NovelToon NovelToon
Mr. Sinclair Bride

Mr. Sinclair Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara / Action
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Muse_Cha

Chester, Kapten tim khusus Angkatan Darat yang dingin dan tak tersentuh, terpaksa melangkah ke altar memungut kekacauan yang ditinggalkan Haikal.

Ia membenci situasi ini, membenci kelakuan kakaknya, dan kini terjebak mengikat janji suci dengan wanita yang tak pernah ia inginkan.

Di antara dendam, luka yang belum sembuh, dan kebohongan besar di hadapan publik—mampukah pernikahan paksa ini bertahan saat Haikal kembali menagih apa yang seharusnya menjadi miliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sudut Bibir

Chester melirik jam kompas di pergelangan tangan kirinya. Jarum menunjukkan pukul 19.30 malam—masih ada waktu sekitar dua setengah jam sebelum helikopter penjemputan mendarat di helipad markas.

Pandangan mata Chester beralih kembali mengunci wajah Ayyana. "Ganti pakaianmu."

Ayyana berkerut dahi, menatap duffel bag militer di atas tempat tidur yang baru saja dirapikan Chester. "Ke mana?"

Chester tak menjawab. Pria itu hanya menutup zipper tasnya dengan satu tarikan tegas, lalu mengaitkannya di bahu, membiarkan pertanyaannya menggantung di udara dengan dominasi khas seorang Kapten.

Tahu betul bahwa bertanya lebih jauh hanya akan membuang waktu, Ayyana menghela napas pasrah dan menuruti perintah pria itu.

Ia berganti pakaian dengan setelan kasual yang rapi dan tertutup rapat—mematuhi standar yang tidak membuat pria kaku itu melempar protes baru.

Beberapa menit kemudian, mobil taktis serba hitam yang dikendarai Chester membelah jalanan malam, bergerak meninggalkan kawasan Markas Besar Komando.

Ayyana mengamati lalu lintas dari balik kaca mobil yang gelap, hingga akhirnya kendaraan itu berbelok masuk dan terparkir di area parkir sebuah pusat perbelanjaan besar—Hypermart.

Ayyana menoleh pada Chester dengan tatapan heran saat pria itu mematikan mesin mobil. "Hypermart?"

Chester melepas sabuk pengamannya tanpa mengalihkan pandangan dari luar. "Ibumu bilang kulkas di rumah ini tidak punya makanan yang kamu suka."

Ayyana menolak halus dompet kulit hitam yang diulurkan Chester. Ia hanya menatap pria itu sekilas, menahan senyum tipis yang hampir terbit, lalu membuka pintu mobil dan melangkah turun lebih dulu.

Chester sempat tertegun menatap tangannya yang menggantung di udara. Menghembuskan napas pendek melalui hidung, ia memasukkan kembali dompetnya ke dalam saku celana taktis, melangkah keluar, dan mengunci kendaraan.

Di dalam Hypermart yang serba terang dan ramai, Ayyana berjalan menyusuri lorong demi lorong area bahan makanan. Namun kali ini, ia tidak berjalan sendirian.

Chester berjalan persis satu langkah di sampingnya, mendorong troli belanja berukuran besar dengan postur tubuh yang terlalu tegap untuk suasana supermarket.

Seragam dinas tanpa atribut berat yang masih melekat di tubuhnya, dipadu dengan tatapan matanya yang selalu menyapu sekeliling dengan mode waspada, membuat beberapa pengunjung lain secara refleks memberi jalan.

Ayyana mengambil beberapa kotak cereal, susu almond, dan beberapa jenis buah segar, lalu melemparnya santai ke dalam troli.

"Ibumu bilang kamu suka ice cream," suara bas Chester memecah keheningan di antara mereka saat langkah mereka terhenti di depan jajaran lemari pendingin raksasa.

Ayyana menoleh, mendapati Chester sedang menatap deretan wadah ice cream dengan kening sedikit berkerut—seolah sedang menganalisis dokumen rahasia negara alih-alih memilih varian rasa es krim.

"Rasa apa?" tanya Chester kaku, matanya masih memindai label-label di balik kaca tebal berembun itu.

Ayyana tak bisa lagi menahan tawa pelannya. Suara tawa renyah itu terdengar begitu alami, membuat Chester seketika mengalihkan pandangannya dari lemari pendingin dan menatap wajah Ayyana yang mendadak tampak begitu berbinar di bawah pendar lampu neon supermarket.

"Matcha sama Dark Chocolate," jawab Ayyana seraya membuka pintu pendingin dan mengambil dua tub besar es krim, lalu meletakkannya di dalam troli. Ia lalu menatap Chester lurus-lurus. "Kamu nggak beli apa-apa buat di medan perang nanti, Kapten?"

Chester melirik dua wadah es krim di dalam troli, lalu kembali menatap Ayyana. Tatapan matanya meredup, menyimpan ketegangan yang mendadak kembali mengisi sela-sela udara di antara mereka.

"Perlengkapan perang saya tidak dijual di supermarket ini, Ayyana," jawab Chester datar, namun suaranya melunak tipis.

Ia mendorong troli melintasi lorong makanan ringan, sesekali meraih beberapa kemasan biskuit dan cokelat batang berkadar kakao tinggi lalu memasukkannya ke troli tanpa meminta persetujuan Ayyana.

"Itu untuk apa?" tanya Ayyana seraya menunjuk tumpukan cokelat hitam yang baru saja dilempar Chester.

"Gula darahmu bisa drop kalau sedang stres atau emosi," sahut Chester kaku, matanya tetap lurus menatap lorong kasir di depan. "Dan melihat caramu membanting pintu semalam, kamu butuh asupan gula yang cukup selama saya tidak ada."

Ayyana menyipitkan mata, antara ingin tertawa dan kesal karena pria ini masih saja membawa-bawa insiden banting pintu. "Aku banting pintu karena ada diktator yang bikin darah tinggi!"

"Dan diktator itu sedang memastikan tawanannya tidak mati kelaparan," balas Chester cepat, tanpa nada bercanda namun ada kilat samar di balik matanya yang biasanya sedingin es.

Mereka berhenti di depan kasir yang sepi. Selama proses pembayaran, Chester berdiri dalam posisi protektif di belakang Ayyana—satu tangannya secara refleks bertengger di pinggir meja kasir, memblokir jarak antara Ayyana dan orang-orang yang melintas di sekitar mereka dengan kewaspadaan yang tak pernah mengendur.

Selesai mengemas seluruh belanjaan ke dalam dua kantong besar, Chester menengadah melirik jam dinding di atas pintu keluar Hypermart.

Pukul 20.45 malam.

Waktu mereka hampir habis.

Dalam hitungan jam, helikopter pembebasan akan mendarat, dan atmosfer tenang di supermarket ini akan berganti total dengan dentuman senjata serta pekatnya asap di area konflik.

Chester menjinjing kedua kantong belanjaan tebal itu hanya dengan satu tangan kekarnya, sementara tangan satunya membukakan pintu keluar untuk Ayyana.

"Kita pulang," kata Chester rendah saat mereka melangkah menuju mobil di remang parkiran. "Kamu simpan semua ini, setelah itu ikut saya ke helipad markas untuk pengantaran."

Perjalanan kembali ke rumah dinas dilalui dalam keheningan yang berbeda. Tak ada lagi adu argumen atau ketegangan pasif—hanya desing halus mesin mobil dan deru napas teratur yang memenuhi kabin.

Setibanya di rumah, Ayyana dengan cekatan menyusun seluruh belanjaan ke dalam kulkas. Kulkas yang semula hanya berisi botol air mineral kini penuh dengan deretan es krim, susu almond, cokelat hitam, dan camilan favoritnya.

Sementara itu, Chester berdiri mematung di ambang pintu dapur, memperhatikan gerak-gerik wanita itu dalam diam, seolah sedang mencatat memori visual terakhir sebelum melangkah ke garis depan.

"Sudah selesai," ucap Ayyana seraya menutup pintu kulkas dan memutar tubuhnya menghadap Chester.

Chester mengangguk singkat, lalu melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul 21.30 malam.

"Waktu kita habis. Ikut saya," perintahnya rendah.

Ayyana menyambar mantel tipisnya dan melangkah keluar menyusuri lorong markas menuju area helipad utama sambil menggenggam satu cup kecil es krim rasa matcha dengan sendok kayu kecil di tangannya.

Di tengah deru angin malam yang berhembus kencang di landasan, ia menikmati tiap suapan dingin itu, mencoba mengalihkan rasa cemas yang mulai merayap naik.

Helikopter tempur serba hitam sudah dalam posisi standby, baling-baling mewahnya mulai berputar pelan menghasilkan deru membahana yang memotong keheningan.

Empat anggota Team Eclipse—Ocla, Flyn, Zack, dan Rowan—sudah berdiri dalam formasi sempurna di dekat tangga helikopter dengan seragam taktis lengkap, senjata laras panjang tersandang di dada, dan helm tempur di tangan.

Begitu melihat kedatangan Kapten mereka bersama Ayyana, keempatnya serentak memberi penghormatan militer yang presisi.

Chester menghentikan langkahnya beberapa meter di depan tangga helikopter, lalu membalikkan badan sepenuhnya menghadap Ayyana.

Angin malam yang kencang mengibaskan rambut hitam wanita itu dan menerpa ujung seragam dinas Chester.

Di bawah pendar lampu sorot landasan yang remang dan dingin, matanya yang tajam mendadak terkunci pada sudut bibir Ayyana—menangkap sedikit sisa es krim matcha yang menempel di sana.

Earpiece di telinga Chester menangkap sinyal frekuensi lokal.

Pria itu sadar betul, di salah satu menara pemantau markas besar, kamera jarak jauh Laksamana Muda Harris sedang membidik mereka.

Bagi Harris dan para pengamat politik di luar sana, pernikahan ini harus terlihat sempurna atau gagal total.

Suami istri yang hanya saling tatap kaku saat hendak berpisah menuju garis hidup dan mati akan menjadi celah kelemahan yang siap dimanfaatkan.

Tanpa memedulikan tatapan empat anggotanya yang mengawasi dari kejauhan, Chester melangkah satu tapak lebih dekat, memotong sisa jarak di antara mereka.

Tangannya yang terbiasa memegang senjata terangkat pelan. Untuk pertama kalinya, jemari tebal dan hangat milik Chester menyentuh sisi wajah Ayyana, menyelipkan helai rambut wanita itu ke belakang telinganya.

Ayyana tersentak pelan ketika tangan kokoh Chester mencengkeram tengkuknya dengan lembut namun dominan, menahan posisinya.

Chester membungkuk, lalu tanpa ragu menyapukan bibirnya di sudut bibir Ayyana—menyeka sisa es krim manis itu secara langsung dengan mulutnya.

Sentuhan hangat, tegas, dan intim yang mendadak itu membuat napas Ayyana tertahan seketika.

Chester tidak langsung menarik diri. Wajah mereka berjarak begitu dekat, hingga Ayyana bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu di kulit pipinya di tengah dinginnya angin malam.

"Protokol aktif," bisik Chester sangat rendah tepat di depan bibir Ayyana, suaranya sarat dengan kepemilikan yang mengikat. "Tetap di dalam rumah sampai saya kembali."

Ayyana menatap lurus ke dalam mata hitam pria itu, merasakan getaran emosi terselubung yang tak pernah diungkapkan dengan kata-kata.

"Pulang dengan selamat, Kapten," balas Ayyana pelan namun tegas. "Jangan bikin aku repot-repot datang ke pemakaman militer."

Sudut bibir Chester terangkat sangat tipis—sebuah senyum samar yang hampir tak terlihat jika Ayyana tidak memperhatikannya dari dekat.

"Pesan diterima, Nyonya Sinclair," bisik Chester rendah.

Pria itu menarik tangannya, memutar tubuhnya dengan tegas, dan melangkah mantap menaiki tangga helikopter.

Ocla dan anggota tim lainnya menyusul satu per satu di belakangnya.

Pintu helikopter baja itu tertutup rapat. Dalam hitungan detik, mesin raksasa itu menderu semakin keras dan membumbung tinggi menembus kegelapan langit malam—meninggalkan Ayyana yang masih berdiri mematung di tengah landasan, menyentuh sudut bibirnya sendiri dengan jemari yang bergetar tipis.

Kabin helikopter tempur itu terasa dingin dan temaram, hanya diterangi pendar merah redup dari panel instrumen.

Deru mesin raksasa dan kepakan baling-baling di atas kepala mengisi seluruh ruangan, menciptakan ritme yang kaku dan mencekam.

Di dalam, lima personil Team Eclipse duduk berhadapan dengan perlengkapan taktis lengkap. Senjata laras panjang terkunci rapi di dada masing-masing.

Ocla, Flyn, Zack, dan Rowan sempat saling lempar pandang sejenak. Meski earphone helm mereka meredam bising, aksi sang Kapten di landasan tadi jelas tak luput dari penglihatan mereka.

Flyn menyeringai tipis sambil membetulkan letak helm taktisnya, lalu mengarahkan pandangannya pada Chester yang duduk di kursi komando dekat pintu darurat.

Pria itu menatap lurus ke kegelapan luar melalui jendela kaca tebal, wajahnya keras dan tak terpeta.

"Tindakan yang cukup impresif untuk mengecoh lensa kamera Harris di menara, Kapten," gumam Flyn melalui saluran komunikasi internal yang tertutup. Ada nada godaan samar yang terselip di balik suara beratnya.

Zack yang sedang mengecek tablet enkripsi data di sampingnya ikut menyahut tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Sinyal pemantau Harris di sektor tiga sempat lonjak seratus persen pas kejadian. Dia pasti mengira Kapten benar-benar sudah 'jinak' dan terlena."

Chester tidak serta-merta menjawab. Tangannya yang terbungkus sarung tangan taktis bergerak pelan, menyapu jemarinya di atas bibirnya sendiri—masih bisa merasakan jejak dingin manis rasa matcha yang tertinggal sekejap di sana sebelum helikopter lepas landas.

"Tutup saluran tidak penting," suara Chester akhirnya terdengar di earpiece seluruh tim. Dingin, dalam, dan tanpa kompromi. "Fokus pada pengarahan misi. Harris ingin kita mati di Sektor Bravo atau tertahan di sana sampai tempat ini runtuh."

Ocla mengangguk singkat, langsung menarik kembali atensi tim ke mode tempur seratus persen. "Laporan intelijen mengenai zona drop sudah siap, Kapten."

Chester bersandar pada dinding kabin yang bergetar, matanya memicing menatap peta digital yang ditampilkan Zack.

Di luar sana, angin malam menerpa helikopter yang makin jauh terbang menembus kegelapan, namun pikiran Chester tetap tertambat erat pada satu-satunya perisai yang ia tinggalkan di tanah: Ayyana.

1
YuWie
sungguh, aku pingin mereka dang gedebrak gedebruk in bed 😁
Muse_Cha: sabarrrrr sabarr ini ujian🤭
total 1 replies
IceQueen
mantap
YuWie
memang begitu rumit ya kehidupan militer dikalangan para jendral..
IceQueen
seruuu
Mei TResna Rahmatika
kok di ulang thor bab nya
Muse_Cha: oiya ya. maaf ya aku jadwalin 2x brati 😭🙏 makasih ya kak udah remind
total 1 replies
YuWie
lhaaa begitu ternyata mbak kendall
IceQueen
mulai muncul nih gangguan2 dedemit/Smug/
karina
guaaaa suka bangetttt cerita nyaa aaaaa baperr bangett 🤣
Muse_Cha: makasihhh ya kak 😍😭
total 1 replies
IceQueen
mulai muncul serangan fajar
Muse_Cha: serangan ayya ini kak 🤣
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
porak poranda sudah hati Chester 🤣
Muse_Cha: kalah bom molotov ya😭
total 1 replies
IceQueen
selalu ada aja gebrakan dari ayyana🤣
Muse_Cha: ini dia si kancilll🤭
total 1 replies
YuWie
wah wahhh.... masih kita tunggu action mu yg lebih berani kapt..
Muse_Cha: jabatan doang kapten ya, ama istri sendiri cemen🤭
total 1 replies
YuWie
gagal kapt..hukumanmu ke ayyana
Muse_Cha: kurang beruntung, silahkan coba lagi besok😄
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
wkwkw Chester 🤣bikin Ayana hamil Chester biar kalo si pecundang kembali ga bisa ngrebut ayana🤭
Muse_Cha: pelaaaaaaan pelaaaan pak sopiiiiir🤣🤭
total 1 replies
YuWie
walahh..kupikir akan terjadi hal yg iya2... btw rambutbayyana hitam atau coklat kak thor..
Muse_Cha: iya² nya delay ini😶‍🌫️cokelat kak. makasih yaa🙏
total 1 replies
YuWie
nah lho..
YuWie
sik, aku gak salah baca kan..perkawinan ayyana dan cester sdh berapa lama..kenapa ayy tanya ke jacob..kemana haikal menghilang 2th lalu?
YuWie
dasar kanebo..dikasih sinyal2 gak paham..memang harus dijelaskan secara gamblany ayy..biar mudeng tuj si kapten
YuWie
semangat kak..aku aja baru nemu cerita cester dan ayyana kemaren..
YuWie
maniss dikit.. terus ayy..buat suamimu makin salting dan akhirnya bucin akut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!