Hampir tiga tahun menikah, Laras dan Robby belum juga memiliki anak. Hingga suatu hari, terjadi kesalahpahaman. Robby dan Soraya, ibu Laras mengira jika Laras mengalami masalah kesuburan.
Robby memanfaatkan kekurangan Laras untuk berpura-pura menjadi suami setia yang mau menerima Laras apa adanya. Ia bahkan mengajak Laras untuk mengadopsi anak.
Hal itu membuat Robby mendapat nilai plus dari Soraya. Ia bahkan menjanjikan jabatan tinggi untuk Robby di perusahaan.
Tentu, Robby sangat senang. Ia lalu mengajak keluarga dan selingkuhannya untuk bekerjasama merebut harta dan perusahaan milik keluarga Laras.
Tapi sayangnya, Laras mengetahui semuanya. Dan kali ini, Laras tidak akan menjadi korban. Justru, Laras yang akan memastikan keluarga parasit itu kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curiga
Awalnya, Laras meragukan kemampuan Maya dalam mengasuh Bara karena kesan pertama pertemuan mereka. Tapi, setelah dua minggu bekerja, keraguan Laras perlahan memudar.
Maya ternyata cukup teliti dan perhatian terhadap Bara.. Bahkan, Maya dengan sigap menenangkan Bara setiap kali bayi itu menangis.
Hal itu membuat Laras merasa lega. Ia mulai menerapkan kebiasaan baru. Maya bertanggung jawab merawat Bara di rumah saat ia berada di kantor. Tapi, setelah pulang, Ia akan mengambil alih tugas mengurus Bara.
Rutinitas itu berlangsung selama satu bulan, sampai semua berubah saat kedua mertuanya datang berkunjung.
Pagi itu, Laras sedang duduk di ruang keluarga sambil mengajak Bara bermain.
Tiba-tiba pintu utama di ketuk dan tidak lama kemudian, Bi Asih muncul bersama sepasang suami istri yang sudah sangat ia kenal.
Laras sedikit terkejut melihat kedatangan Diah dan Bima. Ia segera menaruh Bara di bok bayi dan menghampiri mereka.
"Ibu, Bapak, kenapa datang tidak mengabari terlebih dahulu?" tanyanya sambil tersenyum sopan.
"Memangnya kenapa kalau kami tidak mengabari, hah?" Diah melengos, kemudian langsung duduk di sofa. Bima mengikuti istrinya tanpa banyak bicara.
Senyum Laras perlahan memudar. Ada rasa sakit yang menyelinap di hatinya mendengar jawaban ketus sang mertua. Tapi, ia berusaha mengabaikannya.
"Aku dengar, kamu dan Robby mengadopsi anak dari panti asuhan," ujar Diah sambil melirik Bara.
"I-iya, Bu." Laras menggendong Bara, kemudian menghampiri kedua mertuanya.
"Ini bayi yang kami adopsi. Namanya Bara."
"Oh, jadi ini cucu nenek?" Wajah Diah mendadak berbinar. Bahkan, tanpa menunggu izin, ia langsung mengambil Bara dari gendongannya.
Laras sedikit terkejut. Ia bahkan belum sempat mengingatkan Diah untuk mencuci tangan terlebih dahulu. Tapi, melihat antusiasme mertuanya, ia mengurungkan niatnya.
"Wah, tampan sekali! Sama seperti ayahnya," puji Diah sambil mencubit gemas pipi Bara.
Laras mengernyitkan kening. "Apa maksud Ibu?"
Diah tertegun, menyadari ucapannya. "I-itu..."
"Kata orang dulu, anak yang kita adopsi bisa memiliki kemiripan dengan orang tua angkatnya," sela Bima, berusaha mencairkan suasana. "Sekarang, Bara sudah terlihat seperti kamu dan Robby."
"Oh, begitu," lirih Laras.
Tapi, sesaat kemudian, ekspresi Diah berubah. Ia menatap Laras dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Aku sudah dengar dari Robby kalau kamu mandul."
Senyum Laras perlahan lenyap.
"Harusnya, kamu bersyukur Robby tidak minta cerai. Bagaimanapun juga, keluarga akan terasa lengkap jika ada anak."
Tangan Laras mengepal di atas pangkuannya. Ia ingin membantah, tetapi akhirnya hanya bisa menunduk.
"Iya, Bu."
Diah membuka mulutnya, hendak melanjutkan ucapannya tapi, tiba-tiba Maya muncul dari arah tangga.
"Nyonya, sudah waktunya Den Bara mandi!"
Ketiga orang itu serentak menoleh.
Diah mengamati Maya dari ujung kepala hingga kaki. "Kamu..."
"Dia Maya, Bu. Pengasuh Bara," jelas Laras.
"Oh, jadi kamu Maya!" Wajah Diah langsung berbinar. Ia menepuk tempat kosong di sampingnya. "Sini, duduk di samping Ibu."
Maya mengangguk sopan sebelum duduk di tempat yang ditunjuk.
"Wah, ternyata kamu cantik sekali," puji Diah. Maya hanya menunduk sambil tersenyum malu.
Setelah itu, Diah justru lebih banyak mengajak Maya mengobrol. Sementara, Laras hanya duduk diam di sisi mereka.
Ia merasa aneh. Ia adalah menantu Diah dan Bima, pemilik rumah dan pemilik hak asuh Bara, tetapi ia justru merasa seperti orang asing di tengah keluarganya sendiri.
Menyadari Laras masih diam, Maya kembali mengingatkan. "Nyonya tidak bersiap ke kantor?"
Laras tersentak kecil, seolah baru teringat pada sesuatu. "O-oh, iya." Ia segera bangkit, lalu menatap kedua mertuanya bergantian. "Pak, Bu, saya bersiap dulu. Sebentar lagi saya harus berangkat ke kantor."
"Terserah," jawab Diah ketus.
Laras tersenyum canggung sebelum melangkah menuju tangga. Tapi, saat menaiki anak tangga terakhir, ia sempat menoleh ke belakang.
Diah, Bima, dan Maya tampak asyik mengobrol, sementara Bara berada dalam gendongan Diah
Pemandangan itu terlihat seperti sebuah keluarga yang bahagia.
Laras mengalihkan pandangannya dan melanjutkan langkah. Ia tidak ingin terlambat menghadiri rapat penting di kantor hanya karena memikirkan perlakuan mertuanya.
***
Sejak kedatangan Diah dan Bima, Laras mulai merasa tidak nyaman berada di rumahnya sendiri.
Saat ia bermain bersama Bara, Diah kerap mengawasinya dengan tatapan tidak puas. Jika Laras melakukan sesuatu yang dianggap kurang tepat, mertuanya itu tidak segan melontarkan kritik. Bahkan, beberapa kali Diah membandingkan caranya merawat Bara dengan Maya yang dianggap lebih telaten.
Tapi, saat Laras sibuk bekerja dan tidak memiliki cukup waktu untuk putranya, Diah kembali menyalahkannya karena dianggap mengabaikan Bara.
Laras merasa serba salah.
Hari demi hari berlalu, tekanan pekerjaan ditambah sikap kedua mertuanya membuat Laras semakin lelah. Tanpa sadar, ia mulai memilih lembur di kantor agar tidak perlu menghadapi suasana rumah yang membuatnya tertekan.
Sayangnya, keputusan itu justru membuatnya kehilangan waktu bersama Bara.
Setiap kali Laras pulang, putranya sudah tertidur.
Seperti malam itu, ia baru sampai di rumah saat malam sudah larut.
Laras mendapati sebagian besar lampu sudah dipadamkan. Hanya lampu tidur yang menyala redup, menerangi ruangan yang terasa sunyi.
"Kamu sudah pulang, Sayang?"
Robby yang semula berbaring di ranjang segera bangkit dan menghampiri istrinya.
"Iya, Mas. Aku capek sekali." Laras menjatuhkan tubuhnya ke sofa kecil di sudut kamar. Wajahnya tampak lesu, sementara bahunya terasa berat setelah seharian bekerja.
"Aku mau mandi, lalu melihat Bara sebentar."
Ia hendak bangkit, tapi Robby menahannya. Pria itu duduk di samping Laras, kemudian memijat kedua bahunya dengan lembut.
"Lebih baik setelah mandi kamu langsung istirahat saja, Sayang. Bara juga sudah tidur."
Laras menghela napas. "Semenjak kembali bekerja, aku tidak punya waktu untuk Bara."
Robby mengusap bahunya. "Tidak apa-apa, Sayang. Kamu juga punya tanggung jawab sebagai wakil direktur. Apalagi, sekarang Mama sedang berada di luar negeri. Pekerjaanmu pasti semakin banyak."
"Iya, Mas. Tapi, aku merasa bersalah setiap kali pulang dan Bara sudah tidur."
Robby terdiam sejenak sebelum tersenyum. "Kalau kamu mau, aku bisa membantumu."
Laras sedikit menoleh. "Membantu?"
Robby mengangguk. "Iya. Kamu bisa mengandalkan ku. Bagaimana kalau aku menggantikan posisimu untuk sementara? Biar aku yang menangani pekerjaan utama di perusahaan, sedangkan kamu cukup membantu seperlunya. Dengan begitu, kamu bisa pulang lebih awal dan menghabiskan waktu bersama Bara."
Laras terdiam memikirkan usulan tersebut.
Sebenarnya, saran Robby terdengar masuk akal. Ia memang ingin memiliki lebih banyak waktu untuk putranya. Tapi, perusahaan itu milik Soraya, dan keputusan mengenai jabatan penting sepenuhnya berada di tangan ibunya.
"Aku tahu, Sayang. Kamu pasti meragukan kemampuanku, kan? Sama seperti Mama."
Laras segera menggeleng. "T-tidak, Mas. Bukan begitu. Kamu tahu sendiri kalau semua keputusan penting ada di tangan Mama," ucap Laras. "Tapi, tenang saja. Aku akan mencari cara agar Mama menyetujuinya."
Robby tersenyum puas, lalu mengecup kening istrinya. "Terima kasih, Sayang. Aku berjanji tidak akan mengecewakanmu."
Laras membalas senyumnya dan memulai memejamkan mata, menikmati pijatan suaminya.
Keesokan paginya, mereka berkumpul di ruang makan. Laras baru saja selesai memberi Bara susu, dan Diah tiba-tiba membuka percakapan.
"Kamu setiap hari pulang malam. Apa kamu sudah tidak sayang lagi dengan Bara, hah?"
Laras terkejut mendengar pertanyaan itu. "Bu-bukan begitu, Bu. Pekerjaanku di kantor memang banyak."
"Kalau soal pekerjaan, kenapa tidak kamu serahkan saja pada Robby?" sahut Diah.
Bima yang duduk di samping istrinya turut mengangguk. "Ibumu benar, Laras. Dalam keluarga, biar suamimu yang mencari uang. Kamu sebagai istri cukup di rumah mengurus Robby dan Bara."
Laras terdiam. Ia merasa aneh dengan sikap mertuanya. Dulu, mereka bersikap baik padanya dan sering memuji nya. Tapi, semenjak datang beberapa hari yang lalu, mereka selalu mencari kesalahan nya, seolah ia menantu yang tidak berguna. Dan, sekarang mereka bersikap sok peduli pada keluarga kecilnya.
"Pak, Bu, sebenarnya aku dan Laras sudah membicarakan hal ini," sela Robby. Ia menoleh kearah istrinya sambil tersenyum meyakinkan. "Jadi, kalian tidak perlu khawatir. Iya, kan, Sayang?"
Laras menatap Robby sejenak. Ia masih merasa ada yang aneh, tetapi ia tidak ingin memperpanjang pembicaraan di meja makan.
Akhirnya, ia hanya tersenyum dan mengangguk pelan.
"I-iya."
Diah dan Bima saling pandang dan tersenyum puas mendengar jawaban mereka.
Laras bangkit, menuju dapur untuk membuat kopi. Tapi, ia sempat menoleh, menatap ke arah meja makan, di mana Diah tengah berbincang dengan Maya, di susul tawa Robby dan Bima.
Melihat pemandangan itu, entah mengapa Laras justru merasa jika merekalah keluarga sesungguhnya.
😒😒
itulah klo othor tdk tidur, pasti akan terbongkar wlo blm semua terbukti