Berawal dari ketidaksengajaan darahnya mengenai gagang pintu berukir naga di tumpukan rongsokan, Raka Mahesa mendadak memiliki akses gerbang penembus dua dunia. Berbekal barang murah modern yang menjadi pusaka di dunia kuno dan herbal purba yang bernilai miliaran di Jakarta, pemulung melarat ini mulai membangun kerajaan bisnisnya untuk merajai kedua dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Padahal di dalam penyimpanan sistemnya sekarang ada lima bilah pisau lipat stainless steel tajam yang menanti untuk diuji coba.
"Kau tenang saja, dewa apimu ini punya banyak mainan lain selain percikan api kecil."
Raka menatap mata Lin lekat-lekat mencoba menyalurkan rasa percaya diri pada gadis tersebut.
"Kau tunggu saja di sini dengan tenang, aku akan membawa ayahmu kembali sebelum matahari terbenam."
Lin menggelengkan kepalanya kuat-kuat menolak perintah Raka untuk tetap tinggal di goa.
"Tidak Tuan, hamba ingin ikut dengan Anda ke desa untuk melihat keadaan ayah."
"Hamba tahu jalan pintas rahasia menuju bagian belakang desa yang tidak dijaga oleh para penjaga."
Raka berpikir sejenak mempertimbangkan tawaran Lin yang cukup berguna tersebut.
Kalau dia menyusup dari jalan rahasia, dia bisa menghindari konfrontasi langsung dengan puluhan pemuda bersenjata itu.
Ia tidak mau mati konyol ditusuk tombak karena sok pahlawan maju dari pintu depan desa.
"Bagus, kau tunjukkan jalan pintasnya sekarang tapi kau harus janji tidak boleh ceroboh."
"Hamba berjanji akan patuh pada semua perintah Tuan Dewa," angguk Lin cepat dengan wajah penuh tekad.
Mereka berdua berjalan keluar dari dalam gua yang lembab itu menuju cahaya matahari pagi.
Lin memimpin di depan berjalan membelah semak belukar tinggi dengan langkah yang sangat lincah.
Gadis itu seolah hapal setiap celah dan jalan tikus di hutan lebat ini karena sudah terbiasa hidup keras.
Raka mengikuti di belakangnya sambil sesekali memperhatikan keadaan sekitar kalau ada binatang buas.
Setelah berjalan kaki sekitar satu jam menembus hutan, hidung Raka mulai mencium bau asap kayu bakar.
"Kita sudah sampai Tuan Dewa, itu adalah dinding belakang desa kami," bisik Lin sambil menunjuk ke depan.
Raka mengintip dari balik pohon besar dan melihat pagar kayu tinggi yang mengelilingi sebuah pemukiman kumuh.
Rumah-rumah di desa itu sebagian besar hanya terbuat dari kayu lapuk dengan atap jerami kering.
Suasana di desa itu terdengar sangat berisik seperti sedang ada pesta atau perkumpulan besar di tengahnya.
Lin membawa Raka merayap melewati lubang kecil di bawah pagar kayu yang rupanya sudah lama jebol.
Mereka berhasil masuk ke area desa dan bersembunyi di balik tumpukan kayu bakar di belakang sebuah gubuk kosong.
"Suara berisik itu berasal dari alun-alun desa di depan sana Tuan," tunjuk Lin dengan jari gemetar.
Raka mengangguk lalu mengendap-endap maju untuk mendapatkan pandangan yang lebih jelas ke arah alun-alun.
Pemandangan yang ia lihat selanjutnya membuat darahnya kembali mendidih panas.
Di tengah alun-alun tanah liat itu, Karta diikat kuat pada sebuah tiang kayu besar.
Kondisi pria tua itu sangat mengenaskan dengan wajah babak belur dipenuhi darah kering dan tubuh penuh luka cambukan.
Di bawah kaki Karta sudah ditumpuk puluhan kayu bakar kering yang siap disulut api kapan saja.
Puluhan penduduk desa berkumpul mengelilingi tiang itu sambil meneriakkan makian pada Karta.
Di depan tiang tersebut berdiri seorang pria paruh baya memakai baju sutra kotor yang tampak paling mewah di antara yang lain.
"Itu adalah Kepala Desa Boris, dia orang yang sangat serakah dan kejam," bisik Lin di telinga Raka.
Raka melihat di sebelah Boris ada sebuah karung goni besar yang mulutnya terbuka lebar.
Dari dalam karung itu menyembul ratusan batang akar ginseng liar yang kualitasnya sangat luar biasa.
"Wah, bapak tua itu benar-benar panen besar rupanya," puji Raka dalam hati melihat tumpukan uang triliunannya.
Di sebelah Kepala Desa Boris berdiri seorang pria tua kurus memakai jubah hitam penuh bulu burung.
Pria tua itu memegang sebuah tongkat kayu yang dihiasi tengkorak monyet di ujungnya.
"Itu Dukun Mangkubumi, dia yang menghasut orang-orang kalau ayah memuja iblis asing," tambah Lin dengan nada benci.
Kepala Desa Boris mengangkat tangannya ke atas menyuruh warga desa untuk diam dan tenang.
"Karta si pengkhianat ini telah terbukti mencuri harta pusaka desa dan bersekutu dengan siluman dari luar gunung!" teriak Boris lantang.
Penduduk desa bersorak setuju mendengar pidato karangan kepala desa mereka tersebut.
"Dia mencoba menipu kita dengan garam kotornya, tapi mata batin Dukun Mangkubumi tidak bisa dikelabui."
Boris menendang tumpukan kayu bakar di bawah kaki Karta dengan keras.
"Hari ini kita akan membakar tubuhnya sebagai persembahan untuk menenangkan roh leluhur gunung!"
Karta yang sudah setengah sadar hanya bisa menundukkan kepalanya tanpa tenaga untuk membantah.
Dukun Mangkubumi mulai menari-nari aneh mengelilingi tiang kayu itu sambil berkomat-kamit membaca mantra tak jelas.
Ia mengambil sebuah obor api yang menyala terang dari salah satu pemuda penjaga.
"Bakar pengkhianat ini sekarang juga!" seru si dukun bersiap melemparkan obornya ke tumpukan kayu kering.
Lin menjerit tertahan dan langsung menutup wajahnya tidak sanggup melihat ayahnya dibakar hidup-hidup.
Raka tahu ini adalah saatnya ia keluar dari persembunyian dan membuat kekacauan besar.
"Tunggu di sini dan jangan keluar sampai aku memanggilmu," pesan Raka tegas pada Lin.
Raka berdiri tegak merapikan jaket kulitnya lalu melangkah keluar dari balik gubuk kosong tersebut dengan gaya paling arogan yang ia bisa.
"Hei orang-orang bodoh, hentikan pesta api unggun murahan kalian itu sekarang juga."
Suara berat Raka yang sengaja dikeraskan menggema memecah kesunyian alun-alun desa seketika.
Semua kepala sontak menoleh ke arah sumber suara dan menatap sosok Raka dengan pandangan heran bercampur waspada.
Kepala Desa Boris mengerutkan dahinya melihat pakaian asing Raka yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya.
"Siapa kau anak muda? Berani sekali kau mengganggu upacara suci desa kami!" bentak Boris sambil memegang gagang parangnya.
Raka terus melangkah santai membelah kerumunan warga desa yang otomatis mundur ketakutan melihat auranya.
Ia berhenti tepat sepuluh langkah di depan Kepala Desa Boris dan Dukun Mangkubumi.
"Aku adalah orang yang kalian sebut sebagai iblis asing atau siluman gunung tadi," jawab Raka menyeringai lebar.
Karta perlahan mengangkat kepalanya yang babak belur mendengar suara familiar tersebut.
"T-Tuan Dewa Api? Tolong jangan pedulikan hamba, pergilah dari sini mereka terlalu banyak," rintih Karta memperingatkan Raka dengan sisa tenaganya.
Dukun Mangkubumi tertawa mengejek hingga memperlihatkan giginya yang hitam dan ompong.
"Ternyata kau siluman penipu yang memberikan garam rendahan pada Karta ya?" ejek si dukun menunjuk wajah Raka dengan tongkat tengkoraknya.
"Pakaianmu aneh tapi kau tidak terlihat punya kekuatan apa-apa. Tangkap dia hidup-hidup anak-anak!" perintah dukun itu pada puluhan pemuda bersenjata di belakangnya.
Puluhan pemuda berbadan kekar langsung maju mengepung Raka dari segala sisi dengan parang dan tombak teracung.
Ketiga pemburu yang pernah dikalahkan Raka juga ada di sana dan menatap Raka dengan tatapan dendam kesumat.
"Dewa api pantatku! Hari ini kami akan mengulitimu hidup-hidup penipu busuk!" teriak si pria berwajah luka.
Raka sama sekali tidak panik melihat puluhan ujung senjata tajam yang siap merobek tubuhnya.
Ia justru tertawa pelan dan menggelengkan kepalanya merasa kasihan pada kebodohan mereka semua.
"Kalian benar-benar berani menantang kemarahan langit hanya karena hasutan dukun palsu ini."
Raka mengangkat tangan kanannya ke udara lalu memanggil sistem gaibnya dalam diam.
"Keluarkan kelima pisau lipat itu ke udara."
Wush.
Dalam sekejap mata, lima bilah pisau lipat stainless steel mengkilap muncul dari udara kosong dan melayang tepat di sekeliling tubuh Raka.
Kilauan logam mulus pisau-pisau itu memantulkan cahaya matahari pagi yang sangat menyilaukan mata semua orang di alun-alun.
Suasana desa yang tadinya riuh dan penuh ejekan kini berubah menjadi sunyi senyap seketika bagai kuburan massal.
Mata Kepala Desa Boris nyaris copot melihat logam mengkilap melayang tanpa penyangga di udara.
Dukun Mangkubumi mundur selangkah dengan tubuh bergetar hebat menjatuhkan obor apinya ke tanah liat.
Bahkan puluhan pemuda bersenjata itu mendadak kaku tidak bisa menggerakkan kakinya karena dicekam rasa takut yang teramat sangat.
"Sekarang beritahu aku Kepala Desa Boris, apa dukunmu bisa melakukan sihir pedang terbang seperti ini?" tanya Raka dengan suara sedingin es.
Raka siap memberi pelajaran berharga pada orang-orang primitif ini tentang apa artinya berurusan dengan manusia modern pembawa sistem.