Felicya adalah perempuan yang mempunya jiwa yang tenang. Ia memegang prinsip stoik; tidak semua hal harus dilawan, dan tidak semua luka harus dibalas.
Namun prinsip itu diuji ketika ia bertemu seorang laki-laki Machiavellian-cerdas, manipulatif, dan terbiasa memainkan manusia seperti bidak dalam permainan.
Di saat yang sama, Felicya harus berhadapan dengan perselingkuhan suaminya bersama seorang perempuan NPD.
Di antara kebohongan, manipulasi, dan permainan ego, Felicya perlahan menyadari bahwa membalas dengan elegan, bukan berarti jahat. karena mempertahankan boundariesnya dan tidak kehilangan jati dirinya, hanya perbuatan 2 orang yang mempunyai 2 sifat Dark Psichology.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Ayu Ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Meneror Felicya
Kembali dengan mereka bertiga yang masih berada di rumah sakit. Galang dan Felicya masih menemani ibunya di sana.
Tiga menit kemudian nama ibu mertuanya dipanggil oleh suster.
"Nyonya ROPEAH..."
Galang yang mendengar nama mertuanya dipanggil. Galang menuntun mertuanya ke dalam bersama Felicya.
Dokternya menyapa di dalam.
"Assalamu'alaikum, kalau boleh tahu yang nyonya ROPEAH yang mana yah?" tanya dokter.
"Oh ini Dok, ibu saya," ucap Felicya menunjuk ke arah ibunya.
"Baik. Ibu Ropeah tolong naik ke bed,"
Ibunya Felicya naik ke atas Bed untuk diperiksa.
"Ibu kalau boleh tahu keluhannya apa yah?"
"Saya ngerasa sesak nafas dokter, tapi gak parah banget sih," ucap Ibunya Felicya.
"Oke saya periksa dulu yah bu," Dokternya pun mengarahkan stetoskop ke dada ibunya Felicya.
"Coba ibu tarik napas habis itu dibuang," dokter memberi arahan.
"Baik Dok," Ibunya Felicya lalu menarik napasnya. Lalu ia membuangnya pelan-pelan.
Dokter mendengar suara napas ibu Felicya masih terasa berat. Suara napasnya bergemuruh di dalam dada.
"Baik ibu sudah, silahkan boleh turun dari bed," ujar dokternya.
Dokternya lalu kembali ke mejanya dan mulai mengetik keluhannya melalui komputernya dan sambil menjelaskan.
"Saya mau jelasin, jadi begini ibu anda napasnya masih terasa berat cuma memang beratnya itu bukan dari dahak, tapi dari Asmanya yang cukup parah menurut saya. Jadi nanti kemungkinan ibunya saya mau anjurkan untuk dirawat yah Pak,Bu. Bagaimana apa Bapak dan Ibu setuju ibu tercintanya ini dirawat saja?"
Felicya yang mendengar ibunya disuruh dirawat mulai merasa khawatir dan gelisah. Dia tidak ingin ibu tercintanya sampai dirawat.
"Mas ini seriusan ibun disuruh rawat atau bagaimana? aku sendiri sih gak mau sampai ibun dirawat di rumah sakit, nanti aku gak tega melihat ibun diinfus Mas, ibun itu paling gak suka diinfus,"
"Tapi ini untuk kepentingan Bunda. Ayangg kamu harus pikirin keadaan Bunda," ucap Galang meyakinkan Felicya agar mau mengizinkan ibunya sendiri untuk dirawat. Felicya yang di bujuk dengan Galang akhirnya menyetujui keputusan Galang.
Galang buka bicara. "Baiklah Dok. Saya dan istri saya setuju. Ibu mertua saya dirawat saja,"
"Baik sebagai tanda bukti, Bapak boleh tanda tangan di samping di bawah sini yah Pak," ujar dokternya menunjukan letak tanda tangani di bawahnya.
Galang menanda tangani surat izin dirawat.
Felicya menundukan pandangan. Dia sebenarnya tidak ingin dirawat. Namun. Bagaimana lagi ibunya punya Asma parah. Mau tidak mau dia harus lengizinkannya demi kesehatan ibu tercintanya.
Galang menuju ke ruang administrasi lagi untuk menanyakan biaya dan membayarnya.
"Mbak. Ini ibu saya disuruh dirawat berapa yah kira-kira biayanya kalau pake cash?" tanyanya.
"Sebentar yah Pak, saya cek dulu," ucap Mbak Kasir.
Galang masih setia menunggu di kasir.
Felicya yang sedang menunggu di ruang observasi. Dia melamun sendirian diluar depan pintu.
Dia memikirkan kondisi ibunya.
"Ibun. Andai aku tinggal di rumah ibun sementara mungkin ibun gak akan kambuh," gumamnya ngerasa bersalah.
Galang yang sudah menyelesaikan urusan administrasi. Dia kembali ke ruang observasi. Galang melihat Felicya sedang melamun sendirian di depan pintu.
"Sayang..." panggil galang menepuk pundak Felicya.
"Ehhh.. Iya Mas," Felicya kaget saat Galang menepuk pundaknya.
"Kamu kenapa melamun di depan pintu begitu? kamu kepikiran Bunda sayang?"
"Iya Mas.. Aku kepikiran sama Bunda," sahut Felicya dengan raut wajahnya yang sedih. Hatinya benar-benar gelisah, sedih, dan bersalah pada ibunya.
"Gak apa-apa sayang, pasti bunda baik-baik saja. Semoga Bunda gak parah. Ini hanya perlu istirahat aja dan dapat penanganan yang tepat sayang, kalau kamu yang urus sendiri di rumah tanpa pantauan dari dokter kayak sekarang. Kamu akan bingung." ujar Galang berusaha menenangkan istrinya.
Ponsel Felicya bunyi ada pesan masuk. Saat dia melihat ke layar ponselnya. Ada pesan masuk tidak dikenal.
No name:
"Hai Felicya. Ini aku seseorang yang tadi memberimu bunga, aku sengaja memberimu bunga agar kamu dan suamimu bertengkar. Haha..." chat sudah dibaca oleh Felicya.
Felicya mengerutkan keningnya saat membaca chat orang tersebut.
"Dia siapa sih, kenapa dia mau ganggu rumah tanggaku?" gumam Felicya.
Galang yang melihat raut wajah Felicya seperti kesal. Lalu Galang bertanya padanya.
"Kamu ada apa sayang? aku lihat wajahmu kayak lagi nahan kesal?" Galang penasaran dengan reaksi Felicya saat melihat ke ponselnya sendiri.
"Mas aku bingung, orang yang tadi kasih aku bunga dia chat aku begini," Felicya memperlihatkan isi chatnya ke suaminya.
Galang membacanya.
No name:
"Hai Felicya. Ini aku seseorang yang tadi memberimu bunga, aku sengaja memberimu bunga agar kamu dan suamimu bertengkar. Haha..."
"Siapasih yang menerror keluargaku terus, kayaknya banyak banget yang gak suka sama pernikahanku dengan Falecya," gumamnya.
Galang tidak tahu bahwa yang menerrornya bukan karena sebuah pernikahannya, melainkan balas dendam atas perilakuan Galang pada mereka dulu.
Mereka sengaja mulai mengusik kehidupannya Galang agar galang berani menghadapi mereka secara empat mata.
Felicya melihat respon Galang hanya dengan raut wajahnya yang tidak bisa dia artikan. Felicya bertanya pada Galang.
"Mas kenapa kamu malah melamun?"
"Eh iya sayang. Maaf yah Mas. Lagi mikirin siapa dalang dibalik semua ini, kenapa banyak sekali yang mau menerror Mas," ucapnya.
Felicya mendekati wajahnya ke Galang dia merasa aneh dengan raut wajah suaminya itu.
"Mas kamu gak menyembunyikan sesuatu dari akukan?" tanya Felicya menyelidiki Galang dengan jarak wajah mereka yang dekat. Aura di sana tidak begitu dingin, tapi melihat Felicya menyelidiki dengan tatapan tajamnya tidak seperti biasanya. Galang gugup saat ini. Dia tahu istrinya sedang mengintrogasi dirinya.
Entah Felicya merasa lelah untuk belakangan ini. Dia menjadi tegas sekarang kepada Galang suaminya. Felicya juga merasa lelah dengan terror berkali-kali hari ini dari di rumah Galang sampai dirumah sakit dan terror juga lewat ponselnya. Kepala Felicya seperti ingin meledak dengan apa yang telah terjadi. Seumur hidupnya dia tidak pernah mendapatkan terror dari siapapun. Baru kali ini dia mendapatkan terror setelah menikah dengan Galang suaminya. Dia merasa ada yang tidak beres, Felicya merasa suaminya sedang membunyikan sesuatu yang besar dari dirinya.
Galang mencoba menetralkan hatinya yang sedang berdetak tidak karuan. Dia merasa istrinya seperti muak dengan dirinya. Dia mencoba menenangkan istrinya agar tidak mencurigai dirinya.
"Tu...tunggu Felicya. Kamu jangan mencurigai Mas dulu, belum tentu Mas mengenali orang itu. Mas saja menangkapnya tadi, mau tahu siapa. Tapi Mas malah di injak kaki Mas sayang," ucap Galang bersandiwara bersedih. Dia sengaja agar istrinya harus tetap percaya padanya.
Pertanyaan Galang membuat dirinya semakin aneh. Dia sama sekali tidak menanyakan lelaki misterius itu padanya.
"Aku jadi nethink sama kamu Mas, yasudahlah aku gak mau ambil pusing. Aku mau fokus kesehatan ibun dulu." ucap Felicya ketus. Dia benar-benar merasa capek hari ini, lelah atas kejadian tidak terduga dan dia lelah harus mengurus ibu tercintanya sedang sakit.
Galang yang melihat perubahan Felicya. Dia hanya diam, dia tidak ingin mengganggu Felicya sementara waktu ini.