Zakia Sukma, wanita sederhana yang memikul banyak beban di bahu kecilnya, membantu keluarga, memperjuangkan kuliah, semua itu ia tanggung sendiri, prinsip Zakia "Jika masih bisa diusahakan sendiri maka jangan menerima bantuan dari orang lain."
Namun, sebuah tragedi yang tak disangka Zakia merenggut harga dirinya, kejadian itu jugalah yang membuat Zakia bertemu dengan pria bernama Daren, Laki-laki yang baru pulang setelah menyelesaikan studinya di luar kita tiba-tiba disuruh menikah dengan Zakia karena tuntutan keluarga.
Akankah pernikahan yang berawal dari tuntutan itu bisa menjadi pernikahan penuh cinta? Atau hanya menjadi pernikahan di atas kertas saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oceanluv_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
"Lo yakin?"
"Yakin apaan!" seru Zakia sewot.
"Yakin mau ngajak gue tidur di situ?"
Zakia merengut kesal, bukan kesal karena Daren tapi kesal kenapa dirinya bisa menawarkan hal seperti itu, berakhir dia yang malu sendiri!
"Ya udah sih kalau ga mau! Tinggal nolak aja apa susahnya!" sentaknya.
Sebelah alis Daren naik, siapa yang menolak?
"Gue ga nolak, cuman mastiin aja kalau apa yang gue denger emang ke luar dari bibir lo," jawab Daren. Daren pun bangkit dari sofanya dan berjalan menghampiri Zakia.
Tenang tapi membuat hati Zakia tak karuan, astaga Zakia ada apa denganmu? Ingat ini cuman balas budi! Tekan Zakia sekali lagi.
Begitu Daren sudah ingin naik ke atas brankar, Zakia langsung bergeser pelan, dia tidak boleh dekat dengan Daren! Berdekatan dengan Daren membuat jantungnya tidak aman.
"Jangan tidur dulu sebelum bantalnya dibenerin," ujar Daren.
Daren kembali merapikan bantal sandaran yang digunakan oleh Zakia, lagi-lagi posisi sang suami dekat dengan tubuhnya, kalau tadi Zakia fokus melihat bantalnya, sekarang Zakia mengalihkan pandangannya, ia memilih untuk menatap ke sembarang arah dari pada harus bertatapan dengan manik mata sang suami.
Zakia juga sedari tadi menahan tangannya agar tidak memegang lagi lengan Daren, pokoknya Zakia harus jaga jarak dengan suaminya sendiri!
Tapi ada sesuatu yang mengusik penciuman Zakia, sebuah wangi yang tiba-tiba singgah ke hidungnya, Zakia mencari sumber wangi itu dan ternyata itu berasal dari tubuh suaminya sendiri.
Wanginya menenangkan!
"Nah, udah selesai, udh bisa lo tidurin," kata Daren. Zakia yang sedari tadi menikmati wangi tubuh Daren langsung menjauhkan kepalanya, bahaya jika ketahuan!
Zakia melirik bantal yang sudah tersusun rapi, ia pun memajukan tubuhnya lalu turun perlahan. Daren spontan memegang kepala Zakia dan memastikan wanita itu bisa tertidur dengan aman.
"Pelan-pelan," kata Daren. Begitu kepala Zakia mendarat di atas bantal, ia langsung menarik tangannya, membiarkan Zakia yang menghela nafas panjang, Zakia gugup bukan main.
Tapi kegugupan itu mendapatkan pandangan khawatir dari sang suami.
"Kenapa? Nyesek ya?"
Zakia menggeleng cepat, "enggak, cuman keknya gerah aja," jawabnya.
Daren melihat suhu AC ruangan itu, sudah lumayan dingin, tapi Zakia merasa kepanasan?
"Emang lumayan gerah sih, gue aja kalau ga ingat di rumah sakit udah gue buka ni baju," sahut Daren.
Zakia baru sadar, Daren tidur menggunakan baju, kebiasaan yang membuat dirinya merasa tidak nyaman terpaksa harus dilakukan karena sedang menjaga Zakia di Rumah Sakit.
"Mau dibuat AC nya lebih dingin lagi?"
"Ga usah, gini aja udah cukup kok," sahut Zakia. Ia menarik selimut dan memunggungi Daren, Zakia ingin sekali tidur, tapi sialnya naluri dalam dirinya malah mengajak meronta-ronta ingin menghirup wangi tubuh Daren.
Ya memang sih Daren itu suaminya, tapi mereka belum sedekat itu! Jadi kalau dia tiba-tiba berbalik dan kemudian mendekat, pasti dia akan malu! Mau bilang apa nanti Zakia jika Daren menatapnya aneh karena kelakuannya sendiri.
"Mama, bunda sama yang lain tidur di mana?" tanya Zakia. Seingatnya dia tadi mendengar samar-samar suara mereka, tapi saat membuka mata hanya Daren yang menemaninya.
Daren yang sedang tidur memunggungi istrinya langsung berbalik, mereka kini berhadapan dengan manik mata yang seolah-olah saling bertaut.
"Nginep di penginapan sebelah Rumah Sakit ini," jawab Daren pelan. Zakia mengangguk, tiba-tiba rasa kantuk menyerang dirinya, apakah mungkin ini efek karena sudah menghirup wangi tubuh Daren?
Perlahan-laham mata Zakia tertutup rapat diiringi dengan hembusan nafas yang teratur, tak lupa dengan rambut yang menutupi sedikit wajahnya. Daren memperhatikan detail itu, detail yang membuatnya merasakan perasaan yang berbeda setelah sekian lama.
Zakia sakit, dia ikut khawatir, Zakia sedih dia ikut sedih dan Zakia senang dia juga ikut senang, entah apa maksudnya perasaan ini semua semoga itu bisa menjadi hal yang baik untuk mereka berdua, pikir Daren.
Tangan kecil Zakia bergerak memegang lengan Daren, bahkan dalam tidurnya pun Zakia tetap mencari lengan Daren, entah itu untuk penenang atau penghangat yang penting Daren senang dengan kebiasaan istri kecilnya ini.
'Sudah jadi kebiasaan ternyata,' batin Daren. Ia mengusap pelan rambut Zakia dan lama kelamaan mata pria itu pun ikut tertutup dan membawanya ke alam bawah sadar.
Di malam sepi ini, ke dua pasangan yang sedang terbaring di atas brankar Rumah Sakit tanpa sadar sudah saling bergantung satu sama lain.
****
"Buka mulutnya." Daren menyodorkan satu suapan makanan Rumah sakit pada pagi ini. Tapi sayangnya, sebelum Zakia memakannya ia harus mengintip masakannya terlebih dahulu.
"Itu apaan?" tanya Zakia. Daren menurunkan sendok tersebut, ia tahu Zakia pasti tidak ingin memakan semua ini.
"Makanan, sarapan lo pagi ini," jawab Daren tenang.
Raut wajah Zakia tidak yakin dengan makanan yang disebut oleh Daren itu, tapi mau tak mau suka tak suka makan ia wajib memakannya, Daren kembali menyodorkan makanan tersebut, ia membuka mulutnya perlahan dan mengunyah makanan itu.
Sekitar tiga suapan diberikan oleh Daren dan Zakia sudah menyerah, perutnya sudah penuh, apalagi dalam kondisi sakit seperti ini, makanan enak pun belum tentu dirasa enak di lidahnya.
"Ren, nih baju lo dibeliin bunda, mandi sana biar gantian gue yang jaga."
Hana tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Daren dan melemparkan satu paper bag yang berisi pakaian untuk dirinya. Untung saja Daren bisa dengan sigap menangkapnya, kakaknya ini emang tidak pernah melihat situasi.
"Jangan kasi dia makan yang aneh-aneh!" peringat Daren.
"Iya elah!" sahut Hana sewot.
Daren memberi pandangan tak yakin kepada kakaknya, apalagi dia datang dengan satu kantong plastik penuh yang Daren yakin sendiri itu pasti berisi banyak jajanan.
"Kak Hana, susu kotak gue mana?"
Ini satu lagi! Bocah badung yang sialnya itu adalah adik iparnya sendiri, ingin diusir tidak mungkin, bisa-bisa dia yang diusir Zakia dari sini.
"Iya ini, sorry tadi kebawa."
Rega mengambil susu kotak dari kantong plastik makanan Hana, saat ingin meminum susu kotak tersebut, Rega merasa ada seseorang yang memperhatikannya, suasana hatinya juga serasa tidak enak, Rega perlahan-lahan berbalik dan benar saja ada Daren yang menatapnya.
Lalu lihat tatapan itu! Terlihat mengintimidasi, apakah wajah Rega seperti orang yang berniat untuk mencuri?
"Baek-baek lo sama gue!" tegur Daren.
"Dih!"
"Rega," tegur Zakia pelan. Matanya menajam, alisnya menekuk, Rega yang melihat itu hanya bisa cengengesan.
"Udah sana mandi," usir Hana. Tak lama kemudian, Daren masuk ke dalam kamar mandi, kini hanya tersisa tiga orang di dalam ruangan yang lumayan luas ini.
Zakia memandangi Daren yang masuk ke kamar mandi, ketika pintu kamar mandi sudah tertutup ada satu hal yang membuatnya merasa terganggu. Tubuhnya terasa gatal, dia ingin mandi juga!