NovelToon NovelToon
ASMARA DI HATIKU

ASMARA DI HATIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

"Minggu depan, kamu pindah sekolah ke Jogja! Kamu harus dididik lebih keras supaya tingkah begajulanmu itu hilang!"

Mendengar ucapan Bapaknya itu, Wira langsung kaget bukan main. Dia merasa keputusan Bapaknya itu bagaikan keputusan hakim sidang yang menjatuhkan vonis penjara seumur hidup.

Wira memang murid salah satu SMA di Bogor. Dirinya yang terkenal begajulan, suka mencari keributan, susah diatur, dan keras kepala, akhirnya akan mengarungi sisa masa sekolahnya di kota Jogja.

Namun, keputusan Bapaknya itu sangat tepat. Karena di Kota Jogja itulah sebuah perubahan besar dalam diri Wira akan didapatkan.

PLUS WIRA AKAN MENDAPATKAN CINTANYA DI SANA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 ULAH YANG KELEWATAN

Akhir pekan di rumah Bude Ning biasanya terasa seperti simulasi wajib militer bagi Wira.

Mulai dari menyapu halaman belakang yang luasnya seukuran lapangan bulu tangkis, menguras bak mandi, hingga memotong rumput liar.

Namun...

Anehnya...

Hari Sabtu dan Minggu kemarin Wira melakukan semua itu tanpa satu pun gerutuan keluar dari bibirnya.

Pikirannya melayang jauh, tertinggal pada sepasang mata teduh dan senyum memaafkan di ruang kelas XI IPS 2 pada Jumat sore.

Bahkan Bude Ning sampai mengerutkan kening, menatap keponakan begajulannya itu dengan tatapan curiga saat Wira menyikat lantai teras sambil bersenandung pelan.

"Kamu kesambet jin pohon mangga, Le? Nyikat lantai kok sambil nyanyi senyum-senyum sendirian ngono, toh?" tegur Bude Ning saat itu.

Namun hanya dijawab Wira dengan cengiran konyol.

.....

.....

Senin pagi kembali tiba.

Untuk pertama kalinya sejak ia dibuang ke Jogja, Wira melangkah masuk ke gerbang SMA Budi Bangsa dengan perasaan yang berdebar aneh.

Bukan debaran untuk mencari gara-gara, melainkan antisipasi untuk kembali duduk di sebelah gadis bernama Asmara.

Namun, sisa-sisa kebiasaan lamanya belum sepenuhnya hilang.

Meski kemejanya kini tidak lagi dikeluarkan secara vulgar, Wira tetap mengabaikan aturan pemakaian dasi yang benar, membiarkannya longgar menggantung.

Saat ia masuk ke kelas, Asmara sudah duduk di sana. Gadis itu menoleh, memberikan senyuman tipis dan anggukan sopan sebagai sapaan selamat pagi.

"Pagi," balas Wira, suaranya agak kaku. Ia duduk di kursinya, berusaha keras untuk tidak bertingkah canggung.

Ingatan tentang bagaimana ia nyaris menangis karena kelembutan gadis itu di insiden es teh tempo hari masih terlalu segar.

"Rok lo... udah nggak ada nodanya?" tanya Wira tiba-tiba, memecah kecanggungan.

Pertanyaan yang sebenarnya sangat konyol...

Konyol banget, sumpah!

Namun, itulah satu-satunya kalimat yang berhasil dirakit oleh otaknya.

Asmara tertawa kecil, suara tawa yang terdengar seperti gemerincing lonceng angin. "Sudah saya cuci dan sikat pakai sabun cuci batangan peninggalan nenek, Mas Wira... Nodanya hilang tanpa sisa... Mas tidak perlu memikirkannya lagi."

Wira mengangguk kaku, membuang pandangan ke arah papan tulis untuk menyembunyikan wajahnya yang mulai memanas.

.....

.....

Tiga jam pelajaran pertama berlalu dengan damai.

Tidak ada lagi aksi gebrak meja, tidak ada pulpen yang ditekan-tekan dengan berisik.

Wira mencoba, UNTUK PERTAMA KALINYA DALAM SEJARAH HIDUPNYA, menjadi murid yang normal.

Hingga akhirnya bel istirahat berbunyi.

Asmara pamit menuju ruang guru untuk menyerahkan berkas OSIS, sementara Wira memutuskan untuk pergi ke toilet di bagian belakang sekolah, dekat dengan gudang olahraga.

Kawasan itu agak sepi, dinaungi oleh pepohonan rindang dan dibatasi oleh tembok tinggi yang berbatasan langsung dengan jalan perkampungan.

Selesai mencuci wajahnya di wastafel toilet, Wira melangkah keluar.

Saat ia melewati lorong sempit di samping gudang olahraga, tiba-tiba langkahnya terhenti.

Telinganya menangkap suara tawa cekikikan dari sekelompok siswa laki-laki yang sedang asyik nongkrong sambil merokok sembunyi-sembunyi di balik tumpukan matras bekas.

Wira awalnya tidak peduli. Itu bukan urusannya.

Namun, sebuah nama yang meluncur dari mulut salah satu siswa itu membuat darah Wira seketika berhenti mengalir, lalu mendidih dalam hitungan detik.

"Eh, kalian lihat nggak sih si Asmara hari Jumat kemarin?" Suara itu milik Bima, siswa kelas XII yang terkenal sebagai pentolan anak nakal di sekolah ini, saingan geng Rakha.

"Roknya basah di bagian paha, Bro. Warnanya cokelat-cokelat gitu. Hahaha!" lanjut Bima.

"Anjir, serius lo, Bim? Wah, diam-diam menghanyutkan juga tuh cewek keraton," sahut temannya yang bertubuh kurus, disusul tawa mesum yang membuat telinga berdenging.

Bima mengembuskan asap rokoknya dengan gaya sok jagoan. "Gue denger sih ketumpahan es tehnya si anak baru yang belagu itu. Tapi ya kali cuma ketumpahan. Jangan-jangan si Asmara pura-pura kalem doang, aslinya mah gampang dideketin kalau tahu caranya. Alah, cewek sok suci gitu biasanya munafiknya tingkat dewa. Kapan-kapan kita tes aja, seru kali ya bikin dia nangis di gudang."

Krak!

Wira tidak sadar tangannya telah mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan berbunyi. Di dalam kepalanya, logika jalanannya mengambil alih.

Filosofi air, kesabaran, kedamaian—semua ajaran tak kasat mata yang mulai merasukinya sejak hari Jumat, menguap tanpa sisa, digantikan oleh HAWA PANAS KOBARAN API NERAKA.

Asmara, gadis yang telah memperlakukannya dengan kemuliaan hati luar biasa, gadis yang merelakan seragamnya basah tanpa mengeluh, kini dijadikan bahan lelucon murahan dan pikiran mesum oleh sekumpulan bajingan tengik.

Tanpa berpikir dua kali, tanpa peduli pada statusnya sebagai murid baru yang sudah mengantongi SP-3 dari sekolah lamanya...

Wira melangkah maju keluar dari bayang-bayang lorong.

"Tarik ucapan lo, bangsat!!!" bentak Wira. Suaranya menggelegar, memantul di dinding-dinding gudang yang sempit itu.

Kelompok yang terdiri dari empat siswa kelas XII itu tersentak kaget.

Bima menjatuhkan rokoknya dan buru-buru menginjaknya, matanya menatap tajam ke arah Wira yang berdiri dengan rahang mengeras, dada membusung, dan mata yang menatap mereka seperti malaikat maut.

"Oh, ini dia nih si pahlawan kesiangan dari Bogor," cemooh Bima setelah menyadari siapa yang datang.

Ia melangkah maju, diikuti ketiga temannya yang langsung membentuk formasi setengah lingkaran, mengepung Wira.

"Kenapa lo? Kesinggung pawang lo kita omongin? Lo udah dicuci otaknya ya sama si abdi dalem sok suci itu?" ucap Bima yang terasa merendahkan harga diri Asmara tepat di depan wajah Wira.

Wira tidak menjawab dengan kata-kata.

Batas kesabarannya sudah jebol.

Dengan gerakan kilat yang tidak sempat diantisipasi oleh siapa pun, Wira menerjang maju.

Tinju kanannya melayang dengan kekuatan penuh, mendarat telak di rahang kiri Bima.

Buggghhh!!!

Terdengar suara tulang berderak. Bima terpelanting ke belakang, menabrak tumpukan matras bekas hingga roboh, darah segar langsung mengucur dari sudut bibirnya.

"Bima!" teriak teman-temannya terkejut. Mereka menatap Wira dengan amarah yang meledak. "Hajar anak ini!"

Ketiga senior itu langsung menyerbu Wira secara bersamaan.

Di sinilah insting pertarungan jalanan Wira benar-benar teruji dan seperti bangkit dari kubur.

Ia merunduk menghindari pukulan siswa yang kurus, lalu membalas dengan sebuah pukulan uppercut yang bersarang di perut siswa tersebut hingga ia jatuh berlutut memegangi perutnya yang mual.

Siswa ketiga mencoba memiting leher Wira dari belakang, namun Wira menyikut rusuknya dengan keras, lalu membanting tubuh siswa itu melewati bahunya. Tubuh siswa itu menghantam papan mading kayu di dinding lorong.

Braaaakkk!!! praaang!!!

Kaca pelindung mading itu pecah berkeping-keping, pecahannya menghujani lantai semen.

Keributan besar pecah tak terkendali.

Suara bantingan, teriakan kesakitan, dan pecahan kaca langsung menarik perhatian siswa-siswa lain yang kebetulan berada di dekat area kantin.

Bima yang baru saja pulih dari pukulan pertama kembali bangkit. Matanya merah karena marah dan malu. Ia menyambar sebuah gagang sapu kayu yang bersandar di dinding dan mengayunkannya ke arah kepala Wira.

Wira berhasil menangkisnya dengan lengan kirinya.

Rasa ngilu menjalar hingga ke bahu, namun adrenalin yang membanjiri tubuhnya membuat rasa sakit itu terasa seperti gigitan semut.

Wira merebut gagang sapu itu, mematahkannya menjadi dua bagian dengan lututnya, lalu menendang dada Bima hingga siswa kelas XII itu terpental menabrak deretan pot tanaman hias kesayangan kepala sekolah.

Prang!!! Prang!!!

Tiga pot besar dari tanah liat pecah berantakan, tanah dan tanaman palem berhamburan mengotori lorong.

Napas Wira memburu kasar.

Kemejanya robek di bagian pundak, sudut bibirnya berdarah karena sempat terkena pukulan nyasar, dan buku-buku jarinya memerah. Ia berdiri di tengah kekacauan layaknya seekor monster yang baru saja dilepaskan dari rantainya. Bima dan ketiga temannya mengerang kesakitan di lantai, tak sanggup lagi berdiri.

"Gue bilang," desis Wira, napasnya tersengal, ia mencengkeram kerah kemeja Bima yang sudah terkapar, mengangkat separuh tubuh seniornya itu dari lantai.

"Jangan pernah... sebut nama Asmara pakai mulut kotor lo lagi anjing! Paham?!"

Namun, sebelum Wira sempat melayangkan pukulan terakhirnya ke wajah Bima, sebuah peluit ditiup dengan sangat keras dan melengking panjang, memekakkan telinga siapa saja yang mendengarnya.

"WIRA AJI PRATAMA!!! BERHENTI!!!"

Suara bariton yang menggelegar itu membuat seluruh aktivitas di lorong tersebut terhenti.

Wira menoleh dengan mata menyalang, tangannya masih mencengkeram kerah Bima.

Di ujung lorong, kerumunan siswa yang menonton telah membelah. Di sana berdiri Pak Anton, guru BK bertubuh besar dengan wajah merah padam menahan murka.

Di belakang Pak Anton, beberapa guru lain tampak syok melihat fasilitas sekolah yang hancur berantakan—mading pecah, pot hancur, dan empat siswa senior terkapar babak belur.

Wira melepaskan cengkeramannya. Bima jatuh terkulai ke lantai.

Wira berdiri perlahan, merapikan kemejanya yang robek dengan gerakan kasar.

Ia merasa tidak bersalah.

Ia merasa benar.

Ia melakukan ini untuk membela kehormatan Asmara!

Namun, keyakinan Wira hancur lebur pada detik berikutnya.

Matanya tanpa sengaja menangkap sesosok tubuh di antara kerumunan siswa yang menonton di belakang Pak Anton.

Asmara berdiri di sana.

Gadis itu tidak ikut berteriak panik seperti siswi-siswi lain. Tangannya memegang setumpuk map dari ruang guru.

Asmara menatap lurus ke arah Wira yang berdiri di tengah puing-puing kaca dan tanah pot yang berserakan, dengan tangan yang berlumuran darah.

Wira menelan ludah.

Ia mengharapkan Asmara akan mengerti.

Ia mengharapkan gadis itu melihat bahwa Wira adalah pahlawannya.

Tetapi, tatapan Asmara menghancurkan harapannya. Tidak ada rasa terima kasih di mata teduh itu. Tidak ada kekaguman.

Yang terpancar dari mata Asmara hanyalah kekecewaan yang teramat dalam, sebuah kesedihan yang hening karena menyadari bahwa pemuda di depannya ini baru saja membuktikan bahwa kekerasan adalah satu-satunya bahasa yang ia kuasai.

Asmara memalingkan wajahnya, memutar tubuhnya, dan melangkah pergi menembus kerumunan, menolak melihat Wira lebih lama lagi.

Dunia Wira seketika runtuh.

Rasa sakit di lengan dan sudut bibirnya tak sebanding dengan rasa nyeri yang tiba-tiba meremukkan dadanya.

Di tengah teriakan Pak Anton yang memerintahkannya untuk segera menyeret langkah ke ruang BK, Wira menyadari satu hal yang paling fatal: dalam usahanya untuk melindungi Asmara, ia justru baru saja menghancurkan jembatan kecil yang mulai terbangun di antara mereka.

Ulahnya kali ini benar-benar kelewatan.

1
Kesya Ohilitean
aku senang sekali kerana novel mau membantu aku untuk mehilakan sertes
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Terima kasih banyak, Kak Kesya... 😍😍😍

Semoga Kakak selalu sehat, ya... Selalu bahagia juga buat Kak Kesya... 😍😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!