NovelToon NovelToon
Putri Cacat Jadi Konglomerat

Putri Cacat Jadi Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Orang Disabilitas / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:12k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Dibuang oleh darah dagingnya sendiri hanya karena ia terlahir tidak sempurna.

Haruka tumbuh tanpa pelukan orangtua, tanpa tempat pulang. Dunia memandangnya sebelah mata... dihina, direndahkan, dianggap beban yang tak pantas hidup layak. Tapi di tengah semua penolakan itu, ada satu orang yang tak pernah melepaskannya: seorang nenek tua, satu-satunya yang mau memeluknya tanpa syarat.

Dari pelukan itulah tekad Haruka lahir. Ia bangkit, merangkak sejengkal demi sejengkal dari titik terendah, bukan untuk balas dendam, tapi untuk membuktikan satu hal: gadis cacat yang dulu mereka buang, kini akan berdiri lebih tinggi dari siapa pun yang pernah meremehkannya.

Akankah Haruka berhasil membungkam semua yang pernah menghinanya? Atau luka masa lalu akan terus menariknya kembali ke titik nol?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suka berselimut duka

Sorak sorai membahana memenuhi ruang aula ketika pengumuman juara dibacakan lantang oleh pembawa acara. "Juara pertama, dengan skor tertinggi, dari SMA Negeri 3... Haruna dan tim!"

Rekan-rekan setimnya langsung berhamburan memeluk Haruna, tawa bahagia bercampur haru mewarnai wajah mereka semua. Pak Broto yang berdiri tak jauh dari sana tampak mengusap sudut matanya, tak menyangka kerja keras selama berminggu-minggu itu akhirnya membuahkan hasil yang gemilang.

"Kita menang, Har! Kita beneran menang!" seru salah satu rekan timnya, menggenggam kedua tangan Haruna erat-erat sambil melompat kegirangan.

Haruna tersenyum lebar, dadanya dipenuhi rasa syukur yang meluap-luap. Namun di tengah euforia itu, seorang pria paruh baya berjas rapi menghampirinya, membawa map berisi selembar surat resmi.

"Selamat, Nak Haruna," ucap pria itu ramah, menyodorkan surat tersebut. "Perkenalkan, saya dari pihak universitas. Kami sudah lama memantau prestasimu, dan setelah melihat hasil olimpiade hari ini, kami dengan bangga menyatakan bahwa kamu resmi diterima di universitas kami begitu lulus SMA nanti."

Mata Haruna membelalak, tangannya sedikit gemetar menerima surat itu. "Diterima... beneran, Pak?"

"Bukan cuma itu," lanjut pria itu tersenyum lebar, "kamu juga mendapatkan beasiswa penuh, termasuk fasilitas asrama gratis selama masa kuliah. Kami yakin, dengan kemampuan seperti ini, kamu akan jadi salah satu mahasiswa terbaik kami."

Haruna membuka surat itu dengan tangan bergetar, membaca setiap barisnya dengan mata berkaca-kaca. Semua mimpi yang selama bertahun-tahun ia perjuangkan, semua malam panjang yang ia habiskan untuk belajar sambil menahan ejekan dan pandangan sebelah mata dari orang-orang sekitarnya. Kini terbayar lunas dalam selembar kertas yang ia genggam erat.

"Terima kasih banyak, Pak," ucap Haruna, suaranya bergetar menahan haru yang tak terbendung.

Setelah acara penyerahan penghargaan usai, Pak Broto mengumpulkan seluruh anggota tim. "Ayo, kita rayakan kemenangan ini! Bapak traktir makan-makan!"

Sorak gembira kembali terdengar dari teman-teman timnya. Namun Haruna hanya tersenyum tipis, menggeleng pelan. "Maaf, Pak, Haruna nggak ikut, ya. Haruna mau langsung pulang, kangen sama Nenek."

Pak Broto mengangguk pengertian. "Ya sudah, hati-hati di jalan, ya. Sekali lagi, selamat Haruna. Bapak bangga sekali sama kamu."

Dengan surat penerimaan kampus impian didekap erat di dada. Haruna melangkah pulang dengan hati yang membuncah bahagia, membayangkan wajah Nek Lasmi yang pasti akan sangat bangga dan haru mendengar kabar ini.

Namun begitu memasuki gang menuju gubuknya, senyum di wajah Haruna mendadak lenyap seketika. Bu Inah berlari tergopoh-gopoh menghampirinya, wajahnya pucat pasi dan panik luar biasa.

"Haruna! Haruna, cepat! Nenek kamu..." Bu Inah terengah, kesulitan mengatur napasnya sendiri.

"Kenapa, Bu? Ada apa dengan Nenek?" Haruna langsung mencekam, jantungnya berdegup kencang tak karuan.

"Tadi ibu nemuin Nenek Kamu pingsan di dapur, nggak sadarkan diri. Sekarang lagi dibawa ke puskesmas!" jelas Bu Inah cepat.

Dunia Haruna serasa runtuh seketika. Surat penerimaan kampus yang tadi ia dekap erat penuh kebahagiaan kini terjatuh begitu saja dari genggamannya, melayang jatuh ke tanah tanpa ia hiraukan lagi.

"Nenek... Nenek kenapa, Bu?" jerit Haruna histeris, air matanya langsung tumpah tak terbendung.

Tanpa pikir panjang, Haruna berusaha berlari secepat yang ia bisa menuju arah puskesmas. Namun kakinya yang tak sempurna membuatnya kehilangan keseimbangan hanya dalam beberapa langkah.

Tubuhnya jatuh tersungkur ke tanah, lututnya lecet terkena kerikil tajam, namun rasa sakit itu sama sekali tak terasa dibandingkan kepanikan yang menguasai hatinya.

"Haruna! Hati-hati, Nak!" Bu Inah bergegas membantu Haruna berdiri, memapahnya dengan susah payah.

Melihat kondisi itu, suami Bu Inah yang kebetulan baru pulang dari ladang segera berlari mengambil sepeda motornya. "Sini Nak, Bapak antar ke puskesmas sekarang."

Haruna dengan panik langsung naik ke boncengan motor itu, tangannya gemetar hebat mencengkeram erat. Pikirannya dipenuhi doa yang terus ia ucapkan tanpa henti sepanjang perjalanan yang terasa begitu lama, meski sebenarnya hanya memakan waktu belasan menit.

Sesampainya di puskesmas, Haruna langsung berlari tertatih menuju ruang perawatan yang ditunjukkan oleh perawat. Mengabaikan rasa perih di lututnya yang masih berdarah. Begitu pintu terbuka, ia mendapati Nek Lasmi terbaring lemah di atas ranjang, selang infus terpasang di lengan keriputnya, wajahnya pucat namun matanya perlahan terbuka begitu mendengar suara langkah tertatih yang begitu ia kenal.

"Nek!" Haruna langsung berhambur, memeluk tubuh rapuh neneknya dengan hati-hati, air matanya membasahi selimut tipis yang menutupi tubuh Nek Lasmi.

Nek Lasmi mencoba tersenyum, meski separuh wajahnya tampak sedikit tertarik ke bawah, matanya berkaca-kaca menatap cucu kesayangannya yang kini menangis di pelukannya.

"Nek, Haruna menang, Nek. Haruna diterima kuliah, dapat beasiswa juga," ucap Haruna terisak, mencoba menyampaikan kabar bahagia itu meski suasana hatinya sudah hancur berkeping-keping. "Nenek denger, kan? Nenek harus cepat sembuh ya? biar bisa lihat Haruna wisuda nanti."

Nek Lasmi membuka mulutnya, mencoba berbicara. Namun yang keluar hanyalah suara bergumam tak jelas, kata-katanya terdengar kacau dan sulit dipahami. Tangan kanannya bergerak lemah, seolah berusaha meraih wajah Haruna, namun geraknya begitu kaku dan lambat.

"Nek? Nenek ngomong apa? Haruna nggak ngerti," Haruna semakin panik, menggenggam tangan neneknya erat-erat, berusaha memahami setiap gumaman yang keluar dari bibir Nek Lasmi yang kini tampak tak simetris.

Tak lama, seorang dokter memasuki ruangan, membawa hasil pemeriksaan di tangannya. Melihat kepanikan Haruna, dokter itu mendekat dengan wajah penuh empati.

"Kamu cucunya, ya?" tanya dokter itu lembut.

"Iya, Dok. Nenek saya kenapa? Kenapa bicaranya nggak jelas gitu?" tanya Haruna, suaranya bergetar penuh kecemasan.

Dokter itu menghela napas pelan sebelum menjelaskan. "Nenek kamu mengalami stroke, Nak. Kemungkinan sudah berlangsung beberapa saat sebelum ditemukan tak sadarkan diri. Stroke ini menyebabkan kelumpuhan pada sebagian tubuhnya, terutama memengaruhi kemampuan bicara dan geraknya. Untuk sementara, Nenek kamu akan kesulitan bicara dengan jelas, dan kemungkinan besar juga tidak akan bisa berjalan seperti biasa."

Setiap kata yang keluar dari mulut dokter itu terasa seperti pukulan bertubi-tubi yang menghantam dada Haruna. Ia menatap dokter itu dengan mata kosong, tak sanggup mencerna kenyataan yang begitu tiba-tiba menghampiri hidupnya.

"Nggak bisa... jalan? Nggak bisa... bicara?" ulang Haruna pelan, suaranya nyaris tak terdengar, seluruh tubuhnya membeku seketika.

Dunia yang baru saja terasa begitu cerah beberapa jam lalu... dengan surat penerimaan universitas impian, beasiswa penuh, dan gelar juara olimpiade, kini runtuh seketika, digantikan oleh kenyataan pahit yang jauh lebih berat dari apa pun yang pernah Haruna hadapi sebelumnya.

Ia menoleh kembali ke arah Nek Lasmi yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca, mencoba tersenyum meski separuh wajahnya tak lagi bisa bergerak sempurna, wanita tua yang selama ini menjadi satu-satunya kekuatan dan alasannya untuk hidup, kini sedang terbaring lemah, rapuh, dan begitu membutuhkan uluran tangannya.

1
Muft Smoker
aq cuma bisa kasih semangat buat Haruna ,, kekurangan mu gx bakal jd penghalang kesuksesan mu ,,
Ilfa Yarni
sedih aku bacany hiks klo Haruna kemakam sedih banget
Ilfa Yarni
semangat haruna wujudkan mimpimu jd orang sukses agar nenekmu bahagia diatas sana
Muft Smoker
wooah semangat trus harunaa ,,
mungkin ni langkah yg bkal jlan km bisa lebih mudah ,,
Ilfa Yarni
emang gmn cara km tes drive
Muft Smoker
test Drive ,, test Drive ,, Dy fikir si Haruna sirkuit Mandalika kali yx/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ilfa Yarni
jgn coba comblangin haruna dgn laki2 lain ya vania
Sayekti 0519
bukannya tobat ,malah laknat.seharusnya ada jln untuk sadar.terima dengan niat baik
Ilfa Yarni
awas ya reynan jgn sampe luluh km
Muft Smoker
astgaaaa ,,
jgn nangis kalo d tolak yx neng ,,
aq yg maluuu looo km bgtuuu😹😹😹🫣🫣🫣🫣🫣🫣
Sayekti 0519
ngerawat nenek lah.balas budi.kuliah bisa menyusul.
Muft Smoker
semoga Bagas cepat dpat karma ny ,,
Ilfa Yarni
aku ingin bagas cepat hancur jahat banget jadi manusia
Muft Smoker
tunggu karma menghampiri mu Bagas ,,
Ilfa Yarni
dasar orangtua jahat tunggu lah kehancuranmu suatu saat keboho ganmu terbongkar
Muft Smoker
semangat Haruna ,, jgn biarkan pak Bagas meremehkan mu ,,
buktikan KLO km mampu melewati semua ujian hidup km meski d tengah keterbatasan fisik
Ilfa Yarni
Ya ampun ga nyangka Ada orangtua yg seperti ini aku doakan Haruna cepat jadi konglomerat Dan bagas hancur oleh perbuatannya sendiri
Muft Smoker
yakin laa reynan kalo Haruna bakal bisa melewati semua ini ,, udh banyak pahit kehidupan yg di lalui haruna ,,
meski berat km harus bisa jd support sistem ny Haruna ,,
Ilfa Yarni
tenang aja reynan haruna akan membuktikannya klo dia bisa sukses km cukup doakan saja dan of saat nya tiba bagas akan menyesal perbuatannya
Ilfa Yarni
nah lol feeling ga ya nyonya larasati pd Haruna bahwa Haruna adalah ank kandungnya biasanya antara ibu Dan ank itu Ada ikatan bathin yg kuat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!