NovelToon NovelToon
Misi Bertahan Hidup: Jangan Jadi Gadis Miskin!

Misi Bertahan Hidup: Jangan Jadi Gadis Miskin!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir / Fantasi Wanita
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagaimana rasanya menjadi seorang CEO sukses di era modern, lalu dalam sekejap mata terbangun di dalam gubuk bobrok era dinasti kuno?
Itulah nasib sial yang menimpa Lin Wan. Jiwanya merasuki tubuh seorang gadis berusia delapan belas tahun yang hampir mati kelaparan, hidup bersama ibu yang sakit-sakitan, adik kecil yang menangis kelaparan, serta paman serakah yang berniat menjual mereka demi utang judi.
Bagi Lin Wan, menyerah bukanlah kamusnya. Berbekal otak bisnis modern, kecerdasan taktis, dan tekad baja, ia bersumpah untuk mengubah nasib.
Berhasilkah Lin Wan menjadi wanita yang bisa berubah kaya, atau justru takdir membawanya pada takdir yang tak pernah ia bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: Pasar Sungai Besi

Bruk!

"Awas jalan, jangan melamun!" bentak seorang kuli panggul berbadan kekar yang membawa karung gandum besar di punggungnya, yang nyaris menabrak bahu Nyonya Lin. Beruntung Wanru dengan sigap menarik lengan ibunya untuk menghindar.

"Maaf, Tuan," ucap Wanru dengan sopan.

Suasana di dalam pasar kecamatan benar-benar sebuah simfoni kebisingan yang luar biasa. Di sebelah kiri, seorang pandai besi bertelanjang dada sedang memukul lempengan besi pijar di atas landasan batu, menghasilkan bunyi tandang... tandang... yang memekakkan telinga.

Di sebelah kanan, seorang pedagang kain meneriakkan keunggulan kain sutra kasar berwarna cerah untuk menarik perhatian para ibu-ibu pembeli.

Bau rempah-rempah yang tajam, aroma daging panggang arang, bau anyir ikan air tawar segar dari keranjang bambu, bercampur menjadi satu dengan aroma keringat ribuan manusia yang berdesak-desakan di bawah terik matahari pagi.

Lin Wanru tertegun sejenak di tengah kerumunan. Berbagai macam manusia berlalu-lalang di hadapannya.

Para petani desa yang membawa bakul sayur di punggung mereka. Pedagang keliling berkuda yang mengenakan pakaian tebal dari daerah utara. Beberapa orang sarjana konfusius berbusana jubah kain biru panjang dengan kipas lipat di tangan, berjalan dengan langkah anggun sambil berdiskusi sastra.

Dan tentu saja, para pengawal bertopi bambu yang membawa pedang di pinggang, yang mengawasi keamanan pasar atas nama pejabat setempat.

Bagi gadis desa biasa seperti Lin Wanru (tubuh aslinya), tempat ini mungkin akan memicu kecemasan ekstrem, rasa minder, dan kebingungan total.

Namun bagi seorang perempuan modern yang terbiasa memimpin negosiasi bisnis bernilai jutaan dolar di tengah bursa saham yang agresif, lautan manusia ini bukanlah hal yang menakutkan, ini adalah pasar potensial dengan peluang likuiditas yang sangat tinggi.

Wanru menarik napas dalam-dalam, membiarkan otaknya beradaptasi dengan ritme kebisingan pasar. Ia lalu menggandeng tangan ibunya yang tampak mulai kebingungan di tengah desakan orang banyak.

"Ibu, jangan terlepas dari peganganku. Tetaplah dekat denganku," bisik Wanru menenangkan.

Nyonya Lin mengangguk gugup, seraya mencengkeram erat ujung baju Wanru. "Ramai sekali, Wan-er... Ibu sudah belasan tahun tidak pernah menginjakkan kaki ke pasar kecamatan sebesar ini. Tempat apa yang sebaiknya kita tuju untuk menjual jamur dan rempah ini?"

Wanru mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut lapangan pasar. Di bagian tengah, terdapat lapak-lapak permanen yang ditempati oleh pedagang besar, sayuran hijau segar, daging sembelihan, dan beras kualitas tinggi. Lapak-lapak itu jelas disewa oleh pedagang berpunya yang membayar pajak kepada penguasa pasar.

Sebagai pendatang baru tanpa modal dan tanpa izin lapak resmi, mendirikan lapak di tengah pasar utama hanya akan membuat mereka diusir oleh petugas keamanan pasar (Baozheng).

"Kita tidak akan membuka lapak di tengah," analisa Wanru cepat dengan gaya berpikir bisnisnya. "Lihat ke sudut kiri sana, di dekat tembok batu kuil tua di tepi pasar. Tempat itu agak teduh, lalu lintas pekerjanya tinggi, dan para tabib kecil atau ibu rumah tangga kelas menengah sering lewat di jalur itu untuk pulang."

Tanpa membuang waktu, Wanru memimpin ibunya menyusul celah-celah kerumunan orang menuju titik strategis yang ia tentukan.

Setibanya di sudut teduh dekat dinding kuil tua, Wanru membentangkan sehelai kain usang yang dibawanya di atas tanah berbatu bersih, lalu dengan teliti menata barang dagangannya.

Jamur tiram liar segar disusun rapi berdampingan dengan jamur shiitake beraroma harum.

Tanaman pegagan diikat rapi dengan serat rumput agar tampak segar dan higienis.

Akar manis (Licorice) dipotong-potong bersih hingga memperlihatkan serat kayu bagian dalamnya yang bersih.

Melihat barang dagangan mereka digelar di atas tanah terbuka layaknya pedagang kaki lima paling malang, Nyonya Lin merasa tidak enak hati. Wanita paruh baya itu menundukkan kepalanya, sembari meremas jemarinya karena rasa malu.

"Wan-er... apakah ada orang yang mau membeli jamur liar dari hutan angker ini?" bisik Nyonya Lin ragu-ragu, suaranya nyaris tenggelam oleh kebisingan suara pasar. "Orang-orang kota biasanya membeli barang dari pedagang besar yang punya toko tetap. Kita... kita hanya membawa sisa tanaman hutan."

Wanru menoleh ke arah ibunya. Ia tersenyum hangat, lalu meremas kedua tangan ibunya yang kasar untuk memberikan ketenangan.

"Ibu, jangan meremehkan apa yang kita bawa," ucap Wanru dengan nada suara yang penuh keyakinan. "Di pasar ini, semua orang mencari dua hal: kebutuhan perut dan kesehatan tubuh. Jamur tiram dan shiitake kita adalah bahan pangan organik berkualitas tinggi yang rasanya jauh lebih enak daripada sayuran budidaya biasa. Dan akar pegagan serta licorice kita adalah obat herbal murni yang sangat dicari oleh keluarga-keluarga kelas menengah yang tidak mampu membeli ginseng mahal di apotek besar."

Wanru melanjutkan perkataannya dengan pandangan mata yang tajam, "Yang kita jual bukan sekadar tanaman liar, Ibu. Kita sedang menjual solusi bagi masalah mereka."

Nyonya Lin menatap putrinya dengan perasaan takjub bercampur bingung. Ia tidak sepenuhnya memahami istilah-istilah bisnis yang diucapkan Wanru, namun ada aura kepemimpinan dan ketenangan yang begitu kuat pada diri gadis remaja itu, sebuah aura yang membuat Nyonya Lin merasa bahwa putrinya kini telah bertransformasi menjadi sosok pelindung bagi keluarga mereka.

Setelah menggelar seluruh barang dagangannya dengan rapi, tantangan sesungguhnya pun dimulai.

Menjual barang di pasar kuno tidak bisa dilakukan dengan cara duduk diam menunggu pelanggan datang, apalagi bagi pedagang tanpa nama seperti mereka.

Di sekeliling mereka, puluhan pedagang lain meneriakkan promosi barang dagangan masing-masing dengan suara melengking untuk menarik perhatian orang yang berlalu-lalang.

Beberapa pejalan kaki melirik sekilas ke arah lapak tanah kecil Wanru, namun mereka langsung berlalu begitu saja tanpa berhenti, mengira itu hanyalah sisa rumput liar yang dipungut oleh anak-anak pengemis.

Melihat waktu terus berjalan dan matahari semakin meninggi, Wanru tahu ia harus mengambil inisiatif pemasaran aktif (active marketing).

Ia menarik napas panjang, merapikan sedikit kerah bajunya, lalu bersiap melancarkan strategi penjualan pertamanya di hadapan ribuan pasang mata masyarakat Dinasti Liang. Hari penentuan nasib keluarga Lin pun resmi dimulai di tengah riuhnya Pasar Kecamatan Sungai Besi.

Bersambung...

1
Fauziah Daud
mantap
Fauziah Daud
trusemangattt
Osie
laki modelan dehai nih kudu dibasmi sampai g bernapas lagi..benar benar sampah yg kudu ditanam
Iyus Iyus
baguuuss
Iyus Iyus
mampus tu
Osie
keluarga lin warung kudu jd konglomerat ..no cinta cintaan ya thor kudu sukses n kaya raya dulu..cinta cintaan no kesekian ratus dah
Aurora: Lin Wanru mungkin ya, bukan Lin warung, typo 😅
siap... tapi jika othor berkata lain jidonya bisa segera hadir 😃🤗
total 1 replies
Osie
aura ceo jaman modern emang gak kaleng kaleng..kena mental dah duo penjaga rumah lelang
The Dream26: Novel 'RUMAH' telah hadir, karya spektakuler dan seru untuk di nikmati, penasaran?, mampir ya kak
total 1 replies
Osie
eh sdh dipenghujung cerita ternyata..msh ada lanjutannyakah? ceritanya bagus banget
Aurora: cerita masih berlanjut kak... nantikan episode selanjutnya ya... 🤗
total 1 replies
Dewi Habibah
lanjut 😍
Aurora: siap kakak...🤗
total 1 replies
Dewi Habibah
Bagus sekali ceritanya
Aurora: terima kasih... nantikan terus update episode selanjutnya ya...🤗
total 1 replies
Siskasuryaningsih
Baru baca thor tetap semangat yo,,, 💪💪💪
Aurora: siap kakak...🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!