NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Contest / Perjodohan / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:634.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Nofiya Hayati

Jenny adalah gadis cantik, mandiri dan pemberani. Setelah Papanya meninggal karena menolong seorang pemuda yang tidak dia ketahui, dia harus bekerja keras untuk melanjutkan sekolahnya.

Jeffrey cowok tampan namun selalu memasang muka jutek dan bersikap dingin. Terlahir dari keluarga kaya membuat dia bersikap arogan dan semena - mena.

Suatu hari, peristiwa memalukan memberikan kesan buruk bagi Jenny dan Jeffrey ketika mereka bertemu untuk pertama kalinya di dalam sebuah bus kota. Sehingga membuat mereka saling benci.

Rasa saling benci mereka terus berlanjut ketika tanpa sengaja kedua anak manusia yang bagaikan anjing dan kucing itu masuk ke dalam satu fakultas dan kelas yang sama.

Hingga suatu hari, keduanya harus terjerat dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Apakah rasa benci mereka akan terus bertahan ataukah rasa benci berubah jadi cinta?

Mari disimak yuk🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan Malam

Jenny melangkahkan kakinya menyusuri trotoar kota London yang dipenuhi daun maple yang berguguran. Sang Surya mulai kembali ke peraduan. Senja mulai menghiasi langit kota London yang mulai gelap.

Gadis yang baru saja ditundung secara paksa dari rumahnya sendiri tersebut terlihat gundah. Hari sudah mulai gelap, dia masih berkeliaran dengan membawa kopernya. Bingung, Jenny sedang bingung. Malam ini dimana dia akan berteduh.

Ingin rasanya dia menemui Mama Emy yang tinggal di kota Cambridge. Kota yang berjarak 45 menit perjalanan menggunakan kereta api. Namun saat ini dia tidak mempunyai uang sepeserpun untuk membeli karcis kereta.

Jenny merehatkan tubuhnya di bangku trotoar yang menghadap jalan raya. Memaksa otaknya untuk mencari cara. Setidaknya malam ini dia jangan sampai tidur di jalanan, itu yang dipikirkannya.

Tiba - tiba ponsel Jenny berdering.

"Daisy?" gumam Jenny setelah melihat nama temannya menghiasi layar ponselnya.

"Halo," sapa Jenny.

"Hai Jenn, kamu sedang apa sekarang?" tanya Daisy di balik telepon.

"Ah, aku sedang duduk saja," balas Jenny.

"Jenn, malam ini kamu bisa temanin aku tidur di rumah tidak? Hari ini orang tuaku berada di kita York menemani Nenek yang masih sakit. Sedangkan aku takut sendirian di rumah," pinta Daisy.

"Bukannya kamu bilang juga ikut Mama Papamu ke kota York?" tanya Jenny.

"Iya, tapi aku pulang duluan. Mau ya, temani aku semalam saja," mohon Daisy.

"Baiklah, aku akan kerumahmu sekarang," Jawab Jenny dengan senang hati. Tentu saja dia merasa senang dan juga lega. Setidaknya malam ini dia ada tempat untuk menginap.

"Oke, aku tunggu ya,"

Panggilan berakhir.

Jenny yang masih merebahkan tubuhnya di bangku trotoar menghela napas ringan.

"Kira - kira jarak tempuh rumah Daisy dari sini hanya 30 menit dengan jalan kaki. Ini bukan masalah, anggap saja aku sedang berjalan santai menikmati udara malam di musim gugur," Jenny berusaha menyemangati diri sendiri.

Puk!

Suara benda yang terjatuh di depannya menarik perhatian Jenny. Gadis berambut blonde tersebut segera memungutnya dan hendak mengembalikan kepada pemiliknya yang masih terus berjalan dan tidak sadar kalau benda miliknya terjatuh.

"Permisi Tuan, barangmu terjatuh," teriak Jenny namun panggilannya tidak jawaban dari orang tersebut.

"Pemisi Tuan, barangmu tadi terjatuh," panggil Jenny sekali lagi. Kali ini disertai sebuah tepukan pada pundak lelaki yang berbadan jangkung tersebut.

Sontak orang itu langsung menghentikan langkah kakinya dan memutar tubuhnya. Dia melepas sepasang earphone yang menyumpal telinganya yang membuat dia tidak mendengar ketika Jenny memanggilnya.

Jenny sempat terpesona melihat bentuk mahakarya yang begitu rupawan di depannya saat ini. Namun dia langsung menepis rasa kagumnya tersebut. Iya, Jenny bukanlah perempuan yang mudah larut terlalu dalam terhadap pesona lelaki tampan.

"Kamu siapa ya?" tanya orang tersebut.

"Maaf, aku hanya ingin mengembalikan dompetmu yang terjatuh," balas Jenny seraya menyerahkan dompet kepada pemiliknya.

"Ah, terimakasih," balas orang itu seraya memungut dompet dari tangan Jenny.

Jenny hanya tersenyum tipis lalu melangkah pergi.

"Tunggu! Jangan pergi dulu," orang tersebut menghentikan Jenny.

"Ini ambillah sebagai tanda terimakasihku," tambahnya lagi seraya memberi beberapa lembar uang dolar.

"Ah kamu tidak perlu melakukan itu, aku hanya mengembalikan barangmu saja," tolak Jenny halus.

"Kalau kamu tidak menerimanya itu bisa membuatku merasa berhutang budi seumur hidupku," protes orang itu.

"Maaf, tapi aku tidak bisa menerima uang darimu,"

"Kalau begitu biarkan aku mentraktirmu makan malam," bujuk pemuda tersebut.

Jenny tersenyum.

"Bagaimana mungkin aku makan bersama orang yang tidak aku kenal? Sudahlah, kamu tidak perlu merasa berhutang budi, aku hanya melakukan kewajibanku," tutur Jenny.

"Kalau begitu mari kita berkenalan. Namaku Sean, sepertinya kita seumuran," ucapnya seraya mengulur tangan ke arah Jenny.

Jenny sejenak menatap uluran tangan pemuda yang baru menyebutkan namanya.

"Namaku Jenny," ucap Jenny yang akhirnya membalas uluran tangan pemuda yang bernama Sean.

"Bukankah sekarang kita sudah saling mengenal? Aku harap kamu bersedia menerima tawaranku untuk makan bersama," ucap Sean dengan senyuman terbaiknya.

Jenny masih tampak berpikir.

"Aku hanya mengajakmu makan dan tidak ada maksut lain?" ucap Sean.

"Tenang saja, aku tidak mungkin berbuat jahat kepadamu," sambung Sean meyakinkan Jenny.

"Baiklah," jawab Jenny singkat setelah menimbang - nimbang tawaran Sean. Lagian saat ini kebetulan perutnya memang lagi lapar karena telah melewati makan siangnya.

Jenny dan Sean sudah berada di dalam restauran Berners Tavern yang kebetulan letaknya tidak terlalu jauh dari titik tempat pertemuan mereka yang tanpa disengaja tersebut.

"Kamu ingin makan apa?" tanya Sean kepada Jenny tanpa mengalihkan pandangannya dari daftar menu makanan.

"Terserah kamu saja, aku bisa memakan apapun," balas Jenny kikuk.

"Baiklah," Sean melambaikan tangannya ke arah seorang Waiter dan mulai memesan beberapa menu makanan.

Beberapa menit kemudian seorang Waiter datang membawa meja troli yang berisi makanan pesanan dan meletakkan makanan tersebut di atas meja dengan hati - hati.

"Ini pesanan anda Tuan dan Nona, selamat menikmati hidangan dari kami," ucap Waiter tersebut dengan ramah dan sedikit membungkuk.

Sajian spesial cumi-cumi risotto dan cumi goreng renyah terlihat begitu menggugah selera. Selain itu menu makaroni keju dengan pasta carbonara dan kembang kol goreng serta tambahan saus Skotlandia semakin membuat cairan saliva merembes dari dinding - dinding mulut dan siap mengeksekusi makanan yang memanjakan perut tersebut.

Sean memperhatikan Jenny yang tampak terganggu dengan rambut panjangnya yang terurai. Sesekali dia menyibak rambutnya ke belakang ketika helaian rambutnya hampir jatuh ke dalam makanan.

"Ikatlah rambutmu menggunakan tali rambut ini agar kamu bisa menyantap makananmu dengan nyaman," saran Sean seraya memberikan sebuah tali rambut bewarna hitam yang dia ambil dari saku celananya.

"Terimakasih," ucap Jenny tersenyum tipis lalu mulai menyibak semua rambutnya ke belakang dan menguncirnya sedikit tinggi ala ekor kuda.

Muka cantiknya yang sebelumnya tertutup rambut yang bagaikan tirai kini terpampang sempurna. Sean seketika terpesona dengan kecantikan Jenny yang sebelumnya tidak dia sadari. Sean masih setia dengan kekagumannya hingga lupa untuk melanjutkan makannya.

Sedangkan Jenny, dia masih sibuk menikmati makanan mewah yang sangat sayang kalau tidak segera dihabiskan tersebut. Dia tidak menyadari akan tatapan takjub Sean yang begitu ketara.

"Angsa putih yang begitu menarik. Gadis ini sebenarnya sangat cantik, tapi kenapa dia sepertinya tidak begitu memperhatikan penampilannya? Kesannya seperti menyembunyikan berlian dari dalam dirinya," ucap Sean yang hanya bisa didengar olehnya seorang.

"Selama ini, para perempuan akan langsung terpesona ketika melihatku, tapi tidak dengannya. Gadis ini bahkan bersikap biasa ketika berhadapan denganku," lagi - lagi Sean membatin.

"Kenapa kamu tidak segera menyantap makananmu Sean?" tanya Jenny heran setelah melihat makanan milik Sean masih terlihat banyak sedangkan makanan miliknya sudah hampir habis.

"Oh, ini aku juga hendak memakannya," balas Sean kemudian mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.

Jenny hanya menganguk sekilas dan melanjutkan kegiatan santap menyantapnya. Sedangkan Sean menyantap makanannya dan beberapa kali terlihat mencuri pandang ke arah Jenny.

Jenny meletakkan sendok dan garbunya di atas piring yang menandakan dia sudah selesai mengisi perutnya yang kini terasa penuh begitu juga dengan Sean.

Gerak manik abu - abu Sean tiba - tiba berhenti pada bumbu pasta yang tertinggal di salah satu sudut bibir Jenny. Tangannya yang bereaksi di luar kendali otaknya tiba - tiba mengulur ke arah bibir Jenny berniat menyingkirkan bumbu pasta tersebut. Namun jari - jari tangannya yang sudah hampir singgah pada bibir ranum itu harus berhenti di tengah jalan karena lidah Jenny sudah lebih dulu menjilatnya.

"Kamu mau apa?" tanya Jenny yang merasa aneh dengan gelagat Sean.

"Oh, ini tadi ada lalat. Aku hanya ingin mengusirnya biar pergi," kilah Sean seraya menyapu udara di hadapannya dengan telapak tangannya.

"Tangan.. Oh tangan! Kenapa kau bergerak tanpa seijinku," gerutu Sean di dalam hati.

"Benar kah? Padahal restauran ini terlihat sangat bersih," ucap Jenny yang reflek mengedar pandangannya ke sekeliling. Mencari keberadaan hewan yang dijadikan kambing hitam tersebut.

"Hewannya sudah pergi karena aku mengusirnya tadi," kilah Sean lagi.

Jenny melirik ke arah jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya.

"Sean, terimakasih ya atas traktiran makan malamnya. Aku akan pergi sekarang," ucap Jenny yang mulai beranjak dari duduknya dan memegang handle koper.

"Kamu mau kemana? Mungkin aku bisa mengantarmu," tawar Sean. Dia sempat bertanyan - tanya, kenapa gadis di depannya saat ini membawa koper besar.

"Ah, tidak terimakasih. Kamu sudah berbaik hati mentraktirku makan malam, jangan buat dirimu repot hanya untuk mengantarku,"

"Aku tidak kerepotan, aku akan mengantarmu, mobilku terletak tidak jauh dari sini. Mau ya Jenn?" bujuk Sean lagi. Entah mengapa dia ingin mengenal Jenny lebih jauh.

"Terimakasih ya, tapi aku merasa keberatan akan tawaran bantuanmu," tolak jenny sedikit tegas.

"Baiklah," Sean terlihat pasrah.

"Semoga kita bisa bertemu lagi, bye," pamit Jenny yang mulai menggeret kopernya.

"Tunggu dulu," panggil Sean.

Jenny seketika menghentikan ayunan kakinya dan memutar badannya ke arah Sean.

"Ini nomor teleponku, aku harap kamu akan menghubungiku. Tidak ada salahnya kalau kita berteman," ucap Sean setelah menulis beberapa angka di telapak tangan Jenny.

"Oke. Sampai jumpa kembali," Jenny tersenyum tipis yang hampir tidak terlihat dan Akhirnya benar - benar pergi.

Sean menatap punggung Jenny hingga menghilang dari tangkapan kedua manik abu - abunya. Kemudian dia menggiring irisnya ke sudut ruangan lainnya. Dia menamati seseorang yang berada di salah satu meja restauran. Seseorang yang menamati gerak geriknya bersama Jenny dari awal mereka memasuki restauran.

VISUAL SEAN HANSEN

Terimakasih sudah mampir ke karyaku ya. Author sangat mengaharapkan dukungan like, coment, rate, vote/hadiah dari kalian agar lebih semangat dalam menulis🥰. Jika dukungan itu terlalu berat bagi para Reader, minimal tinggalkanlah like👍saja Author sudah sangat senang🙏

Semoga kalian sehat dan bahagia selalu🙏

1
Luzi
😍
Bhre Sandra
asyek asyek azew ...
Deni T Saputra
lanjutkan thor
Jaenah Susanti
mudah²an di pesta itu, detak jantung c jeffrey jd ga beraturan, krna ngeliat penampilan jenny yg berbeda alias cantik.
Senajudifa
kutukan cinta dan mr.playboy hadir
𝐬𝐚𝐟𝐫𝐢𝐚𝐭𝐢
Mamah Briana mencuri kesempatan di balik beban Jenny.
Tp tak apa karna itu semua demi kebaikan mereka Semua👍
𝐬𝐚𝐟𝐫𝐢𝐚𝐭𝐢
klo Nikah pasti seru 👍
𝐬𝐚𝐟𝐫𝐢𝐚𝐭𝐢
Kasean juga ya nasib Ember dan gayungnya. Mereka sekarang larut terbawa arus sungai yg deras.
tp itu karma👍
𝐬𝐚𝐟𝐫𝐢𝐚𝐭𝐢
Suasana hati Jeffrey sdg buruk pasti efek liat Jenny ama Sean. Cembokur tuh. Tp Gengsi😆😆👍
𝐬𝐚𝐟𝐫𝐢𝐚𝐭𝐢
Benci jadi Cinta emang so sweet terasa.
dibandingkan Cinta jd benci.
𝐬𝐚𝐟𝐫𝐢𝐚𝐭𝐢
Cekcok mulu tp Cocok tau👍😆
𝐬𝐚𝐟𝐫𝐢𝐚𝐭𝐢
Untung tuh si cupu, klo beneran berhasil nyium😁
𝐬𝐚𝐟𝐫𝐢𝐚𝐭𝐢
Jeffrey Caper neh
𝐬𝐚𝐟𝐫𝐢𝐚𝐭𝐢
Sepp Jenny emang good. seru klo jd temen Jenny neh.
𝐬𝐚𝐟𝐫𝐢𝐚𝐭𝐢
Perdebatan mereka buatku ingin menyaksikan adanya cinta hadir di hati kedua insan tersebut.
Pasti banyak adegan malu² kucing.
𝐬𝐚𝐟𝐫𝐢𝐚𝐭𝐢
genteng semua
𝐬𝐚𝐟𝐫𝐢𝐚𝐭𝐢
Wauu....keren semua tp sikap nya belum ku kenal jauh. jd blom bisa milih dukung siapa ya?...
𝐬𝐚𝐟𝐫𝐢𝐚𝐭𝐢
Putraku ?...maksudnya
penasaran buatku mo mandi jd batal
Senajudifa
kutukan cinta mampir...sdh kufavoritkan y
𝐬𝐚𝐟𝐫𝐢𝐚𝐭𝐢
Harus tetap jd menantu Briana walau Jenny menolak. ltu mauku harap Author mematuhinya.👍😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!