Tiga tahun mendekam di penjara, Annabella tak menyangka kebebasannya justru menjadi awal penderitaan baru.
Lucian Winston, CEO Wins IT yang menyimpan dendam atas penculikan adiknya, membebaskan Annabella demi satu tujuan: menjadikannya istri dan menghukumnya dengan caranya sendiri.
Annabella menolak, hingga Lucian mengancam keselamatan Aditya, pamannya yang sedang koma dan terancam kehilangan perawatan akibat kebangkrutan.
Demi menyelamatkan satu-satunya keluarga yang tersisa, Annabella terpaksa menerima pernikahan tanpa cinta dengan pria yang membencinya.
Namun, sampai kapan Annabella mampu bertahan di tengah dendam Lucian? Dan bagaimana jika di balik kebencian itu, ada rahasia yang mampu mengubah segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gunakan Otakmu
Mobil Lucian berhenti di depan kantor KUA.
Annabella turun, lalu melirik ke sekeliling. Ia mengira orang tua Lucian akan hadir, tapi tidak ada tanda‑tanda Adara maupun Arsen di sana. Hanya ada Faisal, asisten Lucian, yang sedang berbicara dengan petugas sambil membawa berkas‑berkas dokumen.
“Jangan berdiri seperti orang bingung. Ikuti aku!” perintah Lucian dengan nada dingin.
Annabella pun melangkah mengikutinya masuk ke dalam ruangan.
Di dalam, wali hakim sudah menunggu mereka. Faisal segera menyerahkan semua dokumen yang diperlukan.
“Semua berkas sudah siap, Tuan. Sesuai perintah Anda, semuanya sudah saya urus jauh‑jauh hari sebelum Nona bebas,” lapornya.
Annabella terkejut mendengar hal itu.
Jadi, sebelum aku bebas, dia sudah merencanakan pernikahan ini?
“Bagus. Pastikan tidak ada kesalahan,” ujar Lucian.
“Baik, Tuan.”
Annabella hanya bisa diam. Ia sudah menyetujui pernikahan ini demi menyelamatkan Aditya, sehingga tidak ada jalan untuk mundur sekarang.
“Silakan duduk. Kita akan segera memulai prosesi akad nikah,” ajak petugas.
Annabella duduk di samping Lucian dengan hati yang gugup. Sementara pria itu tampak sangat tenang, seolah‑olah pernikahan ini tidak berarti apa‑apa baginya.
Prosesi ijab kabul pun dimulai.
“Saya terima nikah dan kawinnya Annabella dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.”
Lucian mengucapkannya dengan lancar.
“Alhamdulillah, sah.”
Beberapa menit kemudian, Annabella resmi menjadi istri Lucian Winston.
Petugas menyerahkan buku nikah kepada mereka. Annabella membukanya, lalu menatap foto di halaman itu dengan hati yang sedih. Tidak ada senyum bahagia di wajahnya. Hari yang seharusnya menjadi hari istimewa, justru menjadi awal penderitaan baru.
“Sudah selesai? Kalau sudah, ayo!” kata Lucian.
Annabella segera berdiri dan mengikutinya keluar.
Tidak ada pesta, tidak ada keluarga yang menyambut, dan tidak ada ucapan selamat yang hangat. Pernikahan mereka berlangsung sangat sederhana, namun meninggalkan luka yang dalam di hati Annabella.
Sesampainya di depan mobil, Annabella mencoba membuka pintu penumpang. Namun pintunya sudah terkunci. Ia pun mengetuk kaca jendela.
Tok! Tok!
Lucian menurunkan kaca dengan wajah tidak sabar.
“Ada apa?”
“Aku mau masuk. Kenapa pintunya dikunci?”
Lucian menatapnya dengan tatapan sinis.
“Aku tidak sudi duduk satu mobil dengan mantan narapidana.”
Annabella terpaku.
“Apa?”
“Kau tuli? Aku tidak ingin orang‑orang melihatku pulang bersama penjahat sepertimu. Kau tahu apa yang akan terjadi jika semua orang mengetahui bahwa CEO Wins IT baru saja menikahi seorang mantan narapidana?”
Lucian terkekeh sinis.
“Mereka akan menertawakanku. Mereka akan mengira aku sudah kehilangan akal sehat.”
Annabella mengepalkan tangan. Di hatinya ingin protes, tapi Lucian berbicara lebih dulu.
“Pulanglah sendiri.”
“Bagaimana aku bisa pulang sendiri? Aku bahkan tidak tahu jalan dari sini ke rumahmu.”
“Kalau begitu, gunakan otakmu untuk mencari jalan pulang.”
Lucian menatapnya tajam, lalu melanjutkan ancamannya.
“Dan dengarkan baik‑baik, Annabella. Jangan pernah berpikir untuk melarikan diri. Jika kau berani kabur, aku akan menghentikan seluruh biaya pengobatan Aditya. Aku ingin melihat apakah kau masih bisa bersikap keras kepala ketika orang yang paling kau sayangi itu kehilangan kesempatan untuk hidup.”
Annabella menunduk perlahan.
“Baik,” jawabnya dengan suara lirih.
“Bagus. Setidaknya kau masih tahu diri.”
Kaca jendela mulai naik.
“Tapi, Lucian—”
Belum sempat Annabella menyelesaikan ucapannya, mobil itu sudah melaju pergi meninggalkannya sendirian.
Ia tertegun menatap mobil yang semakin jauh sampai akhirnya menghilang.
Lucian benar‑benar meninggalkannya tepat di hari pernikahan mereka. Ia menggenggam erat buku nikah di tangannya.
Kalau kau tidak sudi duduk bersamaku, untuk apa kau memaksaku menikah?
Annabella menghela napas panjang. Ada kemarahan di dadanya, tapi ia teringat janji kepada Aditya untuk menahan emosi. Ia tidak akan merengek seperti dulu lagi.
“Tidak apa‑apa. Aku bisa pulang sendiri,” gumamnya pelan.
Namun sebelum kembali ke rumah Lucian, ia memutuskan untuk mengunjungi satu tempat yang sudah lama tidak ia datangi: makam kedua orang tuanya.
Pemakaman itu terasa sepi. Annabella berjalan menuju dua makam yang berdampingan. Sudah delapan tahun sejak ayah dan ibunya meninggal dunia. Ia berjongkok di depan batu nisan, lalu menyentuhnya dengan mata berkaca‑kaca.
“Ayah…
Bu…”
Air matanya jatuh ke tanah.
“Maafkan Bella. Maaf karena baru sekarang Bella datang lagi. Maaf karena Bella tidak bisa menjadi anak yang baik. Maaf karena Bella tidak bisa menjaga semua yang Ayah dan Ibu tinggalkan untukku.”
Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan.
“Aku baru keluar dari penjara. Aku kehilangan banyak hal. Paman Aditya sekarang juga terbaring koma. Aku tidak tahu bagaimana cara menyelamatkannya, kalau bukan karena bantuan pria yang sangat membenciku.”
Annabella terdiam sejenak.
“Dan sekarang… aku sudah menikah dengannya. Aku tidak tahu apakah ini keputusan yang benar. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak bisa membiarkan Paman meninggal hanya karena aku.”
Setelah itu, ia mencabuti rumput‑rumput liar di sekitar makam. Selesai membersihkan tempat itu, ia berdoa agar kedua orang tuanya tenang di alam sana.
Kematian mereka masih menjadi luka yang belum sembuh. Ayahnya tewas dalam sebuah penyerangan, sedangkan ibunya meninggal karena bunuh diri.
“Ayah, Ibu, doakan aku. Aku harus bertahan. Aku harus menyelamatkan Paman Aditya.”
Annabella menyentuh batu nisan untuk terakhir kalinya.
“Aku akan datang lagi.”
Ia pun berjalan meninggalkan pemakaman, menuju rumah sakit tempat pamannya dirawat.
ketika mantan napi menjadi istri CEO Hero Lucian Heroin Annabella.
dtggu kelanjutan ny mom ,,
dn apa bnr Erwin tu kk ny anabella???