NovelToon NovelToon
Jatuh Dalam Bara

Jatuh Dalam Bara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Sekar tidak seharusnya hidup lagi.

Di kehidupan sebelumnya, ia dikhianati oleh keluarganya sendiri — didorong dari atap gedung oleh om dan tante-nya. Dan lelaki yang diam-diam mencintainya memilih mengakhiri hidupnya setelah membalas dendamnya.

Tapi takdir memberinya kesempatan kedua.

Sekar terbangun di hari pertama kelas 12 SMA, dengan seluruh memori kehidupan lamanya masih utuh. Kali ini, ia tahu persis siapa yang harus ia lindungi — dan siapa yang harus ia cintai sebelum terlambat.

Kevin Senja Halim. Anak nakal berambut biru dengan anting perak warisan mendiang ibunya. Semua orang menjauhinya. Tapi Sekar tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun: di balik tatapan dinginnya, tersembunyi hati yang sanggup mati demi seseorang.

Masalahnya? Kevin punya rahasia kelam tentang siapa ayahnya — seorang konglomerat yang menginginkan Kevin untuk tujuan yang mengerikan. Dan musuh-musuh dari kehidupan lama Sekar tidak menghilang hanya karena ia terlahir kembali.

Di antara ciuman di bawah hujan, balasan dendam yang memukau, dan cinta yang membakar segalanya — Sekar harus memastikan kali ini, mereka berdua selamat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 028

Kuis Susulan

Jumat datang terlalu cepat.

Setidaknya bagi Kevin.

Kamis malam, ia untuk pertama kalinya menelepon Sekar bukan untuk bertanya apakah ia sudah pulang, melainkan untuk bertanya kenapa jawaban nomor lima tidak sama dengan contoh.

Sekar menerima panggilan itu di kamar, buku terbuka di meja. Di layar, wajah Kevin hanya terlihat setengah karena kameranya miring. Rambut hitamnya masih lembap setelah mandi, dan di belakangnya tampak dinding kos yang polos.

"Kev, kameranya hadap buku."

"Oh."

Layar bergeser. Yang muncul bukan buku, melainkan lutut Kevin.

Sekar menahan tawa. "Buku, bukan celana."

"Gue nggak biasa video call buat matematika."

Akhirnya soal itu terlihat. Kevin sudah menulis tiga langkah, dua di antaranya benar. Sekar mengoreksi pelan. Ia tidak memberi jawaban langsung, hanya bertanya bagian mana yang harus pindah ruas dan kenapa tanda berubah.

Di menit ketiga puluh, Kevin diam lama.

"Capek?" tanya Sekar.

"Iya."

"Mau berhenti?"

Kevin tidak langsung menjawab. Jari kirinya masuk ke layar, menyentuh sebentar bekas gigitan yang masih merah muda.

"Satu soal lagi," katanya.

Sekar menatap layar, dadanya hangat. "Satu soal lagi."

Di ujung panggilan, Bryan tiba-tiba muncul dari belakang Kevin membawa mi instan gelas. "Kak Sekar, saksi ya. Dia belajar sampai mi gue dingin."

Kevin mendorong wajah Bryan keluar layar. "Pergi."

"Jangan lupa kalkulator besok!"

"Gue tahu!"

Sekar tertawa. Malam itu, panggilan mereka berakhir hampir pukul sepuluh, dengan Kevin menulis di halaman terakhir buku birunya: kalau panik, baca soal dua kali.

Selama tiga hari, buku catatan biru itu tidak pernah lepas dari tasnya. Halamannya bertambah penuh dengan tulisan miring, coretan tanda panah, dan beberapa komentar pendek yang membuat Sekar harus menahan tawa.

Minus pindah ruas, jangan emosi.

Kalimat utama bukan kalimat yang paling sok penting.

Bawa kalkulator. Jangan lupa lagi.

Bryan membaca salah satu catatan itu di kantin lalu tertawa sampai hampir tersedak bakwan.

"Bro, lo nulis nasihat hidup atau belajar?"

Kevin merebut buku itu. "Biar gue paham."

"Tapi 'jangan emosi' itu harus lo tempel di jidat."

"Lo mau gue tempel di jidat lo?"

Sekar meletakkan susu kotak di depan Kevin. "Makan dulu. Kuisnya setelah istirahat kedua."

Kevin menatap susu itu, lalu menatap Sekar. "Lo lebih gugup dari gue."

"Aku tidak gugup."

Yola yang duduk di sebelah Sekar langsung berkata, "Bohong. Dari tadi sedotannya kamu tusuk tiga kali tapi nggak masuk."

Sekar melihat kotak susunya. Benar.

Kevin tertawa kecil. Tawa itu membuat tegang di wajahnya berkurang sedikit.

"Kalau nilai gue jelek, jangan pasang muka sedih," katanya.

"Kalau kamu menyerahkan kertas kosong, aku sedih."

"Nggak kosong."

"Kalau begitu aku tidak sedih."

Setelah istirahat kedua, Kevin masuk ke ruang kecil di samping ruang guru untuk mengerjakan kuis susulan. Bu Wati duduk di depan dengan berkas lain, memberi waktu empat puluh menit. Pak Arief lewat sebentar, mengetuk pintu dua kali seperti memberi tanda semangat tanpa membuat Kevin malu.

Sekar menunggu di perpustakaan bersama Bryan.

Bryan mencoba membaca buku Sejarah, gagal di halaman kedua, lalu berbisik, "Kak, kalau Kevin dapat lima puluh, itu termasuk mukjizat?"

"Tergantung dari titik awalnya."

"Titik awalnya tidur."

"Kalau begitu, lima puluh sudah bangun."

Bryan mengangguk serius. "Masuk akal."

Empat puluh menit terasa lebih lama daripada dua jam pelajaran. Sekar beberapa kali melihat jam. Saat pintu ruang guru terbuka, Kevin keluar dengan wajah datar, terlalu datar.

Sekar berdiri. "Gimana?"

"Tangan gue pegal."

"Soalnya susah?"

"Ada yang gue bisa. Ada yang kayak dendam pribadi."

Bryan mengangkat ibu jari. "Yang penting bukan kertas kosong."

Kevin menatapnya. "Gue tulis nama bener."

"Kemajuan."

Bu Wati tidak langsung mengoreksi di depan mereka. Ia meminta Kevin kembali ke kelas. Namun sepulang sekolah, saat Sekar sedang membereskan tas, seorang siswa dari piket ruang guru datang memanggil.

"Kevin, Bu Wati manggil."

Satu kelas langsung menoleh.

Bryan menepuk dada Kevin. "Kalau dimarahi, jangan nangis."

"Lo duluan yang nangis kalau gue injak kaki lo."

Sekar ikut berdiri. "Aku tunggu di luar."

Kevin mengangguk.

Di ruang guru, Bu Wati duduk dengan lembar jawaban di depan. Kacamata berada di ujung hidungnya. Pak Arief berdiri di belakang kursi, tangan terlipat di dada, wajahnya mencoba biasa saja tetapi gagal.

Kevin masuk dengan bahu agak kaku. "Bu?"

Bu Wati tidak langsung bicara.

Ia melihat lembar jawaban, lalu Kevin, lalu lembar itu lagi. Setelah beberapa detik, ia melepas kacamata, mengelapnya dengan ujung kerudung, lalu memakainya kembali.

Kevin menelan ludah.

"Jelek banget, Bu?"

Bu Wati mendorong kertas itu ke depan.

Angka 76 tertulis di sudut kanan atas.

Kevin menatap angka itu.

Lama.

"Ini... punya saya?"

Pak Arief akhirnya tersenyum. "Nama kamu di situ."

Kevin mengambil kertas itu dengan hati-hati, seolah angka itu bisa hilang kalau disentuh terlalu kasar. Di beberapa bagian masih ada coretan merah. Ada langkah yang salah, jawaban yang berputar, dan satu soal yang kosong. Tetapi di bawahnya, Bu Wati menulis: cara berpikir mulai urut. Teruskan.

Kevin membaca catatan itu dua kali.

Sekar berdiri di pintu ruang guru, menahan napas.

Bu Wati menatap Kevin lagi. Kali ini wajahnya bukan hanya terkejut. Ada sesuatu yang lembut di sana, seperti seorang guru yang baru melihat seorang siswa mengetuk pintu yang selama ini dikira terkunci.

Ia melepas kacamata, lalu memakainya lagi.

"Ini benar-benar kamu yang tulis?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!