syaa Allah, Pa." Adnan tersenyum kecil.
Ada satu yang mengganjal dalam diri. Haruskah ia jujur tentang apa yang didapati dari Alina. Bisakah orang tuanya menerima seperti ia menerima Alina. Namun, menyimpan kebohongan bukanlah sesuatu yang bijak dan baik. Dengan berani, Adnan menceritakan perihal Alina. Bagaimana gadis itu jujur tanpa rasa malu padanya.
"Jadi, kakaknya yang menodai Alina?" Untuk pertama kalinya Adnan melihat ada nada marah di kata-kata bundanya.
"Menurut pengakuan Alina begitu, Bun," jawab Adnan.
"Kamu ridho, Nak?" tanya Rendy.
"Iya, Nak. Apa kamu ridho dan ikhlas nerima kondisi Alina? Jangan setengah hati, Nak. Kamu engga boleh mempermainkan perasaan wanita." Lisa ikut menasihati Adnan.
Ikhlas? Tentu. Adnan bahkan semakin yakin, untuk meminang gadis itu. Matanya yang mengisyaratkan kesakitan. Wataknya yang keras kepala, dan kejujurannya. Semua menjadi pemikat hati Adnan. Gadis itu sering mencuri waktu Adnan, untuk memikirkannya. Seolah nama Alina sudah terpatri di relung hati.
"Aku ikhlas, dan ridho, Bunda," ujar Adnan. "Tidak ada manusia yang suci di dunia ini. Semua tetaplah berlumuran dosa, begitu pun aku. Jadi, apa yang membuat aku harus tidak ridho? Apa hanya karena aku seorang bujang dan dia bukan gadis lagi? bagiku tidak masalah. Mungkin Allah punya rencana yang indah di balik itu."
Lisa merengkuh tubuh Adnan. Mengusap beberapa kali punggung anaknya. "Semoga Allah selalu melindungimu, Nak. Semoga ... niat baikmu membawa kebahagian untuk Alina."
Rendy ikut bahagia. Malam itu mereka membicarakan banyak hal. Malam semakin larut, Adnan pamit untuk beristirahat. Sesampainya di kamar, ia segera meraih gawai. Mencari nama Alina, lalu mengetik pesan dan mengirimkannya. Mungkin ini terlalu cepat dan mendadak bagi gadis itu, akan tetapi bukankah ia sudah tau konsekuensi dari menerima ajakan Adnan menikah.
Gawai kembali di simpan di meja kecil. Adnan berbaring di kasur, menatap langit-langit kamar. Lampu sudah mati, dan digantikan dari cahaya lampu tidur.
"Ya Allah, mudahkan urusanku," gumam Adnan sembari perlahan menutup mata menuju alam mimpi.
...****************...
BERSAMBUNG~~~
Jangan lupa kasih aku like.
Tulis komentarmu.
Kalau berkenan, beri aku vote seikhlasnya😊