Panti asuhan "Lentera Kasih" akhirnya menjadi satu-satunya tempat yang bersedia menerimanya. Di sana, di antara keterbatasan dan hidangan seadanya, Kirana tumbuh menjadi gadis yang kuat dan sangat cerdas. Buku-buku tua di perpustakaan panti menjadi teman setianya. Kirana belajar dengan giat, menyerap ilmu pengetahuan dengan ketajaman berpikir yang mengagumkan. Ia tahu, hanya dengan pendidikan ia bisa mengubah takdirnya.
Namun, kecerdasannya saja tidak cukup untuk membayar biaya masuk universitas. Mimpinya untuk berkuliah di jurusan Kedokteran—cita-cita yang terinspirasi dari keinginan menyembuhkan luka dan menyelamatkan nyawa—membentur dinding tebal bernama biaya. Malam ini, dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan selama berminggu-minggu, Kirana memutuskan untuk mendatangi rumah masa kecil ayahnya. Ia tidak meminta warisan atau kemewahan; ia hanya berharap ada sedikit keajaiban dan rasa iba di hati sang nenek agar mau membiayai pendidikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sumpah Sang Penguasa di Bawah Tanah
Setelah kejadian mengerikan yang mengusik istrinya malam ini, Rian tidak mau berpura-pura lagi. Persetan dengan sandiwara kursi roda atau topeng kelumpuhan palsu di depan klan Wijaya. Amarah yang membakar dadanya telah menyingkirkan segala bentuk kepalsuan.
Dengan langkah tegap, gagah, dan dingin, Rian melangkah menuruni anak tangga semen menuju ruang bawah tanah. Tanpa kursi roda, tanpa tumpuan, tubuhnya yang jangkung berdiri kokoh membelah remang cahaya lampu gantung. Di belakangnya, Doni dan beberapa pengawal pribadi berdiri siaga.
Rian memberi isyarat pelan. Pengawal dengan sigap menyentak kain hitam penutup kepala ketiga pemuda yang berlutut bersimbah keringat dingin di atas lantai marmer semen yang membeku.
SRET!
Pandangan Satria, Reno, dan Galang yang mendadak disapu cahaya langsung berkedip-kedip panik. Namun, saat mata mereka berhasil menyesuaikan diri dan menangkap sosok pria bertubuh tegap di hadapan mereka, wajah ketiganya seketika pucat pasi bagai mayat.
"R... Rian Wijaya?!" bisik Satria terbata-bata dengan napas tersedak, matanya melotot tak percaya melihat sang pewaris utama Wijaya Group berdiri tegak sempurna—sama sekali tidak lumpuh seperti rumor yang beredar.
"Kalian bertiga..." suara bariton Rian mengalun rendah, tenang, namun memancarkan aura ancaman yang begitu pekat hingga membuat atmosfer ruangan terasa sesak. "Sudah sangat bosan bernapas di dunia ini?"
Galang dan Reno langsung bersujud menempelkan dahi mereka ke lantai yang dingin, gemetar hebat. "Ampun, Tuan! Ampun! Kami tidak tahu kalau cewek itu... kalau Kirana itu istri Anda! Kami cuma disuruh!"
Rian melangkah mendekat, menghentakkan sepatu kulit mewahnya tepat di depan wajah Satria.
"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Rian dengan tatapan mata elang yang menguliti jiwa mereka. "Jawab dengan jujur jika kalian masih ingin melihat matahari besok pagi."
Satria yang kepalanya masih berdenyut sakit akibat hantaman vas bunga Kirana tak mampu menahan rasa takutnya lagi. "Dewi, Tuan! Dewi teman sekelas kami! Tapi Dewi juga cuma menjalankan perintah dari Arsyila! Arsyila yang menjanjikan uang dan nilai bagus untuk kami kalau berhasil menjatuhkan Kirana!"
Mendengar nama Arsyila terucap langsung dari mulut pelaku, sudut bibir Rian terangkat membentuk senyuman paling dingin dan mematikan. Dugaan dan intrik busuk dari klan keluarga besarnya kini terpampang makin nyata.
Rian membungkukkan tubuhnya sedikit, menatap ketiga pemuda itu satu per satu dengan pandangan tanpa ampun.
"Dengarkan aku baik-baik," desis Rian dengan nada mutlak yang tak bisa dibantah. "Besok pagi, bagaimanapun caranya, kalian bertiga dan Dewi harus angkat kaki serta mengundurkan diri dari Fakultas Kedokteran dan seluruh lingkungan kampus."
Rian berdiri kembali dengan tegap, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Jika sampai besok sore surat pengunduran diri kalian tidak ada di meja dekanat, atau jika kalian berani membocorkan sepeser pun tentang apa yang kalian lihat malam ini—termasuk fakta bahwa aku berdiri di depan kalian..." Rian jeda sejenak, menatap Doni dingin, "...maka malam ini akan menjadi malam terakhir untuk kalian bertiga di dunia ini. Paham?"
"Pa-paham, Tuan! Paham! Kami janji besok langsung keluar dari kampus!" jerit ketiga pemuda itu serempak seraya menangis histeris, menyembah-nyembah di kaki Rian.
Rian berbalik tanpa memedulikan ratapan mereka lagi. "Doni, tahan mereka sampai subuh, lalu buang mereka di pinggir jalan raya. Pastikan mereka melaksanakan perintahku."
"Baik, Tuan Muda," jawab Doni mantap.
Dengan langkah tegap dan dada busung penuh dendam yang siap diluapkan, Rian berjalan meninggalkan ruang bawah tanah. Arsyila dan Shinta telah menabur angin, dan kini saatnya mereka memanen badai murka dari sang penguasa Wijaya Group yang sesungguhnya.