NovelToon NovelToon
Secercah Cahaya

Secercah Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:709
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Dibuang oleh keluarga sendiri dan bertahan hidup sendirian di kamar kos sempit adalah kenyataan pahit Danu. Fisiknya yang tambun membuatnya menjadi sasaran bullying parah sepanjang SD hingga SMP. Bagi Danu, dia ditakdirkan untuk tidak punya teman dan selalu tak kasatmata.

Namun, hari pertama masuk SMA mendadak jungkir balik.
Satu kelas dibuat geger saat Rio—sosok murid baru yang sangat tampan, karismatik, dan mendadak populer se-sekolah—justru berjalan ke pojokan. Demi menghindari sorotan dan perhatian orang-orang, Rio sengaja memilih untuk duduk di sebelah Danu!

Danu jelas dibuat jantungan dan melongo setengah mati. Kenapa cowok se-populer Rio malah milih duduk bersanding dengan anak yang paling dihindari satu sekolah? Akankah ini jadi awal dari hadirnya "secercah cahaya" di hidup Danu, atau justru membawa masalah baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Gugup

Hari kedua perayaan ulang tahun SMA Garuda membawa nuansa yang semakin meriah. Begitu Danu dan Rio melangkah melewati gerbang utama, langkah mereka otomatis terhenti. Sepasang mata mereka takjub melihat perubahan drastis pada bangunan sekolah tercinta.

Berbagai ornamen warna-warni menghiasi setiap sudut koridor. Di atas lobi utama, membentang sebuah spanduk besar berdesain megah dengan tulisan mencolok: 'Selamat Ulang Tahun SMA Negeri Garuda ke-10'.

"Wah... gila, udah didekor secakep ini aja nih sekolah kita," gumam Rio dengan mata berbinar, menatap deretan lampion dan pita yang menjuntai di langit-langit.

"I-iya..." jawab Danu terbata-bata. Bukannya takjub, wajah anak itu justru terlihat sedikit pucat. Tangannya meremas tali ranselnya dengan gelisah.

Mendengar nada suara sahabatnya yang bergetar, Rio menoleh. "Lu kenapa, Dan? Kok muka lu tegang gitu pagi-pagi?"

Danu tertawa sumbang, mencoba menutupi kegugupannya. "Hahah, jujur aja nih, gue gugup banget, Yo. Perutku rasanya kayak diaduk-aduk. Seumur hidup, gue belum pernah tampil di atas panggung dan ditonton orang sebanyak ini."

Rio langsung merangkul pundak Danu sambil menepuknya pelan, memberikan suntikan semangat. "Yaa... gapapa kali, Dan. Wajar kalau awal-awal deg-degan. Beraniin diri dikit, tingkatin percaya diri lu sekali lagi. Anggap aja besok lu lagi nabuh panci di dapur, gak usah mikirin penonton."

Danu menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Hmm... bener juga kata lu. Aku bakal coba."

Saat mereka berdua berjalan menyusuri koridor dan memasuki ruang kelas 10D, suasana di dalam sudah seperti pasar malam. Para murid bersorak bahagia karena memang tidak ada jadwal pelajaran sama sekali hari ini.

Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, ada sebuah tulisan besar dari wali kelas yang terpampang jelas di papan tulis putih: 'BEBAS JAM PELAJARAN. TAPI JANGAN HEBOH BERLEBIHAN ATAU KENA SANKSI!'

"Wow, mantap kali! Gini dong dari kemarin-kemarin!" sorak Rio penuh semangat, langsung melempar tasnya ke atas meja tanpa memedulikan ancaman sanksi di papan tulis.

Danu ikut duduk di bangkunya, menopang dagu. "Hmm... kalau jam bebas gini, enaknya kita ngapain ya seharian?" tanyanya bimbang.

"Ya... kita ke ruang ekstra musik lah! Yuk, kawan-kawan, kita latihan!" sahut sebuah suara cempreng yang sangat familier. Zahra tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu kelas dengan wajah berbinar-binar penuh semangat.

Melihat antusiasme gadis itu, Danu sedikit heran. Sementara Rio justru memicingkan matanya penuh selidik, menatap Zahra dari atas sampai bawah.

Rio lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Danu dan berbisik pelan, "Dan, kok dia seneng banget ya ngajak latihan? Apa jangan-jangan... dia cuma pengin nagih jatah pijatannya ke gue gara-gara taruhan kemarin?"

Danu mengerjap, lalu manggut-manggut perlahan dengan ekspresi datar. "Hmm... masuk akal juga analisismu, Yo."

"Hei! Ngapain pada bisik-bisik di situ?! Mau ikut latihan gak nih?!" teriak Zahra yang masih setia berdiri di depan pintu kelas, melipat tangannya di dada.

"Iya, Bawel! Sabar napa!" balas Rio ketus seraya beranjak dari kursinya.

"Cepetan!"

Pasukan tiga sekawan itu pun akhirnya kembali berjalan beriringan menuju ruang ekstra musik untuk mematangkan persiapan mereka. Lorong-lorong sekolah terasa begitu hidup oleh tawa dan obrolan siswa lain yang juga sedang mempersiapkan stan atau penampilan klub mereka.

Sesampainya di dalam ruang ekstra musik, Kak Rizki menyambut mereka dengan selembar kertas jadwal di tangannya. Sang ketua klub membawa sedikit kabar melegakan sekaligus mendebarkan.

"Kalian udah kumpul semua? Kebetulan banget," sapa Kak Rizki. "Kakak baru aja dapat jadwal final dari panitia. Ternyata, giliran klub kita tampil itu di hari terakhir, besok sore. Jadi, untuk hari ini, panggung utama bakal dipakai buat penampilan dari ekstra lain dulu."

Rio, Danu, dan Zahra saling berpandangan. Ada sedikit rasa lega karena mereka punya waktu ekstra, namun di sisi lain, ketegangan menunggu giliran justru makin terasa.

"Ohh... jadi gitu jadwalnya," ujar Rio memecah keheningan. Ia lalu menghela napas, bangkit dari posisi berdirinya, dan melangkah mantap menuju sudut ruangan. "Kalau begitu, karena kita punya sisa waktu seharian ini... gue mau belajar nekan tuts piano itu lagi."

Rio duduk di depan piano, jari-jarinya yang sedikit bergetar perlahan menyentuh tuts hitam dan putih itu, mencoba melawan hantu masa lalunya demi penampilan mereka esok hari.

Suasana di ruang ekstra musik mendadak berubah khusyuk. Tak ada lagi perdebatan atau candaan konyol. Masing-masing anggota tenggelam dalam fokus dan kecemasan mereka sendiri.

Di sudut ruangan, Rio duduk tegap di depan piano. Jari-jarinya yang masih sedikit bergetar perlahan menekan tuts putih dan hitam itu satu per satu. Ada keengganan di matanya, namun tekadnya untuk membantu teman-temannya berhasil mengalahkan trauma masa lalunya. Suara dentingan piano mulai terdengar mengalun pelan, meski masih terputus-putus.

Di sisi lain, Danu tampak sibuk bergelut dengan set drumnya. Keringat sebesar biji jagung mulai bermunculan di pelipisnya. Ia masih sangat kesulitan menyelaraskan pergerakan tangan dan kakinya. Matanya bergerak bolak-balik antara buku panduan dari Kak Rizki dan permukaan drum. Sesekali ia memukul snare dan cymbal secara kaku, mencoba menghafal ketukan demi ketukan agar tidak menjadi beban bagi tim.

Sementara itu, Kak Rizki duduk bersila di atas karpet, tampak sangat serius memperbaiki senar gitarnya. Sesekali ia meringis saat jarinya tertusuk ujung senar yang tajam, tapi ia terus memutar tuning peg dengan hati-hati. Ia sadar, ia tidak boleh ceroboh lagi. Sebagai ketua, ia merasa punya tanggung jawab besar. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya bisa diandalkan oleh ketiga adik kelas yang dengan tulus mau menerimanya ini.

Di dekat jendela, Zahra sedang melakukan pemanasan vokal. Ia mengetes pitch suaranya, melantunkan nada-nada dari rendah ke tinggi mengikuti panduan tertulis yang diberikan Kak Rizki. Di sela-sela latihannya, ekor mata Zahra menangkap sosok sang senior yang sedang bersusah payah menyetel gitar hingga berkeringat.

Zahra tersenyum simpul. Gadis itu terkejut sekaligus kagum dalam hati. Ternyata di balik sikap ceroboh dan lawakannya yang garing, seniornya itu sedang berusaha semaksimal mungkin untuk melindungi klub ini. Kak Rizki berjuang keras agar tragedi masa lalu tidak terulang—memastikan tidak ada lagi anggota yang merasa kecewa dan berujung keluar dari ruang musik ini.

"Oke, semuanya! Pemanasannya cukup!" seru Kak Rizki tiba-tiba, memecah keheningan ruangan. Ia bangkit berdiri dan mengalungkan gitar di bahunya dengan gaya percaya diri. "Gimana kalau kita coba gabungin semuanya sekarang? Mainin intro lagunya aja dulu bareng-bareng. Pelan-pelan."

Rio menarik napas dalam-dalam dan mengangguk, meletakkan tangannya bersiap di atas tuts. Danu menelan ludah, menggenggam kedua stik drumnya erat-erat dengan telapak tangan yang berkeringat dingin. Sementara Zahra merapatkan tangannya di depan mic, bersiap menyambung nada.

"Siap, ya? Satu... dua... tiga... empat!" Kak Rizki menghitung ketukan.

Seketika, Rio mulai menekan chord pertama di pianonya, disusul oleh petikan gitar Kak Rizki yang mengiringi. Dua detik kemudian, Danu masuk dengan ketukan pedal dan snare-nya.

BUM... TAK... BUM-BUM... TAK!

Meski tempo Danu sedikit meleset dan kaku pada awalnya, Rio dengan sigap memperlambat pergerakan jarinya, menyesuaikan melodi untuk menutupi celah ketukan sahabatnya itu. Lalu, suara merdu Zahra masuk, menyenandungkan bait pertama dengan sangat lembut dan stabil, mengikat semua alat musik itu menjadi satu kesatuan.

Harmoni yang tercipta memang jauh dari kata sempurna. Masih ada tempo yang goyah dan nada yang sedikit sumbang. Tapi, bagi mereka berempat, melodi yang mengalun di ruangan sempit itu terasa magis. Ada ikatan pertemanan yang perlahan terjalin erat dari setiap nada yang mereka bunyikan bersama.

Begitu intro lagu selesai, mereka serempak menghentikan permainan. Hening sejenak, sebelum akhirnya mereka saling bertatapan dan tertawa lepas.

"Wah, gila! Lumayan juga buat band dadakan pemula!" puji Kak Rizki bangga sambil menepuk badan gitarnya.

"Iya, lumayan. Lumayan hancur temponya di bagian drum, hahah!" kekeh Rio meledek Danu tanpa ampun.

Danu hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum canggung. "Maaf, tanganku masih kaku banget rasanya, Yo. Sulit pisahin fokus tangan kiri sama kaki kanan."

"Santai aja, Dan. Masih ada besok pagi buat pemanasan terakhir," sahut Zahra menenangkan. Gadis itu lalu menoleh ke arah Rio dengan senyum jahil. "Btw, Yo. Jangan lupa sama utang taruhan lu. Besok pagi pas nyampe, pundak gue harus udah dipijat sebelum naik panggung."

Rio memutar bola matanya malas, pura-pura merajuk. "Iya, iya, Tuan Putri. Ingat terus lu urusan utang. Untung aja suara lu tadi beneran bagus, kalau jelek udah gue suruh bayar denda lu."

Sore itu, di bawah pendar cahaya matahari terbenam yang menyusup hangat lewat celah jendela ruang ekstra, kecemasan di dada Danu perlahan memudar. Rasa gugupnya kini berdampingan dengan rasa tak sabar. Mereka mungkin bukan musisi profesional, tapi esok hari di panggung perayaan sekolah, mereka siap membuktikan bahwa mereka bisa menciptakan secercah cahaya mereka sendiri.

1
Tio Buki
Semangat ya
Tio Buki
Hadiah untukmu thor🙏🙏
Tio Buki
Semangat thor
Tio Buki
Baru satu orang ya
Tio Buki
Cari dimana
Tio Buki
Ngak
Tio Buki
Kan karena kan
Tio Buki
Bernafas lega
Tio Buki
Siapa
Tio Buki
Yang sabar
Tio Buki
Merasa apa ya
Tio Buki
Kaget aku
Tio Buki
Pukul ya
Tio Buki
Mana aku tau
Tio Buki
Cermin ya
Tio Buki
Bayangan ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!