Setelah mengorbankan wujud fananya untuk menyelamatkan jiwa Su Qingyue, Lin Chen hancur oleh cakar Kaisar Langit dari Ras Naga Sejati.
Sisa jiwanya yang nyaris sirna diselamatkan oleh pengorbanan umur Tian Yu yang memanggil Esensi Phoenix Abadi, mengubahnya menjadi sebuah kepompong api. Atas kehendak Tuan Istana Ujung Takdir, kepompong itu dibuang ke dunia fana murni Kerajaan Chen tempat di mana hukum kultivasi, Qi spiritual, dan ancaman dewa tidak pernah ada.
Ratusan tahun berlalu dalam keheningan, menunggu sang Penantang Langit untuk menetas kembali. Tanpa kultivasi, tanpa tombak dewa di tangannya, namun membawa fondasi fisik gabungan dari Naga, Kekacauan, dan Phoenix Abadi, Lin Chen memulai kehidupan keduanya bukan sebagai monster kehancuran, melainkan sebagai seorang pangeran fana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Kadal Penghisap Sumsum
KRAAAK!
Meja kayu jati padat di tengah Aula Bunga Persik hancur berantakan menjadi dua bagian. Pangeran Pertama Lin Feng berdiri dengan napas memburu, urat-urat di lengannya menonjol menahan amarah yang meluap-luap. Di bawah kakinya, topeng kayu ukiran iblis bermata satu itu tergeletak menatap langit-langit.
"Keparat dari Utara itu! Berani-beraninya mereka mengirimkan rongsokan ini untuk adikku?!" raung Lin Feng, tangannya mencengkeram gagang pedangnya hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku akan membawa Pasukan Elang sekarang juga dan merobek mulut Duke itu dari wajahnya!"
"Tenanglah, Feng'er!" tegur Permaisuri Lin Yue, meski dadanya sendiri naik turun menahan murka. "Jika kau menyerang mereka di kediaman tamu, kau akan memicu perang terbuka antar Kadipaten. Ayahmu tidak akan membiarkan itu terjadi di hari ulang tahun adikmu!"
"Lalu kita diam saja melihat Chen'er dihina?!" potong Putri Lin Xue, matanya berkaca-kaca menatap adik bungsunya yang masih berdiri dengan tenang.
Lin Chen, yang menjadi pusat dari badai amarah keluarganya, hanya menghela napas pelan. Ia berjalan melewati pecahan meja, memungut topeng iblis kayu tersebut dengan santai.
"Kak Feng, Ibu, Kak Xue... ini hanya sepotong kayu," ucap Lin Chen dengan senyum lembut yang seketika melunturkan separuh amarah di ruangan itu. Ia menatap Lin Feng dengan tatapan hangat. "Mengapa Kakak harus mengotori pedang Kakak demi orang-orang yang hanya mendengar gosip murahan? Lagipula, jika Chen'er tidak peduli, untuk apa Kakak marah?"
"Tapi, Chen'er..." Lin Feng menelan ludah, hatinya mencelos melihat kebesaran hati adiknya.
"Tidak apa-apa," Lin Chen melempar topeng itu ke perapian di sudut ruangan, membiarkan apinya melahap ukiran jelek tersebut. Ia menepuk bahu kakaknya. "Biarkan saja mereka tidur nyenyak malam ini. Keadilan selalu punya caranya sendiri untuk datang."
Mendengar kata-kata itu, Lin Yue tersenyum bangga dan memeluk putranya. Di mata mereka, Lin Chen adalah pangeran yang terlalu berhati malaikat, tidak peduli pada intrik dan kebencian fana.
Namun, tidak ada yang tahu bahwa bagi Lin Chen, keadilan yang ia maksud tidak pernah datang dari langit. Keadilan selalu datang dari bayang-bayang.
Tengah malam menyelimuti Ibukota.
Di balkon kamarnya, Lin Chen bersandar dengan malas pada pagar. Ia tidak perlu memanggil, ia hanya membiarkan seutas Qi memancar ke arah bayangan pohon di bawah.
Seketika, sesosok berpakaian hitam legam dengan topeng kain separuh wajah melesat tanpa suara dan berlutut di atas balkon. Ia bukanlah salah satu dari keempat ketua paviliun, melainkan Shi Jiu (Nomor Sembilan), salah satu anggota elit dari Paviliun Pembunuh Bayangan.
"Salam, Kakak Pertama," bisik Shi Jiu dengan penuh hormat.
"Sampaikan pesan ini pada Xie Yan dan Mo Yuan," Lin Chen menatap bulan sabit di atasnya, nada suaranya datar, memancarkan kedinginan yang membuat Shi Jiu merinding. "Kudengar tamu kita dari Kadipaten Salju sangat menyukai kemewahan. Buat mereka menyatu dengan alam malam ini. Jangan bunuh siapa pun. Ambil semuanya. Dan pastikan saat matahari terbit, mereka tidak punya apa pun selain kulit yang menempel di tubuh mereka."
"Sesuai perintahmu, Kakak Pertama," Shi Jiu mengangguk cepat.
"Satu hal lagi," Lin Chen menoleh, matanya berkilat emas. "Beri tahu keempat ketua paviliun pemalas itu, aku beri mereka waktu setengah tahun. Jika dalam enam bulan mereka tidak menembus Kondensasi Qi Tingkat Puncak, aku sendiri yang akan melempar mereka ke dasar Jurang Kematian Utara."
Shi Jiu menelan ludah, lalu menghilang ke dalam malam layaknya asap.
Jauh di Utara, di markas rahasia Aliansi Bayangan Langit, jeritan tertahan menggema dari ruang bawah tanah yang lembap.
Tempat itu adalah ruang interogasi khusus yang dikelola oleh Xie Yan. Di tengah ruangan, seorang mata-mata dari kekaisaran musuh terikat di tiang besi, meronta dengan wajah pucat pasi.
Di sekeliling tiang itu, Mo Yuan, Shen Lu, dan Xie Yan sedang duduk santai di atas kursi kayu, masing-masing memegang sekantung koin perak.
"Aku bertaruh dia hanya bertahan sepuluh tarikan napas lagi," ucap Mo Yuan, mengusap dagunya. Bakat alami Mo Yuan di bidang pembunuhan jarak dekat telah membuatnya memiliki tubuh yang luar biasa kebal dan mematikan.
"Kau terlalu meremehkan ketahanan mata-mata," Shen Lu menguap, pedang besinya tersandar di kaki kursi..
"Aku bertaruh dua puluh tarikan napas."
Xie Yan, sang jenius strategi dan ahli penjinak binatang aneh, membuka kipas bulu bangaunya sambil tertawa licik. Bakat Xie Yan bukanlah pertarungan fisik, melainkan formasi, racun, dan memanipulasi kelemahan musuh.
Di tangan Xie Yan, merayap seekor kadal tanpa kulit yang tulang-tulangnya terlihat jelas, memancarkan hawa korosif yang mengerikan. Itu adalah Kadal Penghisap Sumsum, binatang buas spiritual tingkat rendah yang berhasil ia tangkap di jurang.
"Binatang peliharaanku ini sangat lapar hari ini," Xie Yan menyeringai. "Kalian berdua akan kalah. Aku bertaruh dia menjerit minta ampun dalam lima det—"
BRAAAAK!
Pintu ruang interogasi ditendang terbuka hingga engselnya nyaris lepas. Zi Lanying masuk dengan mata menyala-nyala. Di belakangnya, wakilnya yang bernama Hong (seorang gadis pendiam dengan puluhan belati tersembunyi di tubuhnya) dan wakil Shen Lu yang bernama Bai (pemuda kurus dengan kantung mata hitam karena sering lembur mengerjakan tugas bosnya yang malas) ikut masuk.
"Kalian bertiga! Bermain judi dengan peliharaan menjijikkan itu lagi?!" omel Zi Lanying, berkacak pinggang. "Ruangan ini berbau anyir, dan jeritannya mengganggu gadis-gadis di Paviliun Mawar yang sedang berlatih meracik racun!"
"Ayolah, Lanying, ini hiburan," Mo Yuan terkekeh.
Sebelum Zi Lanying bisa menceramahi mereka lebih panjang, Shi Jiu melesat masuk dari celah ventilasi dan mendarat di tengah ruangan.
"Pesan dari Kakak Pertama!" seru Shi Jiu.
Seketika, canda tawa dan omelan lenyap. Keempat ketua paviliun dan para wakil mereka langsung berdiri tegak.
Shi Jiu menyampaikan perintah perampokan dari Lin Chen dan perintah kultivasi setengah tahun tersebut.
Mendengar ancaman akan dilempar ke dasar jurang, wajah Mo Yuan, Shen Lu, Xie Yan, dan Zi Lanying memucat serentak. Mereka saling pandang.
"S-Setengah tahun ke tingkat puncak? Kakak Pertama mau membunuh kita?" bisik Shen Lu, keringat dingin menetes di pelipisnya.
"Jangan banyak mengeluh! Jika Kakak Pertama menyuruh kita terbang, kita harus mencari sayap malam ini juga!" Zi Lanying menepuk pipinya sendiri untuk sadar. Ia menoleh pada Xie Yan. "Kau dengar perintahnya? Jangan bunuh, tapi rampok habis-habisan. Ini keahlianmu."
Xie Yan tersenyum lebar, menyembunyikan kadalnya. "Oh, aku akan membuat mereka memohon kematian esok pagi. Ayo kita kunjungi Ibukota."
Keesokan paginya, matahari bersinar cerah menyinari Penginapan VIP Bintang Emas di pusat Ibukota Kerajaan Chen.
Duke menggeliat dalam tidurnya. Ia merasa sangat dingin. Angin pagi berhembus masuk, menyapu kulitnya. Sang Duke mengucek matanya yang mengantuk dan perlahan membuka kelopak matanya.
Matanya langsung terbelalak sempurna.
Ia tidak sedang berbaring di atas ranjang sutra mewah. Ia berbaring di lantai kayu yang keras. Selimut bulu beruangnya... hilang. Ranjang berukir emasnya... hilang. Lemari pakaiannya, karpetnya, lampu gantungnya, hingga tirai jendelanya... semuanya lenyap!
Kamar itu benar-benar kosong melompong bagaikan gua kosong.
Sang Duke terperanjat dan berdiri. Ia baru menyadari bahwa ia hanya mengenakan pakaian dalam sutra tipisnya.
"PENGAAAAWAAAL!" raung Duke panik, berlari membuka pintu kamarnya.
Pemandangan di lorong penginapan lebih mengenaskan. Belasan pengawal elit Kadipaten Salju sedang berdiri kebingungan di lorong, saling menatap tubuh satu sama lain. Zirah mereka, pedang mereka, sepatu bot mereka... semuanya telah raib! Mereka semua hanya berdiri mengenakan celana dalam tebal di tengah hawa pagi yang dingin.
"A-AYAAAAHHH!!!"
Jeritan melengking Putri Liu Ying terdengar dari kamar seberang. Sang Putri berlari keluar dengan wajah merah padam, membungkus tubuhnya yang hanya mengenakan baju tidur tipis dengan selembar taplak meja berdebu satu-satunya kain yang disisakan oleh para pencuri.
"Gaunku! Perhiasanku! Mahkota mutiaraku! Semuanya hilang!" Putri Liu Ying menangis histeris.
Sang Duke berlari ke arah kandang kuda di halaman depan. Kosong. Kereta emas mereka, kuda-kuda salju kelas atas, hingga persediaan gandum fana telah lenyap seolah ditelan dimensi lain.
Di tengah halaman yang kosong itu, hanya tersisa satu benda yang sengaja dipaku di atas tonggak kayu.
Sebuah topeng kayu ukiran iblis bermata satu.
Di bawah topeng itu, terdapat sebuah perkamen yang ditancapkan menggunakan belati karatan. Sang Duke yang gemetar kedinginan mencabut surat itu dan membacanya:
Kalian bilang Pangeran kami butuh topeng ini untuk menutupi tubuhnya? Simpanlah untuk diri kalian sendiri. Karena pagi ini, kalianlah yang tidak memiliki pakaian untuk menutupi wajah memalukan kalian. - Aliansi Bayangan Langit.
Berita tentang utusan Kadipaten Salju yang dirampok hingga nyaris telanjang menyebar ke seluruh penjuru Ibukota dalam hitungan jam. Warga kota berkumpul di luar penginapan VIP, menertawakan para pengawal yang harus meminjam karung goni dari penjual beras hanya untuk menutupi tubuh mereka agar bisa pergi ke istana melapor.
Di dalam istana, Lin Chen yang sedang duduk santai menikmati teh melati bersama ibunya, hanya tersenyum tipis mendengar laporan kasak-kusuk para pelayan tentang kejadian tersebut. Ia sama sekali tidak terlihat arogan. Selama keluarganya tersenyum.
Namun, senyum di wajah Lin Chen perlahan memudar saat ia merasakan sebuah anomali spasial yang luar biasa kuat.
Jauh di perbatasan barat Kerajaan Chen, di sebuah hutan terpencil yang tidak pernah diinjak manusia, langit biru tiba-tiba retak. Sebuah gerbang dimensi terbuka dengan paksa, menolak hukum dunia tersebut.
Dari dalam retakan itu, sesosok pemuda berpakaian putih bersih dengan sulaman pedang emas di dadanya melayang turun. Aura Foundation Establishment Puncak memancar liar dari tubuhnya, menghancurkan pepohonan di sekitarnya menjadi debu. Pemuda itu menghirup udara fana dengan ekspresi jijik yang luar biasa.
Su Qingyue ikut Lin Chen dan Tua hitam ke alam Abadi.
Kenapa ana Qingyue lagi di alam Fana 🤣🤣