Kisah tentang Cahaya atau Aya (30) seorang pengusaha wanita muda yang sudah menjalin hubungan kasih selama lebih dari 10 tahun dengan kekasihnya yang bernama Rudi. Mereka sudah merencanakan acara lamaran namun tiba-tiba Rudi membatalkan dan memutuskan hubungan dengan Aya tanpa alasan yang jelas. Aya yang tidak ingin membuat ibunya bersedih karena kegagalan acara lamarannya berusaha untuk mencari pengganti Rudi.
Kemudian ia bertemu dengan Rizal (23) seorang OB berwajah tampan. Pertemuan karena salah paham itu membuat mereka semakin dekat. Aya dan Rizal akhirnya sepakat untuk melangsungkan pernikahan istimewa dengan perjanjian tertentu.
Pada akhirnya mereka saling jatuh cinta di dalam ikatan pernikahan istimewa tersebut. Apa yang membuat mereka saling jatuh cinta? Dan bagaimana mereka menyikapi konflik karena kehadiran orang ketiga yaitu orang-orang yang pernah hadir di masa lalu Aya dan Rizal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Eka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan Mantan
Langit malam tampak begitu tenang, sangat indah bertabur bintang-bintang. Membuat malam minggu ini menjadi semakin manis bagi insan yang berpasangan. Tentu saja tidak bagi Aya, ia masih dengan kesendiriannya bersama kegalauan hatinya.
Aya sedang duduk di teras belakang rukonya, menikmati langit malam penuh bintang. Kedua telinganya disumpal dengan earphone, ia sedang mendengarkan musik. Barangkali musik bisa meredakan kegalauan hatinya. Matanya jauh memandang, pikirannya terbang melayang pada masalah yang pasti akan menghadang.
Pasti nanti ibu akan bertanya lagi kapan Rudi akan datang.
Aku harus jawab apa.
Jika saja aku sudah punya pengganti Rudi tentu tidak akan terlalu repot begini, tinggal bilang sudah putus sama Rudi dan akan menikah dengan si ini.
Si ini, siapa coba.
Hadeuh, bagaimana ini.
Apakah aku harus jujur terus terang saja mengatakan jika sesungguhnya lamarannya dibatalkan.
Tidak ... Tidak ... Aku tidak ingin membuat ibu terluka.
Track musik berganti kali ini lagu yang diputar lagu dari Astrid penyanyi wanita favoritnya.
Beribu bintang yang berkerlip riang
Tak satu pun tersenyum padaku
Kosong terasa di dalam relung hati
Dan jiwaku terasa...
Kosong...
Terasa...
Kosong...
Kurasa...
Kosong di dalam diriku
Kosong di dalam hati
Kosong di dalam jiwaku
Kosong...
Aya mendengus kesal merasa lagu ini seperti dinyanyikan untuknya. Membuat hatinya semakin galau.
Suara azan terdengar, Aya langsung mematikan musik dan melepaskan earphone di telinganya. Ia beranjak untuk berwudu dan melaksanakan salat isya. Kalau sudah salat kan enak, nanti ia pulang bisa langsung tidur, karena tadi siang hingga sore ia menemani Iis mengantarkan undangan pernikahannya. Sebenarnya tubuhnya terasa sangat lelah. Namun jika pulang ke rumah, khawatir ibunya akan menanyakan tentang lamaran Rudi lagi, maka ia memutuskan untuk berlama-lama di rukonya.
Selepas salat Isya, Aya memutuskan untuk pulang, lagi pula malam ini ada tiga orang karyawan yang menjaga rukonya sehingga ia tidak perlu menunggu hingga waktunya tutup toko. Aya sudah bersiap untuk pulang.
"Sayangku semuanya ... Teteh pulang duluan ya." Aya berpamitan kepada Lia, Hendi dan Sita.
"Teh, martabaknya habis tuh sama si Hendi rakus," kata Lia.
"Iya gak papa habiskan aja orang sengaja beli buat kalian kok." Tadi selepas magrib Aya sengaja membeli martabak untuk dimakan bersama.
"Ih bohong Teh fitnah, orang yang rakus mah si Lia tuh." Hendi membela diri.
"Eh enak aja, tuh Sita saksinya," balas Lia.
"Ih gua dibawa-bawa," kata Sita.
"Udah gak papa ... ini kan malam minggu nanti ruko nya tutup jam setengah sembilan saja gak papa, takutnya si Hendi sama Lia mau malmingan,,, iya ga Sit?!" sahut Aya.
"Ciye ciye ... Lia ciye ciye ... Hendi ciye ciye... " Sita menggoda kedua temannya membuat Lia dan Hendi malu malu gimana gitu.
"Iya nanti si Asep suruh ke sini biar Sita dijemput Asep, malmingan sama Asep," sahut Aya.
"Ciye ciye... Sita ciye ciye... Asep ciye ciye" Lia dan Hendi kompak balas menggoda Sita dan Aya tertawa melihat keributan para karyawannya.
"Ya udah, teteh pulang dulu ya ... assalamualaikum," Aya berpamitan.
"Waalaikum Salam," jawab semuanya.
"Hati-hati, Teh." Mereka semua melambaikan tangan.
Aya melajukan motornya menyusuri jalan di keramaian malam minggu. Aya melewati alun-alun kota melihat insan berpasangan penuh cinta sedang menikmati malam minggu. Ada yang jalan bergandengan dan ada yang duduk sekedar bercengkerama di bangku alun-alun kota. Aya sendiri saat masih menjalin hubungan dengan Rudi jarang sekali melakukan acara malam mingguan. Bagi Aya dan Rudi semua malam adalah sama. Tidak ada istilah malam mingguan.
Aya sampai rumahnya jam 07.40. Tidak seperti biasanya, ibu sedang duduk di teras rumah terlihat seperti tengah menunggu kedatangannya. Aya langsung memasukkan motornya ke dalam rumah.
"Assalamualaikum," Aya mengucap salam.
"Waalaikum Salam," Aya langsung meraih tangan ibu dan menciumnya.
"Tumben Ibu duduk di luar biasanya nonton tv?" tanya Aya.
"Ibu lagi malas nonton tv, ya sudah kamu bersih-bersih dulu sana, terus salat dan makan." Perintah Ibu.
Tunggu, aku gak salah dengar kan tadi ibu memanggil dengan sebutan kamu. Batin Aya dalam hati. Biasanya kalau ibu memanggil dengan sebutan kamu itu artinya ibu sedang marah kepadanya. Perasaan aku kok jadi ga enak gini.
Aya segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelahnya ia langsung masuk kamar berganti baju dan merebahkan diri di kasur. Aya masih berpikir tentang sikap ibu tadi, ia masih menerka-nerka mengapa ibu bersikap seperti itu. Sudah lima belas menit Aya berdiam di kamarnya, matanya baru saja terpejam kemudian ia mendengar suara ibu mengetuk pintu kamarnya.
"Aya, ke sini sebentar Ibu mau bicara!" sahut ibu.
Tuh kan Ibu tadi memanggil aku dengan panggilan nama bukan dengan panggilan Nong, ada apa ya?? perasaan aku gak enak.
"Iya Bu." Aya langsung turun dari ranjangnya dan keluar menemui ibu.
"Duduk sini!" seru ibu sambil mematikan televisi.
Tuh kan tv nya pake dimatikan segala ini mah pasti ada sesuatu yang serius. Aya bergumam dalam hatinya dan langsung duduk.
"Kamu tadi habis ke mana?" tanya ibu. Aya tahu Ibu hanya basa-basi untuk membuka percakapan.
"Tadi siang ke rumah Iis terus nemenin Iis mengantar undangan, terus sore sampai malam di ruko, Bu." Aya sedang mempersiapkan hatinya apapun yang akan ibu katakan atau tanyakan, ia akan menghadapi dengan penuh ketenangan.
"Tadi Rudi datang ke sini mengantarkan ini." Suara ibu terdengar bergetar, tangannya pun ikut bergetar menyerahkan sebuah surat kepada Aya. Aya meraih surat itu dan membukanya lalu membacanya. Ternyata surat undangan pernikahan Rudi dengan seorang wanita bernama Diah.
Jangan ditanya hati Aya bagaimana, hatinya sakit bagai ditusuk sembilu, perih seperti diiris silet. Tapi Aya berusaha menguatkan hatinya, ia tidak ingin terlihat lemah, tidak ingin terlihat sedih di depan ibunya. Ia sedang berpikir kata apa yang sebaiknya diucapkan untuk menjelaskan kepada ibunya bahwa ia baik-baik saja.
"Kenapa kamu berbohong, kamu bilang Rudi akan datang melamar kamu?" Ibu berkata dengan mata berkaca-kaca membuat hati Aya semakin pedih.
"Nong tidak bohong Bu, awalnya memang Rudi mau datang ke sini untuk melamar." Aya berkata dengan setenang mungkin berusaha terlihat kuat di depan ibunya.
"Lalu," kata ibu singkat tapi Aya serasa di bombardir peluru mendengarnya.
"Kemudian dia membatalkannya ... ta--tapi Ibu tidak usah khawatir ... nong sekarang sedang dekat dengan seseorang ... nong hanya minta doa dari ibu." Aya berusaha untuk tetap tenang, yang dimaksud seseorang adalah seseorang yang sering mengirim pesan di sosial media miliknya.
"Apa kamu sedang mengarang cerita lagi?" Ibu berkata dengan penuh selidik.
"Tidak Bu." Aya berkata dengan menundukkan kepala, tidak berani menatap mata ibu.
"Kalau begitu, bawa seseorang yang sedang dekat dengan kamu itu ke hadapan ibu!" ucap ibu dengan nada tegas.
"Iya Bu, nanti nong akan bawa ke sini," ucap Aya datar.
"Tidak usah pacaran langsung menikah saja!" Ibu berkata singkat dan padat, membuat Aya tidak berkutik.
“I--iya Bu.” Hanya kata itu yang bisa keluar dari bibir mungilnya.
Sebenarnya masih banyak yang ingin Bu Aisyah katakan dan tanyakan pada anak bungsunya. Namun ia mengurungkannya karena ia memperhatikan Aya yang sedari tadi menunduk tidak berani menatapnya.
"Ya sudah ... Nong istirahat sana jangan tidur malam-malam!" ucap Bu Aisyah dan Aya sangat senang karena ibunya sudah merubah lagi nama panggilannya.
.
.
.
.
.
Like dan komen ya