NovelToon NovelToon
System Penyesalan Seorang Ibu.

System Penyesalan Seorang Ibu.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Reinkarnasi
Popularitas:368
Nilai: 5
Nama Author: james 9870

Dendam membuat Clara menukar bayinya dengan bayi sahabat yang mengkhianatinya. Ia membesarkan anak musuhnya dalam penderitaan, sementara sang musuh membesarkan darah daging Clara dalam kebohongan.
Belasan tahun kemudian, ego dan intrik kotor mereka memicu kutukan berdarah. Tanpa sadar, kedua ibu ini justru merancang neraka yang menghancurkan nyawa anak Dan diri mereka sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon james 9870, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Baju Putih dan Ironi Takdir

​

​Udara sore di dalam pasar tradisional itu terasa pengap, bercampur dengan bau sayuran busuk, ikan segar, dan lumpur sisa hujan. Clara berjalan menyusuri lorong sempit yang dipenuhi lapak-lapak pedagang kaki lima. Sesekali ia harus menepi untuk menghindari genangan air kotor, menjaga agar sepatu usangnya tidak semakin basah.

​Di tangannya, Clara menggenggam erat sisa uang pesangon yang ia terima kemarin. Jumlahnya sangat sedikit. Setelah membayar uang sewa kamar yang sempat menunggak, ia hanya memiliki beberapa lembar uang kertas nominal terkecil yang sudah lecek. Namun, hari ini ia harus membeli sesuatu untuk Maya. Hari perkiraan kelahirannya semakin dekat, dan ia belum memiliki satu pun barang untuk menyambut bayi itu.

​Langkahnya terhenti di depan sebuah kios kecil yang menjual pakaian bayi obralan. Tumpukan kain warna-warni menggunung di atas meja kayu beralas terpal biru. Pakaian-pakaian itu berbahan kasar, potongannya tidak simetris, dan warnanya sedikit memudar karena terlalu lama terpapar debu dan sinar matahari.

​"Pilih, Neng. Tiga biji dua puluh ribu, ambil semua murah aja," sapa pedagang itu sambil mengipas-ngipas tumpukan baju dengan selembar kardus.

​Clara mendekat. Ia mengaduk-aduk tumpukan kain itu dengan tangan gemetar. Ia mencari bahan yang sekiranya paling lembut, yang tidak akan melukai kulit bayi yang sensitif. Matanya tertuju pada sepotong pakaian bayi berwarna putih polos. Tidak ada gambar kartun lucu di atasnya, tidak ada renda, tidak ada pita. Hanya sepotong kain putih tipis dengan jahitan yang terlihat rentan terlepas di bagian kerahnya.

​Clara mengambil baju putih itu. Kainnya terasa kasar di telapak tangannya. Matanya memanas. Bayangan tentang bagaimana Maya akan mengenakan baju tipis ini di malam-malam yang dingin membuat dadanya sesak. Namun, ini adalah satu-satunya hal yang bisa ia beli tanpa harus membiarkan dirinya kelaparan selama dua hari.

​"Saya ambil satu ini saja, Pak," ucap Clara pelan.

​Pedagang itu mendecak sebal, merenggut selembar uang lecek dari tangan Clara, dan menyerahkan baju putih itu tanpa memberinya kantong plastik. Clara memeluk baju tipis itu di dadanya, melindunginya dari rintik hujan yang mulai turun lagi, dan berjalan pulang dengan langkah yang diseret.

​Sesampainya di kamar kosnya yang gelap dan lembap, Clara meletakkan baju putih itu di atas kasur tipisnya. Ia duduk di lantai, menatap baju kecil itu dalam diam. Hatinya hancur. Ia membayangkan tubuh mungil anaknya terbalut kain kasar ini, menggigil kedinginan saat angin malam menembus celah jendela.

​Di tengah lamunan sedihnya, layar ponsel Clara yang retak menyala, diiringi getaran pelan.

​Ada pesan masuk. Dari Vera.

​Clara menutup matanya rapat-rapat. Ia tidak ingin membukanya. Ia tahu apa yang akan ia lihat. Namun, dorongan masokis di dalam dirinya Dan kebutuhan untuk terus membakar kebenciannya agar ia tidak mundur dari rencana gilanya, membuat tangan Clara meraih ponsel tersebut.

​Ia membuka pesan itu. Vera mengirimkan serangkaian foto tanpa teks apa pun di awalnya.

​Foto pertama menampilkan deretan gaun bayi bermerek dari desainer luar negeri. Bahan sutra lembut, renda Prancis asli, dengan label harga yang masih menempel namun sengaja diburamkan. Warnanya pastel yang elegan, memancarkan kemewahan dari setiap jahitan.

​Foto kedua menampilkan sebuah kereta dorong bayi (stroller) keluaran terbaru, berwarna emas dan hitam, terlihat sangat kokoh, mewah, dan dilapisi kulit premium.

​Foto ketiga adalah tumpukan kotak hadiah berisi sepatu bayi, selimut tebal berbahan bulu angsa, dan botol susu kristal yang sangat cantik.

​Lalu, pesan teks dari Vera muncul di bawah foto-foto itu.

​Vera: Clara... aku sedang membereskan barang-barang belanjaan Daniel hari ini. Dia memborong setengah isi toko perlengkapan bayi di mall pusat. Kadang aku merasa dia terlalu berlebihan, bayi kan cepat besar. Tapi Daniel bilang, Elena hanya pantas memakai yang terbaik di dunia ini. Oh ya, selimut bulu angsa itu khusus diimpor dari Italia supaya Elena tidak kedinginan di malam hari.

​Setiap kata yang diketik Vera adalah sabetan cambuk berduri di hati Clara.

​Elena hanya pantas memakai yang terbaik di dunia ini.

​Clara perlahan menurunkan pandangannya dari layar ponsel ke kasur tipisnya. Ke arah sepotong baju putih kusam dan kasar yang baru saja ia beli dengan sisa uang makan terakhirnya. Perbandingan ini begitu brutal. Begitu nyata dan menghancurkan.

​Clara mengambil baju putih itu, meremasnya di dada, dan tangisnya pecah. Ia melolong dalam diam, air matanya membanjiri baju kecil itu, meresap ke dalam serat-serat kainnya yang kasar.

​"Maafkan ibu, Maya..." isaknya meronta-ronta di dalam keheningan kamar yang menyiksa. "Maafkan ibu. Ibu hanya bisa membelikanmu ini. Ibu tidak punya selimut bulu angsa untukmu. Ibu tidak punya sepatu mahal untukmu. Ibu hanya punya kain kasar ini."

​Clara memukul dadanya sendiri yang terasa mau meledak. Ironi takdir ini terlalu kejam. Daniel, pria yang menanamkan benih di rahimnya, sedang menghamburkan puluhan juta rupiah untuk menyelimuti anak wanita lain, sementara darah dagingnya sendiri akan kedinginan hanya dengan sehelai kain murah.

​"Ini salah," bisik Clara, suaranya berubah menjadi geraman rendah. Matanya yang merah karena air mata kini berkilat dengan kebencian murni dan tak terbatas. "Ini tidak adil. Vera tidak pantas mendapatkan semua itu. Daniel tidak pantas merasa bahagia."

​Clara mengusap air matanya dengan punggung tangannya dengan kasar. Ia meletakkan baju putih itu di samping ponselnya yang masih menampilkan foto selimut mewah dari Italia.

​Di saat itulah, sisa-sisa rasa bersalah di dalam hatinya mati sepenuhnya.

​Cinta seorang ibu adalah insting yang suci, namun ketika dipaksa ke sudut paling gelap oleh keputusasaan dan ketidakadilan, cinta itu bisa bermutasi menjadi monster yang sangat mengerikan. Clara menyadari bahwa sebesar apa pun kasih sayangnya pada Maya, kasih sayang tidak akan bisa membuat Maya kenyang. Kasih sayang tidak akan melindungi Maya dari hujan, hinaan, dan penderitaan.

​Satu-satunya cara untuk membuktikan cintanya pada Maya adalah dengan membuangnya ke dalam kemewahan.

​"Kau tidak akan memakai baju murah ini, sayang," bisik Clara sambil mengelus perutnya dengan gerakan memutar yang ritmis. Suaranya terdengar sangat tenang sekarang, sebuah ketenangan yang mematikan. "Kau akan memakai sutra. Kau akan tidur di kereta dorong emas itu. Kau akan dihangatkan oleh selimut dari Italia itu. Kau akan dipanggil Elena, dan kau akan mewarisi semua harta pria yang mengkhianati ibu."

​Clara tersenyum di dalam kegelapan kamarnya. Rencananya kini telah terkunci sempurna. Ia tidak akan lagi menangisi nasibnya. Ia hanya perlu bertahan hidup beberapa minggu lagi. Menunggu hari di mana rasa sakit persalinan akan mencabik-cabik tubuhnya dan tubuh Vera. Di hari itulah, ia akan memberikan hadiah ulang tahun sesungguhnya untuk Daniel.

​Sebuah bom waktu yang akan berdetak tanpa mereka sadari, yang kelak akan menghancurkan keluarga mereka dari dalam.

​

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!