Cinta yang tulus terkadang harus rela melepaskan, meski hati tak pernah benar- benar siap.
Tiga tahun menjalani pernikahan, Elma akhirnya menyadari jika Maxime tidak pernah tulus mencintainya. Perjodohan dua keluarga itu nyatanya harus hancur karena bedanya prinsip, kerasnya ego dan kesalahpahaman yang dipendam.
Akankah Elma sanggup bertahan atau justru memilih melepaskan pria tersebut. Lantas bagaimana dengan Maxime! Akankah pria itu menyadari perasaannya.
#cintabutuhperjuangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chayahuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERHATIAN DALAM DIAM
Ruang kerja Elma masih dipenuhi tumpukan dokumen. Beberapa berkas terbuka di atas meja, sementara layar komputernya menampilkan sejumlah catatan hasil analisis perkara yang belum selesai. Elma menyandarkan punggungnya pada kursi. Ia mengembuskan napas panjang, kemudian memijat pelipisnya perlahan. Kasus Evelyn ternyata jauh lebih menyita waktu daripada perkiraannya. Belum lagi dua perkara lain yang masih menunggu penyelesaian.
Sejak beberapa bulan terakhir, atasannya semakin sering mempercayakan perkara-perkara besar kepadanya. Kemampuan Elma dalam menganalisis persoalan hukum, menyusun strategi, dan mempertahankan argumen di persidangan membuat namanya semakin diperhitungkan di firma hukum tempatnya bekerja. Namun, kepercayaan itu juga datang bersama tanggung jawab yang tidak ringan.
"Kau terlihat seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan tiga persidangan sekaligus," Ucap Karin yang duduk di sofa kecil dekat meja Elma.
Elma meliriknya. "Rasanya memang seperti itu."
Karin tertawa kecil. "Kau sendiri yang menerima semua perkara itu. Jangan mengeluh sekarang."
"Aku tidak mengeluh. Aku hanya sedang mempertanyakan keputusan hidupku."
"Menjadi pengacara?" Sela Karin.
"Menjadi pengacara yang tidak tahu kapan harus berhenti bekerja."
Karin kembali tertawa.
"Aku serius, El. Kau menangani kasus Evelyn, perkara akuisisi perusahaan milik klien kita, dan satu lagi sengketa kepemilikan saham. Bukankah itu terlalu banyak untuk ditangani dalam waktu bersamaan?"
Elma mengambil gelas kopinya, tetapi hanya menyesap sedikit. "Kasus akuisisi tinggal menunggu penyelesaian negosiasi. Sengketa saham juga sudah memasuki tahap akhir. Yang paling merepotkan sekarang justru kasus Evelyn."
"Karena Evelyn? Karena dia tidak memahami bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi hukum."
Elma menggeleng pelan. "Bukan hanya itu, ia ingin aku menyelesaikan semuanya, tetapi tidak ingin mengikuti satu pun arahan yang kuberikan."
"Sepertinya kau membutuhkan kesabaran ekstra."
"Aku membutuhkan klien yang mau mendengarkan pengacaranya."
Karin mengangguk seolah memahami penderitaan rekannya. "Ngomong-ngomong, bagaimana dengan kasus Evelyn? Kau sudah menemukan celah untuk menghadapi tuntutan Vellora?"
"Ada beberapa hal yang perlu diperiksa lebih lanjut. Aku ingin memastikan apakah agensi tersebut benar-benar telah memenuhi seluruh kewajibannya sebelum mengajukan tuntutan ganti rugi. Kalau tidak, posisi mereka tidak sekuat yang mereka klaim."
"Jadi, besok kau akan bertemu mereka?"
"Ya. Aku ingin mendengar penjelasan langsung dari pihak mereka."
Percakapan mereka terhenti ketika ponsel Elma yang tergeletak di samping dokumen bergetar.
Sebuah pesan masuk dan nama Maxime Sinclair muncul di layar.
Maxime: Sudah makan siang?
Elma melirik pesan itu sekilas, ia tidak langsung mengambil ponselnya. Beberapa detik kemudian, pesan berikutnya masuk.
Maxime: Jangan terlalu lelah bekerja. Kau masih dalam masa pemulihan.
Elma membaca kedua pesan tersebut tanpa memberikan tanggapan. Sejak dirinya kembali dari rumah sakit, Maxime memang menunjukkan perubahan yang cukup terasa. Pria itu lebih sering menghubunginya, menanyakan kondisinya, memastikan ia sudah makan, bahkan beberapa kali mengingatkannya agar tidak tidur terlalu larut. Perhatian yang sebelumnya jarang ia dapatkan kini datang hampir setiap hari. Namun, Elma belum terbiasa dengan perubahan tersebut.
"Maxime?" tanya Karin setelah melihat nama yang muncul di layar.
Elma mengangguk.
"Dia menanyakan kabarmu?"
"Menanyakan apakah aku sudah makan."
Karin tersenyum tipis. "Sepertinya suamimu sedang menjalankan tugas barunya sebagai pengawas kesehatan."
Elma meletakkan ponselnya kembali. "Entahlah. Dia terlalu sering mengirim pesan belakangan ini."
"Dan kau tidak berniat membalasnya?"
"Aku sedang bekerja."
Karin mengangkat kedua alisnya. "Itu bukan jawaban."
Elma menatap rekannya. "Apa yang ingin kau dengar?"
"Bahwa kau senang diperhatikan suamimu." Jelas Karin.
Elma tidak menjawab. Ia justru kembali membuka dokumen di hadapannya. "Sudahlah. Kita masih punya banyak pekerjaan."
Karin hanya menggeleng kecil, kemudian mengambil berkas yang sejak tadi berada di pangkuannya.
Sementara itu, di gedung lain, Maxime Sinclair sedang duduk di ruang kerjanya. Ponselnya tergeletak di atas meja. Percakapan terakhir dengan Elma masih menampilkan dua pesan yang belum mendapatkan balasan.
Maxime memeriksa layar ponselnya untuk kesekian kalinya. Ia tahu Elma sedang bekerja, ia juga memahami bahwa istrinya memiliki tanggung jawab profesional yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Namun, setelah apa yang terjadi beberapa waktu lalu, ia tidak bisa sepenuhnya mengabaikan kekhawatirannya.
Elma baru saja pulih, ia tidak ingin istrinya kembali memaksakan diri hingga kondisi kesehatannya menurun.
"Daniel."
Asistennya yang sedang berdiri tidak jauh dari meja segera mendekat.
"Ya, Tuan?"
"Periksa jadwal Elma hari ini."
Daniel sedikit terkejut, tetapi segera mengangguk. "Baik, Tuan. Apakah ada sesuatu yang perlu saya perhatikan?"
"Cari tahu perkara apa saja yang sedang ditanganinya dan seberapa padat jadwalnya." Titah Maxime.
"Baik. Akan saya periksa."
Daniel pergi dan beberapa menit kemudian, ia kembali membawa informasi yang diminta.
"Tuan, saya sudah mendapatkan informasi mengenai jadwal Nyonya."
Maxime mengalihkan perhatiannya dari dokumen. "Bagaimana?"
"Jadwal beliau cukup padat. Saat ini Nyonya masih menangani tiga perkara besar sekaligus. Salah satunya adalah kasus Evelyn Laurent yang baru saja masuk ke meja kerjanya."
Nama itu membuat Maxime sedikit mengernyit.
"Evelyn Laurent?"
"Benar, Tuan. Kasusnya berkaitan dengan pelanggaran kontrak eksklusif bersama Vellora Management. Pihak agensi mengajukan tuntutan ganti rugi dalam jumlah besar. Nyonya Elma sedang mempelajari dokumen kontrak dan dijadwalkan bertemu dengan pihak agensi besok."
Maxime menyandarkan tubuhnya. "Tiga perkara sekaligus?"
"Ya, Tuan. Dua perkara lainnya juga cukup rumit. Nyonya Elma bahkan masih memiliki beberapa agenda pertemuan dan penyusunan dokumen hukum dalam beberapa hari ke depan."
Maxime terdiam, ia mengenal kemampuan istrinya. Elma bukan seseorang yang mudah menyerah ketika berhadapan dengan persoalan sulit. Justru sebaliknya, semakin rumit sebuah perkara, semakin besar keinginannya untuk membuktikan kemampuannya. Namun Maxime juga tahu bahwa Elma memiliki kebiasaan mengabaikan kelelahan ketika sedang berkonsentrasi pada pekerjaan.
"Apakah dia masih bekerja di kantor?" tanyanya.
"Menurut informasi terakhir, iya, Tuan."
Maxime kembali mengambil ponselnya. Ia membuka percakapan dengan Elma, kemudian mengetik sebuah pesan baru.
Maxime: Aku tahu kau sibuk. Setidaknya beri tahu aku kalau kau sudah makan.
Ia menatap layar beberapa saat sebelum mengirimkannya.
"Daniel." Panggilnya.
"Ya, Tuan?"
"Apa jadwalku besok pagi."
Daniel segera membuka tabletnya namun suara Maxime kembali terdengar.
"Batalkan pertemuan yang tidak terlalu mendesak. Aku ingin mengosongkan waktu makan siang."
"Baik, Tuan. Apakah ada agenda khusus?"
Maxime menatap layar ponselnya sekali lagi. "Aku akan makan siang bersama istriku."
Daniel mengangguk tanpa bertanya lebih jauh.
Setelah asistennya meninggalkan ruangan, Maxime kembali memperhatikan ponselnya.
Tidak ada balasan dari Elma. Ia mengembuskan napas pelan. Maxime mulai memahami bahwa memberikan perhatian kepada Elma tidak cukup hanya dengan mengirimkan beberapa pesan setiap hari. Ia harus belajar memahami kesibukan istrinya, menghargai pekerjaannya, sekaligus memastikan bahwa Elma tidak selalu menempatkan dirinya sendiri di urutan terakhir. Untuk pertama kalinya, Maxime menyadari bahwa ia ingin menjadi seseorang yang kehadirannya benar-benar dibutuhkan Elma, bukan sekadar seseorang yang tercatat sebagai suaminya.
☆