Hanis memiliki empat orang anak Yang masih kecil, namun suaminya sedang menganggur. Demi anak anaknya bisa makan dan bersekolah maka Hanis rela menjadi ibu pengganti. Ia menyewakan rahimnya pada Sean, seorang pria kaya yang istrinya divonis mandul. Namun, keajaiban terjadi, saat Hanis sudah positif mengandung anak Sean, sang istri sah juga dinyatakan hamil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghindar
Hari berikutnya, usai sarapan pagi, Sean langsung bergegas berangkat ke kantor. Ada urusan yang harus ia selesaikan.
“Aku langsung berangkat ya. Tolong kamu urus soal Hanis kemarin.” Sean mengecup sekilas pipi Jinny, kemudian menyambar tas kerjanya dan berjalan cepat ke luar rumah, menuju mobilnya yang sudah dipanaskan di carport.
Sean tidak pamit pada Hanis sama sekali. Bahkan saat makan juga Sean hanya berbicara pada Jinny sambil sesekali mengetikkan sesuatu di ponselnya. Seolah Hanis ada namun tidak kasat mata.
Usai mobil Sean bergerak meninggalkan carport, Jinny mengalihkan pandangannya pada Hanis. “Nis, kita perlu hitung masa subur kamu.”
Hanis mengangguk. “Boleh. Caranya bagaimana?”
Sejujurnya, meski sudah memiliki empat anak, Hanis tidak pernah tahu cara menghitung masa subur. Ia hanya sekedar berhubungan dan kebetulan hamil.
Jinny membuka aplikasi kalender menstruasi di ponselnya. “Terakhir kamu menstruasi di tanggal berapa? Hari pertamanya.”
Hanis melongok ke kalender yang tertampil di layar ponsel Jinny. Berusaha mengingat-ingat tanggalnya, harinya. “Ini. Hari Kamis ini.”
“Ini ya? Wah… ini sudah hampir masuk periode subur. Puncak ovulasinya dua hari lagi.”
“Berarti… prosesnya lima hari lagi?” tanya Hanis hati-hati.
Jinny mengangguk. “Iya, persiapan ya kamu. Sean juga biar persiapan.”
“Persiapan? Maksudnya?”
Yang Hanis tahu, persiapan sebelum berhubungan hanya mandi dan membersihkan diri. Tapi jika masih dua hari lagi, kenapa harus persiapan sekarang?
“Minum vitamin. Makan makanan bergizi. Jangan kecapekan. Jangan stress.”
Hanis mengangguk paham. “Baik…”
“Ya sudah, sana kamu istirahat. Bebas sih ngapain aja. Yang penting kamu seneng, jangan stress.” Jinny mematikan layar ponselnya yang tadi menampilkan kalender masa subur dan bangkit dari duduknya. “Aku mau pergi pilates. Kalau sda apa-apa, telepon aku aja nggak apa.”
“Ya, Jinny.”
***
Siang itu, Jinny menyusul ke kantor Sean usai pilates. Sebenarnya info soal masa subur Hanis bisa disampaikan hanya melalui pesan atau telepon, tapi entah kenapa Jinny ingin berbicara secara langsung dengan suaminya.
Jinny duduk di sofa yang berada di ruangan kantor Sean, sementara sang suami tengah sibuk membalas pesan dari kolega bisnisnya.
“Sean,” panggil Jinny yang merasa diabaikan.
“Bentar. Bentar, Jin. Ini aku masih bahas soal rencana pengiriman bahan baku,” sergah Sean.
“Ya udah.” Jinny melipat kedua tangan di depan dada. Namun hanya bertahan beberapa detik karena layar ponselnya di atas meja menyala, menampilkan notifikasi pesan dari grup sosialitanya.
“Gimana? Gimana?” Sean yang sudah selesai dengan urusan pekerjaannya melangkah mendekati Jinny. “Kenapa kesini? Tumben banget.”
Jinny mendongak dari layar ponsel. “Ini, aku diajak ke Singapore sama teman-teman.”
Sebenarnya itu bukan yang akan Jinny sampaikan. Itu adalah informasi baru karena ajakan teman-temannya barusan.
Sean mendudukkan diri di sofa yang sama dengan istrinya, ikut melongok ke layar ponsel di tangan Jinny. “Ke Singapore? Kapan?”
“Aku bisa berangkat besok.”
“Besok? Nggak bisa besok, Jin. Besok malam kita ada undangan gala dinner dari perusahaan—”
“Kamu, bukan kita,” potong Jinny.
“Kamu istriku. Kamu harus datang sama aku,” balas Sean. “Kenapa dadakan sih? Acaranya apalagi?”
“Ulang tahun teman sekalian mau ada midnight sale…”
“Bukan acara penting.”
“Sekaligus menghindari kalian. Aku nggak mau ada di rumah pas kamu sama Hanis ngelakuin itu,” ujar Jinny ketus. “Puncak masa suburnya lima hari lagi.”
Sean terdiam. Kaget ternyata secepat itu. Rupanya ia tidak punya banyak waktu untuk mempersiapkan diri maupun membangun bonding awal bersama Hanis.
“Tapi, Jin…”
“Aku nggak mau dengar kalian!”
“Selesai gala dinner kamu boleh langsung berangkat.”
“Oke, deal! Aku booking tiketnya sekarang,” putus Jinny.
Sean hanya bisa menghela napas panjang. Tidak bisa menyalahkan Jinny yang mau menghindar, melarikan diri ketika proses itu terpaksa dilakukan.
...****************...