NovelToon NovelToon
Perjalanan Dewa Terkuat Menuju Puncak

Perjalanan Dewa Terkuat Menuju Puncak

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Xi Nda

Dia pernah berdiri di atas segalanya. Pedang, alkimia, formasi, hukum Dao, semuanya sudah ia kuasai. Tapi ada satu dinding yang tidak pernah bisa ia tembus: puncak sejati.

Maka Yu Tian melakukan hal yang dianggap gila. Ia menghancurkan tubuhnya sendiri, membuang seluruh harta dan kekuatannya, lalu bangkit dari titik nol dengan tubuh baru dan ranah paling rendah.

Pengetahuannya utuh. Kekuatannya tidak. Dan untuk pertama kalinya setelah zaman yang tak terhitung, ia tersenyum karena akhirnya ada sesuatu yang belum ia miliki.

Ia masuk sekte sebagai murid biasa, tapi ia tidak pandai merendah. Ia tidak sudi tunduk pada gelar, usia, atau kedudukan. Ia hanya menghormati kemampuan. Tapi dunia ini tidak peduli siapa dirinya dulu. Lawan yang lebih tinggi ranahnya tetap bisa membunuhnya, dan pengetahuan seluas apa pun tidak bisa menggantikan fondasi yang belum dibangun.

Setiap kemenangan menuntut bayaran. Setiap rahasia yang terbuka membawa pertanyaan yang lebih besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xi Nda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Pedang tipis itu berhenti di atas dataran batu yang sempit, jauh di atas lautan awan, dan udara di sana dingin dan tipis sampai napas Yu Tian terasa berat. Sebuah paviliun beratap putih berdiri di tengahnya dengan tirai-tirai kain yang bergoyang pelan, dan di dinding tebing di belakangnya terpasang sebuah pintu batu bergurat rumit yang berpendar samar.

Tidak ada murid, tidak ada penjaga, dan tidak ada suara selain desau angin. Yu Tian menyeka darah yang mengering di pelipisnya dengan punggung tangan dan mengamati sekeliling tanpa berkata apa-apa.

"Duduklah." Xuan Ming melangkah ke paviliun dan menuang air dari teko perunggu ke dua cangkir kecil, dan uap tipis naik dari permukaannya. Ia menyodorkan satu cangkir ke seberang meja dengan senyum yang rapi. "Kau pasti lelah. Minumlah dulu."

Yu Tian duduk, tetapi cangkir itu tidak ia sentuh.

'Kepala sekte yang baru saja menyelamatkan muridnya dari lemparan batu tidak seharusnya seramah ini. Dan ia belum menanyakan satu pun hal tentang Bai Zhuo.' Ia menatap tangan Xuan Ming yang bertumpu di meja. Jari-jarinya mengetuk perlahan, tepat di sebelah gagang pedang yang tergantung di sabuknya, dan napasnya sedikit lebih cepat daripada seharusnya.

"Aku ingin menanyakan satu hal, dan kuharap kau menjawab jujur." Xuan Ming bersandar ke depan, dan senyumnya tidak bergeser sedikit pun. "Tubuhmu itu, apakah itu Tubuh Suci?"

Yu Tian tidak langsung menjawab. Ia menatap lelaki itu lama, memperhatikan kilau di matanya yang terlalu terang untuk pertanyaan sesederhana itu. Hening menggantung di antara mereka, dan hanya tirai putih yang bergoyang.

'Jadi itu tujuanmu. Baiklah, aku ingin melihat sejauh apa kau akan melangkah.' Ia mengangguk perlahan.

Mata Xuan Ming melebar, dan bibirnya yang tadi terkatup mulai bergetar. Ia berdiri dengan gerakan terlalu cepat sampai cangkir di mejanya terbalik dan tehnya tumpah.

Tangannya menarik pedang dari sarung, dan bilah itu bersinar putih ketika menusuk lurus ke dada kiri Yu Tian. "Berikan Tubuh Suci itu padaku! Dengan itu, aku bisa menembus ranahku dan menjadi Raja Dao!"

Yu Tian bergerak dengan refleks yang sudah lama menunggu. Ia memiringkan badan dan menangkis ujung bilah itu dengan lengan bawahnya yang sudah terbungkus Qi, dan percikan api menyambar di antara kulit dan baja. Bilah itu tergelincir ke samping, menyayat lengan dan melukai rusuknya, dan dorongan sebesar itu melempar Yu Tian mundur sampai tumit sandalnya menggores lantai batu. Lengan kirinya mati rasa sampai ke bahu, dan darah segar mengalir dari luka di rusuk.

"Aku sudah menduganya." Yu Tian menegakkan badan perlahan, menahan napas yang tersendat. "Kau tahu aku mengangguk karena ingin melihat sedalam apa kerakusanmu."

"Bodoh!" Xuan Ming tertawa terbahak-bahak, dan suara tawanya menggema di antara tebing. "Fondasi Roh melawan Jiwa Baru. Anak ingusan, kau pikir kau punya kesempatan?" Ia melesat maju, dan pedangnya menebas dalam busur lebar yang cukup untuk membelah Yu Tian menjadi dua.

Yu Tian tidak mundur. Ia menunduk di bawah bilah itu dengan jarak setipis rambut, merasakan angin tajam yang memotong ujung rambutnya, dan masuk ke dalam jangkauan Xuan Ming sebelum tebasan berikutnya sempat turun. Telapak tangan kanannya yang menyala dengan Qi padat menghantam tepat di pusat dantian lelaki tua itu, dengan seluruh tenaga yang tersisa.

Buk!

Xuan Ming terhenti di tengah langkah, dan sesaat wajahnya hanya menunjukkan tawa yang membeku. Ia menunduk menatap telapak tangan di perutnya, lalu mendongak dan terkekeh keras. "Hanya itu? Qi Fondasi Roh tidak akan menggores..."

Tawanya terputus. Darah mengalir dari hidungnya, dari kedua telinganya, dari sudut matanya yang melotot, dan dari mulutnya yang masih setengah terbuka. Qi di tubuhnya yang tadi memancar terang kini berputar kacau dan padam sepotong demi sepotong.

'Semakin besar Qi yang berputar di pusatnya, semakin banyak yang pecah. Kau terlalu kuat untuk teknik ini, Orang Tua.' Pedang di tangan Xuan Ming jatuh berdenting ke lantai batu, dan tubuhnya menyusul, menghantam tanah dengan keras.

Bruk!

Yu Tian berdiri diam dengan napas memburu, memegangi rusuknya yang berdarah. Ia memandangi tubuh itu lama, sampai ia yakin dada lelaki tua itu tidak lagi naik turun.

'Yang ini berbeda dari Bai Zhuo. Yang ini datang untuk menyembelihku, dan aku tidak berhutang apa pun padanya.' Ia menghembuskan napas panjang dan meluruskan punggung. 'Berapa kali sudah. Sejak pertama kali masuk sekte di hidupku yang lalu, selalu ada orang seperti ini. Tubuhku belum suci waktu itu, tapi bakatku sudah cukup untuk membuat orang lapar.'

Ia berjongkok dan melepas sebuah lempeng giok hijau dari sabuk Xuan Ming, yang ukirannya sama dengan gurat di pintu batu di belakang paviliun. Pintu itu terbuka tanpa suara ketika giok itu menyentuhnya, dan di baliknya terbentang sebuah ruangan panjang yang dingin dan kering, dengan rak-rak batu dan peti-peti kayu hitam berjajar sampai ke ujung.

Yu Tian melangkah masuk, dan matanya menyapu isi ruangan itu. Batu roh kualitas tinggi bertumpuk dalam peti terbuka, botol-botol pil tersusun rapi di rak, gulungan-gulungan teknik terikat tali sutra, dan logam langka yang dingin berkilau di sudut. Ia memasukkan semuanya satu per satu ke dalam sebuah kantong penyimpanan yang ia temukan di rak paling depan.

'Sekte ini akan memburuku begitu mereka menemukan mayat ini. Lebih baik aku pergi sebelum bulan naik.' Ia duduk bersila di tengah ruangan, membuka beberapa botol pil, dan menelannya satu demi satu, lalu mengepalkan batu roh kualitas tinggi di kedua telapak tangannya. Qi mengalir deras ke dantiannya, melewati dinding-dinding yang sudah tipis, dan menabrak satu penghalang baru. Tubuhnya bergetar, tulang-tulangnya berderak, dan ruang di bawah pusarnya membuka lebar.

Ketika arus itu mereda, Yu Tian membuka mata dan mengerutkan dahi. Istana Roh tingkat awal.

'Satu ranah saja, dengan semua ini? Sumber daya sebanyak itu hanya cukup untuk satu ranah.' Ia menatap tumpukan batu roh yang kini hanya tersisa abu, lalu mengangguk perlahan. 'Karena naik terlalu cepat dalam waktu terlalu singkat, dan semakin tinggi ranahnya, semakin banyak yang dibutuhkan. Tubuh ini boros, tapi ia bukan tanpa dasar.'

Di rak terakhir, terbungkus kain beludru hitam, ia menemukan sebilah pedang panjang bersarung polos. Ia mengambilnya dan menggenggam gagangnya, dan pedang itu tidak bergerak sedikit pun ketika ia menariknya. Sarungnya bergurat segel kuno yang berdenyut samar.

'Disegel. Hanya yang melampaui Penguasa Langit yang bisa membukanya.' Ia berjalan kembali ke mayat Xuan Ming dan menatap sisa Qi yang masih menggantung tipis di sekitar dantian yang hancur. 'Jiwa Baru. Pantas ia tidak pernah memakai pedang ini.'

Yu Tian mengikat pedang itu di punggungnya dengan tali kulit, mengusap darah di lengannya dengan kain, dan berjalan ke tepi tebing. Awan putih bergulung di bawah kakinya, jauh, luas, dan tanpa ujung. Ia melompat.

1
🌸athy🌸
semangat nulisnya author....
🌸athy🌸
Gaya bahasanya ringan tapi sangat mengalir. Sekali buka halaman pertama, langsung susah buat berhenti baca sampai tamat
🌸athy🌸
Ketegangannya dibangun dengan sangat konsisten. Bikin penasaran di setiap akhir bab dan sukses bikin begadang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!