NovelToon NovelToon
Ratu dari Empat Bintang

Ratu dari Empat Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Satu wanita banyak pria
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Felicia Winarko bukan gadis biasa.

Di kehidupan sebelumnya, dia adalah komandan pangkalan militer di dunia pasca-apokalips. Dingin, kalkulatif, dan tidak kenal takut.

Sekarang? Dia terbangun di dunia komik Mary Sue sebagai yatim piatu yang dibully di sekolah elit paling bergengsi.

Misinya: Buat empat pewaris konglomerat jatuh cinta padanya — cinta sejati, bukan sekadar tertarik.

Nathan Salim, sang ketua OSIS yang sempurna di luar tapi rapuh di dalam.
Calvin Tanuwijaya, pelukis jenius yang memanggilnya "Ci" dengan tatapan berbahaya.
Jayden Hartono, pewaris temperamental dengan tindik bibir dan hati selembut anak anjing.
Sebastian Widjaja, si jenius germaphobe yang sentuhan Felicia bisa menyembuhkan.

Empat pria. Empat bintang yang harus dinyalakan. Satu perempuan yang menolak memilih.

"Kenapa harus pilih satu? Mereka semua milikku."

Tapi di balik permainan cinta yang dia kendalikan dengan sempurna, dunia ini menyimpan rahasia yang bisa membunuh mereka semua...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27 - Maaf dan Terima Kasih

Malam ini, campurkan saja ke susu hangatnya. Tidak perlu banyak. Cukup buat dia terlihat tidak stabil.

Pesan itu menyala di layar ponsel Sri.

Tidak ada yang bicara selama beberapa detik.

Di kamar lantai satu, suara taman dalam terdengar terlalu jernih: air kolam kecil, gesekan daun, langkah staf yang mendadak menjauh. Sri berdiri di samping meja dengan wajah pucat, seperti pesan itu bukan tulisan, melainkan tangan yang baru saja mendorongnya ke jurang.

Sebastian mengambil ponsel Sri dengan izin singkat. "Boleh?"

Sri mengangguk.

Ia memotret layar, mencatat waktu pesan, lalu mengembalikan ponsel tanpa membuka hal lain. "Jika yang dimaksud adalah zat penenang atau pemicu kantuk, efeknya bisa berbahaya untuk pasien gegar ringan. Kebingungan, muntah, penurunan respons. Mereka bisa memelintirnya sebagai gejala mental atau drama."

Jayden mengumpat pendek. "Tante itu sinting."

Nathan menatap Sri. "Balas."

Sri terkejut. "Apa?"

Felicia tersenyum. "Balas seperti orang patuh."

Tangan Sri gemetar ketika mengetik.

Baik, Tante.

Balasan datang cepat.

Sachet ada di laci kedua pantry. Pakai cangkir keramik biru. Jangan sampai anak-anak itu tahu.

Calvin tertawa pelan. "Anak-anak itu."

"Aku suka dipanggil anak saat orang dewasa sebodoh ini," kata Felicia.

Nathan sudah bergerak. Ia meminta kepala pelayan menutup akses dapur utama tanpa menjelaskan detail pada staf lain. Sebastian meminta sarung tangan, kantong plastik bersih, dan gelas kosong. Hana dan Ningrum diberi tugas merekam dari dua sudut, bukan untuk disebar, hanya untuk bukti.

"Jangan tremor," kata Felicia kepada Hana.

"Aku tidak tremor."

Ponselnya hampir jatuh.

Ningrum menangkapnya sebelum menyentuh lantai.

"Oke, sedikit tremor," kata Hana.

Felicia menatap Sri. "Ambil sachet itu."

"Saya?"

"Kalau kamu ingin berhenti di tengah jalan, ini waktunya."

Sri menatap amplop uang di meja, lalu ponselnya, lalu wajah Felicia. Ia mengangguk.

"Saya ambil."

Calvin ikut bersamanya sampai pintu pantry, tidak masuk, hanya memastikan tidak ada orang yang menyentuh Sri. Jayden berjaga di lorong. Nathan berdiri dekat Felicia. Sebastian menyiapkan meja kecil seperti meja laboratorium dadakan.

Beberapa menit kemudian, Sri kembali dengan sachet kecil putih di atas piring. Ia tidak membukanya. Tidak menyentuh isinya. Ia meletakkannya di depan Sebastian.

"Dari laci kedua," katanya. "Di bawah serbet."

Sebastian memeriksa tanpa mencicipi atau menghirup langsung. "Butiran halus. Tidak akan saya identifikasi di sini, tapi ini cukup untuk laporan. Jangan dimasukkan ke minuman apa pun."

Felicia menatap sachet itu. Murah. Praktis. Jahat dengan cara pengecut.

"Buat susu hangat," katanya.

Semua orang menoleh.

"Tanpa sachet," lanjut Felicia. "Cangkir biru. Sama persis."

Sri paham lebih dulu.

Kali ini tangannya tidak segemetar tadi.

Sepuluh menit kemudian, Tante Lina datang ke kamar dengan alasan menjenguk. Ia memakai blus sutra, rambut rapi, wajah prihatin yang dipasang seperti bros mahal.

"Felicia," katanya lembut. "Aku dengar kamu pusing setelah insiden di rumah sakit. Aku minta Sri menyiapkan susu hangat. Minum sedikit, supaya tubuhmu lebih tenang."

Di meja, cangkir keramik biru mengepulkan uap.

Felicia melihat cangkir itu, lalu Tante Lina. "Perhatian sekali."

"Kita keluarga."

"Kalau begitu, Tante minum dulu."

Tante Lina membeku.

Hana yang merekam dari samping hampir lupa bernapas. Ningrum menahan lengan Hana agar ponsel tetap stabil.

Tante Lina tersenyum kaku. "Itu untuk pasien."

"Aku berbagi."

"Dokter memberi aturan khusus. Tante tidak perlu."

"Tadi Tante bilang supaya tubuhku tenang. Mungkin tubuh Tante juga butuh."

Calvin menutup mulut, bahunya bergetar pelan.

Jayden tidak berusaha menahan senyum. "Minum aja, Tante. Susu hangat doang, kan?"

Wajah Tante Lina berubah setipis kertas basah. "Kalian kurang ajar."

Nathan meletakkan ponselnya di meja dengan layar menyala. Foto pesan, waktu, sachet, dan cangkir biru terlihat rapi. "Kami juga punya dokumentasi sachet dari laci pantry sesuai instruksi Anda."

Tante Lina memandang Sri.

Tatapan itu tajam, penuh janji buruk.

Sri gemetar, tetapi tidak menunduk.

"Saya belum mencampurkan apa pun," katanya. "Dan saya bersedia memberi keterangan."

Tante Lina mengangkat tangan.

Jayden sudah berdiri di depannya sebelum tangan itu turun.

"Jangan," katanya.

Satu kata. Tidak keras. Cukup.

Tante Lina menarik tangannya kembali.

Felicia mengambil cangkir biru dengan tangan kanan. Nathan hendak menghentikan, tetapi ia hanya mengangkat cangkir itu, tidak minum.

"Susu ini bersih," kata Felicia. "Akan lebih dramatis kalau Tante berani minum versi asli, sayangnya."

"Kamu menjebakku."

"Tante yang menyiapkan tali. Aku hanya tidak memasukkan leherku."

Wajah Tante Lina merah padam.

Mama Wenny muncul di pintu bersama Hendrick, jelas baru mendengar keributan. Ia melihat cangkir, sachet, ponsel, dan wajah Tante Lina. Tidak butuh penjelasan panjang.

"Lina," suaranya sangat pelan, "keluar dari kamar ini."

Tante Lina tertawa pahit. "Sekarang kamu juga memihak anak itu?"

"Aku memihak akal sehat."

Hendrick memanggil kepala pelayan. "Mulai malam ini, akses Tante Lina ke area dapur, kamar Felicia, dan lantai satu dibatasi. Semua instruksi rumah tangga lewat Wenny atau Calvin."

Felicia tidak memuji.

Perintah itu terlambat, tetapi setidaknya berguna.

Tante Lina menatap semua orang, lalu berbalik keluar dengan langkah keras. Di ambang pintu, ia berhenti sebentar.

"Kalian pikir ini selesai?"

Felicia bersandar di bantal. "Tidak. Tapi bagianmu malam ini selesai."

Tante Lina pergi.

Mama Wenny berdiri di ambang pintu beberapa detik lebih lama. Wajahnya tidak lagi hanya kecewa. Ada rasa malu yang lebih dalam, rasa malu seorang nyonya rumah yang baru sadar dapurnya sendiri bisa dipakai untuk menjatuhkan gadis cedera.

"Aku akan ganti seluruh akses dapur malam ini," katanya. "Staf yang menerima instruksi dari Lina harus melapor ulang. Semua makanan dan minuman untukmu hanya lewat orang yang kamu pilih."

Felicia memandangnya. "Jangan terdengar seperti minta maaf."

Mama Wenny terdiam.

"Kalau mau berguna, atur rumahmu."

Kalimat itu tidak lembut. Namun Mama Wenny justru tampak lebih tenang setelah mendengarnya. "Baik."

Hendrick menatap Felicia, lalu cangkir biru di meja. "Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu lagi."

Felicia hampir bosan mendengar janji laki-laki dewasa. "Kamu sudah membiarkan terlalu banyak hal. Mulai dari memastikan yang kecil tidak terulang."

Wajah Hendrick menegang, tetapi kali ini ia tidak membela diri.

Calvin melihat ibunya, lalu Felicia. "Ma."

Mama Wenny menoleh.

"Terima kasih karena memilih akal sehat."

Mata Mama Wenny memerah. Ia mengangguk sekali, lalu keluar untuk menjalankan perintah yang seharusnya sudah menjadi tugasnya sejak awal.

Baru setelah langkahnya hilang, Sri seperti kehilangan tulang. Ia hampir jatuh, tetapi Ningrum menangkap lengannya. Hana ikut membantu, masih memegang ponsel di tangan lain.

"Duduk," kata Felicia.

Sri duduk di kursi dekat pintu.

"Kenapa membantu?" tanya Felicia.

Sri menatap amplop uang yang belum disentuh. "Karena saya lihat video di dapur. Saya pikir, kalau orang seperti Om Charles saja bisa dibuat gemetar oleh pasien kursi roda, saya tidak akan selamat kalau mencoba trik murah."

Jayden tertawa. "Jawaban jujur."

Sri menelan ludah. "Dan karena... saya sudah terlalu sering melihat orang rumah ini menyuruh staf kecil menanggung dosa mereka. Saya takut. Tapi saya lebih takut jadi orang seperti itu."

Felicia memandangnya sebentar.

"Kamu tidak bisa tetap di sini."

Sri mengangguk cepat, seolah sudah menunggu hukuman itu. "Saya tahu."

"Bukan karena aku marah. Karena Tante Lina akan menghancurkanmu kalau kamu tetap di bawah atap yang sama."

Sri terdiam.

Mama Wenny berkata, "Aku bisa memindahkanmu ke unit usaha lain. Bukan di rumah ini. Gaji tetap, tapi kamu harus memberi keterangan tertulis dulu."

Sri menunduk dalam. "Terima kasih, Bu."

Felicia melihat amplop uang di meja. "Kembalikan itu ke Tante Lina?"

Sri menggeleng. "Tidak. Jadikan bukti. Saya tidak mau menyentuhnya lagi."

Bagus.

Malam turun perlahan.

Setelah semua laporan awal selesai, setelah Sri menandatangani keterangan dan meninggalkan kamar dengan wajah lebih ringan tetapi mata merah, Felicia akhirnya ditinggal hanya dengan empat pria itu.

Hana dan Ningrum dipulangkan dengan tugas lanjutan. Mama Wenny mengatur staf. Hendrick ditahan Nathan di ruang kerja untuk urusan laporan keluarga. Sri tidak kembali lagi ke kamar.

Di atas meja kecil, di bawah gelas air putih, Felicia menemukan secarik kertas yang ditulis cepat.

Maaf, dan terima kasih.

Tidak ada nama.

Tidak perlu.

Felicia melipat kertas itu sekali, lalu meletakkannya di samping kotak obat.

Nathan memotretnya, tetapi tidak mengambil kertas itu dari meja.

"Perlu dipanggil lagi?" tanyanya.

"Tidak. Dia sudah memberi yang harus diberi."

Sebastian menambahkan catatan pendek di dokumen kejadian rumah. "Saksi dipindahkan, bukti tertulis disimpan."

Sis berbisik, "Tuan Rumah, satu musuh kecil berubah jadi saksi. Progress sosial naik."

"Dia bukan musuh," kata Felicia dalam hati. "Dia orang takut yang memilih berhenti."

Empat pria di kamar menatapnya.

Nathan duduk paling dekat meja, wajahnya lelah tetapi rapi. Calvin bersandar di dinding, mata masih terlalu gelap setiap melihat pintu. Jayden duduk di tepi sofa dengan kaki tidak bisa diam. Sebastian memeriksa jadwal obat untuk ketiga kalinya.

Felicia memandang mereka satu per satu.

"Undian malam ini tidak dipakai."

Keempatnya langsung mengangkat kepala.

Jayden protes paling cepat. "Kenapa?"

"Karena aku pakai hak override."

Calvin tersenyum tipis. "Ci memilih siapa?"

Felicia menatap Nathan.

Nathan berhenti bernapas sebentar.

"Malam ini," kata Felicia, "Nathan tinggal."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!