NovelToon NovelToon
Beri Aku Waktu Untuk Pulih

Beri Aku Waktu Untuk Pulih

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:470
Nilai: 5
Nama Author: Rosemeera_

​Reno selalu percaya bahwa tugas terbesarnya di dunia adalah bertahan hidup dan melindungi adiknya, meski harus mengubur luka masa kecilnya rapat-rapat.

​Namun, ketika usahanya runtuh dan wanita yang dicintainya, Kareen, menuntut kepastian di tengah kegagalan, Reno dihadapkan pada pilihan terberat: memaksakan diri bertahan meski hancur, atau melepaskan demi menyembuhkan lukanya sendiri.

​"Tunggu aku. Tapi kalau aku terlalu lama... menikahlah dengan orang yang bisa membuatmu bahagia."

​Ketika masa lalu melukainya dan masa depan tak memberi kepastian, mampukah Reno menemukan kembali potongan dirinya yang hilang sebelum waktu benar-benar memisahkan mereka?

​Sebuah kisah tentang luka masa kecil, impian yang patah, dan keberanian untuk memulihkan diri sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemeera_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Kehangatan di Rumah Sederhana

"Mas Reno... ada apa?" tanya Rayan pelan di balik pundakku. Suaranya terdengar cemas, mungkin heran melihat perubahanku yang tak biasa. Selama ini, aku hampir tidak pernah menunjukkan afeksi fisik seperti ini padanya.

​Aku merenggangkan pelukan, lalu menepuk pelan kedua bahunya sambil tersenyum tipis. "Tidak ada apa-apa, Rayan. Mas cuma kangen. Terima kasih ya, sudah menjaga rumah dengan baik selama Mas di Bandung."

​Rayan terkedip beberapa kali, seolah memastikan bahwa pria di hadapannya ini benar-benar kakaknya. Detik berikutnya, senyum lebar yang sangat cerah terukir di wajahnya. "Sama-sama, Mas! Rayan juga sudah masak nasi sama goreng tahu. Mas pasti lapar, kan? Ayo makan dulu."

Kami berdua duduk berhadapan di lantai beralaskan tikar plastik yang sudah agak mengelupas di pinggirannya. Di atas meja kayu kecil, tersaji makanan sederhana hasil olahan tangan Rayan. Tidak ada hidangan mewah, namun malam ini, rasanya jauh lebih nikmat daripada makanan apa pun yang kumakan di hotel pelatihan kemarin.

​Saat menyuapkan nasi ke mulut, aku memperhatikan adikku. Rayan tumbuh begitu cepat. Garis wajahnya makin mirip dengan almarhumah Ibu, terutama matanya yang teduh saat tersenyum. Selama bertahun-tahun, aku melihatnya sebagai beban tanggung jawab yang harus ku jaga dengan sikap keras agar dia tidak manja. Namun malam ini, melihatnya mengunyah makanan dengan lahap, aku menyadari satu hal: Rayan bukan beban. Dia adalah alasan utama mengapa aku masih sanggup bertahan hidup sampai detik ini.

"Gimana pelatihannya di Bandung, Mas? Seru tidak?" tanya Rayan di sela kunyahannya.

​"Lumayan," jawabku singkat, lalu menambahkan dengan nada yang lebih lembut, "Mas belajar banyak hal di sana. Bukan cuma soal pekerjaan di pabrik, tapi juga... soal bagaimana cara menata pikiran."

​Rayan mengangguk-angguk polos meski mungkin dia tidak sepenuhnya paham maksud ucapanku. "Bagus deh kalau begitu. Mas Reno kelihatannya juga lebih santai sekarang. Tidak dahi berkerut terus seperti biasanya."

Aku terkekeh pelan—sebuah tawa kecil yang terasa begitu asing di tenggorokanku. "Masa, sih?"

​"Iya, serius! Biasanya kalau Mas baru pulang kerja atau pulang dari luar kota, mukanya galak banget. Rayan sampai takut mau menyapa," aku teringat betapa kaku dan dinginnya aku selama ini pada adikku sendiri.

​"Maaf ya, Rayan," ucapku tulus, menatap matanya lurus-lurus. "Selama ini Mas terlalu keras sama kamu. Mas cuma takut tidak bisa jadi kakak yang baik."

​Rian menghentikan sendoknya, menatapku dengan mata bulatnya yang jernih. "Rayan tidak pernah mikir Mas Reno keras karena jahat, kok. Rayan tahu Mas capek cari uang buat bayar sekolah Rayan dan bayar kontrakan. Rayan cuma mau Mas Reno tidak terlalu memaksakan diri."

Kata-kata sederhana dari seorang anak SMP itu menghantam dadaku dengan kehangatan luar biasa. Ternyata, selama ini Rayan memahami perjuanganku lebih dari yang kukira. Dia tidak menuntut banyak hal, dia hanya ingin kakaknya tidak menderita sendirian.

​Setelah makan malam dan membersihkan piring kotor bersama, aku masuk ke kamar kecil kami. Ponsel di atas meja berdering pelan, menandakan ada pesan masuk. Aku memungutnya dan melihat nama yang baru saja kusimpan tadi siang di stasiun.

​Kereen: Selamat malam, Reno. Sudah sampai di Jakarta dengan selamat? Bagaimanakah pertemuannya dengan Rayan?

Jemariku menari di atas layar, mengetikkan balasan tanpa ragu.

Reno: Malam, Kereen. Sudah sampai dari tadi sore. Semuanya lancar, Rayan bahkan masak makan malam buat aku. Terima kasih sudah menanyakan.

Tidak butuh waktu lama sampai balasan berikutnya muncul.

Kereen: Senang mendengarnya! Nikmati waktu istirahatmu malam ini, ya. Jangan lupa, esok adalah awal yang baru untukmu di pabrik.

Aku tersenyum menatap layar ponsel sebelum mematikan layarnya. Ada rasa tenang yang tak terlukiskan saat tahu bahwa selain Rayan, kini ada orang lain yang peduli dengan keadaanku.

Keesokan harinya, bunyi alarm ponsel membangunkan ku pukul lima pagi. Suasana pagi Jakarta yang bising oleh suara kendaraan mulai menyapa. Setelah menyiapkan sarapan sederhana untuk Rayan dan memastikannya siap berangkat sekolah, aku mengenakan seragam pabrik ku dan berjalan menuju tempat kerja.

​Gedung pabrik tempatku bekerja berdiri megah seperti biasa, dipenuhi kepulan asap tipis dari cerobong dan deru mesin yang bergetar dari kejauhan. Biasanya, setiap kali melintasi gerbang ini, dadaku selalu terasa berat, seolah-olah aku sedang memasuki medan perang yang melelahkan. Namun pagi ini, langkah kakiku terasa jauh lebih ringan.

Aku melangkah masuk ke area-area produksi. Pak Bambang, supervisor senior yang terkenal galak dan kaku, tampak sedang berdiri di dekat papan pengumuman sambil mengecek lembar presensi karyawan.

"Selamat pagi, Pak Bambang," sapaku sambil menganggukkan kepala dan tersenyum tipis saat melintas di depannya.

Pak Bambang tertegun sejenak. Pria paruh baya itu menghentikan pulpennya di udara, menatapku dengan raut wajah heran dari balik kacamata tebalnya. Selama bertahun-tahun bekerja di bawah arahannya, aku terkenal sebagai pekerja yang dingin, jarang tersenyum, dan hanya bicara jika memang sangat diperlukan.

"Pagi, Reno..." jawab Pak Bambang pelan, masih menatapku curiga. "Bagaimana pelatihanmu di Bandung?"

"Sangat baik, Pak. Banyak ilmu baru yang bisa kita terapkan untuk efisiensi tim minggu ini," jawabku lugas namun tetap ramah.

​"O-oh, baguslah kalau begitu. Nanti jam sembilan kita rapat singkat dengan anak-anak tim produksi, ya," lanjutnya, mencoba menutupi rasa terkejutnya.

​"Baik, Pak. Saya persiapkan bahan laporannya dulu," kataku sebelum berlalu menuju mejaku.

​Saat aku duduk di kursi kerjaku, beberapa rekan satu timku mulai berdatangan. Mereka saling berbisik pelan, mungkin merasa ada yang berbeda dari aura yang kubawa hari ini. Dulu, aku akan langsung menyikapi ketidaknyamanan mereka dengan tatapan tajam atau teguran keras. Namun kali ini, aku hanya menghela napas panjang, membiarkan semuanya mengalir.

Aku memandangi papan tugas di depanku. Pekerjaan di pabrik ini masih sama beratnya, beban finansial keluargaku masih belum sepenuhnya selesai, dan tantangan hidup di Jakarta tetap keras. Namun ada satu hal besar yang telah berubah: cara pandangku.

Aku tidak lagi bertarung sendirian melawan dunia. Aku punya Rayan yang menyayangiku, aku punya kenangan tentang Ibu yang kini tak lagi menyiksa, dan aku punya dukungan dari seseorang yang mempercayaiku dari jauh.

1
Laksmi Harsa
nunngguin bab selanjutnya nih kak... 💪
Rosemeera_: Wah, makasih banyak dukungannya! Makin semangat nulisnya nih. Jangan lupa simpan/favoritkan cerita ini ya Kak biar langsung dapet notif pas bab baru rilis!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!