Louisa Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam terburuk dalam hidupnya akan menjadi awal dari segalanya.
Setelah sepuluh tahun mengejar cinta yang tidak pernah berbalas, dia mabuk — dan tanpa sadar melamar seorang pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.
Nathanael Susanto. CEO muda dari keluarga konglomerat Susanto. Dingin, misterius, dan... langsung bilang "iya."
Mereka menikah dengan perjanjian: satu tahun, tanpa perasaan, bisa cerai kapan saja.
Tapi Nathanael selalu pulang tepat waktu. Selalu menyiapkan bunga di meja kerjanya. Selalu tahu makanan favoritnya tanpa pernah bertanya.
Dan Louisa mulai bertanya-tanya — apakah suami kontraknya ini... sudah mengenalnya jauh lebih lama dari yang dia kira?
Sementara itu, Kevin Tanuwijaya — pria yang Louisa kejar selama sepuluh tahun — akhirnya sadar bahwa dia sudah kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya.
Tapi sudah terlambat.
Karena Nathanael Susanto sudah menunggu sepuluh tahun untuk momen ini.
Dan dia tidak akan melepaskannya.
🌹 Nikah kontrak. Cinta rahasia sepuluh tahun. Mantan yang menyesal seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 015
Cuma Teman Biasa
Dan satu suara perempuan yang sangat ia kenal sebagai Yvonne Lim.
Louisa berdiri di depan lift eksekutif dengan map hard copy di pelukan. Angka di atas pintu terus turun.
Dua puluh lima.
Dua puluh empat.
Di antara dengung mesin lift, suara Yvonne terdengar lebih jelas karena koridor malam terlalu sepi.
"Kev, kamu serius mau tetap pakai vendor itu? Aku dengar tim kamu sempat ribut tadi pagi."
"Biasa. Internal."
Suara Kevin datar, sedikit lelah. Louisa bisa membayangkan posisinya di dalam lift, berdiri dengan satu tangan di saku, mata menatap layar ponsel. Ia hafal cara Kevin terdengar saat pikirannya masih tertinggal di pekerjaan.
Yvonne tertawa kecil. "Internal, tapi katanya ada staf yang berani koreksi presentasi Jessica di depan kamu."
"Louisa."
Nama itu keluar dari mulut Kevin.
Tubuh Louisa menegang.
Ia belum siap mendengar namanya diucapkan dari balik pintu yang tertutup, ketika orang-orang mengira ia tidak ada.
"Oh, Louisa." Nada Yvonne berubah ringan. "Dia yang waktu gala itu, kan? Yang ngurus semua seating arrangement."
"Iya."
"Dia dekat banget sama kamu ya?"
Angka berhenti di delapan belas sejenak, lalu turun lagi.
Louisa memeluk map lebih erat. Ujung kertas menekan lengannya melalui lengan kemeja. Rasanya tajam, tetapi ia tidak bergerak.
Kevin tidak langsung menjawab.
Dalam jeda pendek itu, masa lalu bergerak terlalu cepat.
Louisa kelas sepuluh menunggu di depan perpustakaan SMA Penabur saat hujan deras karena Kevin lupa membawa payung. Louisa tahun pertama kuliah membatalkan rencana menggambar di studio karena Kevin minta ditemani membeli hadiah untuk Tante Meilan. Louisa yang baru masuk Tanuwijaya Group mengerjakan notulen sampai tengah malam karena Kevin berkata, kamu paling ngerti cara aku mikir.
Dekat.
Kata itu pernah menjadi satu-satunya tempat ia bertahan.
Yvonne bertanya lagi, suaranya makin manis. "Jangan-jangan dia suka sama kamu?"
Lift turun ke lima belas.
Louisa tidak bernapas.
Kevin tertawa pelan.
Bukan tawa kejam. Justru karena bukan kejam, sakitnya datang lebih dalam. Itu tawa orang yang menganggap pertanyaan tersebut terlalu tidak mungkin untuk dianggap serius.
"Louisa?"
Ia menyebut namanya seperti sedang menyebut benda lama di laci kantor. Berguna, dikenal, tetapi tidak pernah menjadi pusat ruangan.
"Dia cuma teman biasa."
Kalimat itu tidak keras.
Tidak ada nada menghina. Tidak ada kemarahan. Tidak ada niat menusuk. Justru karena begitu ringan, begitu biasa, kalimat itu seperti stempel yang akhirnya ditekan di atas seluruh masa muda Louisa.
Teman biasa yang mengingat jadwal rapatnya lebih rapi daripada sekretaris. Teman biasa yang membeli obat maag saat ia lupa makan. Teman biasa yang memilihkan hadiah untuk ibunya, menulis ulang pidatonya, menunggu di lobi rumah sakit saat Tante Meilan dirawat, dan menghapus air mata sendiri sebelum Kevin sempat melihatnya.
Teman biasa.
Ternyata sepuluh tahun bisa dilipat menjadi dua kata.
Pintu lift terbuka tepat setelah kalimat itu selesai.
Cahaya dari dalam lift jatuh ke koridor.
Kevin berdiri di sisi kanan, ponsel di tangan. Yvonne di sampingnya, memakai blouse satin warna ivory dan membawa tas kecil berlogo mahal. Mereka berdua menoleh.
Louisa berdiri di depan mereka.
Untuk satu detik, tidak ada yang bicara.
Wajah Kevin berubah sedikit. Hanya sedikit. Cukup untuk menunjukkan bahwa ia tahu Louisa mungkin mendengar, tetapi tidak cukup untuk menunjukkan penyesalan.
"Lulu," katanya.
Yvonne mengangkat alis halus, lalu tersenyum. "Louisa. Kamu masih di kantor?"
Louisa merasakan telapak tangannya dingin, tetapi wajahnya anehnya tenang.
Sepuluh tahun mungkin memang berakhir seperti ini. Bukan dengan pertengkaran besar. Bukan dengan hujan dramatis. Bukan dengan Kevin tiba-tiba sadar bahwa ia sudah melukai seseorang.
Hanya koridor kantor yang sepi, map kontrak di tangan, dan satu kalimat yang akhirnya terdengar jelas.
Dia cuma teman biasa.
Louisa melangkah masuk ke lift tanpa menunggu mereka keluar sepenuhnya. Ruang sempit itu memaksa mereka bertukar posisi. Bahu Kevin hampir menyentuhnya, tetapi Louisa bergeser setengah langkah, menjaga jarak yang dulu tidak pernah ia jaga.
"Hard copy yang kamu minta," ucap Louisa.
Ia menyerahkan map itu kepada Kevin.
Kevin menerimanya. "Kamu dengar?"
Pertanyaan itu seharusnya punya banyak jawaban.
Dengar apa?
Dengar bahwa aku bukan siapa-siapa?
Dengar bahwa sepuluh tahunku bahkan tidak cukup untuk membuatmu berhenti tertawa?
Namun Louisa hanya menatap angka lift yang menyala di panel.
"Aku dengar kamu masih meeting."
Kevin mengerutkan kening.
Yvonne tersenyum sedikit, seperti menikmati lapisan kalimat yang tidak perlu dibuka.
"Kamu pucat," kata Kevin.
Kalimat itu pernah hampir membuatnya runtuh di gala. Sekarang hanya terdengar terlambat.
"Capek," jawab Louisa.
"Pulang pakai apa?"
Ia bertanya karena mereka berada di ruang sempit, karena Yvonne ada di sana, karena situasinya menuntut satu bentuk kesopanan.
Louisa menatapnya.
"Aku bisa pulang sendiri."
Pintu lift hampir tertutup.
Kevin menahan dengan tangan. "Besok pagi kita bahas vendor lagi. Jangan telat."
Tentu.
Bahkan setelah kalimat itu, yang ia ingat tetap pekerjaan.
Louisa melihat tangan Kevin di pintu lift. Dulu, ia mungkin akan berkata iya dengan cepat. Dulu, ia akan takut membuatnya kecewa. Dulu, ia akan menyesuaikan hidupnya agar besok pagi hadir lebih dulu dari semua orang.
Malam ini, ia hanya berkata, "Kita lihat besok."
Kevin tampak benar-benar terkejut kali ini.
Sebelum ia menjawab, Louisa menekan tombol close.
Pintu lift bergerak menutup.
Di celah yang semakin sempit, Louisa melihat Yvonne menoleh kepada Kevin dengan ekspresi ingin tahu, sementara Kevin masih menatapnya seolah baru menyadari ada sesuatu yang tidak lagi berada di tempat biasanya.
Pintu tertutup.
Lift turun.
Louisa berdiri sendirian di dalam kotak kaca dan baja itu. Tangannya kosong. Dadanya tidak.
Angka lantai berganti satu per satu.
Sebelas.
Sepuluh.
Sembilan.
Di pantulan pintu lift, ia melihat wajahnya sendiri. Tidak menangis. Tidak tersenyum. Hanya sangat lelah.
Ponselnya bergetar.
Nathanael: Aku di bawah kalau kamu sudah selesai.
Louisa membaca pesan itu berkali-kali.
Ia tidak memberi tahu Nathanael bahwa ia lembur. Tidak memberi tahu gedung. Tidak mengirim share location.
Namun pria itu ada di bawah.
Lift terus turun.
Di dalam dadanya, sesuatu yang sudah retak sejak malam gala akhirnya patah dengan suara yang sangat pelan.
Ia tidak tahu besok pagi akan berkata apa. Tidak tahu apakah ia masih sanggup duduk di meja yang sama, membuka folder yang sama, dan menjawab pesan Kevin dengan kecepatan yang sama seperti dulu. Namun untuk pertama kalinya, bayangan tidak datang lebih pagi ke kantor tidak membuatnya takut. Bayangan tidak menjadi orang pertama yang menyelamatkan masalah Kevin tidak membuatnya merasa bersalah.
Di kaca lift, Louisa melihat dirinya menarik napas.
Pelan.
Seolah sedang belajar hidup tanpa menunggu dipanggil.
Dia cuma teman biasa.