Di usia lima puluh, Maya diceraikan karena dianggap mandul dan dijual oleh anaknya sendiri demi ambisi. Saat hidupnya hancur, ia justru mengetahui dirinya hamil dan dinikahi Raka Wijaya, CEO dingin dari keluarga terpandang. Namun pernikahan itu menyeret Maya ke pusaran warisan, rahasia kelahiran, mantan suami yang kembali, anak yang penuh penyesalan, dan wanita licik yang ingin merebut segalanya. Ketika ingatan, cinta, dan nyawanya dipertaruhkan, Maya harus memilih: tetap menjadi korban, atau merebut kembali hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14
Rumah sakit itu ramai ketika Maya dan Raka tiba.
Di lorong depan ruang IGD, Bu Ratna menangis keras sambil memegang dada. Vina terbaring di ranjang dorong, wajahnya pucat, sementara Dimas berdiri seperti orang kehilangan pijakan. Pak Heru, ayah Vina, mondar-mandir dengan ponsel menempel di telinga.
Begitu melihat Maya, Bu Ratna langsung menunjuk.
“Itu dia! Perempuan itu datang juga!”
Beberapa orang di lorong menoleh.
Maya berhenti.
Raka berdiri di sampingnya, wajahnya dingin.
Dimas bergegas mendekat. “Bu, Vina keguguran.”
Maya menatap Vina di ranjang. Meski hubungan mereka buruk, melihat wajah pucat perempuan muda itu tetap membuat hatinya nyeri.
“Dokter bilang kenapa?”
Bu Ratna menyela, “Karena stres! Karena ibumu mempermalukan keluarga kami! Karena dia merebut perhatian, membuat proyek gagal, membuat Vina tertekan!”
Maya menarik napas. “Bu Ratna, saya bahkan tidak tahu Vina hamil.”
“Tentu kamu tidak tahu. Kamu sibuk menikmati hidup baru dengan laki-laki kaya.”
Raka menatapnya. “Kalau Anda ingin berteriak, lakukan di luar rumah sakit.”
“Ini urusan keluarga saya!”
“Maya juga sedang hamil. Anda berteriak di depan dia.”
Bu Ratna tertawa pahit. “Hamil? Jangan samakan kehamilan anak saya dengan kehamilan perempuan tua yang tidak jelas asalnya.”
Dimas memucat. “Ma, cukup.”
Kali ini bukan karena membela Maya. Ia takut pada Raka.
Maya merasa dingin menjalar di punggung. Raka melangkah maju, tapi Maya menahan lengannya.
“Jangan.”
Raka menatap tangan Maya di lengannya.
“Kamu mau terus diam?”
“Tidak. Saya yang jawab.”
Maya menghadap Bu Ratna.
“Saya turut sedih Vina kehilangan kandungannya. Saya tahu rasanya takut kehilangan anak, bahkan ketika anak itu belum lahir. Tapi jangan gunakan kesedihan itu untuk menuduh orang lain tanpa dasar.”
Bu Ratna mendengus. “Dasar? Sejak kamu menolak Pak Burhan, semuanya hancur.”
“Berarti masalahnya bukan keguguran Vina. Masalahnya uang Pak Burhan.”
Wajah Bu Ratna berubah.
Beberapa perawat yang lewat melirik.
Pak Heru akhirnya mendekat. “Bu Maya, sekarang bukan waktunya berdebat. Anak saya sedang sakit.”
Maya menatapnya. “Kalau begitu minta istri Bapak berhenti menyerang saya.”
Dimas tampak makin gelisah. “Bu, tolong jangan membuat suasana tambah panas.”
Maya menatap anaknya.
“Dimas, kamu yang memanggil Ibu.”
“Aku panik.”
“Kamu panik, lalu membiarkan Ibu dijadikan penyebab?”
Dimas diam.
Vina yang sejak tadi lemah membuka mata. Suaranya lirih tapi tajam.
“Memang sejak Ibu menikah dengan Tuan Raka, hidup kami berantakan.”
Maya menatap menantunya.
“Hidup kalian berantakan karena kalian membangun rencana dari menyakiti orang.”
Air mata Vina jatuh. “Ibu puas sekarang?”
Maya mendekat satu langkah. Raka ikut bergerak, siap menahan kalau perlu.
“Tidak. Tidak ada yang memuaskan dari melihat perempuan kehilangan bayi. Tapi Vina, jangan kira rasa sakitmu membuat semua kesalahanmu hilang.”
Vina memalingkan wajah.
Dokter keluar dari ruang pemeriksaan.
“Keluarga pasien?”
Bu Ratna langsung mendekat. “Dok, anak saya bagaimana?”
Dokter menjelaskan bahwa Vina mengalami perdarahan dan keguguran pada usia kandungan sangat muda. Dari hasil awal, ada kemungkinan ia mengonsumsi minuman herbal pelancar haid atau zat yang memicu kontraksi. Pemeriksaan laboratorium masih berjalan.
Bu Ratna membeku.
“Herbal?”
Vina menutup mata.
Dimas menoleh kepadanya. “Vina?”
Dokter bertanya, “Apakah pasien mengonsumsi jamu tertentu?”
Vina tidak menjawab.
Bu Ratna langsung panik. “Tidak mungkin! Anak saya tidak minum sembarangan.”
Raka berkata kepada dokter, “Tolong semua hasil medis dicatat lengkap.”
Dokter mengenali Raka dan langsung mengangguk. “Tentu, Pak.”
Bu Ratna menoleh marah. “Untuk apa?”
“Agar tidak ada orang menuduh istri saya berdasarkan teriakan.”
Pak Heru menarik napas panjang.
Ketegangan di lorong semakin pekat.
Maya merasa perutnya sedikit kencang. Ia memegang pinggang, mencoba tetap tenang.
Raka langsung melihat.
“Kamu sakit?”
“Tidak. Cuma lelah.”
“Kita pulang.”
“Tunggu.”
Maya memandang Dimas.
“Ibu sudah datang. Ibu sudah lihat Vina. Sekarang urus istrimu baik-baik. Jangan lagi telepon Ibu hanya untuk menjadikan Ibu tempat melempar kesalahan.”
Dimas tampak seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak ada kata yang keluar.
Vina menangis pelan.
Bu Ratna masih ingin bicara, tapi Pak Heru menahannya.
“Cukup.”
Itu pertama kalinya Pak Heru menghentikan istrinya.
Raka membawa Maya keluar dari lorong. Begitu masuk lift, wajahnya benar-benar gelap.
“Kamu kesakitan.”
“Sedikit saja.”
“Kenapa tidak bilang?”
“Karena Mas Raka akan langsung mengangkat saya seperti pasien gawat darurat.”
“Itu ide bagus.”
Maya menatapnya lelah. “Jangan.”
Raka menekan tombol lantai klinik VIP, bukan parkir.
“Mas Raka.”
“Periksa.”
“Saya baik-baik saja.”
“Kamu bukan dokter.”
Pemeriksaan dilakukan cepat. Dokter kandungan yang berjaga memastikan tidak ada perdarahan dan janin masih aman, tapi mengingatkan Maya untuk menghindari stres.
Raka mendengar kata stres seperti mendengar dakwaan.
“Mulai sekarang kamu tidak bertemu keluarga Dimas tanpa aku.”
Maya berbaring di ranjang pemeriksaan, terlalu lelah untuk berdebat.
“Baik.”
Raka tampak curiga. “Kamu menyerah semudah itu?”
“Saya lelah.”
Wajahnya berubah sedikit.
Ia duduk di samping ranjang.
“Maaf.”
Maya menoleh. “Untuk apa?”
“Aku membawamu ke sana.”
“Saya yang minta.”
“Aku tetap membawamu.”
Maya melihat pria itu. Raka Wijaya, yang tadi membuat Bu Ratna tak berkutik, sekarang tampak bersalah hanya karena membiarkan Maya mendengar beberapa hinaan.
“Mas Raka,” ucapnya pelan, “saya sudah dihina bertahun-tahun sebelum bertemu Mas. Jangan merasa semua luka saya tanggung jawab Mas.”
“Sekarang iya.”
Maya terdiam.
Raka menatap perutnya.
“Kalian tanggung jawabku.”
Kalian.
Maya menyentuh perutnya. Ada hangat yang menyebar pelan.
Mereka pulang hampir tengah malam. Di mobil, Maya tertidur tanpa sadar. Ketika terbangun sebentar, ia merasa tubuhnya sedang diangkat.
“Mas Raka?”
“Tidur.”
“Saya bisa jalan.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa digendong?”
“Karena aku mau.”
Maya terlalu mengantuk untuk membantah. Ia menyandarkan kepala ke dada Raka. Detak jantung pria itu stabil, dalam, menenangkan.
Di kamar, Raka menurunkannya ke ranjang. Maya setengah sadar saat ia menarik selimut hingga menutupi bahunya.
“Jangan pergi dulu,” bisik Maya.
Raka berhenti.
Matanya menatap wajah Maya yang terpejam.
“Kamu sadar bicara apa?”
Maya tidak menjawab. Mungkin ia sudah tertidur lagi. Tangannya tanpa sadar mencengkeram ujung kemeja Raka.
Raka berdiri lama.
Lalu ia duduk di sisi ranjang.
Maya bergerak mendekat, mencari hangat. Raka menahan napas ketika kepalanya bersandar di pahanya.
“Maya.”
Tidak ada jawaban.
Ia seharusnya pergi ke ruang kerja.
Ia seharusnya menjaga jarak.
Namun tangan Maya masih menggenggam bajunya, dan wajahnya yang lelah membuat semua keputusan Raka melemah.
Ia mengulurkan tangan, menyentuh rambut di dekat pelipisnya.
“Kamu benar-benar merepotkan,” gumamnya.
Tapi ia tidak pergi.
Malam itu, Raka duduk di sisi ranjang sampai Maya tertidur pulas.
Pagi harinya, Maya terbangun dengan kepala bersandar di paha suaminya dan tangan Raka masih berada di atas selimut, melindungi perutnya.
Ia membuka mata.
Raka juga membuka mata.
Untuk beberapa detik, mereka saling menatap dalam diam.
Lalu Maya berbisik, wajahnya merah padam.
“Mas Raka… kenapa masih di sini?”
Raka menjawab dengan suara serak karena kurang tidur.
“Karena kamu menyanderaku.”
jangan lama² UP nya,penasaran dengan cerita nya👍👍👍