NovelToon NovelToon
Hujan di Ranting

Hujan di Ranting

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Chua Yulin mengira hidupnya sudah cukup buruk setelah menemukan kekasihnya berselingkuh. Lalu dia pindah ke apartemen baru dan mendapat teman sekamar seorang cowok misterius bernama Sim Zhenyu—yang pulang tengah malam berbau bensin, menerima transfer Rp 10 juta dari orang tak dikenal, dan memiliki wajah yang terlalu tampan untuk hidup biasa.

Kesimpulan Yu: dia pasti model.

Yang tidak Yu duga? Sentuhan Zhen adalah satu-satunya yang bisa meredakan kondisi langka yang dideritanya—haus sentuhan. Sementara Zhen, si clean freak yang tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya, mulai membuat pengecualian. Hanya untuknya.

Dari kesalahpahaman yang konyol hingga pengorbanan yang tak terduga, ini adalah kisah tentang dua orang yang ditakdirkan untuk saling melengkapi—karena kadang, yang kamu butuhkan bukan payung dari hujan, tapi hujan itu sendiri.

"Kamu memang ditakdirkan kekurangan hujan—kekurangan aku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10: MakiGwMasukBui

Yu melakukan satu hal paling bodoh yang bisa dilakukan manusia panik.

Ia menutup notes, membuka grup kelas, mengambil screenshot jadwal, lalu mengirimnya ke Zhen lewat WhatsApp tanpa membuka pintu.

Yu: Ini jadwalku.

Di balik pintu, hening sebentar.

Ponselnya bergetar.

Zhen: Aku berdiri di depan pintumu.

Yu menatap pesan itu, lalu menutup mata.

"Aku tahu," katanya pelan dari dalam kamar.

"Kalau tahu, buka pintu."

"Untuk apa?"

"Makan."

Kata itu membuat Yu berhenti. Ia membuka pintu sedikit. Zhen berdiri di sana membawa paper bag dari restoran bubur dan satu botol air mineral. Wajahnya tetap datar, seolah membawa makan malam untuk roommate yang hampir diikuti orang aneh adalah tindakan administratif.

"Aku sudah makan," bohong Yu.

Zhen menatapnya dari atas sampai bawah. "Kamu kelihatan seperti orang yang makan udara."

"Kamu selalu kasar?"

"Kalau orangnya bohong."

Ia menyerahkan paper bag itu. Yu menerimanya dengan hati-hati. Kali ini jari mereka tidak bersentuhan, tapi jaraknya cukup dekat untuk membuat dada Yu tegang.

"Jadwal kelas sudah aku simpan," kata Zhen.

"Kamu nggak perlu jemput tiap hari."

"Aku tidak bilang tiap hari."

"Tapi kamu menyimpan."

"Untuk berjaga-jaga."

Yu ingin membantah, tapi bubur di tangannya hangat, dan sejak pagi ia memang belum makan benar. Jadi ia hanya berkata, "Makasih."

Zhen mengangguk, lalu melirik kamar Yu yang lampunya masih menyala terang. "Tidur sebelum jam satu."

"Kamu bukan kepala asrama."

"Kalau aku kepala asrama, kamarmu sudah kena tegur karena berantakan."

Yu refleks menoleh ke belakang. Selimutnya kusut, buku terbuka, charger melintang, dan laptop masih menyala di meja.

Ketika ia kembali menghadap pintu, Zhen sudah berjalan pergi.

Malam itu, Yu makan bubur sampai habis.

Ia tidak mau mengakui bahwa rasanya lebih mudah ditelan karena seseorang membawakannya tanpa bertanya terlalu banyak. Ia juga tidak mau mengakui bahwa kalimat "untuk berjaga-jaga" berputar di kepalanya lebih lama daripada seharusnya.

Setelah mandi dan mengerjakan setengah tugas, Yu kembali membuka akun @Z.racing.

Bio itu masih ada.

No unnecessary touch.

Yu merasa kalimat itu mengejeknya.

"Aku juga nggak mau unnecessary," gumamnya. "Ini necessary. Secara medis... mungkin."

Ia membuka kolom pesan. Akun utama pribadinya langsung muncul di sudut. Tidak. Tidak mungkin ia mengirim pesan dengan nama Chua Yulin, mahasiswi Fasilkom yang tinggal satu unit dengan orang itu. Kalau Zhen tahu, ia akan mati berdiri.

Maka Yu membuat akun baru.

Nama pertama yang terpikir: butuhsentuhan123.

Ia langsung menghapusnya. Terlalu jujur. Terlalu menyeramkan.

Nama kedua: akunprivat.

Lebih menyeramkan.

Yu menatap layar lama, lalu teringat candaan lama Lily saat mereka membaca komentar jahat di forum kampus. Kalau ada yang maki lo, screenshot. Biar nanti masuk bui.

Jarinya bergerak.

MakiGwMasukBui.

Ia memandangi username itu.

Konyol. Agresif. Tidak terlihat seperti dirinya. Justru karena itu, aman.

Akun baru itu kosong. Tidak ada foto profil, tidak ada postingan, tidak ada pengikut. Yu merasa seperti memakai helm hitam di dunia maya.

Ia membuka kembali akun @Z.racing dan menekan tombol message.

Halo.

Terlalu biasa.

Ia menghapus.

Saya mau tanya private coaching.

Terlalu normal, padahal kebutuhannya tidak normal.

Ia menghapus lagi.

Jantungnya mulai cepat. Kulit di lengannya berisik karena gugup. Ia menatap pintu kamar, memastikan Zhen tidak tiba-tiba mengetuk lagi. Lalu ia mengetik dengan napas ditahan.

Saya tidak mau menyewa Anda untuk hal yang tidak pantas.

Yu membaca ulang kalimat itu, lalu menutup wajah dengan satu tangan.

"Kenapa malah terdengar lebih tidak pantas?"

Ia hampir menyerah.

Tapi tubuhnya malam itu mulai gelisah lagi. Tidak separah siang tadi, tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa masalah ini tidak akan pergi hanya karena ia malu. Ko Darren jauh. Lily tidak bisa membantu bagian tubuhnya yang satu ini. Zhen bisa, dan Zhen memiliki jalur kerja yang menurut Yu mungkin sudah terbiasa dengan permintaan aneh.

Mungkin kalau ia membayar mahal, permintaan itu akan terdengar profesional.

Mungkin.

Yu membuka tabungan digitalnya.

Saldo itu bukan uang kecil. Sebagian dari hadiah lomba pemrograman, sebagian dari honor menulis cerita online yang ia sembunyikan dari Papa, sebagian dari uang saku yang selama ini ia tahan karena jarang belanja. Rp 50.000.000 adalah angka yang membuat tangannya dingin.

Lima puluh juta rupiah.

Untuk menyentuh tangan orang.

"Chua Yulin, kamu sudah gila," bisiknya.

Namun ada bagian lain yang menjawab, Lebih gila lagi kalau kamu terus begini dan pura-pura baik-baik saja.

Ia kembali ke pesan.

Kali ini ia mengetik tanpa berhenti.

Halo, Z. Saya tahu ini terdengar aneh. Saya tidak sedang mencari layanan yang tidak pantas. Saya punya kondisi yang membuat tubuh saya sulit tenang setelah stres berat. Sentuhan orang tertentu bisa membantu. Saya ingin meminta private coaching dalam bentuk pendampingan singkat dan sentuhan tangan yang aman, dengan batas jelas. Kalau Anda tidak nyaman, abaikan pesan ini.

Yu berhenti, menggigit bibir, lalu menambahkan:

Saya akan membayar Rp 50.000.000 sebagai kompensasi waktu dan kerahasiaan.

Ia membaca pesan itu lima kali.

Terlalu panjang.

Terlalu jujur.

Terlalu memalukan.

Tapi setidaknya tidak bohong soal hal tidak pantas.

Yu menekan kirim sebelum ia kehilangan keberanian.

Pesan itu terkirim.

Tidak ada balasan.

Tentu saja. Akun sebesar itu mungkin dikelola admin. Mungkin Zhen tidak membaca DM. Mungkin pesan itu masuk request dan terkubur bersama ratusan komentar penggemar. Yu seharusnya lega.

Ia tidak lega.

Lima menit kemudian, sebuah balasan masuk.

Z: Untuk private coaching, hubungi kontak di bio.

Hanya itu.

Pendek. Dingin. Seperti Zhen.

Yu panik.

Kontak di bio mengarah ke email dan nomor WhatsApp bisnis. Ia menekan nomor itu dengan tangan gemetar. Nama yang muncul bukan Zhen, melainkan Z Racing Admin.

Admin: Paket private coaching Sentul mulai dari Rp 10.000.000/sesi. Jadwal terbatas. Untuk booking, transfer DP atau full payment ke rekening berikut.

Yu menatap pesan itu.

Ini jalur resmi.

Ini berarti yang ia lakukan bisa disamarkan sebagai booking biasa.

Ini juga berarti ia tinggal satu klik dari kegilaan sungguhan.

Admin mengirim nomor rekening atas nama PT Z Racing Indonesia.

Yu membuka mobile banking.

Nominal: 50.000.000.

Catatan transfer:

Private coaching. Mohon rahasia.

Ia menatap tombol lanjut.

Di luar kamar, ada suara Zhen menutup pintu kulkas. Dekat sekali. Orang yang rekening perusahaannya ada di layar ponsel Yu sedang mengambil air di dapur, tidak tahu roommate-nya sedang mencoba membeli alasan untuk memegang tangannya.

Yu menahan napas.

Lalu menekan tombol transfer.

Masukkan PIN.

Satu angka.

Dua.

Tiga.

Enam angka selesai.

Transaksi berhasil.

Yu menatap layar bukti transfer sampai matanya perih.

Rp 50.000.000.

Terkirim.

Beberapa detik kemudian, WhatsApp admin berbunyi.

Admin: Pembayaran diterima. Nama booking?

Yu membeku.

Nama.

Ia tidak mungkin memakai Chua Yulin.

Dengan sisa keberanian yang terasa seperti sudah dicuci habis, Yu mengetik:

MakiGwMasukBui.

Admin tidak langsung membalas.

Lalu muncul satu pesan.

Admin: Baik, Kak. Permintaan khusus akan kami teruskan ke Z.

Yu menjatuhkan ponsel ke kasur dan menutup wajahnya dengan bantal.

Di ruang tengah, suara langkah Zhen melewati depan kamarnya.

Yu berbaring kaku.

Ia baru saja mentransfer lima puluh juta rupiah kepada laki-laki yang tinggal di balik dinding, dan laki-laki itu bahkan belum tahu bahwa klien gilanya sedang mencoba tidak berteriak ke bantal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!