Menikah 15 tahun tanpa anak dan hidup susah dari nol ditemani Agus, Eda akhirnya lulus PPPK setelah 10 tahun jadi honorer. Bukannya bahagia, gajinya justru habis tersedot utang serta beban keluarga besar. Saat lelah mendera, Agus sang suami berubah dingin jika tak diberi uang rokok, bahkan tega mengungkit luka lama di atas ranjang. Di antara rasa kasihan dan putus asa, Eda dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dengan pria yang tak punya tempat pulang, atau pergi demi menyelamatkan kewarasannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai di Ruang Tengah
Langkah kaki Eda terhenti sejenak tepat di depan pintu pagar kontrakan. Pintu kayu berpelitur pudar itu terbuka separuh. Dari luar, deru suara televisi bercampur dengan nada bicara yang tinggi dari dalam rumah sudah terdengar samar-samar. Eda memegang tali tas kerjanya erat-erat, merapikan letak jilbabnya, lalu menarik napas panjang untuk menguatkan mentalnya sebelum melangkah masuk.
"Assalamu’alaikum," panggil Eda dengan suara sedatar mungkin seraya melepas sepatu pantofelnya di ambang pintu.
Tidak ada jawaban salam.
Ruang tamu yang sempit itu mendadak hening mencekik begitu Eda menginjakkan kaki di dalam. Ibu Ratna duduk di kursi plastik dengan wajah cemberut dan mata sembap. Di sebelahnya, Rini sedang melipat tangan di dada sambil melempar pandangan sinis. Doni berdiri di dekat meja makan dengan wajah memerah menahan gusar, sementara Agus duduk selonjoran di karpet plastik sambil sibuk mengembuskan kepulan asap rokoknya ke udara.
Semua mata tertuju pada Eda. Suasananya persis seperti ruang pengadilan di mana Eda adalah terdakwa utama.
"Bagus ya kamu baru pulang jam segini!" tuding Ibu Ratna tanpa basa-basi, suaranya parau dan bergetar karena emosi. "Ditelepon tidak diangkat, di-WhatsApp tidak dibalas! Kamu ini sebenarnya masih menganggap kami ini keluarga atau bukan, Ed?!"
Eda berjalan pelan menuju meja kayu, meletakkan tas kerjanya di sana. Ia menatap ibunya dengan raut wajah tenang yang dingin—tidak ada lagi rona ketakutan atau rasa bersalah seperti biasa.
"Eda lagi mengajar di kelas, Ma. HP Eda di-silent," jawab Eda singkat dan lugas.
"Halah! Alasan!" potong Rini dengan nada tinggi, menyela cepat. "Masa dari jam sepuluh pagi sampai jam dua sore tidak ada waktu sama sekali buat pegang HP? Mas Doni itu tadi butuh kepastian uang buat ganti ban mobil sewaan! Gara-gara Mbak Eda sengaja mematikan HP dan tidak mau bantu, Mas Doni kehilangan tarikan penumpang ke Semarang hari ini! Rugi ratusan ribu kita!"
Doni mendecak keras, membuang muka ke arah dinding sambil mengomeli adiknya. "Kamu itu tega banget sih, Ed! Cuma minta tolong empat ratus ribu saja dipersulit begini! Aku ini kakakmu, bukan orang lain!"
Eda membalikkan badan, menatap Doni dan Rini secara bergantian. Pandangannya lurus, tanpa berkedip sedikit pun.
"Mas Doni," kata Eda, suaranya pelan tapi terdengar menohok sampai ke sudut ruangan. "Uang empat ratus ribu itu tidak ada di dompetku. Mau Mas Doni marah sampai menangis darah pun, uangnya memang tidak ada. Gajiku bulan ini sudah bersih terpotong cicilan bank buat menutup utang-utang keluarga yang dulu. Mas Doni minta aku cari pinjaman ke mana lagi? Ke koperasi sekolah? Namaku di sana sudah jelek karena sering ambil talangan!"
"Ya kan bisa pinjam ke Bu Maya atau Pak Kepala Sekolahmu!" bentak Ibu Ratna sambil menghentakkan tangannya ke paha. "Kamu itu guru PPPK, ASN resmi di SD Harapan Bangsa! Punya muka sedikit kenapa sih buat bantu kakakmu sendiri?!"
Eda menoleh pada ibunya. Kata-kata sang ibu terasa seperti sembilu yang mengiris-iris dadanya, tapi Eda memaksa dirinya untuk tetap berdiri tegak.
"Punya muka, Ma?" bisik Eda, matanya mulai memerah menahan emosi yang bergemuruh. "Justru karena Eda masih punya mukalah Eda tidak mau utang-utang lagi ke teman-teman guru! Eda malu, Ma! Tiap bulan Eda kerja bagai kuda di sekolah, tapi gajinya habis dipake bayar utang orang lain. Sekarang Eda cuma minta sisakan sedikit ketenangan buat Eda menyambung hidup, masa tidak boleh?"
Seketika suasana ruang tamu jadi membeku. Rini dan Doni melongo, tidak menyangka Eda yang selama belasan tahun selalu penurut dan diam kini berani melancarkan perlawanan setegas itu.
Agus yang sejak tadi diam di sudut ruangan akhirnya mematikan puntung rokoknya ke dalam asbak seng dengan gerakan kasar. Pria itu berdiri, menatap Eda dengan tatapan dingin dan tajam.
"Kamu ini makin hari makin tidak ada sopan santunnya ya, Ed," tegur Agus dengan nada menekan, mencoba menggunakan posisinya sebagai suami untuk membungkam Eda di depan mertuanya. "Mama ini orang tuamu. Doni ini kakakmu. Kalau kamu ada uang atau tidak ada uang, bicaranya yang halus! Tidak usah pakai urat begitu!"
Eda tertawa sumbang, sebuah tawa pahit yang keluar dari kerongkongannya. Ia menatap Agus tepat di manik matanya.
"Lalu kamu sendiri bagaimana, Agus?" tembak Eda tanpa ragu. "Waktu kamu membanting piring dan memutar keran air kencang-kencang tadi pagi cuma gara-gara tidak aku kasih uang bensin, apakah itu sopan? Waktu kamu diamkan aku seharian seperti mayat di rumah ini, apakah itu cara suami menghargai istrinya?"
Wajah Agus seketika memerah padam. Egonya sebagai laki-laki dan suami seperti dihantam gada besi di hadapan ibu dan saudara mertuanya.
"Eda! Cukup!" bentak Agus dengan suara membentak yang jarang sekali ia keluarkan. "Jangan bawa-bawa urusan kamar ke ruang tamu!"
"Kamu yang mulai duluan, Agus!" balas Eda, suaranya tidak kalah tegas. "Kalau kamu mau dihargai sebagai suami, bertindaklah sebagai suami! Jangan cuma diam menyaksikan aku diperas habis-habisan, tapi giliran uang rokokmu kurang kamu langsung ngambek dan menyudutkan aku!"
Ibu Ratna memegang dadanya sambil terbatuk-batuk, berakting seolah-olah penyakit jantungnya kumat karena ulah Eda. "Astagfirullah... Eda... Kamu ini benar-benar anak durhaka! Kamu mau bikin mamamu ini mati berdiri ya?!"
Eda tidak terkecoh lagi. Ia sudah hafal betul pola dramatisasi yang selalu dipakai ibunya tiap kali Eda berusaha membela diri.
Eda mengambil tas kerjanya dari atas meja, merogoh dompetnya, lalu mengeluarkan pecahan uang dua puluh ribu dan sepuluh ribu rupiah—sisa-sisa lembaran uang tunai terakhir yang ia miliki. Ia meletakkannya di atas meja kayu di hadapan ibunya.
"Ini ada uang tiga puluh ribu," kata Eda dingin. "Ini uang terakhir di dompet Eda sampai tanggal satu bulan depan. Silakan pakai buat beli beras atau obat Mama. Tapi mulai hari ini, jangan pernah minta uang ganti ban, uang LKS, atau uang bensin lagi ke Eda. Karena Eda benar-benar tidak punya uang lagi."
Tanpa menunggu respons dari siapa pun, Eda membalikkan badan dan melangkah menuju kamarnya.
"Eda! Kurang ajar kamu ya! Buka pintunya!" teriak Doni dari luar saat Eda melangkah masuk.
*Klek.*
Eda memutar kunci kamar dari dalam, memutus semua suara bentakan dan omelan yang bersahut-sahutan di ruang tengah. Ia menyandarkan punggungnya pada pintu kayu kamar yang dingin, menghembuskan napas panjang yang terasa sangat berat dari dadanya.
Kamar pengap itu remang-remang. Eda berjalan menuju meja belajar kecil di sudut ruangan. Di sana, di bawah tumpukan buku modul ajar SD Harapan Bangsa, ada sebuah map cokelat berisi lembaran-lembaran kertas penting: SK pengangkatan PPPK miliknya, buku tabungan atas nama pribadinya, serta formulir pendaftaran Seleksi Guru Penggerak yang baru saja ia cetak di sekolah tadi siang.
Eda membelai kertas-kertas itu dengan jemarinya yang masih agak gemetar.
Di luar kamar, bentakan Doni dan tangisan palsu ibunya masih terdengar sayup-sayup, tapi di dalam benak Eda, segalanya sudah menjadi terang benderang. Pintu rumah kontrakan ini mungkin penuh dengan badai dan kebencian, tapi lembaran-lembaran kertas di atas mejanya adalah jalan keluar menuju kebebasan yang sesungguhnya. Dan Eda berjanji pada dirinya sendiri, kali ini ia tidak akan pernah berputar balik.