NovelToon NovelToon
AKU ADALAH SUBJEK PENELITIAN

AKU ADALAH SUBJEK PENELITIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Dosen / Anak Genius
Popularitas:66
Nilai: 5
Nama Author: Sara Zefa

Anaxa Daemyn Elrad, seorang mahasiswa psikologi, mulai menerima amplop cokelat berisi laporan penelitian yang menggambarkan kehidupan, kebiasaan, bahkan perilaku pribadinya secara terperinci.

Awalnya dia menganggapnya sebagai kebetulan. Namun, semakin banyak laporan yang muncul, semakin sulit baginya menyangkal satu kenyataan: seseorang sedang mengamati dirinya.

Di balik kehidupan kampus yang tampak biasa, tersembunyi sebuah proyek penelitian bernama EVA-213.

Siapa yang mengawasinya? Apa tujuan penelitian tersebut? Dan sejak kapan hidup Anaxa bukan lagi sepenuhnya miliknya?

Bagaimana jika seluruh hidupmu ternyata hanyalah data bagi seseorang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sara Zefa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SUBJEK MULAI MENYADARI

Setelah berfikir sejenak, Anaxa menepuk jidatnya berkali-kali. "Oke. Mungkin ini cuma kesalahan berfikir saja. Otak manusia memang suka mengaitkan hal-hal lain secara aneh'

Tawa gugup keluar dari mulut Anaxa. Dia kembali meraih segelas kopi dan menyeruput kopi panas favorit. Kedua matanya pejam seakan menikmati rasa kopi itu.

Namun, beberapa saat kemudian, waktu damai itu terpecah oleh sering ponsel Anaxa. Dengan cepat segelas kopi ditaruh dan panggilan ponsel dijawab. "Ya? Ada masalah apa bos?"

"Xa, siang ini bisa masuk? Anak data Anak data entry ada yang sakit."

"Bisa." Ucap Anaxa dengan singkat. Matanya langsung melirik ke arah jam. Dia punya beberapa waktu untuk mempersiapkan diri.

"Terimakasih Anaxa. Soal bonus bisa kita bicarakan." Bos Anaxa terkekeh sebentar sebelum memutus telepon.

Handphone diletakkan diatas meja dan Anaxa kembali menyeruput kopinya sampai habis.

Bukan part time menjadi waiters. Bukan menjadi anak resto. Bukan menjadi kasir minimarket. Berkat kecerdasan dirinya, Anaxa berhasil part time di sebuah perusahaan riset psikologi. Dan dia menjadi data entry disana. Sangat sejalan dengan dirinya yang suka membuat esai riset dan penelitian tentang psikologi.

Sebelum jam 11 berdentang, Anaxa sudah siap siap untuk pergi ke kantornya. Mandi. Sarapan roti. Mengenakan celana panjang hitam dan kemeja putih lengan panjang. Lehernya berkalung name tag.

Dengan cepat Anaxa mengunci kamar kos nya, menaruh kuncinya di kantung celana, beranjak ke depan kos untuk meraih sepeda goesnya. Pikir Anaxa "Tempat kerja part time nya dekat. Untuk apa dia membeli sepeda motor dan bensin? Sepeda lebih irit."

"Loh, mas. Kok kerja siang-siang? Biasanya malam hari toh" Tanya pak satpam heran.

"Oh itu pak, ada yang sakit. Jadi saya yang ngegantiin."

"Oh begitu ya." Pak satpam tua itu menganggukkan kepala. Membukakan pagar untuk Anaxa.

"Hati-hati, nak"

"Iya Pak. "

Anaxa mengayuh sepedanya meninggalkan kos. Jalanan mulai rame oleh banyak nya kendaraan dengan tujuan yang berbeda-beda. Klakson berbunyi bersahutan saat macet. Anaxa sampai refleks memijat kepala nya karena merasa pening. Dia juga melewati banyak gerobak kaki lima yang berjualan di pinggir jalan. Semuanya terasa normal. Dan Anaxa membenci kenyataan bahwa hanya dirinya lah yang terasa berubah.

Kayuhan sepeda Anaxa sedikit melambat ketika matanya melirik kamera kecil terpasang di sebuah tiang listrik seakan-akan merekam lintasan jalan.

Anaxa tertegun sejenak kemudian kembali mengayuh. Namun, belum sampai lima puluh meter dan Anaxa kembali melihat kamera lain di sebuah minimarket.

Lalu kamera di lampu merah.

Lalu kamera parkiran bank.

Anaxa menghela nafas berat dan menggeleng-gelengkan kepala. Anaxa hanya merasa parno. "Gak mungkin kan semua kamera itu mulai memperhatikan saya? Memangnya saya siapa... Cuma lagi parno. "

Sekitar lima belas menit kemudian, gedung sepuluh lantai tempatnya bekerja mulai terlihat. Sebuah papan bertuliskan PT PsikoData Nusantara berdiri di depan bangunan berwarna abu-abu yang dari luar tampak seperti kantor biasa.

Tidak ada yang mencurigakan.

Tidak ada laboratorium rahasia.

Tidak ada orang berbaju hitam.

Hanya beberapa karyawan yang keluar masuk sambil membawa laptop dan gelas kopi.

Anaxa memarkirkan sepedanya di rak parkir, menguncinya, lalu berjalan masuk melewati pintu kaca otomatis.

"Siang, Mas Anaxa." Satpam kantor menyapa nya ramah.

Anaxa menganggukkan kepala pelan. "Siang."

Begitu memasuki ruangan data entry, aroma pendingin ruangan bercampur suara ketikan keyboard langsung menyambutnya. Beberapa karyawan mengangkat tangan sekilas sebagai sapaan sebelum kembali sibuk dengan layar komputer masing-masing.

Bosnya melambaikan tangan dari ujung ruangan. "Syukurlah kamu datang. Datanya numpuk."

Anaxa hanya menjawab singkat. "File yang mana?"

"Tetap to the point, ya."

Anaxa hanya mendengus pelan menjawab perkataan bos nya. Bos nya hanya cengar-cengir saja meladeni dirinya.

Beberapa saat kemudian, Anaxa mempersiapkan diri untuk mulai bekerja pada hari ini. Dia membuka laptop, menyumbat telinganya dengan earphone dan membuka aplikasi pemutar musik.

Tangannya dengan cekatan mulai membuka puluhan file baru. Dia menginput ribuan data responden. Kolom demi kolom dia isi. Seperti.

Subjek 01

Usia

Jenis kelamin

Skor depresi

Skor kecemasan

Status

Lalu... Anaxa berhenti mengetik saat kolom berganti menjadi data responden SUBJEK 07. Secara refleks pikirannya terbang jauh dan hingga di ratusan laporan penelitian tentang dirinya. Keringat sebiji jagung mulai menetes dari dahinya. Wajahnya berubah jadi pucat. Jantung berdegup tak nyaman.

Barulah setelah beberapa menit tenggelam dalam pikiran itu sampai Anaxa kembali tersadar. Dia menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat. Langsung meneguk kopi dengan gugup. "Cuma kebetulan! Cuma kebetulan!"

Anaxa menatap lambat nomer responden Subjek 07. Lalu menggeleng pelan. "Tidak. Ini cuma penomoran responden."

Tetapi... Untuk pertama kalinya

Tangannya yang tidak pernah gemetar

Salah mengetikkan satu angka

Dan Anaxa sama sekali tidak menyadari kesalahannya itu.

Anaxa malah melanjutkan pekerjaannya dengan fokus terpecah belah. Berkali-kali mengetik data yang tidak tepat. Salah masuk data, dan lain sebagainya. Sampai tidak terasa waktu bekerja akan selesai beberapa menit lagi

Anaxa seolah-olah tenggelam dalam dunianya sendiri. Selama kerja, semua omongan dan gosip dari rekannya seakan tak mempan untuk menerobos ke indra pendengarannya.

Anaxa tidak bicara.

Dia hanya mengetik

Dan terus mengetik

Dan terus menyakinkan dirinya bahwa semua yang terjadi kemarin hanyalah kebetulan yang terlalu aneh.

Sampai akhirnya Anaxa menutup laptopnya setelah submit kerjaan ke bosnya. Siap-siap untuk pulang, namun ponselnya malah berbunyi. Anaxa segera menjawab panggilan itu. "Ya bos, ada apa?"

"Anaxa. Bisa segera ke kantor saya?"

"Baik bos." Ucap Anaxa dengan singkat. Mematikan ponselnya. Alis matanya sedikit berkerut. Pikirannya sibuk bertanya-tanya kenapa dirinya bisa dipanggil oleh bosnya

Dengan langkah yang sedikit gontai, Anaxa mendatangi ruang bos nya yang terletak di lantai 10. Anaxa mengetuk pintunya perlahan dan bos nya menyahut agar dia segera masuk.

Wajah bingung Anaxa terpampang jelas. "Ada apa bos?" ucap Anaxa setelah mendudukkan diri di kursi."

"Kamu lagi ada masalah apa?"

"Gak ada kok bos?"

"Lalu apa ini? Bisa jelaskan ke saya?" Ungkap si bos sambil melemparkan dokumen diatas meja. Alis Anaxa langsung berkerut. Mau tidak mau Anaxa meraih dokumen tersebut dan membacanya. Matanya membelalak panik ketika menyadari kesalahannya. Dengan sedikit takut, Anaxa mengangkat kepalanya lalu memandang wajah bosnya.

"Itu..."

"Ini tidak seperti dirimu. Saya kasih waktu hari ini untuk memperbaiki semunya."

"Baik bos..." Ucap Anaxa sembari membawa setumpukan laporan yang penuh dengan cacat data akibat ketidak ketelitian itu.

Anaxa pulang dari kantornya. Kembali mengoes sepeda meluncur membelah angin malam. Sampai di kosan nya, dengan cepat Anaxa menyapa pak satpam penjaga, memikirkan sepedanya, jalan menelusuri lorong kos yang sepi, membuka konci kos dan menguncinya dari dalam.

Anaxa membersihkan dirinya sebentar kemudian dia lanjut membenarkan file file yang salah dia input datanya.

Berjam-jam berlalu. Laptop tetap menyala. Bunyi ketikan mengisi kamar kosnya yang sepi. Sampai suatu pikiran random menyeruak dipikiran Anaxa. "Apakah hari ini ada yang mengirim amplop coklat lagi kepadanya?"

Anaxa segera berhenti dari pekerjaannya. Beranjak dari kursi kemudian melangkah. Membuka pintu kos. Namun matanya langsung melotot ketika menemui amplop coklat lain. Anaxa langsung meraihnya dan menelitinya.

Amplop coklat yang sama?!

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Anaxa membuka amplop tanpa pengiriman dan tanpa alamat tersebut. Isinya hanya satu halaman kertas yang bertuliskan seperti ini.

HARI 104

Subjek mengetahui jika dia sedang diawasi

Subjek mulai paranoia

Subjek lupa menyetor laundry mingguan

Subjek melakukan banyak kesalahan di kantor

Anaxa menjatuhkan halaman laporan itu. Tubuhnya benar-benar menggigil ketakutan.

Dia masih diawasi

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!